close

Future Collective : Intelejensi Musik Masa Depan

future collective
Future Collective
Future Collective

Ranah elektronik adalah kawasan yang rentan akan sebuah gejolak masa depan. Terkadang kita sebagai orang awam merasa itu sulit untuk dipahami. Namun, paradigma tersebut coba diubah step-by-step oleh Future Collective; sebuah duo elektrik huru-hara asal Jakarta. Beranggotakan Sawi Lieu dan Tida Wilson, mereka mengusung era retro-futurism 60-an dengan fondasi electronic-music yang diperkuat unsur space age pop sampai krautrock. Tahun ini, karya mereka dengan tajuk Ensemble Instrumental de Contemporaine sudah rilis ke pasaran melalui label Wahana Records dan Orange Cliff Records. Kemasannya pun unik; bukan cakram padat melainkan kaset pita untuk format tape.Kesederhanaan packaging tak berdampak pada sistematika musik yang mereka tawarkan; cerdas dan berbobot. Maka kesempatan WARN!NG untuk bertukar pikiran dengan mereka kali ini dapat dijadikan sedikit referensi tentang Future Collective. Bersama Sawi Lieu dan Tida Wilson, kita akan mendapati opini yang terstruktur dan filosofis. Dari pandangannya soal kritikus sampai masturbasi individual.

Menjadi introduksi, bisa bercerita sedikit mungkin tentang bagaimana Future Collective terbentuk?

Awal terbentuk Future Collective bisa dibilang cukup spontan dan mengalir begitu saja. Kami sama-sama mempunyai visi dalam bermusik dan kebetulan visi itu terealisasi begitu saja melalui Future Collective. Musik itu ibarat benih dan kami adalah tanah yang cocok agar benih itu dapat tumbuh. Kami tidak pernah merasa menciptakan atau menemukan Future Collective, tapi sebaliknya, Future Collective mempertemukan kami; musik mempertemukan kami.

Lalu mengapa kalian mengusung musik elektronik sebagai konstruksi kalian dalam berkarya? Apakah memang jadi kesukaan kalian terhadap genre musik ini?

Keterbatasan sumber daya kami pikir adalah problema yang selalu dialami oleh musisi-musisi kamar tidur yang kere seperti kami. Untuk itu, kami selalu dipaksa untuk memaksimalkan apa yang ada, tanpa sepenuhnya mengabaikan pencapaian ide dan produksi yang (menurut kami) mumpuni. Lagipula, musik elektronik bagi kami bukanlah sekedar genre, tapi lebih kepada sebuah metode untuk menyampaikan ide kami. Beberapa pelukis lebih memilih menggunakan medium tradisional seperti kuas, beberapa pelukis lebih memilih menggunakan medium lain seperti cat semprot. Semua perihal perspektif. Musik (dan seni secara general) —seperti halnya hidup—adalah juga soalan perspektif. Cara pandang. Itu kenapa kami tidak terlalu suka dengan pendikotomian antara seni dan hidup. Pendikotomian itu biasanya hanya akan berakhir pada kategorisasi (fasistik) antara baik dan buruk (bukan berarti tidak perlu). Dan itu, menurut kami, adalah sebuah bentuk kemalasan, jika bukan elitisme.

Berbicara mengenai album Future Collective Ensemble Instrumental de Contemporaine, banyak dipuja berbagai kalangan kritikus. Karena karya kalian di album ini merepresentasikan “karya orisinil dan terbarukan”. Bagaimana Future Collective menanggapi hal ini?

Karya kami tidak baru, apalagi orisinil. Kami tidak munafik. Kami bukan agen-agen yang mengampanyekan orisinalitas. Kekayaan intelektual adalah hal yang problematik. Kami, seperti banyak dari musisi-musisi lain dewasa ini, hanya mengulang apa yang telah ada, membangkitkan kembali apa yang ada (dan terlupakan). Jika lagu-lagu kami terdengar ‘baru’ dan ‘orisinil’ bagi telinga pendengar, maka itu lebih disebabkan karena pendengar yang belum pernah mendengar musik-musik semacam ini sebelumnya. Dan belum pernah, itu bukan berarti belum pernah ada.

Tentu, ‘kritikus’, mereka bebas berkata apa saja. Tapi perlu ditekankan di sini, kami tidak begitu suka dengan kata itu: ‘kritikus’. Ada semacam otoritas yang bersifat apriori di dalamnya. Kami lebih suka menganggap mereka sebagai ‘penikmat’ atau ‘pengkhidmat’ musik. Terdengar lebih bersahaja. Dan seperti penikmat lainnya, mereka punya referensi personal soal apa yang baik untuk mereka dengarkan dan tidak. Subyektif, tidak bisa sepenuhnya obyektif. Lagipula, seringnya, ketika seorang ‘kritikus’ berbicara, sebenarnya mereka sedang berbicara soal diri mereka sendiri. Kami cenderung tidak terlalu menganggap serius hal-hal seperti itu. Dan sebaiknya semua orang juga. It’s just one big parade.

Dari track-list album kalian, saya tertarik dengan 3 nomor: “Distant Beach”, “Delusion of the Dream”, dan “South Subversive Rhythm”. Sekilas terdapat pengaruh dari Belbury Poly sampai The Free Design (terutama di lagu “Distant Beach”) Apakah mereka jadi inspirasi Future Collective dalam menggarap lagu-lagu di album ini?

