close

Gig Organizer Independen Yogyakarta: Regenerasi Pegiat Ruang Pesta (2)

Party Planner – kano

Kolektif-kolektif anyar lahir dari berbagai singgungan. Masing-masing dari mereka punya warna sendiri. Memunculkan kemungkinan konsep gig beragam rupa. Alhasil ketika para pegiat lama hampir menemui titik lelahnya, kita tahu bahwa pesta akan tetap menyala dengan berbagai cara.

Teks oleh: Titah AW

Artwork oleh: Kanosena Hartadi

Adalah sekitar pertengahan 2016, ketika tiba-tiba media musik yang sedang anda baca ini mulai kerap menerima email dari berbagai nama asing yang berisi tawaran media partner untuk gig. Notifikasi di grup kami jadi lebih sibuk membagi tugas liputan mengikuti jadwal gig yang makin banyak, pun tak melulu di venue itu-itu saja. Saat itu, ada yang sudah mulai bisa tertebak dalam acara-acara yang dibuat oleh para organizer lawas seperti YK Booking, Kongsi Jahat Syndicate, acara musik rutin seperti Lelagu & Live at Teater Garasi, atau juga konser rutin kampus-kampus tercinta. Rutinitas kau tahu, sering menciptakan kegamblangan pada hal-hal yang bahkan belum mewujud ada. Dan karena diletakkan dalam konsep pesta, apa-apa yang rutin harus ditantang lagi demi efek-efek kejut yang membuat kita kecanduan pada ide-ide gila, nama-nama baru, dan perasaan ingin tahu.

Seiring dengan makin banyaknya nama baru yang muncul tersebut, saya mulai menyadari ada proses regenerasi yang sedang berlangsung. Mengikuti perkembangan pola pengelola gig independen sebelumnya, konsep kolektif nampaknya adalah resep yang paling banyak digunakan untuk generasi selanjutnya. Di sekitar 2016 itulah, kolektif-kolektif baru mulai menemukan suaranya. Ekosistem orang-orang Yogya yang guyub dan cair membuat regenerasi ini terasa halus dan menyenangkan. Seperti yang diungkapkan Akbar Rumandung dari Terror Weekend, “Habis bantuin FKY (Festival Kesenian Yogya), aku ngobrol sama Mas Gufi dan Menus tentang kemungkinan bikin gig organizer baru, dan mereka sangat support banget.”  Para punggawa pesta baru ini lahir tanpa maksud untuk melawan atau menggantikan, tapi kehadiran mereka memberi warna baru dalam geliat kancah musik independen di Yogya. Dari beberapa kolektif baru, ada 3 nama yang cukup menonjol dari segi konsep dan konsistensi, mereka adalah Terror Weekend, Sekutu Imajiner, dan Ruang Gulma.

 

this hearts at Terror Weekend

Terror Weekend: Bangun Standar dan Suasana Urban

“Bikin gig itu biarpun kecil (alat-alatnya) harus proper, sound ada, monitor ada, biar band yang main enak, penonton yang nonton juga enak. Itu standar kami,” tutur Akbar, berbicara mewakili Terror Weekend kepada WARN!NG. Kolektif ini pertama kali mengenalkan diri pada akhir 2015 lewat gig perdana mereka yang bertajuk sama, Terror Weekend. “Waktu itu ngurusin turnya Kolibri Records”, ujarnya. Akbar sendiri juga aktif bermusik di Grrrl Gang, salah satu band di bawah naungan Kolibri Records.

Terror Weekend awalnya terbentuk karena kesamaan asal geografis para anggotanya. “Aku sama beberapa anak TW sering bikin acara di Jakarta, pas lagi anget-angetnya pindah ke Jogja tahun 2014 karena kuliah. Kita tahu sebelum berangkat, Yogya mantep banget band-bandnya, tapi ternyata keadaan gignya tidak seperti yang kita bayangkan,” cerita Akbar. Standar gig di Jakarta yang lebih mumpuni dari segi teknis inilah yang membuat mereka ingin menerapkan hal yang sama di Yogyakarta. Berawal dari sekitar 7-8 orang yang memang asli Jakarta, sekarang kolektif ini menaungi sekitar 21 orang, dan tak lagi peduli asal daerah. Sekarang ini mereka sudah membuat sekitar 8 gig, dan tak semua sesuai namanya yaitu teror di akhir pekan. “Kita nggak peduli sih weekend atau nggak, yang penting nggak ganggu kuliah,” lanjutnya.

