close

Film Internasional Terbaik 2019

film

6. The Farewell (Cina, USA) Sutradara: Lulu Wang

Kekuatan terbesar dari The Farewell karya Lulu Wang adalah kemampuannya untuk menangkap realitas secara apa adanya. Tema semacam kebohongan, perpisahaan, dan keluarga sebetulnya bisa saja dibesar-besarkan, dibuat sok-sokan puitis, dan bahkan bisa dibuat sangat murung. Tetapi Wang mengolahnya dalam interaksi yang natural dan cenderung komedik di antara keluarga Billi (Akwafina). Wang berhasil menghindari “jebakan batman” dari katalog film A24 yang kerap mengandalkan pendekatan metaforik-puitik, dan jarang bertele-tele dalam cerita keseharian. Namun, bukan berarti The Farewell tidak puitik dan tidak bisa menyentuh perasaan, dengan caranya sendiri ia mampu menjadi film keluarga yang hangat dan menyentuh perasaan.

Naskah dan penyutradaraan Wang layak mendapat banyak pujian, tapi di samping itu Akwafina berhasil menjadi nyawa film ini. Akwafina memerankan Billi di film ini sebagai seorang imigran Cina-Amerika yang merindukan rumah dan kelurganya di Cina. Akwafina berakting apik dalam menunjukan dilema hidupnya yang berlapis-lapis. Salah dua hal yang ditangkap dengan baik oleh The Farewell adalah pergulatan internal timur/barat yang harus dihadapi banyak orang Cina-Amerika. Billi, dari bahasa yang digunakan dapat dikatakatan adalah orang Cina, tetapi penguasaan bahasa cinanya yang kurang lancar, aksen Amerika-nya, nilai-nilai kebarat-baratannya, menandai dia sebagai orang luar bagi keluarganya. Ada adegan dalam film ketika Jian (Diana Lin) dan kerabat lainnya bolak-balik, mencoba untuk saling berdiskusi tentang negara mana, antara AS atau Cina, yang menjanjikan masa depan yang cerah. Terlihat ada semacam kecemburuan yang diarahkan terhadap orang tua Billi, di mana mereka merasa bahwa hanya karena “anda tinggal di Amerika tidak membuat anda lebih baik dari kami”.

Secara utuh The Farewell terangkum dalam momen perjuangan yang dirasakan Billi ketika pamannya Haibin (Jiang Yongbo) menjelaskan, kenapa mereka tidak akan memberi tahu Nai Nai (Zhao Shuzhen) bahwa dia terkena kanker stadium empat, karena itu adalah tugas keluarga untuk memikul beban emosional itu, bukan dia. Seperti disinggung oleh Haibin, hal ini merupakan konsekuensi dari masyarakat Timur memiliki sikap yang lebih kolektif sementara Masyarakat Barat menempatkan banyak kepentingan pada individualitas. Wang melalui The Farewell berhasil tidak menghakimi dan memihak pada satu sisi; satu-satunya solusi adalah menemukan jalan tengah untuk hidup bersama. Dan Awkwafina melakukan pekerjaan yang baik dengan menggambarkan perjuangan itu sebagai Billi. The Farewell menjadi film melodrama / komedi cerdas yang mampu menyentuh hati, membuat menangis dan tersenyum dan pada saat bersamaan.

5. Monos (Argentina, Kolombia, Denmark, Jerman, Belanda, Swedia, Uruguay, USA) Sutradara: Alejandro Landes

Monos, yang memenangkan Special Jury Award di Sundance, menjadi salah satu film yang paling diperdebatkan tahun 2019. Bahkan, Peter Bradshaw dari The Guardian menyebutnya “Apocalypse Now on Shrooms.” Dengan membawa semangat dari novel Lord of the Flies, Alejandro Landes menghadirkan film drama perang yang intens dan mendebarkan. Julianne Nicholson memainkan seorang insinyur Amerika “Doctora” Sara Watson, yang diteror dan ditawan oleh bandit gerilya remaja di sebuah hutan Amerika Selatan yang tidak disebutkan namanya. Tanpa pemimpin dan tanpa asal usul yang jelas, para prajurit anak-anak memperkenalkan diri dengan nama-nama seperti Rambo (Sofía Buenaventura), Smurf (Deiby Rueda), dan Bigfoot (Moises Arias). Mereka hidup di alam liar dan menyelamatkan diri dari kebosanan dengan mabuk-mabukan, permainan seksual dan melakukan ritual seperti pemujaan. Perang fisik dan perang psikologis, membuat film ini terasa mencekam. Dan ketika krisis kepercayaan timbul diantara satu sama lain, hukum rimba jadi pegangan, siapa yang kuat dialah berkuasa.

