close

Grind To The Point with Deadly Weapon

20130403-155010.jpg

Band yang dibentuk tahun 2009 ini pada awalnya memainkan musik Death Grind yang berkiblat pada Misery Index. Puncaknya saat sang inspirasi bertandang ke Jogjakarta, Deadly Weapon berkesempatan untuk membuka konser mereka. Seiring berjalannya waktu, Deadly Weapon mengubah warna musiknya kearah Grindcore, yang terinspirasi pada Rotten Sound. And hell yes, lagi-lagi Unit Grindcore ini berkesempatan bermain bersama satu inspirasi bermusik mereka lagi dalam Obscene Extreme Festival, yang akan berselang 6-7 April 2013 ini. Berikut wawancara kami bersama Deadly Weapon yang dijawab oleh gitaris mereka, Made.

Pertama, seperti biasa, bagaimana persiapan menuju panggung Obscene Extreme Festival?

Persiapan seperti biasa saja layaknya kita mengikuti event-event yang lain. Hanya latihan rutin dan menjaga kesehatan masing-masing tiap personil.

Sebagai band beraliran Grindcore, tentunya Deadly Weapon tak asing lagi dan mungkin memiliki ambisi tampil di Obscene Extreme Festival, sebuah festival musik ekstrim Internasional dengan nafas grindcore yang dominan. Sepakat?

Yap. Kami memang pernah berangan-angan untuk bisa bermain di OEF yg berada di Ceko, sampai saya (Made) pernah iseng mengirimkan demo melalui email kepada Curby di sekitar tahun 2012 awal. Ya siapa tahu dia kecantol gitu. Namun, siapa sangka tahun ini Curby membawa OEF ke Asia dan kami bisa tampil?

Lalu memang apakah sejauh ini Obscence merupakan panggung terbesar atau bahkan pencapaian baru dalam karir kalian?

Tiap stage, tiap pertemuan dengan teman-teman baru adalah pencapaian terbesar bagi kita. Panggung terbesar untuk kita adalah panggung yang di mana para penonton dapat bermoshpit ria bersama kita.

Akan ada ribuan pemuda berbaju hitam yang liar, tanpa barikade, tanpa pembatas panggung. Bagaimana tanggapan kalian dengan konsep panggung festival ini?

Sepertinya kami memang lebih cocok dan suka dengan konsep panggung tanpa barikade dan stage yg tidak tinggi. Karena kita sendiri juga suka ‘pencilakan’ ke sana kemari hehehe? hanya berdiri di atas panggung itu membosankan, bermain instrumen sambil ikut bermoshpit ria bersama teman-teman yang menonton kita itu menyenangkan

Pada wawancara Warning dengan Curby beberapa waktu yang lalu. Deadly Weapon merupakan salah satu yang dinanti penampilannya. Siap menjawab ekspektasinya?

Kita semua berharap pada sebuah sambutan yang menyenangkan dari teman-teman sekalian.

Salah satu headline Obscene ini adalah Rotten Sound, satu aksi yang kerap kalian sebut sebagai influence utama gemuruh musik Deadly Weapon. Ada antusias khusus tentunya kan?

Antusias selalu ada. Dahulu (formasi lama) kami bermain Death Grind dengan inspirasi besar dari Misery Index dan menjadi pembuka mereka saat tour mereka di Yogyakarta, dan pada formasi sekarang kami melakukan perombakan musik dengan mengacu kepada musik grindcore yang straight to the point seperti Rotten Sound. Rasanya sangat menyenangkan dapat berada pada satu flyer event dengan band-band yang memberi influence musik kepada kita.

Kembali ke Jogja, gimana sih scene grindcore jogja dewasa ini?

Scene grindcore di Jogja tidak terlalu besar seperti kota lain, seperti Jakarta, Bandung, Malang, dll, tetapi scene grindcore di Jogja terus berkembang dengan adanya beberapa band baru yang mulai bermunculan, meskipun ada beberapa yang tidak murni grindcore.

Kami melihat, kuantitas band grindcore di Jogja sangat sedikit, kira-kira kenapa begitu?

Sejujurnya kami tidak tahu hahaha. Mungkin dengan adanya pengaruh tren musik yang terus berubah dan sepertinya sampai saat ini grindcore adalah musik yang un-trend di Jogja sehingga peminatnya sedikit. Padahal sebenarnya, bermain musik grindcore sangat menyenangkan sekali. Kita bebas bereksperimen untuk mengembangkan musik kita kemanapun.

Sampai kapan mau main grindcore?

Sampai orgasme hahaha.

Beralih ke “Disillusional Blurs” sudah sejak lama berita mengenai momen perilisan, tapi hingga sekarang belum terealisasi. Ada hambatankah di level perilisan?

Yap, sebenarnya kami sudah selesai melakukan proses studio record pada bulan Oktober 2012. Namun, sepertinya ada sedikit kendala dari label di mana kita bernaung. Ditunggu saja hehehe.

Mengapa memilih record label, Rottrevore?

Sebenarnya, Rottrevore yang pertama jatuh cinta dan memilih kerjasama dengan kita. Semua berawal pada saat kehadiran almarhum Rio Gendatz di Jogja pada tahun 2009 silam dan melihat formasi lama kami bermain. Sejak itu kami mulai membicarakan tentang kontrak label. All hail to Rio Rottrevore!

Sempat melihat video behind the scene pembuatan album kalian, sepertinya bukan lagu-lagu yang mudah dimainkan ya?

Kita mencoba sebisa mungkin untuk dapat memainkan hal yang mudah menjadi terlihat ‘agak’ ekstrim, dengan kata lain, memaksimalkannya. Jika kalian mau menyimak, sebetulnya apa yang kita mainkan tidak terlalu sulit. Saya yakin masih banyak band grindcore lain yang mampu memainkan lagu-lagu yang lebih sulit. Kami tidak memaksakan apa yang tidak nyaman untuk kami sendiri, percuma memainkan apa yang tidak/belum mampu kita mainkan dan memaksakannya di studio dengan editing dimana-mana pada hasil akhirnya tetapi tidak mampu kita mainkan pada saat live. Tanggung jawab saat melakukan live dengan apa yang kita ciptakan di studio pada saat rekaman sangat kita pertimbangkan.

Di album baru nanti, unsur-unsur musik apa saja yang akan kalian padukan untuk memperkosa telinga pendengar?

Perpaduan dari berbagai formula musik punk, crusty, hardcore, noise yang kita gabungkan menjadi swedish grindcore yang straight to the point.

Seandainya album kalian sudah lebih dulu beredar, tentunya Obscene Extreme Festival dapat menjadi momen yang tepat untuk mempromosikan track-track baru kalian. Ada kekecewaan?

Kurang lebih seperti itu, kami berharap bahwa OEF mampu untuk menjadi ajang promosi untuk full length pertama kita. Saat ini kami hanya berharap bahwa tidak akan terjadi banyak delay tanggal rilis lagi

Oke, pertanyaan terakhir, deskripsikan album kalian dengan 3 kata

Gra – In – Kor!

Trima kasih, sampai ketemu di Obscene Extreme Fest.

 

[ Warning/Tomi Wibisono]

20130403-150338.jpg
Tags : Deadly WeaponInterview
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response