close

Film Indonesia Terbaik 2018

FILM

Penonton film Indonesia naik dua kali lipat di 2016 dari tahun sebelumnya. Bertambah signifikan di tiap tahun –hingga menyentuh 50 juta penonton bahkan sebelum 2018 tutup buku. Lebih dari sekadar kabar baik bagi kantong mereka yang memonopoli ruang-ruang putar dalam negeri. Ekshibitor rangkap produser tamak seperti Netflix pun melihat peluang permintaan pasar terhadap film Indonesia semakin luas –meski tendensi dalam memberi asupan yang lebih bernutrisi masih terlihat samar. Ambil contoh yang paling dibicarakan tahun ini dari sinema Indonesia baik dari dalam maupun luar negeri: The Night Comes for Us (Timo Tjahjanto, 2018). Sebuah perayaan kosong atas maskulinitas dan fetish kekerasan glamor berbalut repetisi aksi pemacu testoseron beroktan tinggi. Apa yang bisa dibanggakan dari drama laga picisan dengan kemelut yang –entah kenapa– terjadi di Indonesia dari kaca mata eurocentric-tourist gaze seperti ini selain fungsinya yang semata jadi hiburan sesaat?

Tahun 2018 maupun tahun-tahun sebelumnya, banyaknya angka pasang mata selalu mengulangi dirinya untuk berpihak pada mereka yang dirayakan secara banal memang. Meski tidak sepenuhnya buruk, indikator ini pada akhirnya bisa menerawang seberapa jauh antusiasme publik terhadap sinema Indonesia yang berangsur naik kadarnya. Dan sebagai penanda dalam melihat lanskap politik selera yang bekerja di antara penggemar, penonton, distributor, dan ekshibitor lokal maupun global.

Sebuah pertanda baik atau buruk? Entahlah. Yang pasti, nasib buruk justru hadir bagi mereka yang tidak ingin menonton film Indonesia. Setidaknya untuk akhir tahun 2018 hingga awal tahun ini. Selain kemudahan akses kanal streaming baik legal maupun ilegal berisi tontonan lokal jaraknya tidak lebih jauh dari layar di depan Anda sekarang. Pilihan juga bisa dijatuhkan pada ruang-ruang putar alternatif dengan pilihan program film berkualitas yang semakin menjamur di beberapa kota. Ditambah iktikad baik yang muncul di wilayah stuktural hingga ke ranah komersial, rasanya tidak berlebihan jika menyebut industri film Indonesia sedang berada di performa terbaiknya sementara. Daur-ulang format dalam menciptakan tren dangkal hampir tidak terbaca. Distingsi film laris dan film penting semakin remang, dan fim berkualitas tidak lagi berbicara dengan bahasa yang hanya dipahami oleh segelintir orang saja. Ambisi untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas film Indonesia semoga, atau memang seharusnya, bukan cuma cuap-cuap elit belaka.

Daftar ini kami dedikasikan pada film-film nasional yang menyoal permasalahan serius tanpa mengurangi fungsinya sebagai produk hiburan. Dari dokumenter –bentuk yang bagi banyak penonton lokal masih dianggap niche– yang semakin mawas diri untuk melebur bersama penonton dalam menggarisbawahi substansi isu kekerasan oleh negara alih-alih jatuh dalam eksplorasi bentuk. Hingga fiksi dengan cakupan konteksnya yang berhasil menyampaikan fenomena lokal maupun global secara padat tanpa berusaha menjilat terlalu basah ketiak gurita ruang-ruang putar komersial.

10. Love for Sale

Love for Sale

Sutradara: Andibachtiar Yusuf

Belum cukup lama aplikasi kencan mampu menggeser nilai dalam relasi personal antar-manusia. Ada perasaan bahwa ketika Anda lajang kesepian dan tidak ingin menjadi seperti itu, Anda perlu melakukan sesuatu untuk membunuh sepi tersebut. Dan aplikasi kencan nyatanya secara praktis mampu menjadi salah satu solusi dari problem itu. Kepalsuan demi kepalsuan ditata sedemikian rupa dalam membangun realita dalam kepala demi diri yang tak lagi sepi. Premis ini disampaikan oleh Andibachtiar Yusuf, secara etis dan estetis, dan dibawa satu tingkat lebih lanjut dari relasi personal ke relasi profesional dalam Love for Sale. Richard, lelaki paruh baya yang hidup sendiri sudah terlalu lama ditantang oleh teman-temannya untuk membawa seorang kekasih untuk menemaninya ke pesta pernikahan seorang teman. Ini membawa Richard ke Arini, seorang gadis yang ia temui lewat aplikasi kencan berbayar. Cerita secara konstan dibangun dalam melihat perubahan yang terjadi di hubungan sejoli dan dari dalam diri Richard. Tidak berakhir indah ataupun tragis, film ditutup cukup manis bagi semua orang –termasuk penonton– tanpa ada kesan untuk mendikte nilai moral absolut. Love for Sale mampu keluar dari pakem kisah cinta yang itu-itu saja.

