close

Gropyokan Korupsi : Ritus Pemusnah Bakal Tikus Berdasi

Gropyokan (1)
Gropyokan Korupsi © Warningmagz
Gropyokan Korupsi © Warningmagz

Senista apa koruptor hingga diumpamakan sebagai mahkluk tak teringinkan bernama tikus? Atau malah senista apa tikus hingga disetarafkan dengan mahkluk tak teringinkan bernama koruptor? Rakus, licin, merunduk, cerdik berkelit, sarat hawa nafsu, berbaur dengan masyarakat, beroperasi dengan metode umpet, sukar diberantas. Karakter itu yang lantas menjadikan hewan pengerat tersebut seolah merupakan brand ambassador kaum koruptor.

Gropyokan Korupsi © Warningmagz
Gropyokan Korupsi © Warningmagz

Potret itu memang diamini secara umum, termasuk oleh para seniman Yogyakarta yang menyelenggarakan rangkaian acara peringatan hari anti-korupsi sedunia, Gropyokan Korupsi pada Selasa (9/12) kemarin. Topeng tikus kemudian dicanangkan sebagai atribut informal dalam puncak acara berupa sebuah konser megah di lapangan Kridosono yang dimeriahkan Superman Is Dead, Gigi, Shaggydog, Navicula, Jogja Hip Hop Foundation, dan Sangkakala. Sayangnya, konsep ciamik topeng itu tak terealisasi semuluk bayangan saya: seluruh pengisi acara dan penonton benar-benar akan mengenakan topeng itu hingga konser berlangsung bak lautan tikus yang berdansa menanti terbinasakan. Faktanya, mungkin tak sampai 1 dari tiap 10 orang penonton yang membawa topeng, apalagi mengenakannya. Semoga ini bukan karena mereka hanya tergiur oleh nama-nama pengisi acara tanpa mengindahkan coretan-coretan substansial lain di poster.

Salah satu coretan yang saya maksud ialah slogan ‘Korupsi Adalah Kita’, sebuah paradigma bahwasanya budaya korupsi yang sebegitu digdaya memang berakar dari kultur permisif pribadi dan keseharian tiap insan sendiri di tanah air. Penyelenggaraan di Jogja juga seolah pertanda bahwa korupsi bukan semata milik ibu kota atau gedung Senayan. Melainkan juga bersemayam di tiap pemerintahan daerah, mobil dinas, perempatan lampu merah, kios bensin ecer, hingga jajaran tukang parkir di depan warung burjo. Jumlah penonton yang hadir pun ditaksir menembus angka belasan ribu, hingga kemudian penggunaan istilah ‘gropyokan’ makin relevan. Karena jika hanya segelintir, mungkin namanya ‘ngadhepi korupsi’, ‘maraki korupsi’ atau malah ‘sowan korupsi’.

Gropyokan Korupsi juga mencoba memperkenalkan dan menggalang dukungan pada KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dari kawula muda dan remaja yang memang menjadi mayoritas di konser itu. Di jeda konser, berlangsunglah sebuah prosesi penyerahan proklamasi anti korupsi dari empat perwakilan berusia belia–salah satunya adalah Fajar Merah, putra dari penyair Wiji Thukul—sebagai simbolisasi bahwa generasi muda adalah pihak yang menitipkan kepercayaan itu pada KPK hingga mereka dapat memetik buahnya di masa dewasa nanti.

Saya sendiri tiba di area konser pada pukul 8 malam—telat 1 jam dari waktu tabuh yang tertera di publikasi acara—hingga kemudian mesti melewatkan penampilan Sangkakala dan Navicula. Adalah kesalahan saya seorang yang berpikir akan ada kelanjutan budaya korupsi waktu pada sebuah acara anti korupsi, dan kehilangan dua bintang tamu adalah harga yang harus dibayar. Padahal, saya begitu antusias untuk menyimak upaya seluruh nama-nama besar itu dalam menyuguhkan performa yang tak hanya menghibur, namun juga menggugah pada konteksnya. “Bukan perkara siapa yang tampil, tapi yang penting kemudian adalah komitmen mereka yang tampil untuk menyuarakan pesan anti korupsi,” tukas Marzuki, alias Kill The DJ, sebelumnya di konferensi pers acara.