Dua grup/musisi tersebut memang menjadi salah dua dari begitu banyak inspirasi kami dalam membuat lagu. “A Distant Beach” dan “Delusion of the Dream” khususnya adalah nomor-nomor personal bagi kami. Personal, tapi tanpa terjebak dalam masturbasi individual. Metode kami dalam menggarap lagu bisa dibilang cukup konvensional, sekaligus eksperimental. Konvensional dalam artian kami masih mengandalkan ritme dan melodi, ada kaedah-kaedah formal yang menurut kami penting untuk dipertahankan; eksperimental dalam artian kami berusaha semaksimal mungkin untuk meminimalisir proses-proses yang matematis, membiarkan kreativitas mengalir begitu saja. Memori  juga memegang peranan penting dalam keseluruhan proses tersebut. Kami selalu dihantui memori, maklum, romantisis hahaha.

Rilisan Ensemble Instrumental de Contemporaine juga ada dalam bentuk kaset tape—yang notabene sudah ditinggalkan banyak penikmat. Strategi marketing Future Collective kah?

Kebetulan kami memang senang dengan medium kaset. Tidak ada niatan untuk memanipulasi (lebih baik kita akui saja, strategi pemasaran itu memang adanya manipulatif) atau apapun itu. Hampir simbolik bahkan. Kaset dimasa ini adalah tidak lebih dari sebuah relik, melambangkan apa yang telah berlalu Dan Future Collective adalah sebuah peringatan akan masa lalu—dan masa depan yang tak pernah terjadi.

Saya sempat menyaksikan penampilan kolaborasi Future Collective dengan Duto Hardono membawakan “Distant Beach” di STUDIORAMA SESSION . Bagaimana bisa bertemu konsep seperti itu?

Proses penggodokan konsep awalnya dilakukan via konferens Skype antara kami, pihak STUDIORAMA, dan Duto selaku seniman. Di situ kita bertukar pikiran, kami menyampaikan soal ide dan konsep Future Collective itu sendiri, dan Duto menyampaikan ide-ide yang didapatnya dari ‘sensasi’ mendengarkan musik kami. Tema utopi yang rigid memang sudah menjadi fondasi awal yang disetujui. Imaji seperti film “Brazil” karya Terry Gilliam, atau “Alphaville” karya Godard muncul ke permukaan dan dijadikan sebagai referensi yang sesuai. Di situlah kami dan Duto ber-sintesa. Hasilnya adalah video kolaborasi yang dapat dilihat di kanal YouTube STUDIORAMA.

Apakah ada pembagian pengerjaan musik buat kalian? Misal Sawi mengerjakan rhtym-nya atau Tida menyelesaikan melodi dan komposisinya. Atau bagaimana?

Dalam proses kreatif, kami mengerjakannya secara kolektif. Artinya, masing-masing dari kami membuat lagu secara keseluruhan lalu digabungkan menjadi satu album. Tidak ada poros utama. Masing-masing mempunyai tanggung jawab dan kebebasan atas hasil akhir karyanya. Ada intervensi, tapi relatif sedikit. Kami orang-orang egois hahaha.

Perkembangan musik elektronik di Indonesia masih stagnan. Ini menjadi tantangan Future Collective juga dalam menarik penikmat. Tanggapan kalian?

Sekali lagi, ini adalah soalan cara pandang. Stagnan, dalam hal apa? Dari segi mana? Karena jelas menurut kami, masih ada banyak musisi-musisi elektronik yang tetap bergerak aktif dalam peta lokal maupun global. Ada atau tanpa adanya garis penentu atas apa yang dianggap stagnan dan tidak. Contohnya seperti Space System atau Duck Dive, dua musisi elektronik lokal favorit kami, yang masih terus berkarya dan menciptakan perubahan, sekecil apapun itu. Minimnya rekognisi bukan lagi menjadi sebuah masalah. Ini bukan lagi soal siapa kami. Yang terpenting bagi kami adalah kemauan untuk tetap berkarya dan kemauan untuk berharap bahwa apa yang kita lakukan dapat membuka celah-celah kebebasan yang baru. Seperti kata kamerad Mao: “A single spark can start a prairie fire.” Dan itu yang akan tetap kami lakukan.

Sedikit bersifat opini, bagaimana Future Collective berbicara tentang musik elektronik yang sebenarnya? Karena dewasa ini, penikmat dan khalayak ramai masih menganggap genre musik ini identik dengan hura-hura—pesta dan kehidupan kaum urban.

Kami tidak terlalu menaruh peduli dengan hal seperti itu. Setiap orang mempunyai konsepsinya masing-masing mengenai musik apa yang baik dan tidak untuk mereka nikmati. We don’t really have business with those corpses. Musik (intelijen)—seperti banyak hal lain—bagi kami bukan lagi untuk dicari definisi tetapnya, tapi untuk terus dan terus di re-definisi. Sifatnya terus berubah, tidak pernah terfiksasi, menjadi sebuah arena eksplorasi yang luas, terlebih dengan kemajuan teknologi yang pesat seperti sekarang.  Maksim yang kami pegang teguh: “No fixation. Changes is everything. Think and rethink again.”

Wawancara oleh Muhammad Faisal

 

 

 

Tags : future collective
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response