close

[Album Review] FSTVLST – HITS KITSCH

FSTVLST HITS K
FSTVLST - HITS KITSCH
FSTVLST – HITS KITSCH

FSTVLST – HITS KITSCH

Self Released

Watchful Shot : Tanah Indah Untuk Terabaikan, Rusak dan Ditinggalkan – Bulan, Setan dan Malaikat – Akulah Ibumu – Hari Terakhir Peradaban – Hujan Mata Pisau

[yasr_overall_rating size=”small”]

Dengan berupaya lepas dari sugesti judul albumnya, dialektika atas apa yang disebut dengan hits dan kitsch memang mewarnai riwayat saya menelusuri materi HITS KITSCH. Ada banyak momen di perjalanan album ini dimana saya merasa berada di persimpangan jalan untuk mengapresiasi dengan jempol ke atas atau ke bawah, melihatnya sebagai pencapaian estetika atau sebuah manifesto melodrama, mulai puisi tujuh menit di “Hal-hal Ini Terjadi”, melodi vokal bernuansa melayu di “Ayun Buai Zaman”, atau gaya lirik yang metaforis dari Farid Stevy Asta selaku vokalis di seluruh lagu (Saya pun beberapa kali goyah dan bingung dalam menentukan rating).

Namun, satu yang tak bisa dibantah dari HITS KITSCH adalah sensibilitas pop yang pekat. Seluruh lagu memiliki potensi kuat untuk masuk ke telinga dan membahagiakan pendengarnya kendati saya melewatkan dua lagu pertama, garage anthemic di “Orang-Orang di Kerumunan” dan indie folk “Menantang Rasi Bintang”, tanpa ada minat lebih. Baru pada nomor ketiga, “Hujan Mata Pisau” saya menjumpai dunia FSTVLST yang saya cari, dunia dimana dering-dering gitar mengasah dinamika aransemen yang ganjil. “Akulah Ibumu” menyusul bersama vokal wanita dan alunan sinden sebagai sebuah eksperimen ringan yang jitu. Sementara “Tanah Indah Untuk Para Terabaikan, Rusak dan Ditinggalkan” punya komposisi yang paling mahal, dance-able , serta tetap berpegang pada melodi vokal yang sulit ditolak.

Farid pernah menuturkan bahwa ia hanya menulis lirik tentang kehidupan sehari-hari. Naga-naganya memang begitu, namun saya menyayangkan bagaimana pola penulisan lirik yang puitis dan menggoda imaji pada HITS KITSCH akhirnya melepaskan topik yang lebih konkret, mikro, dan simpel di Jenny—band cikal bakal mereka—seperti tatkala mereka bicara tentang suka ria berkaraoke (“Monster Karaoke”) dan bermalam minggu (“Menangisi Akhir Pekan”).

Upaya FSTVLST mengubur stigma ‘strokes-wannabe’ pada Jenny pun cukup nampak, terutama bagi mereka yang sebelumnya pernah mendengar versi pra-album dari “Hujan Mata Pisau” dan “Hari Terakhir Peradaban” yang masih kotor dan lo-fi. Kehadiran instrumen keyboard –kadang lebih dominan daripada distorsi gitar—merupakan salah satu rona perubahan parade warna musik di FSTVLST yang cukup kentara tanpa membatasi potensi binal musikal HITS KITSCH. Lantas, jika Jenny adalah The Strokes, kini mau kau sebut apa musik FSTVLST? Post punk, rock alternatif, art rock, folk rock, garage rock, baroque pop, experimental rock, indie rock, versi supel dan protagonis The Velvet Underground, atau kita akhirnya sungguh paham kenapa lebih baik satu suara untuk menyebut karya mereka sebagai ‘almost rock barely art’.

“Mati Muda” masih merupakan nomor favorit saya, namun biarkan saja lagu jagoan Jenny itu menjadi cult, karena materi yang terkumpul di HITS KITSCH sudah lebih dari cukup bagi FSTVLST untuk mengistirahatkan Jenny, dan terlahir kembali sebagai salah satu penyebar bahagia paling terincar di setiap akhir pekan Yogyakarta saat ini. [Soni Triantoro]

Tags : fstvlst
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response