Salah satu signature dari gig yang dibuat oleh Terror Weekend adalah venue-nya, yaitu House of Terror. Menempati sebuah rumah di daerah Klitren, mereka menyulap ruang tamu dan garasi mobil jadi moshpit yang intim dan padat. Menurut mereka, penggunaan venue yang tak lazim ini cukup tricky karena harus kompromi dengan lingkungan sementara mereka tetap ingin memenuhi standar teknis yang apik. Dalam ruangan berukuran sekitar 6×8 meter, paling tidak sekitar 150an orang selalu hadir tiap gig mereka.  Akhir-akhir ini, baru mereka mencoba mengadakan gig di venue luar rumah. “Paling ramai pas ada Bedchamber sama Seahoarse, gila itu ramai banget padahal hari Senin!” Akbar bercerita.

Terror Weekend’s Poster

Yang menarik, di satu gig mereka awal tahun lalu, Indra Menus yang sedang menggelar lapak mengatakan pada saya bahwa Terror Weekend ini mengingatkan ia tentang definisi skena College Rock Amerika tahun 90’an. “Isinya anak-anak gaul kampus, fashionnya oke, masih satu lingkaran lah istilahnya, terus musiknya indie pop ringan yang penting datang lalu bisa goyang,” jelasnya. Dari pilihan line-upnya Terror Weekend memang sempat kental dengan imej gig indie pop. Band-band semacam Seahoarse, Fuzzy, I, Low Pink, dan yang memainkan musik sejenis paling sering muncul di poster mereka. Namun ketika dikonfirmasi, mereka menolak anggapan ini. “Sebenarnya nggak ada kecenderungan genre. Mungkin kebetulan aja yang lagi naik indie pop, yang lagi tur juga indie pop. Jadi yaudah, pilihan band biasanya karena kami suka dan for the sake of biar flow acaranya asik aja sih,” jelas Akbar.

Selain standar teknis berupa alat sound lengkap, suasana intim anak muda perkotaan yang coba dibangun Terror Weekend jadi resep yang cukup ampuh. Datang ke gig Terror Weekend akan mengingatkanmu pada adegan pesta-pesta rahasia saat orang tua pergi ala film-film american teenage’s dream yang meriah, liar saat malam dan kembali rajin kuliah di pagi harinya. Saya bahkan sempat menemui beberapa momen crowdsurfing yang dilakukan oleh teman-teman perempuan, momen yang sangat jarang ditemui di acara musik pada umumnya. Yang juga jadi pertanda bahwa kolektif ini berhasil membangun suasana pesta yang asik dan aman.

Bulan Juli ini, Terror Weekend punya gawe besar yaitu menggarap tur Turnover. Unit rock asal Amerika ini akan mengadakan tur di beberapa kota di Indonesia, tiket dan promo untuk acara ini sendiri sudah dimulai oleh Terror Weekend. “Kami sih pinginnya tiap gig Terror Weekend, ada satu band baru yang pertama kali manggung, biar jadi trigger buat nambah band baru juga di Yogya,” tutup Akbar.

 

