close

Film Indonesia Terbaik 2016

20170101115515

Boleh dikata jika film Indonesia tahun 2016 ini mampu berjaya di bioskopnya sendiri. Lihat saja, Warkop DKI Reborn: Jangkring Boss Part 1 yang bertengger di urutan nomor satu film paling banyak ditonton dengan 6,8 juta penonton lebih. Dibuntuti oleh Ada Apa Dengan Cinta? 2 dengan perolehan 3,6 juta penonton. Meski bagi sebagian orang dua film teratas tadi adalah sumber kekecewaan terbesar tahun ini,  keduanya tetap dirayakan tak kalah besar oleh sebagian orang lainnya. Daftar ini menampung film terlaris Indonesia urutan ke-3, My Stupid Boss, yang dilihat 3 juta kali di bioskop. Pasangan BCL-Reza Rahadian dipertemukan kembali lewat genre komedi segar besutan Upi Avianto.

Kabar baik tidak hanya jadi monopoli film bioskop rupanya. Tahun ini, karya-karya nusantara makin diapresiasi internasional–otomatis turut menyita perhatian konsumen dalam negeri juga. Pemutaran Prenjak pasca-perolehan trofi tertinggi di ajang festival paling bergengsi menjamur di mana-mana, mata awam penonton ditantang buat menerima narasi tak biasa yang nyatanya sudah ada entah sedari kapan di sekitarnya. Tahun 2016 yang penuh peristiwa menipiskan optimisme untungnya ditutup dengan begitu manis, Istirahatlah Kata Kata dan Ziarah jadi jagoan kami tahun ini.

Deretan film Indonesia terbaik 2016 versi WARN!NG memiliki cakupan sangat luas. Kami menyisipkan tiga film dokumenter, ketiganya memuat cerita dan konteks yang amat baru atas situasi dalam negeri yang awalnya luput terekam oleh narasi sinematik. Potongan dari Chairun Nissa menyambut perayaan 100 tahun Lembaga Sensor Film yang tidak sepatutnya punya usia makin panjang. Ada pula film mistis eksperimental bertajuk Sunya, sebuah tanda hadirnya kembali Harry Dagoe di kancah independen. Alih-alih mendikte selera, kami berupaya merekam tahun ini lewat film-film yang hadir, karena kami yakin bahwa film selalu punya kelindan dengan kondisi masyarakat di mana ia tumbuh. Silakan membaca dan berefleksi atas tahun kemarin yang baru lewat setengah hari.

 

 

10. Nokas

Sutradara: Manuel Alberto Maia

Pemain:  Laasar Taklale, Erna Norwaci Taklale-Hanas, Zelaitial Nokas Taklale, Atalya Taklale

Representasi lokalitas ruang retro-spasial luar Jawa melalui sinema Indonesia telah mengalami kebuntuan. Ketika film hanya menyajikan glorifikasi atas keelokan/eksotisme panorama alamnya. Dari timur Indonesia, Manuel Alberto Maia (Abe) berhasil secara cantik memunculkan ke permukaan konflik personal seorang Nokas. Dibalut dengan alur character-driven yang kuat, Abe menangkap konflik sosial-ekonomi-budaya atas kultur pernikahan di Timor. Dari siasat seorang Nokas dalam membiayai pernikahannya, semenda yang penuh prasyarat, hingga kedekatan yang ditampilkan secara humanis dengan kamera selaiknya mata. Penonton seakan berdiri sebagai bagian dari narasi kecil dalam Nokas.

 

 

9. Jakarta Unfair

Sutradara: Dhuha Ramadhani (WATCHDOC)

Tak heran jika pemutaran film dokumenter ini banyak dibatalkan di Jakarta. Seperti parade, film ini menyorot kisah korban penggusuran di berbagai daerah di Jakarta. Film yang dikerjakan secara kolektif selama 6 bulan ini merekam dan mengkomparasikan kesejahteraan warga kampung paska-penggusuran yang sekarang tinggal di rumah susun di berbagai daerah. Berbagai tanggungan seperti tidak adanya lapangan kerja, kesempatan usaha sampai alasan sentimentil menunjukkan bahwa penggusuran tanpa dialog yang dilakukan oleh pemkot Jakarta ini kurang manusiawi. Ketika pemerintah berkoar tentang tujuan normalisasi dan pembangunan, film ini justru menunjukkan realitas sebaliknya. Di akhir film, tim Watchdog memberikan punchline ironi berupa tayangan janji Jokowi dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada masa kampanye. Janji manis, sekali lagi, janji manis lagi.