9. Nyala: Nyanyian yang Tak Lampus

Nyala: Nyanyian yang Tak Lampus

Sutradara: Fauzi Rahmadani

Sejak Soeharto lengser, berderet film sudah bercerita tentang kekerasan ’65 dan pasca ‘65. Kita boleh berterima kasih pada Jagal (2012) yang menawarkan kebaruan gaya cerita dari sisi pelaku dan membuat kesadaran atas urgensi rekonsiliasi makin nyaring di permukaan. Namun berhenti di situ saja adalah seburuk-buruknya ikhtiar. Tidak ada yang manis memang dari menyatukan puzzle-puzzle ingatan dan narasi-narasi kecil dari kekerasan sistemik ini. Ia selayaknya menyatukan kembali tulang-belulang dengan para pemiliknya dari gundukan tanah di mana korban kekerasan negara dikuburkan. Dari sudut paling timur di pulau Jawa, Nyala: Nyanyian yang Tak Lampus menghadirkan Ruswanto dan Slamet AR, dua penyintas kekerasan pasca ‘65. Ruswanto muda aktif di berbagai organisasi sedang Slamet AR merupakan seniman tari. Tiga periode republik mereka lalui dengan semangat dan harapan besar meski bayang-bayang gelap kekerasan negara masih mengikuti.

8. Sekeping Kenangan

Sekeping Kenangan

Sutradara: Hadhi Kusuma

Dari Bali, ingatan-ingatan yang tergusur, termakan waktu, dan tertekan arus pembuatan sejarah versi pemenang atas isu ’65 hadir lewat Sekeping Kenangan. Lupakan gemerlap malam, desir angin pantai, atau eksotisme Pulau Dewata. Anda hanya akan menemukan kisah kelam pasca ’65 para tapol tertuduh komunis dan atau PKI di film ini. Empat tahun lalu, bertepatan dengan 50 tahun tragedi kemanusiaan 1965, Komunitas Taman 65 didukung oleh Koalisi untuk Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KKPK) meluncurkan sebuah album buku bertajuk Prison Songs, Nyanyian yang Dibungkam. Film merekam proses awal pembuatan album kompilasi ini. Berisi arsip sejarah melalui dialog dengan pencipta dan atau orang-orang yang terlibat dalam tembang-tembang dari penjara Pekambingan, Denpasar.

7. Angin Pantai Sanleko

Angin Pantai Sanleko

Sutradara: Yogi Fuad

Di lain tempat, Pulau Buru dan apa yang terjadi pada tahun 1969 – 1976 adalah saksi lain dari peristiwa pasca ’65. Tanpa pernah menjalani proses pengadilan, sekitar 12.000 orang tertuduh simpatisan dan anggota PKI dibuang ke pulau ini. Salah satu yang diasingkan adalah Hersri Setiawan. Film mengikuti Hersri kembali ke Desa Savanajaya tempat tinggalnya semasa pengasingan. Pantai Sanleko, tempat pendaratan pertama para tapol di masanya jadi tempat di mana ia menceritakan masa-masa pahit ini kepada anaknya, Ken. Tanpa peninggalan situs sejarah sebagai bukti ditambah dengan ingatan yang mulai meredup. Angin Pantai Sanleko secara puitis dan naratif, adalah usaha untuk merajut kembali tali-temali ingatan kelam kolektif melalui napak tilas seorang Hersri.

