close

Genjer – Genjer: Sebuah Catatan Elegi dari Banyuwangi.

pki-gerwani

 
pki-gerwani artworks-000038616891-00bz14-cropApa yang ada di benak anda saat anda mendengar kata Genjer-genjer? Lagu, gulma, oncom merah, sayur, atau bahkan komunis? Hmm, tidak berlebihan memang apabila banyak kata dengan keluar dari benak anda saat anda mendengar kata tersebut. Kata ini mungkin akan mengingatkan anda pada suatu jenis tanaman gulma yang dapat diolah menjadi makanan lezat seperti oncom merah dan tumis genjer. Namun jika yang anda ingat adalah lagu dan komunis, anda mungkin perlu untuk membaca tulisan ini. Karena kata ini sering bersinggungan dengan sebuah peristiwa bersejarah di Indonesia yang penuh dengan kabut hitam; tragedi berdarah G 30 S.

Genjer – genjer sendiri sebenarnya adalah sebuah judul lagu yang diciptakan oleh Muhammad Arief[1], seorang eks TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dan seniman dari Banyuwangi. Lagu ini menceritakan mengenai penderitaan masyarakat Banyuwangi pada masa penjajahan Jepang. Pada masa itu, masyarakat Banyuwangi begitu sengsara, hingga pada titik dimana mereka akhirnya memilih mengonsumsi sejenis tanaman gulma yang disebut sebagai ‘genjer’ sebagai pengganti sayuran. Padahal tanaman yang bernama latin Limnochoris Flava ini sebelumnya dipergunakan oleh masyarakat Banyuwangi sebagai makanan ternak untuk ayam, itik dan babi. Sebagai seorang pegiat kesenian alat musik tradisional angklung, pada tahun 1942/1943, Muhammad Arief tergerak untuk menggubah sebuah lagu yang berdasarkan situasi sosial kala itu.[2] Dengan mengadaptasi irama lagu rakyat Banyuwangi “Tong Alak Gentak” yang lebih dulu akrab di benak masyarakat Banyuwangi, lagu yang diciptakan dalam bahasa osing[3] tersebut merupakan manifestasi kritik sosial Muhammad Arief pada kekejaman rezim kolonial Jepang.

Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1960an, lagu ini menjadi sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia. Hal ini tak lepas dari kegiatan politik Muhammad Arief sendiri sebagai salah satu kader PKI (Partai Komunis Indonesia). Awal kepopuleran lagu yang sempat dinyanyikan oleh Bing Slamet, Lilies Suryani, dan Ki Narto Sabdo ini dilatarbelakangi oleh kunjungan Njoto (seorang seniman yang aktif dalam organisasi underbow Lekra) ke Bali pada tahun 1962.

Di tengah kunjungannya, Njoto yang memutuskan untuk singgah di Banyuwangi ini disuguhi pertunjukan kesenian dan lagu Genjer-genjer oleh para seniman lokal. Mungkin bisa dikatakan Njoto yang notabene merupakan seorang seniman, pada waktu itu sangat menikmati irama lagu tersebut sekaligus menyadari potensi kepopuleran yang dimiliki oleh lagu itu. Tidak berlebihan memang karena konten lagu itu sarat akan nafas perjuangan kaum proletar.[4] Singkat cerita, Njoto pun meminang lagu tersebut sebagai salah satu lagu Lekra. Dia juga turut menggandeng M. Arief dan para seniman Banyuwangi untuk ikut menjadi aktivis Lekra. Dari persinggahannya inilah, kepopuleran lagu Genjer-genjer dan cerita kontroversial mengenai lagu ini pun dimulai.

 

Selepas kunjungan Njoto di tahun 1962 itu, hubungan antara aktifis Lekra dan seniman Banyuwangi semakin mesra. Njoto meminta M. Arief untuk membuatkan beberapa lagu yang bernafaskan PKI antara lain lagu Ganefo, 1 Mei, Mars Lekra, Harian Rakjat dan Proklamasi. Puncak hubungan aktifis Lekra dengan seniman Banyuwangi terlihat pada jabatan politik yang dipegang oleh M. Arief sendiri sebagai aktivis PKI. Ya, mantan tentara dan pegiat seni tersebut pada tahun 1964 tercatat menjabat sebagai anggota DPRD Banyuwangi mewakili PKI[5].