 

8. My Stupid Boss

Sutradara: Upi Avianto

Pemain: Bunga Citra Lestari, Reza Rahadian, Alex Abbad, Chew Kinwah

Semenjak Habibie diputar di bioskop, sejak itu pula ekspektasi terhadap Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari melambung tinggi di mata para pemirsa. Memang tak dapat ditampik, pengaruh film besutan Hanung Bramantyo itu berdampak besar bagi karir kedua bintang tersebut. Namun, muncul pertanyaan semacam ini: bagaimana jadinya apabila mereka kembali disatukan lewat naskah komedi? Jawabannya sederhana: membahagiakan.

My Stupid Boss berhasil menyajikan lawakan yang saling bertautan di antara pimpinan perusahaan dan pegawainya. Secara cerdas, Upi Avianto mengangkat realita yang hinggap pada rutinitas kelas menengah; tekanan bertubi-tubi, kelakuan di luar nalar si pemangku jabatan, ataupun kelakar garing yang memaksa timbulnya tawa palsu berkesinambungan. Di sisi lain, chemistry Reza Rahadian-Bunga Citra Lestari harus diberi penghargaan setinggi-tingginya. Setidaknya menyamai ikatan John Travolta-Olivia Newton-John pada Grease. Tidak, ini serius. Meski tidak dipungkiri banyak yang bosan melihat wajah Reza Rahadian namun memang kualitasnya berbicara tanpa tedeng aling-aling.

 

 

7. Sunya

Sutradara: Hary Suharyadi

Pemain: Erlando Saputra, Satria Qolbun Salim, Astri Kusumawardhani

Sunya memberi pengalaman baru dalam menonton film horor sebagai ‘suasana’ alih-alih penampakan sekelebat perempuan seram di sudut ruangan. Menggunakan alur anti-plot, Sunya adalah puzzle yang tidak punya gambar final. Film ini berpusat pada kisah hidup Bejo yang ganjil sedari kecil. Konflik yang berserakan antara ia, neneknya yang terobsesi ngelmu, rekan kantor sampai wanita yang ia gilai. Jangan mencoba membuat cerita runut, nikmati saja mistisisme yang diwujudkan Hary Suharyadi lewat dialog jawa kental, aura noir, adegan penuh jejimatan dan Ilmu Jawa Kuno, peri-peri hutan dan erotisme purba yang menggairahkan.

 

 

6. Surat dari Praha

Sutradara: Angga Dwimas Sasongko

Pemain: Julie Estelle, Tyo Pakusadewo, Widyawati, Rio Dewanto 

Sempat terganjal tuduhan kasus plagiarisme yang dilayangkan pegiat akademis di salah satu perguruan tinggi Kota Malang, Surat dari Praha tetap melaju yakin. Angga Sasongko selaku sutradara menepis anggapan itu dengan dalil yang kuat; filmnya sudah melalui proses yang benar serta ditunjang hasil riset yang dapat dipertanggungjawabkan secara legal.

Visi Angga Sasongko dalam mengangkat tema sensitif problematika bangsa ini patut diapresiasi. Setelah Cahaya dari Timur: Beta Maluku (2014) yang berlatar belakang konflik agama di timur Indonesia mendulang pujian maupun pesan kebhinekaan, lewat Surat dari Praha ia mencoba menggali gurat kepedihan mendalam para eksil politik 1965. Kepingan kolase sejarah disusun melalui tanjakan konflik berliku antara Jaya (Tio Pakusadewo) dan Larasati (Julie Estelle). Keduanya mampu menghidupkan kegetiran lewat dialog-dialog penuh makna; seputar kerinduan, ironi berkepanjangan, serta noktah hitam yang sampai sekarang tak juga terselesaikan.

 

 

Read More:

Film Indonesia Terbaik 2016 (5-1)

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.