close

Film Internasional Terbaik 2019

film

Tahun 2019 adalah tahun yang luar biasa bagi sinema, dapat dikatakan salah satu tahun terbaik sepanjang sejarah sinema. Banyak film di tahun 2019 dan mungkin memberi sumbangsih film bagus paling banyak untuk dekade ini. Hal ini bukan saja karena keberagaman filmmaker di seluruh dunia yang namanya muncul ke permukaan, tapi juga karena keberagaman subjek dan urgensi yang dihadirkan dalam film. Para filmmaker semakin beringas dan berani dalam merespons isu seputar politik yang aktual, gejolak ekonomi, dan persoalaan kemanusiaan yang kian kompleks. Sebagai penutup dekade, 2019 adalah kombinasi yang unik antara film sebagai bahan introspeksi dan pengingat. Jika, beberapa tahun kebelakang hidup semakin ruwet dan gawat.

10. The Irishman (USA) Sutradara: Martin Scorsese

The Irishman adalah film kriminal US yang kaya akan tekstur dan memiliki kisah yang padat, juga rumit, terlihat dari durasinya yang hampir empat jam, namun diceritakan dengan begitu lancar dan apik. Diadaptasi dari buku non-fiksi I Heard You Paint Houses karya Charles Brandts, film ini singkatnya menceritakan tentang penebusan, persahabatan dan loyalitas antara para lelaki yang berkutat dalam dunia “yang gelap” dan berbalik menjadi konflik antar sesama. Orang-orang di belakang dan di depan kamera film ini bukan nama-nama yang asing, sebagai jantungnya, The Irishman dipompa oleh empat seniman kawakan yang secara kolektif mencapai puncak barunya: Joe Pesci sebagai bos besar Pennsylvania, Russell Bufalino, lalu ada Al Pacino sebagai presiden Teamsters Jimmy Hoffa, dan Robert De Niro sebagai tangan kanan mereka, Frank Sheeran, masing-masing bekerja dalam harmoni paling intim yang dapat dibayangkan dengan filmmaker kondang yang tak tertandingi, Martin Scorsese.

Scorsese melalui The Irishman berhasil menceritakan asumsi dan pendekatan terhadap kehidupan yang salah arah dalam isi kepala Frank dan orang-orang seperti dia. Para lelaki yang tinggal di jalanan, gedung perkantoran, pertemuan bisnis dan sangat sedikit menghabiskan waktu di rumah. Keharusan untuk bekerja dan selalu siap ketika ada panggilan tidak dapat dihindari, tetapi keluarga, idealnya, dapat menarik lelaki-lelaki ini untuk pulang ke rumah sehingga mereka tidak pergi ke tempat kerja setiap saat. Keuniversalan The Irishman inilah yang membuatnya begitu pedih. Kekuasaan dan tahta seseorang akan menghilang seiring waktu. Sebenarnya hanya keluargalah yang pantas mendapatkan perhatian lelaki-lelaki ini karena merekalah yang tetap akan abadi. Tentu ini sesuai dengan keyakinan Scorsese sebagai orang itali-amerika yang menganggap keluarga adalah segalanya. Ketika Frank duduk di rumah pensiunnya, dia dipaksa untuk menyadari hal ini. Sebuah dunia yang bukan lagi tentang Hoffa dan orang-orang sepertinya, tetapi tentang Peggy Sheran (Anna Paquin), anaknya yang tidak pernah dia miliki ketika dia menjadi pengikut setia orang seperti Hoffa. Scorsese melihat waktu sebagai hukuman yang pas, membuat seorang lelaki menyadari bahwa dia telah kehilangan satu-satunya hal yang penting dalam hidup dan dia tidak mampu untuk kembali ke masa lalu, ia takan pernah bisa menangkap lagi momen-momen yang telah hilang.

Alhasil, bukan sebuah penyesalan bagi Netflix yang telah mengeluarkan jutaan dolar untuk memfasilitasi Scorsese sebuah kanvas kosong. The Irishman menjadi pelajaran yang baik dari orang tua untuk anak-anaknya tentang bagaimana teknik storytelling yang baik adalah salah satu faktor penting dalam film. Suatu hal yang kerap dikesampingkan filmmaker-filmmaker masa kini yang condong mengeksplorasi bentuk tapi gagap menyampaikan maksudnya.

9. Kim Ji-young: Born 1982 (Korea Selatan) Sutradara: Kim Do-young

Fenomena invasi sinema Korea semakin terasa kuat di dekade ini. Tentu tidak adil rasanya bila terus menyebut nama-nama sutradara lelaki dan tidak melirik filmmaker perempuan dari Korea yang juga membuat film yang bagus. Kim Do-young yang mungkin tidak seterkenal Bong Joon-ho, Park Chan-wok, Kim Ki-duk, atau sutradara lelaki lainnya di korea patut menjadi sorotan. Melalui Kim Ji-young: Born 1982, Kim Do-young, dengan mengadopsi novel dari judul yang sama karya Cho Nam-joo, mengafirmasi jika film-film dari negara ginseng ini patut mendapat perhatian lebih.