Gigi  © Warningmagz
Gigi © Warningmagz

Gigi misalnya, yang tampil cukup dini, kiranya memang tak punya stok lagu yang menyasar isu korupsi secara spesifik. Kuartet pop senior itu memilih memproyeksikannya lewat lagu-lagu bertopik keharmonisan umat manusia seperti nomor di album Kilas Balik yang tercipta dari kekalutan perjuangan reformasi 1998, “Rindukan Damai”, disusul “Sang Pemimpi”, “Pemimpin Dari Surga”, dan “Perdamaian”.

“Ketoke ijin hotel ning Jogja ki korup kabeh. Bajingan!” celetuk Kill The DJ, dari atas panggung, dalam sesi penampilannya bersama unit Jogja Hip Hop Foundation (JHF). Mustahil rasanya tak melihat JHF di sebuah konser politis berskala besar dengan isu prominen di Jogja. Seluruh lagu prediksi saya untuk konser ini mereka bawakan, yakni “Ora jujur Ora Ngebul”, “Gangsta Gapi”, “Jogja Ora Didol”, dan tentunya—mau acara apapun—“Jogja Istimewa”

Sementara Shaggydog juga punya hal-hal yang bisa diperbincangkan selain ajakan suka ria (“Kembali Berdansa”, “Jalan-jalan”, “Di Sayidan”). Heru (vokal) dan kawan-kawannya menyenggol para elitis dengan “POLJA (Politisi Obral Janji)” dan “Pion”, sebuah lagu anyar yang merefleksikan keprihatinan dan rasa frustasi akan carut marut sosial-politik nasional. Saya yang beruntung pernah menjadi saksi dari proses rekaman lagu itu bersumpah bahwa versi studionya nanti akan lebih menarik hati dengan isian suluk serta saksofon dari seniman legendaris, Sujiwo Tejo. Nantikan saja momen rilisnya bersama album baru mereka.

Superman Is Dead © Warningmagz
Superman Is Dead © Warningmagz

Sementara penampil pamungkas, Superman Is Dead (SID), tak perlu mempersiapkan segala sesuatu yang berbeda atau embel-embel eksklusif di acara semacam ini. Sosok mereka dari oroknya sudah dipercaya sebagai kelompok musik yang membawa isu-isu perlawanan. Maka, tak ada masalah dengan repertoar reguler semisal “Bulan Dan Ksatria”, “Saint of My Life”,“Sunset Di Tanah Anarki”—berkolaborasi dengan Sari ‘Nymphea’–“Jika Kami Bersama”, hingga “Luka Indonesia”. Outsider (penggemar SID) pun berguncang-guncang menggempakan tanah seperti biasanya. Namun, kali ini saya bisa bayangkan betapa kecut dan ketar-ketir wajah orang-orang terlanjur korup jika menyaksikan pemandangan hamparan manusia haus darah tikus berdasi di sana.

Dan, di sela sesi sakral nomor “Lady Rose”, Jerinx menuturkan, “Acara ini bukan sekedar gaya-gayaan, tapi disinilah kita memulai Indonesia baru dimana budaya korupsi perlahan akan mati. Semoga perubahan ada di anak-anak nakal Indonesia.” Agaknya larik itu adalah ‘buah tangan’ yang paling meninggalkan kesan di benak penonton dari semua ucap himbau yang meluncur malam itu. Sesuatu yang masih diingat oleh anak-anak nakal yang berkerumun pulang meninggalkan area konser seraya bercanda tawa, bersama telapak kaki yang menginjak-injak topeng-topeng tikus yang berserang kotor dan tertenggelamkan debu tanah. Mudah-mudahan itulah hari esok. [Soni Triantoro]

Event by : Yogyakarta
Venue : Lapangan Kridosono
Date : 9 Desember 2014
Man Of The Match : Terangkainya band-band tenar, massa membludak, topeng tikus, pawai tikus raksasa, proklamasi anti korupsi, #Korupsiadalahkita dan hal-hal lain yang mempertegas kesan komunal pada gerakan anti korupsi .
Rating : !!!!

 

JHF  © Warningmagz
JHF © Warningmagz

Photo-set by: Tomi Wibisono

Foto lainnya lihat di -> Gropyokan Korupsi

Tags : gigijhfshaggydogsid
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response