close

Gig Organizer Independen Yogyakarta: Renegerasi Pegiat Ruang Pesta

Party Planner (1)

Untuk menjamin kelangsungan sebuah ekosistem, proses regenerasi wajib ada. Begitupun dengan ekosistem musik dan pesta. Artikel ini mencoba merekam bagaimana proses itu terjadi di Yogyakarta. Bagaimana musik dan manusia mencipta dalam ruang waktu. Karena sebaik-baiknya sebuah semangat, adalah semangat yang diteruskan.

Oleh: Titah AW

Daftar Beberapa Respon Wajar Seputar Gig Mandiri di Yogyakarta:

  1. “Wah jigur, jebul ticketing toh!”
  2. Anjing lagu sama visualnya tadi konseptual banget, masuk tenan!”
  3. “Lah nama acaranya Terror Weekend tapi kok hari Selasa?”
  4. Ki acara band-band-an opo acara persami pramuka je?”
  5. “Aduh poster gig sehari kok ada lima, meh teko sing endi?”
  6. “Ku kira tempatnya jauh gini bakal sepi, jebul tep ramai yo”
  7. Ki do main musik apa to? Ra cetho!”
  8. Kentang ki, sing dodol Pondoh nengdi bos?”

Jika anda adalah salah satu dari ratusan wajah yang kerap berseliweran di puluhan acara musik independen yang diadakan tiap bulan di Yogyakarta, saya yakin anda bisa menambahi daftar di atas dengan mudah. Yogyakarta, khususnya bagian kancah musik independen sedang sangat bergairah. Di Yogyakarta, anda tak perlu menunggu sebuah event organizer besar atau himpunan mahasiswa di kampus merangkul pabrik tembakau untuk mengundang artis-atis papan atas demi sebuah malam yang tak terlupakan. Belasan gig mandiri diadakan seolah tak peduli besok hari kerja atau libur, dengan sound seadanya sampai yang menggelegar luar biasa, hura-hura sampai konseptual segala rupa. Tapi bagian paling menarik dari itu adalah ketika tahu bahwa orang-orang di balik keriaan ini bukan itu-itu lagi saja. Wajah-wajah baru hadir dengan semangat dan ide segar.

Sampai akhir 2015 lalu, nama kolektif Kongsi Jahat Syndicate dan YK Booking bisa dibilang cukup dominan jadi biang kerok pesta-pesta musik di Yogyakarta. Namun proses regenerasi yang manis terjadi. Perlahan namun pasti, publik mulai akrab dengan nama-nama baru seperti Sekutu Imajiner, Terror Weekend atau Ruang Gulma. Artikel ini mencoba merekam bagaimana linimasa gig organizer independen di Yogyakarta hingga perkembangannya sampai sekarang.

jogja hari ini th 2005 | dok. weneedmorestage

Tentang Mitos-Mitos dan Awal Gig Mandiri

Sebelum saat ini, ada beberapa stereotype tentang gig mandiri di Yogyakarta. Salah dua yang paling populer adalah bahwa gig mandiri harus diadakan di akhir pekan dan gratis. Dua poin ini ternyata tak muncul begitu saja. Satu dan lain hal saling mempengaruhi dan membuat kancah musik Yogyakarta tumbuh secara organik. Dari Indra Menus, seorang pegiat di kancah musik independen Yogyakarta, saya mengulik kronologis regenerasi ini. Sampai circa 90’an itu, bingar pesta musik di kota ini masih bersifat tahunan dan berbasis komunitas. “Biasanya sekali bikin, acaranya tuh gede. Di venue besar juga seperti gedung kelurahan atau kampus dengan skala 500-2000 orang,” ujar Indra Menus mengawali ceritanya.

Tajuk-tajuk acara seperti People Hate, Total Music Bawah Tanah, dan Biang Kerok Festival yang diinisiasi oleh Comberan Records. Karena waktu penyelenggaraan yang jarang, dalam satu acara jumlah line up juga tak main-main yaitu bisa sampai 30 band dalam sehari. Untuk menutup tanggungan biaya sewa alat dan venue, mereka biasa melakukan iuran. Acara pertama yang bisa mengumpulkan para pegiat musik dari berbagai komunitas ini adalah Jogja Hari Ini #1 yang kala itu diadakan di kampus UPN Veteran. Jogja Hari ini #1 adalah gig hardcore/punk yang menurut Indra Menus bisa mengumpulkan para pegiat musik dari seluruh Yogyakarta saat itu.

