close

Gerakan Rakyat Papua Bersatu dan Aliansi Boikot Art Jog 2016 Gelar Aksi Solidaritas Bersama

dari Anti-Tank
Gerakan Rakyat Papua Bersatu (GRPB)
Gerakan Rakyat Papua Bersatu (GRPB)

Menanggapi tindakan represif aparat Kepolisian di tanah Papua dan masuknya sponsor yang dianggap banyak melakukan kejahatan kemanusiaan. GRPB (Gerakan Rakyat Papua Bersatu) dan Aliansi Boikot Art Jog 2016 bersatu untuk menggelar aksi damai bersama pada Kamis (16/6) kemarin. Aksi yang berlangsung mulai dari jam 9 pagi hingga 5 sore ini dibagi menjadi dua bagian, yakni: long march dari Jl. Kusumanegara (Asrama Mahasiswa Papua Kamasan) menuju Titik Nol KM, Yogyakarta, dan aksi tuntutan kepada pihak Art Jog 2016 di Jogja National Museum (JNM). Bertemunya dua organisasi ini didasari oleh kesamaan isu dalam tuntutan yang mereka ajukan, seperti ihwal adanya aliran dana sponsor dari PT. Freeport dan bank Mandiri yang dirasa GNPB kontradiktif dengan konsep pagelaran yang mengangkat isu tentang kemanusiaan di dalamnya.

Art Jog sendiri merupakan destinasi wisata budaya tahunan dan bursa seni rupa kontemporer yang sudah berlangsung selama 9 tahun. Pada gelarannya tahun 2016 ini, berlangsung hingga 27 Juni mendatang dengan pembukaannya pada 27 Mei lalu yang menampilkan karya dari 74 seniman–dari Indonesia dan luar negeri. Art Jog kali ini bertempat di Jogja National Museum dengan mengangkat tema besar “Universal Influence.”

Menanggapi isu penolakan pendanaan oleh PT Freeport, Adli (23), koordinator lapangan aksi long march, turut menyuarakan aspirasinya kepada pekerja seni maupun semua pegiat kebudayaan agar berkarya untuk kemanusiaan. “Kenapa kita bersepakat dengan mereka (Aliansi Boikot Art Jog 2016) karena persoalannya adalah persoalan demokratik, dan kita lihat freeport ini adalah salah satu yang menghasilkan kesenjangan yang sangat luar biasa dalam hal penggunaan militerisme dan aparatus negara untuk melanggengkan produktivitas akumulasi modal, dan di satu titik ini (Sponsorisasi Art Jog) kemudian kita ketemu,” ujarnya.

Dalam aksi tuntutan yang turut diikuti oleh kurang lebih 170 orang ini, GNPB yang tergabung dari elemen-elemen masyarakat Papua di Jogja, dan beberapa aktivis yang mendukung, memberikan pernyataan sikapnya terhadap situasi politik Papua Barat.  Mereka mengutuk tindakan brutal militer Indonesia terhadap orang asli Papua yang semakin sering terjadi dalam kurun waktu kurang dari tiga bulan terakhir. Kasus-kasus yang terjadi selama itu tercatat sudah ribuan aktivis KNPB (Komite Nasional Papua Barat) dan masyarakat papua yang telah ‘diamankan’ secara paksa ketika menggelar aksi damai di beberapa kota dan kabupaten di tanah Papua. GNPB menyuarakan hal-hal tentang pemberian hak dalam menentukan nasib sendiri sebagai solusi demokratis bagi bangsa Papua dengan 6 pernyataan sikapnya, yakni:

  • Mengecam tindakan represif aparat TNI-Polri terhadap Aktivis KNPB (Komite Nasional Papua Barat), mahasiswa, dan rakyat Papua,
  • Dukung ULMWP (United Liberation Movement for West Papua) menjadi anggota penuh di Melanesian Spearhead Group (MSG),
  • Menolak tim pencari fakta buatan Jakarta –bentukan Luhut Binsar Panjaitan (Menkopolhukam) turun ke tanah Papua,
  • Tarik militer organik dan non-organik dari seluruh tanah Papua,
  • Tutup Seluruh perusahaan asing yang ada di atas tanah Papua, dan
  • Buka ruang demokrasi seluas-luasnya.

