close

[Album Review] FISIP Meraung – Pitik Dan Sapi

fisip meraung
fisip meraung
fisip meraung

Artis     :  FISIP Meraung

Album     : Pitik dan Sapi

Rilis     :  Juli 2014

Produksi  :  Bedroom Records

 

Tunggu dulu, ini bukan band bentukan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM kampus), atau bukan juga band hardcore dengan dentuman beat yang menghentak. Mereka adalah kelompok musik humor yang menyisipkan unsur core dalam proses kreatifnya. FISIP Meraung namanya. Tidak main-main, band yang mengusung humorcore ini sudah menelurkan 9 album dari sekitar 3 tahun aktifitas bermusiknya. Lagu berbahasa jawa dengan durasi singkat telah termaktub dalam sanubari para Gedang Rockers (fanbase Fisip Meraung). Album Pitik dan Sapi menjadi bukti keproduktifitasan bagi Topik, Amek dan Athif yang tergabung dalam grup orkes humor ini.

Gambar sapi yang kepalanya ditutupi oleh benda semacam keset ini menjadi artwork cover depan album, ditambah dengan tulisan Fisip Meraung yang menggunakan font WordArt style 28 pada Microsoft Word. Cukup sederhana. Kekonyolan album ini semakin maksimal atas bonus yang didapat setiap pembelian album ini, yaitu satu sachet obat sakit kepala, Paramex. Album ini berisikan 7 lagu dengan durasi maksimal dua menit tiap lagunya. Jadi hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk bisa menikmati keseluruhan album ini. Mari kita buktikan.

Lagu yang berjudul sama dengan nama album, “Pitik dan Sapi” menempati urutan pertama. Lagu ini berkisah tentang menurunnya harga sapi lokal akibat dibukanya impor daging sapi beberapa waktu lalu. Kemudian lagu berjudul “Sekaten” ada di track nomor tiga. Lagu ini bercerita tentang acara tahunan yang diselenggarakan di alun-alun kota Solo dan Yogyakarta dalam rangka memperingati hari kelahiran nabi Muhammad S.A.W bagi pemeluk agama Islam. Acara kultural tahunan ini disimpulkan dalam lirik sederhana oleh Fisip Meraung: “Dolan ning sekaten, tuku kapal otok-otok dolanan tong setan, dolan ning sekaten.

Selanjutnya ada lagu yang berjudul “Ajar Kere”, atau kira-kira artinya belajar menjadi orang susah. Lagu ini dibalut dengan nuansa blues dan ada sedikit sentuhan stoner rock. Dengan suara vokal yang agak tersayat, sang biduan meraung “aku ora mangan setahun, aku ora adus 2 tahun. Pada lagu yang berjudul Campur Gambus kuat sekali karakter Fisip Meraung dalam kemampuannya mengolah vokal tanpa lirik, semacam ngoceh tanpa narasi.

Tembang yang berjudul Mas Angga menjadi lagu penutup pada album ini. Menariknya, lagu ini diiringi oleh genjrengan gitar akustik dan diperkuat oleh sentuhan choir yang menambah varian rasa dibanding lagu-lagu lainnya. Menyimak album Pitik dan Sapi, seakan merelaksasi isi kepala yang rumit menjadi lebih lumer dan cair. Coba saja.

[Kontributor: Gunawan W.] 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.