“Sebelum 2005, semua gig itu hari minggu atau hari libur. Sampai pada pertengahan 2005 ada band tur dari Jerman, namanya Wojchech, itu band DIY hardcore/punk pertama yang tur di Indonesia. Artinya mereka main di banyak tempat dan nggak cuma hari Minggu, tapi Senin dan Selasa juga,” tutur Indra Menus. Agenda tur inilah yang mengubah standar waktu pengadaan gig di Yogyakarta dan memunculkan konsep gig di hari-hari biasa alias weekdays.

Tur Wojchech di Indonesia ini juga mengawali terbentuknya sebuah jaringan gig organizer via milis di Yahoo Group Messenger bernama INDO DIY (Indonesia Do-It-Yourself). Saat ini, INDO DIY berpindah platform ke Facebook dan punya anggota makin banyak. Menghubungkan para pegiat pesta di 5 pulau dan lebih dari 40 kota, jaringan ini memungkinkan sebuah band untuk melakukan tur mandiri ke berbagai kota di Indonesia, tidak hanya di pulau Jawa.

Intensitas gig yang makin padat dan semarak ini memunculkan nama Bunker Cafe yang kemudian jadi salah satu venue legendaris di Yogyakarta. Bertempat di Jalan Magelang, Bunker Cafe jadi venue andalan berbagai acara musik di Yogyakarta. Menempati ruang tertutup dengan kapasitas sampai 500 orang, para pegiat gig independen ini mencapai salah satu titik jayanya. Pengelolanya, Joko Problemo/Anselmo jadi semacam penjaga gawang atas hadirnya pesta-pesta liar di venue bawah tanah ini. “Dulu kalau ada band Yogya belum main di acaranya Joko Anselmo, belum diakui,” tutur Indra Menus menambahi. Noise for Violence, September Ceria, seri Jogja Hari Ini, dan band-band yang mengadakan tur langganan memanaskan moshpit di Bunker Cafe.  Paska tutupnya Bunker Cafe di sekitar tahun 2009, orang yang diakui jadi salah satu aktivis gig mandiri di Yogyakarta ini  lalu membuat organizer bernama ROXX. Saat ini, Bunker Cafe telah sepenuhnya berubah jadi judul memori atas sebuah semarak pesta musik di medio 2000-an. Bangunan tempat Bunker Cafe dulu berdiri sekarang sudah disulap jadi hotel bertingkat yang cukup megah di seberang Borobudur Plaza.

joko anselmo | dok. internet

Tutupnya Bunker Cafe inilah yang memunculkan stereotype bahwa gig independen harus gratis. Paska Bunker Cafe tutup, para gig organizer ini kesulitan mencari venue karena keterbatasan finansial maupun ribetnya birokrasi. Sebagai solusi, cafe-cafe kecil yang sudah punya band set lengkap jadi pilihan. Sejak ini, venue gig di Yogya menyebar. Masalah kemudian muncul karena para pemilik cafe kecil ini tidak memungut biaya sewa venue, tapi menolak jika gig-nya menggunakan sistem tiket. Kesepakatan ini membuat gig organizer umumnya menggratiskan acara. Indra Menus menuturkan pola seperti ini jadi kebiasaan sampai akhir 2008. “Tapi akhirnya ketika venue-venue seperti ini nggak ada, muncul venue yang berbayar tapi publik terlanjur pahamnya gig itu gratis, itu yang jadi masalah.”

Di saat bersamaan, konsep weekdays gig ini kemudian memantik munculnya para organizer gig mandiri dalam skala kecil namun banyak. Kongsi Jahat Syndicate misalnya, lahir dari kolaborasi 3 record label, yaitu Diorama Records, Comberan Records, dan Relamati Records. Gufi, salah satu pendiri Kongsi Jahat Syndicate mengaku sebenarnya telah aktif mengorganisir gig sejak awal medio 2000. “Dulu itu terbentuknya karena kami bandnya aneh-aneh, jadi jarang dipanggil sama komunitas manapun. Jadi yaudah bikin acara sendiri. Sejak medio 2000, tapi nama Kongsi Jahat baru dipakai tahun 2005”.

7 crowns di bunker cafe 2006 | dok. weneedmorestages

Kongsi Jahat Syndicate pada awalnya juga terbentuk karena ada faktor isu internal di skena hardcore/punk Yogya saat itu. Menurut Indra Menus, pegiat skena hardcore/punk saat itu punya banyak aturan untuk membuat sebuah acara musik, semisal tidak boleh merangkul sponsor. Aturan yang kadang jadi terlalu saklek ini membuat gerak mereka menemui jalan buntu sendiri. Akhirnya Kongsi Jahat Syndicate muncul dengan semangat eksperimen untuk menciptakan gig yang layak, dengan sound bagus dan konseptual. Berbagai showcase besar seperti Tika and The Dissident, Efek Rumah Kaca, dan Seringai kemudian ditangani Kongsi Jahat. “Sebenarnya cah-cah Kongsi Jahat itu semacam orang-orang buangan yang nggak diakui di skena hardcore/punk, tapi membuat sesuatu yang lain. Salah satu tagline kami Get Out The Scene!, dan ternyata justru di luar skena ini diterima dan malah jadi patokan. Orang-orang sampai bilang ‘kae lho nek pengen nggawe acara di Kongsi Jahat,’” tutur Indra Menus.