Film ini dibintangi oleh Gong Yoo (Jung Dae-hyun) dan Jung Yu-Mi (Kim Ji-young) yang telah bekerja bersama dalam Train to Busan (2016). Kim Ji-young adalah protagonis dan penyambung cerita sehingga alur film ini berputar di kehidupan sekelilingnya. Kim Do-young sebagai sutradara mencoba untuk menceritakan tugas-tugas perempuan yang sebenarnya. Semangat feminisme yang menjadi dasar dari naskah film ini, diolah menjadi cerminan emosional dan meninggalkan dampak dengan dialog yang menarik. Dengan intensi sutradara yang tegas menentang masyarakat patriarkal konservatif, naskah ini mengikuti tokoh protagonis perempuan dengan menambahkan konflik dan itu menciptakan ketegangan dan menarik penonton bersamanya.

Hal menarik tentang film ini adalah ketika film ini diniatkan menjadi sebuah film biografi/biopic, namun kemudian kenyataannya film ini adalah sebuah prosoprography/biografi kolektif.  Hal ini dikarenakan Kim Ji-Young adalah sebuah nama yang umum di Korea, seperti halnya John atau David dalam budaya Korea sehingga film ini dapat dikatakan mewakili setiap wanita biasa. Ji-Young dalam film ini menyampaikan suara seorang wanita yang tertindas dan lingkaran masalah domestik dengan baik. Hasil dari kerja keras Do-young sebagai sutradara untuk karakter ini membuat Kim Ji Young Born 1982 menjadi karya dari negara Korea yang menyayat hati & yang terbaik setelah Parasite di tahun ini.

8. Synonyms (Prancis, Jerman, Israel) Sutradara: Nadav Lapid

Melalui film panjang ketiganya, Nadav Lapid mengarahkan penonton untuk mengikuti petualangan Yoav (Tom Mercier), seorang Israel yang dipenuhi kekecewaan pada banyak hal lalu melarikan diri ke Paris setelah pelatihan militernya. Yoav yang memiliki masalah personal dengan bahasa Ibrani mengabdikan dirinya untuk mempelajari seluk-beluk bahasa Prancis. Lalu terperosok kedalam segitiga emosional dan intelekual dengan pasangan bohemian yang terlihat sejahtera (Quentin Dolmaire dan Louise Chevillotte), dan sialnya, Yoav sering mendapatkan dirinya diobjektifikasi, baik secara politis maupun seksual. Film ini menjadi ekspresi yang kuat mengenai ketidakmungkinan seseorang meninggalkan asalnya, sebuah film yang berbicara tentang bahasa, konsep ketubuhan, maskulinitas dan rapuhnya gagasan kebangsaan.

Synonyms memang film yang rumit, berat, dan sulit dijelaskan. Namun, perjalanan Yoav yang ingin meninggalkan negaranya dan memulai kembali dari tanah Perancis, mencoba menyesuaikan diri dengan budaya baru, orang-orang baru, tempat baru dan pemikiran-pemikiran baru yang didambakan olehnya, terasa signifikan dengan goyahnya konsep tentang identitas kebangsaan terutama di Israel yang sejak jaman dahulu selalu berkutat dalam konflik kebangsaan. Terlebih krisis yang melanda Uni Eropa dan batas-batas imajiner yang manusia ciptakan justru mengurung subjek sejak dalam bahasanya. Yoav yang berusaha keluar dari batas-batas tersebut pada akhirnya gagal dan terjebak dalam persoalan yang paling dasar dalam diri manusia, bahasa.

Lapid sejak menyutradarai Policeman (2011) sudah mendapatkan sorotan di New York Film Festival ke 48, ditambah filmnya The Kindergarten Teacher (2014) yang diremake oleh Hollywood pada tahun 2018, membuat Lapid menjadi sutradara asal Israel yang patut disimak. Di tahun ini Synonyms menjadi karya Lapid yang paling berani dan paling menghantui.

7. The Souvenir (UK, USA) Sutradara: Joanna Hogg

Joanna Hogg melalui The Souvenir membingkai otobiografinya sendiri ke dalam sebuah potret seorang artis muda di London awal 1980-an. Terperangkap di antara mimpi-mimpinya menjadi pembuat film dan komitmennya pada toxic relationship, Julie yang berusia 24 tahun (Honor Swinton Byrne) pulang setiap malam dari sekolah film ke apartemen di kawasan mewah Knightsbridge yang dimiliki oleh ibunya (Tilda Swinton) hanya untuk menemukan kejutan-kejutan memuakan dari pacarnya, Anthony (Tom Burke), seorang pecandu yang entah kenapa memiliki aura canggih untuk menutupi jurang keegoisan dan keputusasaan. Sebuah drama coming of age yang sangat halus dan bergerak tentang sebuah hubungan yang menggerogoti jiwa Julie. Melalui The Souvenir, Hogg juga berhasil membangkitkan semangat jaman, tempat, dan suasana nasional.

Hogg melalui film ini memang tidak memiliki intensi untuk menghibur, bahkan bisa dibilang ia tidak peduli jika penonton tidak terhibur melihat kehidupan Julie, karena memang hidupnya segetir itu. Namun ketika film ini dilihat sebagai serangkaian ingatan autobiografis, ia berhasil. Film ini mencatat dengan baik waktu sutradara di sekolah film, di mana dia berkencan dengan seorang pecandu heroin yang sepenuhnya tidak menyenangkan, dari awal hingga film berakhir. Film ini berhasil mengumpulkan momen traumatis, sehingga terlihat bagaimana Hogg dihantui oleh masa lalu yang menentukan hidupnya saat ini. Kekuatan dari The Souvenir adalah suasana emosional yang dibangun untuk merasakan apa yang Julie rasakan sepanjang film ini.

Tags : film internasional terbaik 2019
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.