Seahoarse at Pelan Tapi Parti

Sekutu Imajiner: Kolektif Humoris yang Serius Membuat Pesta

Beberapa buah tenda warna-warni terhampar di sepetak pekarangan berumput di daerah Selokan Mataram. Mendung menggelayut hampir jatuh, tapi kerumunan di bawahnya tak peduli. Musik terus dimainkan, moshing  tetap digalakkan, dan cengkrama mengambang riuh di tengah asap rokok dan sesekali tegukan minuman. Acara ala pramuka petang itu diberi judul ‘Perkemahan Musim Semu’. Biang keroknya adalah sebuah kolektif anyar yang minta dipanggil Sekutu Imajiner. Tak lama sebelum itu, mereka membuat acara di halaman rumah orang tua salah satu kawan mereka, diberi judul ‘Pelan Tapi Parti’. Digelar di halaman yang tak terlalu luas dan berada di tengah-tengah perumahan, mereka harus bersyukur Ketua RT setempat tak sampai datang untuk membubarkan. Kali lain mereka membuat acara screening film bertajuk ‘Ruang Kasih Tayang’, juga menggelar studio gig dengan judul ‘Studio Banding’. “Kalo jadi sih abis ini kita mau bikin ‘Jogja Nice Bombing’,” ujar Kano terkekeh diikuti gerombolannya saat ditemui WARN!NG. Ya, satu hal paling menyenangkan dari Sekutu Imajiner adalah kesan gojekan mereka yang mewujud salah satunya lewat pilihan nama acara. Ide terakhir yang ia sebut bermaksud memesletkan gelaran Jogja Noise Bombing besutan Indra Menus dkk.

Berbeda dengan kerabat mereka di Terror Weekend, formula gig yang jitu menurut gerombolan ini adalah gig tanpa standar. “Jangan ada standar! Kuncinya di crowdnya asik, ya berarti gignya bagus. Jangan ada formula,” timpal Kevin. Lahirnya nama Sekutu Imajiner pun baru resmi saat mereka merancang acara pertama mereka, ‘Pelan Tapi Parti’ Mei 2016 lalu. Namun Sekutu Imajiner menolak untuk disebut sebagai gig organizer. Mereka lebih suka disebut fun organizer sebab rencana kegiatan mereka tak tertutup pada acara musik saja, tapi juga merambah ke film, pameran seni dan lain-lain, “arisan trah keluarga dan main ding dong bareng juga,” timpal Kano lagi.

Sekutu Imajiner’s poster

Yang menarik, mereka mengaku lahirnya Sekutu Imajiner tak lepas dari adanya Terror Weekend yang sudah duluan menjalankan gig. “Terror Weekend yang isinya anak rantau aja berani bikin acara. Selama ini di Yogya yang terjadi kayak gitu, orang-orang yang datang itu lebih memanfaatkan Yogya, lah masak kita orang lokal nggak bisa? Bukan berniat menyaingi, cuma adanya mereka memberikan panggilan imajiner kepada local youth kayak kami, awalnya gitu,” tutur mereka. Sekutu Imajiner mengaku tak punya anggota tetap. Pemain inti sekitar 5-6 orang, sisanya adalah tenaga cabutan yang diambil dari kawan-kawan yang disatukan oleh selera humor yang sama. Alhasil, kolektif ini terasa sangat cair. Tak peduli asal kampus, atau apakah anda ‘orang Yogya utara’ atau ‘selatan’.

Satu terma yang sangat melekat pada kolektif ini adalah respon ruang. Mereka bahkan mengaku tak pernah punya rencana membuat gig. Ketika menemukan ruang yang mungkin dijadikan venue dan mood berpesta sedang naik, mereka buat. Begitu saja, tak banyak rencana. Menganut laku SKS (Sistem Kebut Seminggu), persiapan acara mereka kebanyakan dilakukan dalam tempo sesingkat-singkatnya alias dadakan. Menemukan venue, susun rencana, bagi tugas dadakan, garap. “Kami itu merasa jauh banget dari kata organizer, harusnya mengatur tapi kami sendiri kerjanya sangat tidak teratur, tapi tetep bisa jalan.” Lokasi ‘Perkemahan Musim Semu’ misalnya, mereka temukan saat sebenarnya tengah mencari lokasi indoor di tempat futsal. ‘Pelan Tapi Parti’ juga sebenarnya adalah respon mereka terhadap cerita teman bahwa rumah tersebut akan segera dijual, jadi mereka ingin membuat semacam pesta perpisahan. Kebiasaan merespon ruang ini membuat gig-gig yang diselenggarakan oleh Sekutu Imajiner punya kejutan yang ditunggu para gig-goers di Jogja. Ada unsur eksperimental dan artsy di sudut-sudut pesta kolektif yang anggotanya didominasi mereka yang aktif di lingkar kesenian muda Yogya ini. “Iyasih kami sering merespon ruang, ingin membuktikan kalau kamu tuh bisa bikin acara musik nggak cuma di Cafe atau tempat biasa, panggung bisa diciptakan kalau kata efek rumah kata mah,” celetuk Kano lagi. Pola yang seperti ini membuat mereka menyadari tantangan untuk kolektif ini adalah niat konsistensi mereka sendiri.