6. Ave Maryam

Ave Maryam

Sutradara: Robby Ertanto

Suster Maryam menghabiskan hari-harinya merawat para penghuni di sebuah rumah bagi para biarawati lanjut usia. Suatu hari, kedatangan seorang pendeta mampu membangunkan perasaan di dalam dirinya. Maryam menemukan dirinya di antara dua pilihan; tetap setia pada sumpahnya atau meninggalkan segalanya demi hasrat pribadinya. Belum ada yang spesial memang dari narasi di atas. Namun, kekuatan dari nilai produksi Ave Maryam justru hadir dari kemunculannya sebagai film itu sendiri. Tanpa permisi, ia mampu menggasak dan membawa sekoper penuh pekerjaan rumah bagi industri film Indonesia. Kelindan dua tema besar –cinta dan agama– yang telah dibangun secara kokoh lewat puluhan judul drama picisan muslim kosmopolitan sejak 10 tahun lalu nampaknya harus undur diri segera dari ruang putar komersial. Karena tidak ada kebaruan yang bisa ditawarkan sejak daur ulang judul semakin tidak mampu menggambarkan realita apapun atau beberapa judul yang justru akan lebih masuk akal ketika ditonton secara ironis. Ave Maryam mampu membawa angin segar bagi monotonitas tema cinta dan agama. Tanpa ada tendensi untuk memutus rantai nilai sebelumnya yang semakin jauh semakin mengerdilkan apapun yang dibawa oleh relasi cinta, religiusitas, dan agama.

5. Nyanyian Akar Rumput

Nyanyian Akar Rumput

Sutradara: Yuda Kurniawan

Film mengambil judul dari salah satu puisi Wiji Thukul yang dibuat di tahun 1988, bercerita tentang keluarga Thukul dalam menjalani hidup setelah suami dan atau ayah mereka dinyatakan hilang pada tahun 1998. Ada kepingan-kepingan puzzle yang berusaha dirangkai dalam menghidupkan figur penyair dan salah satu aktivis hak asasi manusia yang dihilangkan di bawah rezim Soeharto ini. Nyawa baru dihembuskan melalui puisi-puisi Wani kecil hingga dewasa sampai lagu-lagu Fajar Merah di Merah Bercerita hasil gubahan puisi Thukul yang mampu memberikan kekuatan penyembuhan bagi banyak orang; termasuk bagi Fajar dan keluarga Thukul sendiri. Bagi mereka, ini bukan hanya soal bertahan untuk melanjutkan hidup, tetapi bagaimana agar terus mempertahankan dan mewariskan semangat perjuangan sebagai salah satu peninggalan Thukul yang paling berharga. Yuda Kurniawan mengambil koridor utama ini, membangun narasi dan membentuk film sedemikian rupa sebagai sebuah dokumenter musik yang turut memunculkan narasi-narasi kecil lain di sekitar aktivisme Wiji Thukul.

4. Kisah Dua Jendela

Kisah Dua Jendela

Sutradara: Paul Agusta

Film bercerita tentang Andrea dan Leon, dua orang yang memilih untuk hidup pada frekuensi yang berbeda dari orang lain. Andrea adalah pekerja yang selalu bekerja pada malam hari di sebuah kantor yang hampir kosong dan Leon adalah seorang penulis yang terbiasa bekerja malam di warung kopi favoritnya di seberang kantor Andrea. Dua jendela jadi perantara bagaimana pada akhirnya mereka berjumpa. Jakarta, ajaibnya, begitu sepi dan indah dalam Kisah Dua Jendela. Di tengah hiruk pikuk kehidupan serba modern. Keterasingan dan kesepian memang tidak bisa lepas dari manusia, karena mungkin modernitas itu sendiri yang mengasingkan manusia dari diri sendiri dan sesamanya. Di sini, Paul Agusta tidak semerta-merta menyajikan kesepian sebagai sesuatu yang asing apalagi menyedihkan. Ia membimbing audiens untuk menonton secara proaktif alih-alih pasif. Ia bekerja lebih banyak pada penghayatan kesan dan suasana. Di permukaan, tidak banyak yang terjadi memang pada Kisah Dua Jendela, karena kepuasan justru hadir ketika penonton diberi ruang lebih sesekali waktu untuk berhenti sejenak dan mengunyah apa yang terjadi dan membiarkan sepi itu masuk dan tak asing lagi. Film mewujud upaya membaca kembali fenomena yang tidak bisa lepas dari kehidupan modern kita dengan mengalami rasa sepi di dalamnya paling tidak selama satu setengah jam film dihadirkan.

