close

FMF 2018: Mencari Rakyat dalam Jalinan Musik dan Literasi

Processed with VSCO with g6 preset

Urusan soal bagaimana musik mencampuri hidup seorang manusia adalah hal misterius. Folk di kepala saya yang tinggal di Yogyakarta adalah seruan kemanusiaan puitik dari Sisir Tanah lewat gitar kopongnya, amarah musikal Deugalih dan suara blues-nya, siar harap Agoni yang menyulut api di dada, atau petikan liris Umar Haen yang gencar mengampanyekan kebijakan hidup ruralnya. Namun di luar sana, khalayak tengah ramai merayakan folk sebagai musik akustik yang tak boleh absen dari syahdunya kabut-kabut gunung atau semilir angin senja di pinggir pantai. Semuanya boleh, semuanya sah, semuanya betul. Lagipula, siapa yang bisa menyalahkan?

Folk Music Festival 2018, yang diadakan selama tiga hari pada 3-5 Agustus 2018 lalu benar-benar merepresentasikan keragaman definisi folk masa kini yang melalang buana di kancah musik Indonesia. Deretan nama musisi yang syahdu berisi, hingga garang menampar hati tampil bergiliran.

Penonton membawa tenda untuk properti foto / Umar Wicaksono

Selain musik, konten literasi yang bergizi juga ditambahkan sebagai kegiatan hari pertama festival. “Literasi itu kan hal yang sangat dekat dengan musik, tapi belum banyak orang baca buku. Jadi kami harap itu bisa jadi hal baru untuk penonton FMF tahun ini,” jelas Anitha Silvia yang ditemui WARN!NG di lokasi. Konten literasi ini diadakan dalam bentuk panel talkshow yang membahas empat topik: sastra Indonesia Timur, Folk Indonesia Timur, Geliat Media Online, dan Penyelenggaraan Festival. Founder kami, Tomi Wibisono sempat jadi moderator untuk diskusi Sastra Indonesia Timur. Mahfud Ikhwan dan Aan Mansyur menjabarkan soal kancah sastra di Makassar, bahkan juga tren lagu-lagu India di Jawa Timur. Topik segar ini memunculkan narasi alternatif dikusi budaya yang umumnya berpusat di Jakarta dan Jawa. Tubuh yang kaget dengan suhu dingin malam itu menghangat oleh penampilan folk-garage FOLKTIVALIST. Farid Stevy berpidato-puitik, menggeret kolaborator dadakan, dan memaksa tetap crowdsurfing di atas penonton yang duduk menggerumbul karena kedinginan. “Crowdsurf di acara folk nggak haram kan?” teriaknya sesaat sebelum melompat. Saya tergencet dan kedinginan, dasar vokalis edan.

Sekitar 200 penonton yang hadir sejak hari pertama akan menemukan banyak hal menarik. Misalnya obrolan Fuad Abdulgani dan Is Pusakata soal Folk Indonesia Timur yang mencerahkan soal asal-usul senja, kopi, dan rindu di stereotip musik folk masa kini. Besoknya, hal ini membuat saya terkikik ketika menonton Daramuda –trio Rara Sekar, Sandrayati Fay, dan Danilla— menyanyikan kata-kata kunci ini untuk mengolok musisi-musisi folk yang terjebak pada terma itu.

Hari-hari berikutnya, konten literasi menyempil di sela-sela penampilan musik yang menyala dari siang hingga tengah malam. Seperti dalam acara lokakarya menulis puisi oleh pasangan penyair Theorisia Rumthe dan Weslly Johannes di hari kedua-ketiga, juga lapak puisi seketika milik mereka.

Setelah dibuka oleh dua musisi folk hasil temuan program Gang of Folk, Arief S. Pramono dan Sepertigamalam, Gardika Gigih mengokupasi panggung. Memainkan repertoar syahdu yang membuat suhu dingin jadi dramatis. Dikepung suhu kawasan Agrowisata Batu yang mencapai angka 13o, saya dan penonton lain yang banyak ulah di depan panggung. Kecuali di hari pertama saat Efek Rumah Kaca naik, mengajak serta mantan basis mereka Adrian Yunan. Pertunjukan ini berlangsung panas hingga penonton rela berdiri dan sesekali mengepalkan tangan. Adrian Yunan sendiri juga tampil solo di hari kedua menyanyikan lagu-lagu dari albumnya, Sintas.

FSTVLST yang berubah jadi FOLKTIVALIST / Umar Wicaksono
Daramuda di panggung pertama mereka / Umar Wicaksono

Hari kedua ini juga diisi oleh kelompok muram Tigapagi yang membuat badan-badan makin merapat. Sementara itu, penampilan tak terduga dihardirkan Navicula dalam format akustik. Mereka dihadirkan dalam tajuk secret guest. Lewat orasi-orasinya, Robi dan kawan-kawannya membuat penonton yang kadung terhanyut kesyahduan FMF sadar bahwa Malang juga masih jadi bagian sebuah negara yang rajin membuat kita patah hati dengan kasus-kasus kemanusiaan, konflik agraria, dan segala carut marutnya. “Ini lagu untuk petani-petani di Indonesia yang memilih tetap berani,” ujarnya sebelum memainkan “Balada Pak Tani”.