Perihal line up, gig Sekutu Imajiner punya cakupan genre yang cukup luas. Menurut mereka, semakin random line upnya, mereka bisa menggaet massa yang lebih luas. Mulai musik beringas ala Kavaleri, Marsmolys, santai macam Peonies dan Littlelute, hingga eksperimental macam LKTDOV. “Kurasinya berdasar selera aja, ngatur flow biar naik turun lebih dinamis. Keep it random untuk narik massa yang lebih luas. Seneng aja kayak ngerasain rujak, ngeliat yang datang crowdnya dari berbagai skena. Menciptakan keriaan di satu tempat baru, bikin orang yang sebelumnya udah sering liat tapi belum berani nyapa jadi berani, ini ruang buat kalian ketemu dan interaksi,” jelas Kace diikuti anggukan kawan-kawannya. Selain atas kurasi sendiri, mereka juga kadang mendapat lemparan untuk menggarap band yang sedang tur dari YK Booking atau Terror Weekend. Untuk gig impian, mereka mengaku ingin mendatangkan band-band lawas yang sudah jarang sekali manggung di Yogya. Doakan saja semoga di tengah wira-wiri mereka segera menemukan venue ajaib dan insting untuk berpesta secepatnya!

 

Folk Tunggang Gunung | dok. Ruang Gulma

Ruang Gulma: Produktif Eksplorasi Ruang di Rumah Sendiri

Jika ada penghargaan untuk kolektif paling produktif tahun ini, piala itu niscaya akan diterima oleh Ruang Gulma. Tak tanggung-tanggung, dalam sebulan biasanya ada 2-4 acara yang bernaung di bawah nama kolektif ini. Ada ‘Singgah Menggulma’, pameran seni kolektif di rumah mereka yang disulap jadi galeri; ‘Terik Berisik’ yang tiap bulan menghadirkan line up gahar segala rupa; ‘Folk Tunggang Gunung’ yang merayakan cerita dalam nada-nada syahdu; ‘Ngaji Swara’ seri jamming bersama kawan; ‘Sastra Bengong’ saat siapa saja bisa mendendangkan puisi, dan beberapa acara lainnya. Ketika ditanya resep produktifnya ini, Bodhi menjawab “Suplemennya adalah kami nggak cuma berkarya bareng, tapi juga tinggal serumah, itu yang paling efektif. Istilahnya, sekarang kita bangun tidur rapat, sampai mau tidur rapat lagi, ketemu terus, brainstorming terus. Jadi ketika ada yang nggak beres bisa langsung dikritik.”

Rahasia lainnya adalah bahwa ternyata core member Ruang Gulma, yang sekarang berjumlah 9 orang ini masing-masing harus mengurus satu acara rutin. Kewajiban ini menjamin kegiatan di kolektif ini terus berlangsung. Ruang Gulma pun tak hanya membuat acara musik, mereka berusaha membuat interaksi antara  lingkaran seni rupa, juga sastra. Ruang Gulma awalnya berawal dari kelompok anak muda asal Pekalongan yang mengontrak bersama. Latar belakang geografis ini kemudian didukung minat masing-masing di bidang dunia kreatif, akhirnya melahirkan Ruang Gulma, tempat mereka hidup dan berkarya. Setelah sempat mengontrak di kawasan Kotagede, mereka pindah ke desa Sembungan di Bantul pada 2014 dengan menempati sebuah rumah berhalaman luas yang asri. “Kami itu hidup secara kolektif sungguhan, bahkan makan pun kolektif, bersih-bersih rumah ada jadwalnya,” terang Bodhi, salah satu pentolan Ruang Gulma ketika ditemui WARN!NG. Saat ini untuk menghidupi kolektif ini, mereka punya lini kerja lain di bidang desain dan berbagai pekerjaan kreatif lain, yang pasti mereka ingin setiap anggota mereka bisa hidup secara mandiri dari kegiatan di Ruang Gulma ini.