Bisa dibilang, tidak ada filmmaker kontemporer yang masih membuat film seperti ini. Landes melalui Monos, harus diakui menjadikannya berada di liga yang sama dengan film paling gelap dan paling intens dari dekade 70-an. Sebut saja Coppola (Apocalypse Now), Herzog (Aguirre: Wrath of God) & Friedkin (Sorcerer). Suasana gelap dan atmosfer yang mencekam dibangun berkat sinematografi Jasper Wolf yang cemerlang menangkap landscape yang liar dan asing. Ditambah kepiawaian Mica Levi yang mampu menghadirkan perasaan surreal dan uncanny melalui soundscape sumbang yang tajam.

Monos bukanlah film yang blak-blakan dalam memberikan konteks sosialnya. Pilihan ini tentu cukup beresiko karena dapat berpotensi meninggalkan kekosongan pada penonton. Namun, Landes melakukan hal ini sebagai pilihan yang cerdas. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga detail konflik sebagai misteri, membiarkan perang menjadi alegori untuk hampir semua perang yang dilakukan umat manusia, dan bukan hanya konflik Kolombia yang sedang berlangsung. Film ini sangat alegoris, bahkan bisa saja ditafsirkan sebagai film tentang film coming of age, karena pemeran utama dalam film ini menemukan dirinya bereksperimen dengan alkohol, narkoba, seksualitas, tetapi juga tidak mematuhi atasan mereka dan berpikir bahwa mereka memiliki cara yang lebih baik dalam menjalankan hal daripada atasan mereka. Monos dengan bahasa sinema, berhasil menampilkan kegelapan paling purba yang bersemayam dalam hati manusia.

4. The Lighthouse (USA) Sutradara: Robert Eggers

Dari shoot pertama film ini, Robert Eggers sudah memberi peringatan jika The Lighthouse akan menjadi sesuatu yang berbeda dibandingkan dengan standar saat ini. Pertama-tama, film ini menggunakan aspek rasio tidak biasa (1.19:1) yang secara bentuk, berkontribusi banyak dalam memberikan perasaan klaustrofobik dan perasaan terisolasi.         Thomas Howard (Robert Pattinson) dan Thomas Wake (Willem Dafoe) menjadi penjaga mercusuar di pulau yang terisolasi dari dunia luar, tidak ada siapapun selain mereka di sana. Pulau itu berpusat di tengah laut, kegelapan dan kehampaan menjadi kawan mereka. Eggers telah memilih aspek rasio ini untuk memberikan perasaan klaustrofobia dan perasaan terisolasi yang sama kepada penonton.

Pilihan untuk memberi warna film ini dalam palet hitam-putih sangat baik. Minimnya warna berhasil menekankan kesuraman dunia tempat mereka berada. Film ini akan tentu akan kehilangan rasanya jika dibuat berwarna, Eggers memang terinspirasi dari film-film ekspresionisme Jerman dalam hal pencahayaan. Dalam hal ini, pencahayaan digunakan dengan sangat baik untuk menunjukkan seperti apa kegelapan itu secara metaforis dan seperti apa harapan dan cahaya di puncak mercusuar. Alhasil film ini berhasil memberi banyak informasi tentang keadaan pikiran dua karakter utama hanya dari penggunaan berbagai variasi warna hitam dan warna putih. Selain itu, berbicara tentang bagaimana film ini terlihat, sinematografi sangat bagus. Ada banyak longtake yang dieksekusi dengan sangat baik. Longtake ini sebagian besar berfungsi untuk memberikan perasaan tidak nyaman dan gelisah. Juga, pengambilan close-up dalam monolog yang tepat untuk membuat penonton merasa terancam.

Sejak The VVitch (2015), terlihat bagaimana Eggers terobsesi dengan alegori dan simbol. Melalui The Lighthouse, Eggers bermain dengan alegori promethean dengan baik. Sebuah tragedi seorang “pahlawan” yang ditolak oleh “ayahnya” dan Oedipal dalam keinginannya untuk membunuh. Alegori promethean diolah menjadi pergolakan ombak hasrat antara Howard dan Wake. Ketika Wake mengatakan “The light belongs to me,” Howard harus menerima kenyataan jika ia objek hasratnya telah direpsesi dan memberikan penderitaan psikologis. Selain itu simbol-simbol seperti burung gagak, putri duyung, dan tentakel hadir untuk memperkuat latar tempat dan waktu di mana cerita-cerita itu hidup. Dengan penggunaan Alegori dan simbol yang tepat dan akurat, The Lighthouse mempermantap Eggers sebagai sutradara yang jenius. “Why’d ya spill yer beans?

Tags : film internasional terbaik 2019
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.