close

Film Internasional Terbaik 2019

film

3. Portrait of A Lady On Fire (Prancis) Sutradara: Céline Sciamma

Pada puncak abad ke-19, pelukis muda Marianne (Noémie Merlant) melakukan perjalanan ke sebuah pulau berbatu di lepas pantai Britania Raya. Di sini, dia telah ditugaskan untuk membuat potret pernikahan Héloise (Adèle Haenel), yang pernikahannya dijanjikan kepada pria yang belum pernah dia temui. Enggan dinikahkan secara paksa, Héloise pada awalnya menolak untuk dilukis, namun benih-benih cinta yang secara perlahan tumbuh berkembang di antara Marianne dan Héloise, diukir dengan indah dan elegan dalam Portrait of A Lady On Fire. Dengan ketelitian visual yang sama halusnya dengan cara melukis Marianne yang karya-karyanya diciptakan dengan penuh kasih sayang, Céline Sciamma secara cantik membingkai romansa melodramatik yang ada dalam ingatan seorang pelukis dan masa lalunya.

Dalam Portrait of a Lady on Fire, Sciamma membangun narasi sejarah alternatifnya sendiri, sebuah sejarah versi perempuan yang berjalan secara paralel dengan narasi yang diajarkan di ruang kelas. Terlihat dalam adegan ketika Marianne dan Heloise menemukan diri mereka bersama Sophie di hutan pada malam hari di antara sekelompok wanita lokal yang bertemu untuk bernyanyi dan menari bersama dalam cahaya api unggun. Suara mereka terdengar gemilang dalam harmoni perempuan empat bagian dari lagu-lagu rakyat Breton. Masyarakat rahasia ini memang hanya berisi perempuan. Karena sejarah selalu ditulis oleh laki-laki, selalu tampak bahwa semua yang dilakukan perempuan hanyalah mengepel, tetapi sebetulnya perempuan selalu menikmati pesta. Hal ini juga yang membuat tidak adanya kehadiran lelaki dalam film ini.

Fokus utama dari film ini adalah penciptaan seni, atau sebut saja, peniruan realitas melalui gambar. Mempertanyakan keraguan dan tantangan yang sulit tentang bagaimana seseorang dapat menafsirkan dan menangkap esensi sejati seseorang melalui fisiognomi seseorang dan mentransformasikan citra itu ke bentuk lukisan. Film ini sangat jeli pada detail, Sciamma memberi perhatian pada hal-hal kecil dan berhasil menciptakan perasaan untuk membuat penonton ikut merasakan bagimana keintiman antara Marianne dan Hélois terbangun, juga pengorbanan yang pada akhirnya harus mereka tempuh dalam menjalani kisah serupa Orpeus dan Eurodit versi lesbian.

2. Parasite (Korea Selatan) Sutradara: Bong Joon-ho

Riuh ramai perbincangan tentang film Parasite memang bukan main-main. Bong Joon-ho yang sekarang terkenal secara internasional menjauh dari politik nasional dan bermain dengan aksioma masyarakat: tidak ada kelas sosial ekonomi yang memiliki moral yang lebih tinggi daripada yang lain. Kedua tingkat kehidupan diejek dengan satir tanpa mengurangi semangat perjuangan kelas bawah dalam masyarakat kapitalis. Hebatnya Boong dalam Parasite terletak pada pemaknaan film sebagai hiburan tanpa mengorbankan subteks tematik dari esai yang dibuatnya dengan sangat baik. Hasilnya, Parasite menjadi sebuah magnum opus yang secara naratif digadang-gadang menandingi epic The Godfather-nya Coppola.

Parasite menampilkan kisah keluarga kelas bawah yang berjuang untuk memenuhi kebutuhan secara bertahap, dengan trik yang lihai akhirnya mereka berhasil menyusup ke rumah tangga kelas atas. Bagaimana mereka melakukan hal ini, dan bagaimana rencana terbaik mereka berujung menuju kehancuran dan kegilaan, menjadikan Parasite salah satu film yang paling liar, paling menakutkan, dan paling tak terduga dalam beberapa tahun terakhir. Seperti semua karya terbaik filmmaker Korea Selatan, Parasite sama-sama berliku dan kompleks. Penggambaran yang ekstrem di mana manusia mendorong diri mereka sendiri dalam dunia yang kadung begitu tidak adil karena ketidaksetaraan ekonomi yang tak berkesudahan dan tak terjembatani. Sebuah penggambaran baik tentang ketimpangan kelas di era kapitalisme lanjutan yang jelas pantas memenangkan Palme d’Or tahun ini.

1. Bacurau (Brasil, Prancis) Sutradara: Kleber Mendonça Filho, Juliano Dornelles

Kleber Mendonça Filho dan Juliano Dornelles melalui Bacurau tampaknya ingin menghadirkan sebuah satir yang benar-benar serius, film ini berusaha menangkap konteks sosial politik negara berkembang seperti Brazil yang di luar nalar dan saking semrawutnya, banyak ditemukan keabsurdan. Film yang memenangkan Jury Prize di Festival Film Cannes 2019, berfokus pada sebuah komunitas kecil di pedalaman Brasil yang dihantui oleh berbagai peristiwa luar biasa setelah kepala sukunya (Carmelita) mati. Bacurau mencoba merespons bagaimana privileges negara maju untuk mendominasi. Seringkali dominasi itu dilanggengkan melalui pembunuhan massal dan tipu daya, di negara berkembang.

Film yang dimulai sebagai drama sosial Brasil, observasi mengenai kondisi dan kemiskinan yang terjadi di bawah tangan walikota yang korup. Penampilan wideshoot lanskap pemandangan gurun dan gunung yang indah bukanlah sesuatu yang eksotis dalam film ini. Ia berfungsi sebagai tempat di mana interaksi tentang konteks sejarah lokal sejarah panjang perlawanan. Pada pertengahan film cerita berputar tentang perlawanan bersenjata dalam menghadapi genosida dengan gaya yang sangat eksploitatif. Transisi mode penceritaan dilakukan dengan cermat dan cerdas, Filho dan Dornelles membanting drama arthouse ke film aksi yang sangat Amerika lengkap dengan kepala yang meledak a la John Carpenter. Pilihan cerdas ini menunjukkan jika suatu kebudayaan akan mengadaptasi dan mempersenjatai diri dengan “bahasa” penindasnya.

Dibintangi oleh Bárbara Colen (Teresa) dan Thomas Aquino (Pacote), yang keduanya berhasil menyampaikan banyak kasih sayang dan emosi dalam film, serta keberanian, yang meskipun pada awalnya membuat mereka kesulitan, pada akhirnya menyatukan mereka. Filho dan Dornelles dengan cekatan menumbangkan ekspektasi ketika peristiwa-peristiwa yang telah dibangun. Mereka memperlihatkan bagaimana seluruh peristiwa sosial politik tidak lepas dari aktivitas-aktivitas kecil yang dilakukan oleh minoritas.

Bacurau tentu layak mendapat kadar perhatian yang sama dengan Parasite di mata dunia. Bagaimanapun film ini adalah salah satu manifestasi paling penting dalam sejarah sinema Brasil.

Tags : film internasional terbaik 2019
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.