Sejak digandeng Lekra, “seni Banyuwangi” semakin dikenal luas. Banyak lagu-lagu Banyuwangi yang sering dinyanyikan di acara – acara PKI dalam berbagai macam kesempatan. Termasuk lagu Genjer-genjer, juga lagu lainnya seperti lagu Nandur Jagung dan lagu Sekolah. Bahkan lagu yang sempat dinyanyikan kembali oleh Bing Slamet dan Lilies Suryani itu, sering diputar oleh TVRI dan RRI. Sungguh suatu pencapaian yang luar biasa, mengingat lagu ini sebenarnya hanyalah lagu rakyat (folk song). Namun di balik semua pencapaian itu, masyarakat pun akhirnya men-stigmatisasi-kan Genjer-genjer sebagai lagu PKI.

 

Kontroversi

Kontroversi mengenai lagu ini muncul seiring bergulirnya isu Dewan Jenderal pada akhir masa Demokrasi Terpimpin. Isu yang berujung pada peristiwa kudeta pembunuhan keji enam jenderal dan satu perwira pertama angkatan bersenjata Indonesia yang sering disebut dengan G 30 S/Gestapu ini, kerap bersinggungan dengan lagu Genjer-genjer. Hal ini disebabkan oleh tiga hal : afiliasi kental yang dimiliki lagu ini dengan PKI, pemelesetan lirik, hingga propaganda media. Yang pertama adalah afiliasi yang dimiliki oleh lagu ini sendiri dengan PKI dan para underbow­-nya. Pada rezim orde baru, PKI sendiri sering disebut-sebut sebagai dalang di balik peristiwa berdarah ini. Padahal sampai sekarang, bukti yang menunjukkan bahwa PKI-lah yang menjadi dalang peristiwa ini dapat dikatakan cukup minim. Bahkan sekarang muncul banyak wacana[6] yang menganggap bahwa ada campur tangan pihak asing dalam tragedi ini.

Alasan kedua dan ketiga adalah munculnya isu pemelesetan lirik lagu itu sendiri oleh simpatisan PKI. Konon, lirik yang dipelesetkan ini dinyayikan oleh Gerwani[7] saat mereka menyiksa para jenderal di Lubang Buaya[8]. Bahkan plesetan lirik ini juga dinyanyikan oleh para pemeran simpatisan PKI dalam film G 30 S (1984)[9] sebuah film karya Arifin C. Noer. Anehnya, gubahan plesetan lagu ini tidak diketahui sama sekali oleh sang pencipta-nya maupun para seniman-seniman Banyuwangi yang awalnya ikut terlibat dalam proses kreatif lagu ini. Disinyalir yang pertama kali mengubah lirik lagu tersebut adalah harian KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia).[10] Dugaan kepada KAMI semakin diperkuat dengan kesaksian H. Adang C.Y. dan catatan Hasnan Singodimayan, aktivis HSBI (Himpunan Seni dan Budaya Islam)[11] yang juga merupakan kawan karib dari Muhammad Arief sendiri. Sayangnya pada waktu itu M. Arief sendiri belum sempat melakukan klarifikasi mengenai keterlibatan lagunya dalam tragedi berdarah ini karena tak lama pasca meletusnya tragedi berdarah ini, M. Arief dinyatakan hilang.[12]