Masih di panggung utama, penampilan musik hari ketiga dibuka dengan penampilan segar dari Diroad, kolektif asal Palembang yang mengusung suara-suara melayu yang terasa otentik. Juga duo irish-folk asal Malang, Wake Up Iris! yang ‘turba’ ke lapangan rumput dan menyanyi bersama penonton. Setelah menyaksikan mereka, saya sendiri cukup pesimis melihat line up hari ketiga dan memilih berkeliling di area literasi atau mencicipi kegiatan lain.

Tembang-tembang neo-folk milik Bin Idris saya nikmati sambil bergaya jadi suku indian di area mini outboud. Permainan memanah berhadiah jagung rebus saya jajal. Hari itu saya juga mengamati penonton-penonton lain yang sibuk saling menghangatkan diri, berpose all-out dengan gaya pakaian yang sebenarnya lebih cocok dipakai di kawasan tropis panas ketimbang Batu yang membeku –salam hormat saya untuk mereka yang rela kedinginan demi fashion!—, dan mengantre wedang jahe di pasar kreatif. Kegiatan wara-wiri ini ternyata membuat saya gagal menonton Pappermoon Puppet Teathre yang mendirikan tenda kecil di pinggir kolam untuk pertunjukan privat dengan cerita yang dijahit di tempat. Cukup menyesal.

jason ranti / Umar Wicaksono

Penampilan favorit di hari ketiga ditampilkan oleh Jason Ranti yang terlihat bengal dan merepetkan umpatan untuk bapak-bapak pejabat, sampai undang-undang keparat. Untung saja slide-show-nya yang tidak senonoh tidak diberantas oleh panitia-panitia yang entah mengapa memakai embel-embel bermotif militer sebagai seragam. Tenda-tenda hijau khas barak tentara yang berdiri di beberapa titik sempat jadi obrolan beberapa lingkaran yang merasa bahwa hal itu tidak cocok dengan musik folk yang jadi konten acara. Oleh Jason Ranti, folk menjelma lagu-lagu yang menghunus tajam meski dibawakan dengan sederhana dan kocak.

Selepas penampilan Reda yang mengharukan sebagai separuh Ari Reda, saya memilih menghabiskan waktu di area literasi. Toko Buku Fatimah, yang kami kelola mendadak berubah jadi markas penyair-penyair untuk diskusi dan menghangatkan diri hingga malam. Weslly Johannes yang sibuk melayani puisi seketika harus rela mengikhlaskan mesin tiknya dijarah demi melancarkan program perang puisi. Aan Mansyur, Gunawan Maryanto, dan musisi seperti Rara Sekar dan Monita Tahaela kemudian tampil bergantian membacakan puisi dalam program panggung puisi bergilir yang juga dibuat dadakan. Theorisia Rumthe yang mengambil posisi sebagai MC juga menarik penonton yang lewat di depan booth untuk mampir dan merayakan puisi. Berbekal haus puisi dan gelontoran sari apel dari beberapa kawan, semua orang berani berpuisi meski dihadapan penyair-penyair kondang. Di lingkaran ini, literasi yang sebenarnya dipanggungkan di hari pertama FMF memaksa merebut panggungnya kembali.

Acara dadakan ini berlangsung hingga jadwal musisi penutup FMF tahun ini, White Shoes and The Couple Company naik panggung. Pada akhirnya ketika naik ke area musik kembali, saya sadar selama tiga hari ini saya lebih sibuk merayakan literasi dan segelintir musik ketimbang sibuk berkontemplasi untuk merumuskan definisi folk. Pada 2016 lalu, saya sempat melakukan wawancara dengan Sisir Tanah, penyanyi folk yang setia meneriakkan isu kemanusiaan. Baginya, folk adalah musik yang mampu menghadirkan keberagaman pikiran dan perasaan dalam suasana sehari-hari yang wajar dan tidak dibuat-buat. “Biasa saja. Seperti sebuah kampung beserta tik-tok tukang siomay, ting-ting pedagang bakso, dog-dog bakmi godog, sirene ambulan, mobil polisi, palang pintu kereta api, deru mesin pesawat, gerobag sampah, batuk-batuk tetangga, tangis bayi, gosip, mesin pemotong rumput, siaran berita, dangdut, keroncong, campursari dan sebangsanya.”

Theorisia Rumthe mengundang pengunjung untuk membaca puisi / Umar Wicaksono

Namun toh sepertinya FMF memang tak lalu punya kewajiban menjawab atau melegitimasi siapa yang folk dan siapa yang bukan. Seperti halnya makna festival, FMF adalah perayaan. Untuk saya, meski cukup kecewa dengan line up-nya, FMF telah berhasil merepresentasikan kerumitan musik folk yang berseliweran saat ini. Semoga dengan muatan konten literasi, FMF bisa membuat para pendengar folk tak begitu saja hanyut dalam musik-musik syahdu dan justru melupakan janin lagu folk itu sendiri. [WARN!NG/Titah AW]

Galeri Folk Music Festival 2018 oleh Umar Wicaksono

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response