Berbeda dengan Sekutu Imajiner yang hobi melancong ke venue sana-sini, laku yang diterapkan kolektif Ruang Gulma adalah eksplorasi tiap sudut di rumah mereka sendiri. Menempati sebuah rumah dengan pekarangan luas, Ruang Gulma kerap mengadakan acara di berbagai sudut rumah mereka, “Kami selalu pakai spot-spot yang sempit supaya intim, jadi semuanya kayak saling kenal,” ujar Bodhi. Mereka pernah membuat gig di halaman samping yang luas, di ruang makan yang mereka sulap jadi studio, bahkan juga tempat kayu bakar di belakang rumah. Mereka percaya bahwa venue itu sangat penting karena akan membangun atmosfir sebuah acara. Untuk itu mereka kerap bereksperimen, kolektif ini bahkan mengaku rutin mengubah denah rumah mereka setiap tahun agar tidak bosan. Yang menarik, mengorganisir acara dengan eksplorasi di rumah mereka sendiri ini seolah membuang batas antara ruang privat dan publik di hidup mereka. Ruang Gulma menghidupi pesta mereka sehari-hari, dalam arti sebenarnya. Selain itu, memilih venue utama di tengah perumahan warga desa membuat Ruang Gulma harus membuat banyak kompromi dan kesepakatan dengan warga sekitar, itu yang jadi salah satu tegangan menarik di kolektif ini.

Ruang Gulma’s poster

Sampai saat ini mereka mengaku makin banyak menerima materi musik dari musisi, baik lokal maupun yang sedang melangsungkan tur dari luar kota atau luar negeri. Ragam genre musik yang mereka terima berusaha mereka distribusikan ke acara-acara yang diorganisir oleh Ruang Gulma. “Kayak ROBBRS ya kami masukkan ke Singgah Menggulma, yang kayaknya nggak apa-apa kalau main sampai malam warga nggak keberatan. Kalau berisik noise-noisean ditaruh di Terik Berisik, begitu polanya, kami berusaha biar semua email yang masuk kami garap dengan baik.” Tak hanya acara musik, acara mereka di bidang seni rupa, yaitu Singgah Menggulma juga menerima karya seniman lintas disiplin. Membuat kolektif ini punya kesan merayakan keberagaman karya. “Acara itu bisa dibilang sukses kalau mendekatkan antara performers dan audience, bukan masalah kuantitas ya, lebih ke interaksi yang terjalin,” jelas Bodhi tentang standar acara yang sukses menurut mereka.

Setelah getol menggarap acara musik, seni rupa, dan sastra, rencananya dalam waktu dekat mereka akan merambah bidang film. Kabarnya mereka akan menjalin kerjasama dengan yayasan Kampung Halaman untuk menggelar beberapa pemutaran film di desa-desa dalam format layar tancap. Selain itu, mereka juga menambah toko merchandise di rumah mereka untuk mendukung usaha mereka dan kawan-kawan sendiri. Pola ide yang terus bercabang dan bertambah ini tak menutup kemungkinan Ruang Gulma untuk mengeksplorasi banyak hal lain di waktu mendatang. Karena bagi mereka, menghidupi hidup berarti menghidupi karya dan pesta.

Tak perlu heran kalau menemukan sebuah akhir pekan dengan serbuan poster acara kan? Selain tiga kolektif ini, ada beberapa nama lain yang juga mulai bersuara. Harusnya dengan makin banyaknya pegiat acara seperti mereka, makin banyak pula karya-karya baru yang bisa dirayakan bersama-sama. Di bagian selanjutnya, akan dibahas posisi para organizer di kancah musik zaman sekarang, termasuk tantangan apa saja yang harus mereka perhitungkan demi bisa membuat kolektifnya terus berjalan. [WARN!NG/Titah AW]

Baca juga: Gig Organizer Independen Yogyakarta: Regenerasi Pegiat Ruang Pesta (1)

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.