close

Folk Music Festival 2016: Konstelasi Pesta Pora Gitar Kopong

Silampukau (4)
Silampukau
Silampukau

Festival musik tak melulu soal seberapa besar hingar bingar yang digemakan, bukan perkara seberapa masyhur bintang tamu yang didatangkan. Tetapi bagaimana festival musik itu menjadi ruang untuk berbagi kehangatan.

Sore itu Malang menyajikan keramahan bagi pendatangnya; cuaca yang tak begitu panas, rerimbunan pohon kiri-kanan yang semerbak memberikan kesejukan juga angin sepoi-sepoi yang bertiup halus, pelan, dan sejalur menyeruak ke atas permukaan. Bagi saya, Malang tak ubahnya teman dekat yang telah lama pergi lalu datang membawa sejuta cerita kerinduan. Bukan tanpa alasan saya bepergian ke kota yang terkenal akan Aremania dan baksonya ini. Adalah Folk Music Festival 2016 yang menarik minat sehingga saya rela bepergian jauh ke arah timur; meninggalkan setumpuk pekerjaan dan bergabung bersama keriaan musisi-musisi ternama dari kancah lokal maupun nasional.

Di tahun pertama Folk Music Festival geliat metropolis begitu terasa karena mengambil latar sebuah mall di kota Surabaya. Sedangkan untuk tahun kedua panitia menggandeng Lembah Dieng sebagai venue perhelatan; berwujud tempat terbuka yang di dalamnya terdapat gubangan danau, hijau pepohonan besar serta suasana syahdu bak pelataran Fuji Rock Festival.

Akses ke venue tidak terlalu jauh karena masih berada di lingkup perkotaan. Ketika sampai, saya melihat sebuah panorama yang luas, tentang bangunan yang dulu menyimpan nama besar namun sekarang tak terurus adanya. Memasuki pelataran, tidak nampak perkakas-perkakas khas dekorasi konser. Cukup jarang mendapati pemandangan itu selain di pintu masuk. Itu pun hanya segelintir dari pihak sponsor. Dari pintu ke masuk menuju venue masih harus berjalan kaki; melintasi dataran di pinggir danau dengan lumpur yang menggenang, melewati jembatan kecil yang warna indahnya sudah terkikis jaman, lalu sampai di area pertunjukan yang berbentuk amphiteater dengan titik fokus pada panggung di tengahnya.

Arireda
Arireda

Amphiteater baru setengah terisi ketika line up musisi FMF 2016 mulai diawali. Salah satu penampil yang saya tunggu dalam Folk Music Festival kali ini tentu saja sosok AriReda yang tampil pada sore hari. Berpegang pada musikalisasi puisi, saya ingin merasa takjub tatkala menyelinap masuk dalam syair-syair yang mereka lantunkan. Bait-bait Sapardi mereka bawakan penuh ketenangan; roman mengalir di setiap sajak-sajak penuh makna. Amphiteater meniupkan keheningan saat semua mata tertuju pada mereka yang sudah lama melintang; lantas menyanyikan puisi di kala senja menyambut dan berakhir dengan kemeriahaan tepuk tangan tulus dari segala penjuru. Mereka membelah barisan dengan keindahan, kejatuhan dan patah hati temporer lewat “Akulah Si Telaga”, “Hujan di Bulan Juni”, “Menghentikan Hujan” serta “Aku Ingin”.

Folk Music Festival juga menjadi media untuk musisi pendatang baru. Menampilkan Wake Up, Iris!, Teman Sebangku, Littetude, Aurette and The Polska Seeking Carnival serta Christabel Annora. Wake Up, Iris!, yang tampil sebagai pembuka membawakan musik yang begitu atraktif meski hanya didominasi tiga alat akustik saja. Balada-balada semacam “Rain’s Tale” atau “Resfeber” lugas memberikan kesan bahwa mereka punya potensi panas di masa mendatang. Nama berikutnya adalah Taman Sebangku yang gencar dibicarakan. Doly Harahap serta Sarita Rahmi datang membawa album debut Hutan Dalam Kepala yang nikmat untuk didengarkan. Vokal renyah, keramahan atraktif juga petikan gitar menerawang jadi nilai plus tersendiri. Rombongan dari Bandung bertajuk Littlelute menyebarkan aura gembira, riang juga penuh antusiasme sedari komposisi karya mereka di Traces of Dollface and Plots dimainkan. Membawakan nomor catchy macam “Berlibur ke Poznan”, “Charlie” maupun “Childhood Story” mengingatkan saya akan gerombolan Arcade Fire yang sedang berorientasi di pasar malam Kentucky, disaksikan oleh barisan anak kecil kemudian bernyanyi dan tertawa bersama. Aurette and The Polska Seeking Carnival dengan kolektifnya menyajikan persembahan yang bersuasana pesta pora. Dimotori Aurelia Marshal bersama Dhima Christian, warna musik mereka sangatlah meriah; tiupan trombone, lengkingan akordeon, genjrengan ukulele bernada minor serta varian ketukan ritme yang naik-turun bak roller-coaster merupakan ciri khas konseptual. Lalu ada Christabel Annora yang muncul sebagai solois menjanjikan. Performanya malam itu sangat impresif. Jemarinya berkeliaran lincah di atas tuts keyboard, pandai mengendalikan tempo dan tak nihil suasana.

