close

Future Folk Vol. 01: Menyibak Potensi dan Gairah Baru dari Tengah Kota

2016_0723_20270300
future folk
future folk

Di antara selaput debu jalanan, mereka berkisah tentang datangnya ode untuk kesejukan bernama folk yang beragam

Malam itu Jakarta tampak bermuram durja; awan menggelayut abu di pelupuk sana, angin bertiup  kencang ke penjuru kota, seakan memberi penanda rintik hujan segera tiba. Rutinitas tak terpengaruh barang sedikitpun. Keramaian menjejali langkah manusia metro, bersautan bunyi klakson yang saling menimbulkan prahara dengar kiri-kanan. Bilangan Thamrin masih memancarkan pesonanya yang dipenuhi kegagahan gedung pencakar tinggi; dibuai gemerlap lampu warna terang penegas hakikat sejurus menebar perhatian cakrawala.

Pelataran IFI menjadi saksi gelaran musik alternatif bertajuk Supersonik: Future Folk Vol. 01; sebuah pertunjukan yang menyediakan media, ruang serta wahana bagi para musisi pendatang baru. Dimana dalam gelaran tersebut mengedepankan dua aspek: potensi masa depan dan bendera folk yang berkibar. Tercatat ada lima penampil yang diundang pihak penyelenggara yakni Junior Soemantri, Oscar Lolang, Jason Ranti, Mr. Sonjaya sampai Sisir Tanah. Nama-nama yang terdengar segar (atau bahkan mungkin asing) di telinga khalayak ramai namun menjanjikan aksi ciamik bagi segenap tamu undangan.

Kemacetan memberikan penilaian umum untuk segala wujud riuh-rendah aktifitas yang dijalankan ibukota. Arloji menunjukan pukul tujuh tepat ketika saya menginjakkan sepasang kaki di lokasi. Selayang asumsi tidak pernah berubah menyoal pengaturan waktu di tiap konser pertunjukan. Bahwa kemoloran merupakan barang biasa yang sudah mengakar sejak lama. Akan tetapi penyelenggara Future Folk Vol. 01 tidak ingin terjebak atas dalil klise semacam itu. Ketepatan waktu adalah kemutlakan. Lantas secara konkrit dibuktikan dengan terbukanya tirai tanpa penundaan. Walhasil performa Junior Soemantri yang membuka keseluruhan jadwal musti saya lewatkan dengan tatap kekecewaan.

Memasuki auditorium, tempat duduk yang berjumlah sekitar 200 buah hampir terisi penuh. Pencahayaan dibuat begitu gelap agar konsentrasi terfokus pada sang biduan di depan mata. Gemerlap gawai yang biasanya hilir mudik mencari titik jepret pada layar sentuh sepertinya terlihat sungkan untuk menampakkan diri. Pewarnaan visual didesain dalam konstruksi kuning dan merah. Kombinasi yang nantinya membentuk spektrum syahdu layaknya instalasi thriller Stanley Kubrick. Di bagian belakang, terpampang jelas screen berukuran memanjang tiga perempat yang memuat informasi mengenai siapa penampil acara juga waktu pertunjukan. Tak lama berselang, sosok Oscar Lolang berjalan ke dalam panggung ditemani kedua kawannya yang mengisi bagian penyanyi latar. Penyanyi asal Jatinangor tersebut membawakan beberapa balada folk klasik. Mayoritas bercerita soal emansipasi, ketidakadilan dan persamaan derajat kehidupan. “Scarborough Fair” milik Simon Garfunkel maupun “Faraway Man” ciptaan Nina Simone dilantangkan begitu emosional. Tak hanya memaparkan cover musisi lain, Oscar turut serta menyanyikan lagu gubahannya sendiri berjudul “Yellow Moon”. Sebagai salam perpisahan, “We Are Climbing Jacob’s Ladder” dari Bernice Johnson Reagon menggema ke sudut ruangan; tak kalah megah dibanding versi aslinya yang sarat gospel pemujaan.

future folk
future folk
future folk
future folk

Proses pemilihan line-up dalam hajatan Future Folk Vol. 01 patut diapresiasi. Keempat penampil menyuguhkan kualitas menawan. Jason Ranti merupakan salah satu di antaranya. Ia berkelakar dengan jenaka lewat nyanyian minimalisnya. Menyinggung penjahat berkedok agama dalam “Suci Maksimal”; mengiba kebebasan Tuhan lewat “Hey Kafir” sampai mengisahkan roman sepasang gay berbalut “Akibat Pergaulan Blues”. Lirik-liriknya menghipnotis; menertawakan realitas yang sebenarnya mengadung sarkasme menyedihkan.

Dua penampil terakhir tidak bisa dihiraukan begitu saja. Mereka mempunyai gaya tersendiri yang mencerminkan identitas bermusik masing-masing. Mr. Sonjaya, kolektif folk dari Bandung datang membawa sentuhan manis yang dimainkan penuh kesenduan. Hadir dengan formasi lengkap, mereka mendendangkan sejumlah repertoar album baru dan karya terdahulu semacam “Gadis Bersepeda”, “Sang Filsuf” dan juga “Musim Penghujan”. Momen terbaik jatuh saat Mr. Sonjaya menyanyikan “Penjaringan”; secarik ungkapan bias tentang sepetak tanah di utara yang terambang batas kekuatan syair menyentuh nan sentimentil. Lantas Sisir Tanah masih menyongsong manifestasi keseimbangan yang disampaikan secara elegan. Kritik kepada birokrat pemerintah yang terangkum dalam kitab ajaran “Lagu Pejalan”, “Musim Luka” atau “Konservasi Politik”. Vokalnya melibas garis pemisah kekacauan seraya menusuk tajam perilaku bengis negeri tercinta.

Kesan memuaskan dapat dijadikan barometer untuk melanjutkan Future Folk ke volume berikutnya. Pemilihan venue yang representatif, animo yang bertumpukan serta penyusunan bintang tamu yang mengesankan cukup menjelaskan kesimpulan di atas. Meski tidak dapat dipungkiri terdapat membran kekurangan seperti halnya urusan teknis sound Oscar Lolang yang sering lenyap ketika lagu berputar. Geliat konser ini merupakan upaya riil demi ekspansi folk dalam negeri yang tak melulu itu-itu saja. Senang rasanya apabila banyak musisi baru bermunculan juga bertumbuh subur meniupkan keragaman dengan adanya gairah yang diciptakan tanpa pandang bulu. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

Event By              :               Supersonik – IFI Jakarta

Date                      :               23 Juni 2016

Watchfull shot   :               Oscar Lolang yang komunikatif serta misteri Sisir Tanah saat lampu mulai                                                               memerah

[yasr_overall_rating size=”small”]

Photo                    :               Ika Yuliana (contributor)

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response