close

Gianti Giadi: Dedikasi Penuh pada Dunia Tari

gigi (2)

Dua puluh lima tahun sudah, sosok wanita bernama Gianti ‘Gigi’ Giadi mendedikasikan hidupnya di dunia seni tari. Seni tari lebih dari hobi atau profesi bagi seorang Gigi. Seni tari ‘hidup’ di dalam dirinya. Saat ini dia adalah seorang guru dan juga koreografer di sekolah tari di Singapura dan sekolah tari miliknya di Jakarta

Ditemui di Sekolah tari miliknya Gigi Art of Dance di bilangan Jakarta Selatan, Gigi berbagi pengalaman semasa hidupnya di dunia tari. Saat itu terlihat bagaimana begitu antusiasnya, wanita berusia 28 tahun ini ketika membicarakan soal hidupnya di dunia tari. Berikut hasil wawancara dengan Gianti ‘Gigi’ Giadi.

gigi (2)

Saat pertama kali kamu mengenal dunia tari?

Pertama kali itu dari Ibu, kebetulan Ibu pengajar tari, dari umur tiga tahun aku udah diperkenalkan dengan dunia tari dan diajari Ibu menari.

Kapan momen kamu yakin untuk memilih tari sebagai pilihan hidup?

Waktu SMA udah sering bantu-bantu mama untuk mengajar tari, mengajar anak-anak SMP, dan sering diminta untuk mengisi acara. Waktu SMA diajak ke Singapura untuk melihat open house sekolah di sana, dari situ baru kayak, ih gila baru kebuka banget ngeliat kegiatan tari di sekolah itu. Kayanya ok juga kalo sehari-hari aku ngelakuin apa yang aku suka.

Pernah ada pandangan sebelah mata ketika memilih pilihan hidup sebagai penari?

Waktu kuliah semuanya tuh nanya, lo sekolah nari tuh ngapain si? Nari aja? Ya iya nari aja, tapi bukan cuma itu, aku belajar history-nya, belajar jadi kritikus tari, macem-macem. Dan banyak yang nanya juga emang nanti kamu mau jadi apa nantinya? Ya aku bisa jadi penari, koreografer, dramaturgy, hal-hal seperti itu yang kurang terlihat di mata orang-orang.

Gigi mendirikan sekolah tari bernama Gigi Art of Dance, di sela-sela wawancara terlihat murid-murid yang sedang berlatih untuk persiapan pentas selanjutnya. Perbincangan berlanjut membahas sekilas tentang sekolah tari miliknya,

Sejak kapan sekolah tari Gigi Art of Dance berdiri?

Berdiri sejak tahun 2009 di bulan Juni, kelas-kelasnya baru ada di bulan Oktober.

Ada kesulitan ketika mendirikan sekolah tari Gigi Art of Dance?

Kalo misalnya sulit si pasti ya, yang bikin sulit itu modal kan selalu. Tapi kalo misal sulit dalam segi sistem sebetulnya engga si, kebetulan aku di Singapura kerja di sebuah studio juga, jadi aku belajar banyak dari situ.

Apa yang membedakan sekolah tari Gigi Art of Dance dengan sekolah tari yang lain?

Kalo misalnya yang membedakan kita itu, di sini ada kelas-kelas tari yang memang satu-satunya di Indonesia, salah satunya seperti broadway musical, kelas musikal di mana mereka bisa belajar nari, nyanyi, dan juga akting. Aku menyadari banyak banget talent anak Indonesia yang mencintai musikal tapi mereka ga tau ke mana atau harus apa gitu.

Pandangan Gigi tentang perkembangan seni tari di Indonesia?

Perkembangannya si alhamdulillah positif banget dalam tiga tahun terakhir, berkembang sangat amat baik apalagi lomba-lomba tari di hampir tiap minggunya udah ada. Sayangnya belum ada yang lebih serius, festival yang kontemporer tuh banyak banget, tapi ga untuk masyarakat luas, terbatas untuk komunitas tari aja, jadi kalo ada pertunjukan yang nonton itu-itu lagi. kenapa kita ga mencoba membuat seni tari kontemporer yang tadinya serius dan abstrak bisa dimengerti. Harusnya Indonesia mengikuti jejak Singapura, persoal dance education di sana sudah ada sejak di Sekolah Dasar dan wajib di sini tuh ngga.

25 Tahun berkecimpung di dunia tari, apa yang membuat kamu bertahan hingga saat ini?

Yang membuat aku bertahan, kepuasan hati si, itu yang bikin aku bertahan. Kepuasan hati misalnya saat menjadi koreografer ketika membuat karya 2 – 3 bulan, akhirnya dipentaskan terus bisa membuat penonton seneng. Kalo saat menjadi guru, melihat perkembangan anak-anak murid, yang tadinya pemalu terus ga bisa apa-apa, setelah 1 – 2 tahun di sini tiba-tiba ga tau malu gitu hahahahaha. Melihat perkembangan-perkembangan itu si yang buat aku bertahan.

Prinsip hidup yang dipegang hingga saat ini?

Kalo kita udah memulai dengan apa yang kita cita-citakan jangan pernah berhenti, Kita harus terus kejar mimpi itu.

Pesan untuk anak muda Indonesia?

Kalo kamu mencintai sesuatu dan suka melakukannya, itu yang benar-benar harus kamu kejar. Kalo kamu punya passion dan bakat di bidang itu, kamu harus berusaha membuka akses sendiri, biar kamu bisa sukses di situ.

 

Wawancara dikirim oleh contributor Dennis Destryawan

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response