close

[Album Review] Frau – Happy Coda

frau-happy-coda

frau-happy-coda

What : Happy Coda

Label : Yes No Wave Music         

Genre : piano, pop

Watchful Shot : Tarian Sari, Arah

[yasr_overall_rating size=”small”]

Sebuah hadiah telah diberikan oleh seorang perempuan muda dari Yogyakarta. Sebuah buku dongeng yang mengisahkan cerita-cerita sederhana. Sebuah kotak musik dari kaca yang bisa kamu dengar denting beningnya. Sebuah perjalanan yang bisa kamu tentukan sendiri akan berakhir dimana dan seperti apa. Happy Coda, sebuah bekal untukmu menjadi bahagia.

Suara Frau, denting piano, dan keheningan yang disisakan untuk imaji pendengar adalah resep utama album kedua Frau yang berjudul Happy Coda ini. Sederhana, tapi efeknya masih seperti dua tahun lalu saat album pertamanya Starlit Carousel diluncurkan, lebih dahsyat bahkan. Di album yang diluncurkan secara online oleh netlabel Yes No Wave Music pada 19 Agustus lalu ini, Frau menekan ego seorang pengisah yang menuntun kita pada sebuah akhir, sebuah titik. Alih-alih melakukan itu, Frau melalui 8 lagu di album ini berperan sebagai pendamping yang mempersilahkan kita memilih sendiri bagaimana kisah-kisah itu akan berakhir.

Dalam catatan yang disertakan Frau di paket album ini, Frau menjelaskan bahwa Happy Coda tidak bisa didefinisikan sebagai akhir. Dalam bahasa Italy, Coda artinya ekor. Dalam kamus musik Coda berarti pengantar sebuah komposisi musik menuju bagian akhirnya. Dan seperti itu juga kisah-kisah yang disuarakan Frau, belum selesai.

Dibuka dengen nomor “Something More” yang seolah bernada sinis terhadap turis-turis yang berlagak menguasai kota, Frau megantar imaji pendengar melalui intro yang panjang di akhir lagu. Terbayangkan seperti apa kisah pertama ini akan berakhir sebagai dinamika sebuah tempat yang hiruk pikuk atas apa yang terus bergerak dan diam.

Intro nomor “Water” kemudian mengalun. Lirik lagu ini berkisah tentang nasib berbeda dua orang perempuan muda yang dimetaforkan ke bentuk danau dan sungai. Kehidupan yang berbeda, lingkaran yang berbeda, jalur dan pergerakan yang berbeda. Denting piano Frau yang berubah-ubah syahdu lalu bertempo cepat seolah menggambarkan bagaimana benang merah dari dua subjek ini bergerak. “Happiness doesn’t take its time to judge…” katanya, bahagia memang seharusnya seperti itu.

“Empat Satu”, “Suspens”, dan “Mr. Wolf”  adalah salah tiga lagu dari album ini yang menyuara lincah dan jenaka tanpa kehilangan maknanya. “Empat Satu” yang lincah membawa kita pada sebuah ruangan dimana sebuah permainan kartu sedang dimainkan. Pertaruhan, pengambilan resiko dan degup jantung yang tegang jelas terbayang. Sedangkan pada nomor “Suspens”, Frau mengajak kita jadi orang tua yang khawatir melihat anak kita yang mulai tumbuh dewasa. Bisakah kita ? atau mungkin seperti ini perasaan orang tua kita saat melihat kita tumbuh dengan labilnya ?

Kemudian gambar tentang kisah sepasang kekasih dan kisah-kisah seru mereka seolah tersorot di layar besar saat “Mr.Wolf” dimainkan. “In such a different world my very mr. wolf wouldnt mind to be my everything.. in such a scary life he has been sailing as a pirate and abandoned in this ground of neverland…”

Denting pentatonik yang magis meyuara di intro, disusul hening sesaat yang mematikan saat “Tarian Sari” mulai menyuara. Sebuah sampur disibakkan, raut wajah seorang nenek yang sedang mengenang masanya terbayang, lalu derap langkah lincah dan suara tawa anak kecil kemudian memeluknya. Sebuah scene yang kalau di visualkan mungkin akan sangat mengharukan. Lengkingan dan humming vokal Frau menyuara di tengah lagu. “Dalam tawa si mungil semua yang tak akan berganti yang akan…” harapan memang kadang sesederhana itu.

“Whisper” akhirnya sampai ke telinga. Dentingan piano yang monoton mengiringi kisah tentang seorang lelaki yang sedang terjebak dalam kebosanannya. Terdengar agak frustasi, namun tetap indah. Menyuara tidak lebih dari dua menit, kisah berganti ke ujung album. “Arah” mendapat gilirannya. Penyerahan diri dan penghambaan pada sebuah ‘ruang’ yang ada dalam masing-masing hati kita menyuara diiringi suara piano yang lembut dan sederhana. “Genggamkan lelahku ditanganmu, usai itu lanjutku, senyum kacau di bibir, akan lengkap sudah sembahku untukmu…”

Lalu siapa yang bilang bahwa kisah-kisah bahagia harus dibumbui semburan api naga, pengorbanan hidup pangeran, atau putri kerajaan yang menikah lalu hidup bahagia selamanya ? Happy Coda dengan kisah-kisah sederhana yang hidup disekitar kita berbicara lain. Dongeng yang mewujud potongan-potongan scene sehari-hari yang menguras emosi.  Seolah berkata bahagia memang sesederhana itu. Tidak muluk, tidak berandai, dan kisah-kisah bahagia yang sering luput itu dibungkus Frau dengan indahnya disini, di Happy Coda. [WARN!NG / Titah Asmaning]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response