Berbeda lagi dengan Aliansi Boikot Art Jog 2016 yang mempertegas posisinya sebagai aliansi dengan sikap tidak menolak kegiatan seni apapun dan hanya menolak seni yang tak berperikemanusiaan, fokus utama tuntutan mereka berkelindan di antara pengikutsertaan PT. Freeport dan perusahaan-perusahaan yang merusak lingkungan sebagai sponsor kegiatan Art Jog 2016. Ahmad (25), koordinator aksi tuntutan Aliansi Boikot Art Jog 2016 mengatakan bahwa mereka tidak hanya mengritik namun juga mengutuk keterlibatan PT. Freeport dan perusahaan-perusahaan lain yang melakukan eksploitasi dan diskrimanasi dalam pendanaan acara Art Jog 2016.

“Sebetulnya bukan hanya Freeport, karena banyak perusahaan-perusahaan lain yang melakukan eksploitasi dan diskriminasi, misalnya bank Mandiri sangat kita sayangkan karena mereka mengucurkan lebih dari 1 Triliun untuk mendanai pembangunan Semen Indonesia di Rembang, Semen Indonesia ini sangat menindas, dan sampai hari ini beberapa warga (Rembang) juga mengalami kriminalisasi. Kami tidak mengutuk seniman, kami tidak mengutuk Art Jog, kita hanya mengutuk keterlibatan (pendanaan sponsor atas nama seni kemanusiaan) itu, kami juga meminta agar uang itu untuk dikembalikan,” tegasnya.

Hal ini mereka rasa sangat penting guna terciptanya keadilan sosial bagi masyarakat yang selama ini mengalami penindasan, sekaligus cita-cita terwujudnya lingkungan dan ruang hidup yang lestari, dan solidaritas terhadap semua anak kepada korban eksploitasi sumber daya alam yang terjadi di Indonesia di tengah-tengah perjuangan rakyat Papua melawan penindasan yang dilakukan oleh PT. Freeport. Dalam aksinya, Aliansi Boikot Art Jog 2016 menuntut:

  • Putuskan kontrak karya dengan PT Freeport,
  • Tolak kontrak PT. Freeport pada aktivitas kesenian di berbagai wilayah di Indonesia,
  • Kepada ketua penyelenggara Art Jog 2016, Heri Pemad, kembalikan uang PT. Freeport di Art Jog 2016, dan
  • Menghimbau pada para penyelenggara kegiatan seni sekaligus seniman untuk tidak bekerja sama dengan PT. Freeport dan perusahaan ‘hitam’ lainnya.
  • Aliansi Boikot Art Jog 2016
    Aliansi Boikot Art Jog 2016
    Aliansi Boikot Art Jog 2016
    Aliansi Boikot Art Jog 2016

    Aliansi Boikot Art Jog 2016
    Aliansi Boikot Art Jog 2016

Belum ada audiensi bersama pihak Art Jog 2016 oleh Aliansi Boikot Art Jog 2016 dan masih menginjak proses menunggu terbukanya pintu audiensi. “Kalau mereka (Art Jog 2016) ingin mengadakan audiensi seharusnya tidak cuma dengan Aliansi Boikot Art Jog saja, karena ini menyangkut soal kredibilitas kesenian karena kebetulan event-nya Art Jog di Jogja, tapi semua orang yang terlibat seperti Papua juga ikut. Bagaimana mungkin sesama saudara satunya membunuh satunya memanfaatkan uang dalam membunuh, menurutku dia (PT. Freeport) bertanggung jawab secara moral, kesenian, dan intelektual terhadap Negara Indonesia,” ucap Ahmad.

Sementara itu Heri Pemad, selaku Director of Art Jog 2016, menanggapi dengan pernyataan sikapnya bahwa menurutnya yang terpenting adalah proses kreatif seniman-seniman di dalam Art Jog 2016 yang tidak dicampuri urusannya oleh ihwal sponsorship. “Saya kira statement saya udah jelas bahwa sponsor tidak terkait dengan intervensi terhadap kreativitas, itu udah selesai, jadi seniman sebagian besar sudah memahami karena mereka (sponsor) yang penting tidak mengintervensi kreativitas seniman, gitu aja. Mereka (Aliansi Boikot Art Jog 2016) punya hak untuk berbicara, silahkan, yang jelas kami sudah memberikan surat pernyataan secara terbuka (pada laman resmi Art Jog 2016),” ucap Heri Pemad. [WARN!NG/Dwiki Aprinaldi]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.