3. Kucumbu Tubuh Indahku

Kucumbu Tubuh Indahku

Sutradara: Garin Nugroho

Limitasi-limitasi yang dibentuk atas nama gender bisa jadi memang hanya mempersulit apa yang ada. Kepala begitu tertanam dengan proyeksi kedirian individu ke depan: lelaki harus-ini-itu, atau perempuan harus-ini-itu. Kondisi diperparah pula lewat mata publik yang kejam. Alih-alih menciptakan kehidupan yang lebih harmonis, ketabuan demi ketabuan diciptakan hanya untuk membuat segalanya semakin homogen. Kucumbu Tubuh Indahku menyajikan sebagian kecil dari narasi ini melalui cerita seorang pria Jawa, Juno. Juno hidup di sebuah desa di Jawa Tengah dan ditinggalkan ayahnya ketika ia masih berusia belia. Cerita berangsur pada konflik di mana Juno menemui dirinya berselisih dengan hal-hal yang maskulin dan tertarik pada kegiatan yang dianggap lebih feminin. Kecintaannya pada seni tari membuatnya bergabung dengan kolektif tari Lengger. Feminitas semakin bergejolak di cangkangnya yang maskulin. Lewat Juno, penonton disuguhi sebuah kenyataan di mana sulit bagi seorang pria untuk berkelakuan dan atau berpenampilan seperti wanita. Di ruang personalnya yang tenang, Juno tetap mengekspresikan dirinya di saat yang sama ketika kedekatan semakin terbangun di antara penonton dan seorang Juno di layar. Tentang bagaimana dengan eloknya, tubuh Juno yang semakin wajar dalam merangkul feminitas. Dan tubuh kita di ruang berbeda, yang semakin wajar dalam melihat ini sebagai rantai alami dari banyak hal alih-alih sebuah disforia gender belaka.

2. Keluarga Cemara

Keluarga Cemara

Sutradara: Yandy Laurens

“Ini mimpi kami [tim produksi] semua dari lama. Kami membayangkan ada hari di mana sekeluarga ke bioskop sama-sama: ada bapak, ibu, anak. Dan hari ini kami merasa mimpi ini terwujud,” ucap Yandy Laurens –sang sutradara– pasca pemutaran perdana Keluarga Cemara di Indonesia pada gelaran JAFF 13th lalu. Tidak lebih tidak kurang, adaptasi serial TV populer Indonesia karya Arswendo Atmowiloto pada tahun 90-an yang menceritakan jatuh bangun kehidupan satu keluarga ini adalah perwujudan paling mulia dari mimpi tadi tanpa tedeng aling-aling. Film hadir membawa narasi prekuel, atau selayaknya episode nol dari serial TV-nya dengan pengkondisian era sekarang. Ia menghadirkan pada penonton bagaimana kekuatan karakter-karakter seperti Abah, Emak, Euis, dsb muncul, dibentuk, dan terbentuk sebelumnya melalui film ini. Menemui diri dengan film komersial namun brilian seperti Keluarga Cemara adalah pengalaman baru yang sungguh menggugah. Tidak ada dialog cringe maupun cheesy, product placement diletakkan dengan cermat, dan porsi karakter-karakter di dalam film dibangun tidak untuk mendominasi satu sama lain. Sebagai film keluarga, Keluarga Cemara adalah contoh terbaiknya sementara.

1. 27 Steps of May

27 Steps of May

Sutradara: Ravi Bharwani

Pasca pemerkosaan brutal di masa mudanya, May menutup diri, mengisolasi, dan mengalienasi dirinya dari dunia luar. Hidupnya kini tak lebih dari sebuah sirkuit: busana sama setiap hari, memastikan boneka-boneka yang dibuatnya penuh rapi satu lemari, hingga bermain lompat tali. Dengan cara-cara ini, May berharap tak ada lagi hal tak tertebak menimpanya lagi. Memblokade setiap emosi dan memori sampai pada suatu hari lubang kecil di tembok kamarnya mempertemukannya dengan hal yang sama sekali asing baginya: dunia sulap penuh misteri. Sama halnya dengan kemahiran sulap, sembuhnya trauma dan luka May perlu latihan dan perjuangan. Trauma tidak hanya bagi May namun juga ayahnya. Seorang yang kerap meledakkan energi ketidakberdayaan dan rasa bersalahnya yang mendalam dalam ring tinju profesional dan ring tarung ilegal. Kekerasan seksual dan atau pemerkosaan adalah kenyataan pahit yang memang banyak terjadi sekaligus merupakan tindakan yang brutal. Tidak berlebihan pula jika tulisan, pemberitaan, hingga film tentangnya pun seharusnya juga disampaikan dengan brutal. Jika menelaah premis ini saja belum mampu. Kita hanya akan membuat barisan orang yang kelambanan, penghindaran, atau paling buruk dukungannya telah memungkinkan pelaku kekerasan seksual kebal pertanggungjawaban akan semakin panjang. Penonton bagai samsak yang tak henti-hentinya dipukul oleh kenyataan yang disajikan. Revisi kami jika salah, rasanya belum ada film Indonesia yang mampu secara cemerlang membawa urgensi isu ini ke wilayah sinema Indonesia seperti 27 Steps of May.

DAFTAR LENGKAP ALBUM, LAGU & FILM TERBAIK 2018 BISA DIBACA DI TERBAIK-TERBAIK 2018

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response