Genjer-genjer Pasca Orde Baru

Pada tahun 1998, setelah tumbangnya rezim Orde Baru, Indonesia memasuki era baru, era dimana mulai terkuaknya  kembali sejarah – sejarah lama yang tidak pernah terselesaikan secara tuntas dan jelas. Pemerintah yang mempunyai wewenang otoritas dan regulasi, mencoba melakukan babak politik baru, dimana konsep kebebasan berekspresi menjadi semakin terbuka lebar. Bagi masyarakat luas saat ini, lagu “Genjer-genjer” memang sudah mulai diterima dan diapresiasi dibalik berbagai macam kontroversinya. Ini terbukti dengan banyak beredarnya  lagu ini melalui berbagai ruang publik dan media secara bebas, yang mana salah satunya adalah internet. Sehingga kita bisa dengan mudah dan bebas  mengakses dan mengapresiasi lagu ini, sebebas dari hakikat seni itu sendiri. Bahkan perlu dicatat bahwa baru – baru ini Rolling Stones Indonesia memasukkan lagu ini di album kompilasi “150 Lagu Indonesia Terbaik”[13]

Lagu ini hanyalah sebuah karya seni adiluhung yang diciptakan M. Arief melalui proses perenungan yang dalam saat dia melihat kesengsaraan rakyat Indonesia (umumnya) dan masyarakat Banyuwangi (khususnya), pada masa penjajahan Jepang. Penulis merasa sudah menjadi kewajiban kita semua untuk mengembalikan esensi lagu ini pada tempatnya dan tempat yang terbaik adalah tempat dimana “Genjer-genjer” diapresiasi sebagai suatu karya seni yang bernafaskan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan bukan malah sebaliknya. Jika tentara melawan agresor dengan senapan di tangan, wartawan dengan penanya, seniman akan melawan dengan karya seni yang dihasilkannya.

Yang salah dalam kasus lagu genjer-genjer bukanlah lagunya, tapi hanya penciptanya, tepatnya yang memelesetkan lirik lagu tersebut. Apabila dianalogikan dengan keluarga, lagu Genjer-genjer adalah anak yang terlahir dari orang tua yang distigmakan negatif. Seperti halnya seorang anak penjahat, jika dia boleh memilih pasti akan memilih terlahir dari kedua orang tua yang baik-baik. Begitupun produk seni, meski pada akhirnya menjadi alat propaganda, penulis yakin itu hanyalah ulah oknum yang pandai memanfaatkan keadaan. (vms)

 

 



[1] <http://id.wikipedia.org/wiki/Genjer-genjer>diakses 16 November 2013. Muhammad Arief adalah salah satu pria usia produktif di Banyuwangi yang berhasil lolos dari penculikan yang dilancarkan oleh kolonial Jepang untuk program Romusha (kerja paksa). Dalam persembunyiannya dia menyaksikan bagaimana kekejaman pemerintah Jepang pada waktu itu hingga titik dimana warga Banyuwangi kesulitan bahan pangan dan akhirnya memilih sebuah jenis tanaman gulma sebagai ganti makanan sehari-hari. Suatu hal yang sangat aneh sekaligus tragis, karena apabila kita mengingat kisah Babad Tanah Jawi bahwa Banyuwangi (Blambangan-red) sejak dari Zaman Kerajaan Majapahit adalah lokasi lumbung pangan untuk 5 daerah kabupaten di Jawa Timur : Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo dan Banyuwangi

[2] Baca < http://ikaningtyas.blogspot.com/2013/09/mati-sunyi-pencipta-genjer-genjer.html >. Blog eks junalis Tempo ini mengisahkan mengenai kesaksian Sinar Syamsi, putra tunggal dari Muhammad Arief, mengenai penciptaan lagu tersebut. Dia mengatakan bahwa lagu ini diilhami oleh peristiwa dimana Ny. Suyekti, istri M. Arief menyuguhkan makanan berupa tumis genjer kepada suaminya. Diakses 26 November 2013.

