close

For Jogja With Love, and Bomb

aIMG_0748

Navicula © Warningmagz
Navicula © Warningmagz

 

“Kita selalu gembira jika dapat tawaran main di Jogja. Jogja salah satu kota favorit kami.”(interview  w/ Warningmagz).

Kutipan di atas hanya salah satu dari sekian kalinya Navicula menyatakan antusiasmenya untuk mengunjungi kota seniman dan budaya ini. Maka jelas, tur album ke 7, Love Bomb, tak mereka sia-siakan. Sebagai kota ketiga, kegairahan masyarakat grunge Jogja pun cukup tinggi meski problema waktu sempat memberikan impresi negatif di awal. Digelar di Liquid Café (5/11), penonton yang telah mulai berkampung ria di pelataran Liquid sejak sekitar pukul sembilan malam harus menunggu hingga jam sebelas kurang demi performance Distorsi Liar dan Festivalist sebagai opening act. Dua jam adalah keterlambatan yang cukup melelahkan dalam concert tour band lokal.

 Sudah cukup lama nggak main di Liquid, soundnya makin bagus”, ujar Farid, vokalis Festivalist. Mendengar sound malam itu memang cukup mujarab mengalihkan problema ngaretnya pertunjukan. Beberapa lagu seperti “Hujan Mata Pisau”, “Manifesto Postmodernisme”, dan nomor The Ramones, “I Wanna Be Your Boyfriend” menjadi begitu apik di telinga. Kukuhnya sound juga sangat menyangga band yang tampil sebelumnya, Distorsi Liar, untuk menyajikan distorsi yang memang liar. Menjadikan stimulan rasa grunge yang jempolan pada beberapa lagu seperti “In The Morning” dan cover Nirvana, “School”. Sayangnya kedua karakter performance band yang sebenarnya sangat rawan riuh gempita tersebut harus terhambat dengan table set di venue sehingga penonton menjadi enggan dan tak leluasa untuk menggelar moshpit. 

Usai opening act, video musik track terbaru Navicula, “Busur Hujan” yang diputarkan kemudian mengingatkan bahwa headline yang akan naik panggung berikut adalah sekumpulan musisi yang memiliki kepedulian penuh terhadap dinamika lingkungan hidup. Seolah sebuah lisensi pula bagi video “Busur Hujan” untuk mengambil setting tempat di atas kapal kebanggaan Greenpeace bernama Rainbow Warrior yang sedang bersandar di pelabuhan Bali. Dalam video itu juga tersaji beberapa footage terkait perusakan lingkungan. Kecintaan terhadap warisan alam inilah yang juga tumbuh dalam konten literal Love Bomb. Album yang sebagian materinya direkam di studio legendaris Hollywood, Record Plant, ini ingin menyampaikan manifestasi cinta yang berbeda dalam lirik-liriknya, termasuk pada destinasi juang sosial, kemanusiaan, dan tentu saja lingkungan.

Realitanya Navicula baru tampil di hari berikutnya karena waktu sudah melewati dini hari ketika mereka mulai mengokupasi panggung. Untungnya ketakutan akan hambarnya show akibat interior venue tak terjadi karena sejak “Menghitung Mundur” bergaung, penonton sontak berjingkrak-jingkrak menghamburkan keringatnya. Bahkan situasi makin panas ketika beberapa wanita bule merengsek ke barisan depan untuk ikut berhuru-hara seolah tak memperdulikan keberadaan penonton yang memburu tenteram dari meja-kursi di sekitar. Spirit Grunge malam itu pun terselamatkan.

“Jogja bebas korupsi nggak?”, Sebuah pertanyaan sederhana menancap dalam-dalam dari Robi (vocal) sebelum Navicula mengobarkan “Mafia Hukum” yang bersambut singalong penonton. Robi malam itu memang banyak menyapa penonton, entah meminta request, atau menerangkan lagu-lagu yang akan dibawakan, terutama lagu-lagu dari Love Bomb seperti “Harimau-Harimau”, “Days Of War, Night of Love”,  atau “Bubur Kayu”. Navicula juga memenuhi request seorang kawan untuk membawakan lagu anthem grunge non Nirvana, “Alive” dari Pearl jam. “Sebenarnya kami gak terlalu hafal” tukas Robi yang memang terlihat sedikit kurang nyaman memainkan lagu itu meski vokalnya diluar dugaan mampu menggilas dengan baik nada-nada sulit Eddie Vedder (vokalis Pearl Jam). Setelahnya, giliran “All Apologies” dari Nirvana yang didemonstrasikan sebelum “Metropolitan” dan “Refuse To Forget” di daulat sebagai penutup. Ternyata Jogja belum puas, menagih encore, dan kota favorit tentu tak akan dikecewakan. “Suram Wajah Negeri” dikumandangkan sebagai ajakan terakhir bagi Jogja untuk menggugat kebobrokan negaranya. Satu hal yang kemudian Jogja yakini, Navicula memang tak hanya cakap sebagai aktivis dan pujangga larik-larik tentang rimba, derita fauna, dan derita Jakarta, namun mereka juga penghibur yang dicintai. [Warn!ng / Soni Triantoro]

 

crowd
crowd

Gigs Documentation here -> Navicula Love Bomb Tour 2013

Event by : Indie. Go!!

Date : 5 November 2013

Venue : Liquid Cafe

Man of The Match : Sound nyaring dan pesan lagu yang tajam adalah mutualisme  

Warning Level :•••

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response