Teman Sebangku (4)

Tiga Pagi
Tiga Pagi
Aurette & The Polska Seeking Carnival
Aurette & The Polska Seeking Carnival

Sayangnya sepanjang acara saya mencoba menepikan kondisi visual yang ada. Untuk ukuran festival sekelas ini, paparan visual yang disajikan cukup membuat diri untuk mengelus dada. Bukan apa-apa, tapi semenjak awal sampai gelap menyerang, tidak ada konstruksi visual bagus yang mendukung performa musisi tamu; hanya sebatas slide show tentang alam, senja dan lautan luas. Seharusnya permasalahan ini mampu digarap secara maksimal agar penonton juga mendapati estetika menyaksikan berkualitas. Pun juga soal lighting yang belum bisa menghidupkan suasana sesuai lagu yang dimainkan para musisi. Terkadang perihal teknis bagaimana memasang pewarnaan tatkala lagu sendu dimainkan atau lagu bertempo upbeat diketukkan musti dikuasai dengan mafhum, terlepas hanya segelintir pihak yang bersuara.

Kepadatan musisi tamu, semestinya membuat setiap pengisi sadar untuk menghargai waktu. Aksi Auerette and The Polska Seeking Carnival dan Liyana Fizi yang mengambil waktu terlalu lama di panggung jadi contoh konkritnya. Kehadiran mereka seolah mengaburkan tensi festival yang sudah stabil berubah ke level membosankan. Jadwal yang awalnya sudah senantiasa dibuat sedemikian rupa nyatanya tak mampu membendung kisah klasik bernama kemoloran. Alhasil musisi yang bermain selepas petang harus rela dipotong durasi waktunya. Sejatinya mereka masih bisa membawakan penampilan dengan santai namun yang ada justru kesan diburu oleh waktu. Hal ini nampak sekali ketika Tigapagi, Danilla dan Mocca tergerus akan durasi.

Christabel Annora
Christabel Annora
White Shoes And The Couples Company
White Shoes And The Couples Company

Dibalik kritikan tentang perkara teknis yang dirasa substansial, festival ini rasanya patut diberi pujian. Selain harga tiket yang sangat terjangkau, juga melihat timbal balik deretan musisi berkualitas yang didatangkan, Folk Music Festival 2016 menyediakan ruang bagi mereka yang menelurkan karya-karya baru seperti Wake Up, Iris!, Teman Sebangku, AriReda, Littlelute, Aurette and The Polska Seeking Carnival, Christabel Annora sampai Liyana Fizi yang diimpor langsung dari Negeri Jiran. Musisi segar dengan potensi hebat di waktu mendatang berkumpul bersama di satu tempat; saling menularkan semangat positif lewat balutan festival musik. Tak hanya itu terselip pula nama-nama yang sudah memiliki sepak terjang tinggi yakni White Shoes and The Couples Company, Silampukau, Mocca, Tigapagi, Danilla dan tentu saja Float. Menyempurnakan deretan pengisi perhelatan festival dengan bernas. Aksi Sari Sartje yang turun panggung dan beraksi di tengah penonton, guyonan hangat Silampukau dan pancingan mereka untuk meneriakkan beberapa bait lagu dari album mereka Dosa, Kota & Kenangan juga agenda wajib untuk sing along di setlist Mocca dan Float tentu jadi menu wajib yang sudah tidak perlu diragukan kenikmatannya.

Apakah terlalu padat untuk ukuran pengisi acara? Saya tidak terlalu mempermasalahkan; selama dikemas dengan perencanangan matang, baik segi teknis dan non-teknis. Memandang animo yang besar dari publik, seharusnya di hajatan selanjutnya Folk Music Festival mampu tumbuh dan berkembang sedemikian rupa. Tidak hanya urusan teknis tapi juga bagaimana festival ini dapat menjadi rumah bagi setiap penonton dan musisi di dalamnya.[WARN!NG/Muhammaf Faisal]

Date venue: 14 Mei 2016
Man of the match: kehanyutan musikalisasi puisi AriReda saat “Aku Ingin”, kesenduan Christabel Annora ketika memainkan “Rindu Itu Keras Kepala”, dan sing along syahdu “Pulang” di akhir perjumpaan
Event by: Soledad & The Sisters Company
[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Gallery:

Folk Music Festival 2016 [part 1]

Folk Music Festival 2016 [part 2]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.