[3] dialek khas Banyuwangi

[4] Pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1966), ketika iklim situasi politik di Indonesia memang sedang berada pada puncaknya, banyak partai – partai politik dengan berbagai paham dan ideologi berdiri waktu itu. Tercatat ada 4 partai besar yang cukup berpengaruh. Ke empat parta tersebut adalah Partai Nasional Indonesia (PNI), Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi), Nahdatul Ulama (NU) dan Partai Rakyat Indonesia (PKI). Partai – partai tersebut melakukan kampanye besar-besaran untuk meningkatkan popularitas dan mencari simpati sebanyak-banyaknya dari masyarakat Indonesia. Salah satu cara yang ditempuh adalah melalui jalur kesenian. Kala itu kesenian merupakan salah satu “hiburan alternatif” masyarakat Indonesia karena akses pada media elektronik saat itu cukup terbatas. Kesenian akhirnya dianggap menjadi salah satu cara efektif untuk merekrut simpatisan partai. Partai – partai tersebut  membuat organisasi afiliasi berbasis kesenian dan menggandeng para seniman utuk bergabung bersama mereka. Sebut saja PNI yang membentuk Lembaga Kesenian Nasional (LKN), Partai NU membentuk Lesbumi, Masyumi membentuk Himpunan Seni dan Budaya Islam (HSBI), serta PKI yang membentuk Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra). Genjer – genjer dipinang Lekra karena lagu ini dinilai sarat akan konten perjuangan kaum proletar yang juga senada dengan ideologi Komunis yang dianut oleh PKI, yang mana bernafaskan pada paparan kritis mengenai penghapusan kelas sosial antara proletar dan borjuis di dalam masyarakat.

 

[6] <http://tempo.co.id/harian/wawancara/waw-oemardhani.html> diakses 16 November 2013. Situs ini berisikan wawancara tim Tempo dengan  Omar Dhani, panglima Angkatan Udara yang ditangkap karena disinyalir dialah yang membekali simpatisan PKI dengan kemampuan militer. Dia menyebutkan adanya keterlibatan CIA dalam peritiwa G 30 S ini. Dia bahkan menyebut Soeharto sebagai kaki tangan CIA.

[7] salah satu underbow PKI yang bergerak pada wacana kesejahteraan kaum hawa.

[8] lihat film G 30 S (1984) yang disutradarai oleh Arifin C. Noer. Pada bagian ke 3, di akhir film disebutkan bahwa Lubang Buaya adalah salah satu daerah di sekitar Lapangan Halim Perdana Kusuma. Jenazah para jenderal dikubur pada suatu sumur tua di sekitar daerah tersebut.

[9] Terhitung dari tahun 1985 hingga 1997, setiap tahunnya tepat pada tanggal 30 September, film ini ditayangkan di TVRI sebagai bentuk “peringatan” peristiwa berdarah ini.

[10] <http://forum.detik.com/sejarah-syair-lagu-genjer-genjer-t27695.html> diakses 16 November 2013

[11] salah satu organisasi underbow Masyumi yang bergerak di bidang kesenian.

[12] <http://ikaningtyas.blogspot.com/2013/09/mati-sunyi-pencipta-genjer-genjer.html> Dalam tulisannya, Ika menyebutkan kesaksian  Sinar Syamsi ( putra M Arief ) bahwa pada saat itu menyaksikan terjadinya demo besar-besaran di Alun-Alun Banyuwangi. Demo itu digawangi berbagai ormas menuntut pembubaran PKI dan pengadilan terhadap para aktifisnya. Setelah itu Syamsi yang saat itu berumur 11 tahun berusaha melarikan diri bersama ayah dan ibunya saat massa mendatangi dan membakar kediaman mereka. Meski berhasil lolos, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah dan menyelamatkan apapun yang tersisa. Tak lama setelah itu dia mendengar kabar hilangnya ayahnya. Ada yang salah satu kerabatnya yang mengatakan bahwa M. Arief yang merasa terancam dan melarikan diri, tertangkap oleh CPM di Malang.

[13] dengan mengangkat isu 150 Lagu Indonesia Terbaik, Rolling Stones Indonesia pada edisi #59 bulan Desember 2009 , memasukkan Genjer-genjer versi Bing Slamet pada artikel mereka. Terlepas dari segala kontroversi dan adanya upaya pemelintiran sejarah yang juga secara tersirat diungkapkan oleh Rolling Stone, lagu ini sukses menempati urutan ke 105.

 

 

Opini ini dikirim oleh @vidimahatma

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response