Lahirnya YK Booking pun secara tak langsung tidak bisa lepas dari Kongsi Jahat. Indra Menus yang saat itu aktif mengurus Relamati Records tidak ingin melupakan roots skena hardcore/punknya akhirnya membuat wadah baru untuk gig musik keras tanpa sponsor. Akhirnya bersama pegiat-pegiat skena lainnya, ia mengumpulkan beberapa orang untuk mengorganisir gig di luar nama Kongsi Jahat Syndicate. Berjalan beberapa bulan dengan anggaran minim dan terbentur masalah waktu, gagasan ini pun akhirnya sempat mandeg.  Bangkitnya inisiasi ini kembali kemudian ditandai dengan rajinnya studio gig dan pengadan “Proyek Karpet”. Ide pengadaan karpet secara kolektif ini muncul karena para pelaku musik ini enggan menuruti aturan studio untuk mencopot sepatu ketika masuk ruangan. Keberhasilan proyek karpet yang dibeli secara kolektif ini memantik ide yang lebih besar lagi, yaitu untuk melakukan crowdfunding untuk alat-alat musik.

logo Kongsi Jahat Syndicate
logo YK Booking

Ide ini disambut sangat baik. Inisiasi ini bahkan sempat mendapat bantuan dana dari Sean Stellfox seorang peneliti untuk memberi beberapa alat. Baru sisanya dilengkapi dengan crowdfunding. Lagi-lagi, masih dimotori Indra Menus, ide crowdfunding ini tak hanya menyebar secara offline di acara-acara musik, tapi juga dibawa ke internet. Penjualan merchandise juga jadi salah satu cara paling ampuh. Nama YK Booking sendiri akhirnya muncul di pertengahan 2014 hanya karena proyek ini harus punya nama kolektif ketika didaftarkan ke situs crowdfunding. Pengumpulan dana secara kolektif ini sukses besar. “Di situs itu harus jelas YK Booking ini apa, butuh apa, sudah punya apa, mau dibawa kemana. Nah responnya justru lebih baik dari luar negeri. Dalam 2 minggu, kami dapat dana sekitar 500 dolar,” terang Menus.

Pencapaian ini membuat pengadaan gig independen jadi sangat mudah. YK Booking pun jadi jujugan ketika ingin membuat gig. YK Booking sendiri mempersilahkan siapapun untuk menggunakan band set hasil crowdfunding dengan beberapa syarat yang sangat mudah. Sampai pertengahan tahun 2016, YK Booking terbilang sangat aktif membuat gig hardcore/punk atau lainnya. Dengan jumlah anggota sekitar 20 orang, mereka rutin membuat gig hampir setiap minggu, tak peduli hari masih ada di Senin atau Rabu.

YKBooking | dok. Indra Menus

Namun sebenarnya tak hanya Kongsi Jahat Syndicate dan YK Booking. Skena musik di Yogyakarta yang beragam juga punya pelaku masing-masing. Sebut saja Tugu Serentak Familia yang konsisten menghadirkan gig hardcore/punk, Common People YK dengan musisi-musisi yang cukup edgy, YK Celtic Punk, ArtCore, Lingkar Hitam, WVLV Records, atau Jogja Noise Bombing yang makin progresif menciptakan gelaran noise internasional. Para pelaku ini menguasai skena musik independen Yogyakarta sampai sekitar 2016. Meski tak sampai menimbulkan titik kebosanan parah, namun beberapa orang mulai menyadari bahwa Yogyakarta harusnya punya punggawa pencipta pesta baru. Justru aneh jika di kota dengan pergerakan yang begitu dinamis justru buntu di salah satu skenanya.

Di bagian selanjutnya, akan ada profil para kolektif kesayangan kita semua: Sekutu Imajiner, Terror Weekend dan Ruang Gulma. Segera!

 

*artikel ini pertama diterbitkan di zine RSDYK 2017 oleh Jogja Record Store Club dan diunggah kembali dengan beberapa revisi.

artwork by: Kanosena Hartadi

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response