close

Gugur Bumi, Gugur Pertiwi: Panggung Solidaritas Untuk Korban Penggusuran di Kulon Progo

S__9642001

JRX SID, Melanie Subono, Iksan Skuter dan Fajar Merah menambah panjang daftar seniman yang  bersolidaritas terhadap korban penggusuran di Kulon Progo

Solidaritas bagi korban penggusuran di Kulon Progo terkait pembangunan bandara baru, terus mengalir. Kamis (14/12/2017) lalu, bertempat di Kedai Kebun Forum, panggung solidaritas bertajuk Gugur Bumi, Gugur Pertiwi ini diisi oleh seniman lintas daerah, mulai dari JRX SID, Frau, Melanie Subono, Iksan Skuter, Fajar Merah,  dll.

“Saya senang terlibat di acara seperti ini, karena selama ini di tempat saya berasal, di Bali, kami merasakan hal serupa, penindasan dari penguasa terhadap rakyat kecil. Dan selama ini support dari Jogja kepada perjuangan di Bali begitu nyata, cintanya begitu besar dan setidaknya ini yang bisa saya lakukan untuk membalas cinta kalian selama ini.” Ujar JRX SID sebelum memulai set-nya.

JRX SID

Drummer Superman Is Dead itu menjadi penampil pertama, yang langsung membakar semangat penonton yang hadir dengan “Bukan Pahlawan”, “Saint of My Life” dan “Serenade”. Sebelum menyanyikan lagu terkahir, “Jadilah Legenda” JRX berbagi keresahan tentang kondisi Indonesia belakangan ini.

“Kenapa tingkat kemiskinan, kesenjangan sosial di indonesia sangat tinggi? itu karena ada sekelompok elit yang sangat nyaman dengan kondisi indonesia di mana masyarakatnya sengaja dimabukkan dengan agama, diadu domba dengan hal-hal tidak penting, sehingga masyarakat lalai bahwa yang paling penting adalah pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial.” Ujar JRX.

Tak hanya panggung musik, di acara ini juga ada penggalangan dana, lapak donasi, refleksi dan orasi. Bambang Muryanto dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia menjadi pembicara pertama. Ia menyesalkan media lokal Jogja terkait pemberitaan tentang pembangunan bandara Kulon Progo.

“..di Jogja sekarang kita menghadapi persoalan konflik agraria yang amat serius. Hari ini saya kecewa karena media-media lokal di Jogja tidak pernah mengangkat persoalan ini dengan perspektif hak asasi manusia yang benar, mereka bias pada pemerintah, bias kepada PT Angkasa Pura..”  Bambang kemudian mengajak publik untuk ikut mengontrol media, agar media memberikan ruang pembelaan kepada kaum yang lemah.

Refleksi kemudian dilanjutkan oleh dosen Antropologi UGM, Laksmi Savitri Ph.D. Dimulai dengan pemutaran sebuah video yang menggambarkan proses penggusuran di Kulon Progo, Laksmi menjelaskan bahwa masih ada 37 keluarga yang bertahan, termasuk 112 perempuan dan anak yang mengalami trauma. Ia juga mengajak hadirin untuk datang ke lokasi penggusuran.

“betul seperti kata mas Superman Is Dead, yang dibutuhkan adalah kita semua yang ingin bermain dengan anak-anak, yang bisa ngobrol dengan ibu-ibu dan yang bisa mencangkul bersama bapak-bapak, yang tidak dibutuhkan adalah pahlawan”  tutup Laksmi.

Melanie Subono

Fajar Merah, Gunawan Maryanto, Fj Kunthing, Deugalih, Iksan Skuter, dan Melanie Subono silih berganti mengokupasi panggung. Melanie terlihat menghapus air matanya usai melantunkan lagu “Menjahit Merah Putih”, ia kemudian menceritakan duka ibu-ibu yang menjadi korban. Tentang bagaimana saat mereka yang menolak tanahnya dijual mendapatkan intimidasi, para tetangga yang pro bandara—yang telah sepakat menjual tanahnya, datang untuk menonton dan menghina mereka.

Lagu “Darah Juang” kemudian bergema, koor massal tercipta. Dari microphone di bibir Melanie sampai penonton yang berjejal di parkiran—sebab gedung tak kuasa menampung animo solidaritas penonton—bersama-sama menyanyikan lagu perjuangan milik John Tobing tersebut.

Sisir Tanah & Iksan Skuter

Dodok Putra Bangsa, Aktivis Warga Berdaya juga turut ambil bagian. Dalam orasinya, Ia kecewa dengan pernyataan salah seorang dosen UGM terkait penangkapan 12 aktivis yang mayoritas mahasiswa pada tanggal 5 Desember yang lalu.

“..yang miris lagi, statement di koran, dari orang hebat di UGM, inisialnya Arie Sujito, yang mengatakan bahwa gak jamannya mahasiswa sekarang chaos, mahasiswa sekarang harus kontrol diri, dirembug dialogis. Dialogis ndasmu. Dialogis saat warga ditendangi, rumah warga dicongkel, Angkasa Pura mengakui kesalahnnya, bahwa mencekik warga, mencongkel pintu warga, memutus meteran (listrik) warga, akses jalan dilubangi semua pakai buldoser, masih mau dialog?” Kecam Dodok. Ia juga mengecam seniman yang berpihak kepada bandara.

Panggung solidaritas kemudian ditutup dengan khidmat oleh kolaborasi Frau, Sisir Tanah, Iksan Skuter, dan Fajar Merah. Dan penyerahan donasi hasil sumbangan para pengunjung dan penjualan dari lapak donasi yang digelar beberapa penerbit buku seperti Insist Press, Ultimus, Buku Mojok, Warning Books, Jalan Baru, Resist dll.  Total donasi yang terkumpul sejumlah Rp. 10.785.400. Donasi tersebut akan diserahkan untuk perjuangan Paguyuban Warga Penolak Penggusuran Kulon Progo (PWPP.KP) dalam mempertahankan hak hidupnya.

“Saya pikir pentas solidaritas ini penting untuk mengingatkan kita semua, lagi dan lagi kalau penggusuran paksa adalah persoalan kemanusiaan yang perlu kita perjuangkan bersama-sama”  Ujar Frau.  Sementara Sisir tanah mengatakan  “Ada kejahatan kemanusiaan yang berlangsung di Kulon Progo, dan panggung solidaritas ini adalah salah satu kontribusi kecil, namun berarti untuk memanusiakan manusia.”

(Tomi Wibisono / Warning Magz)

donasi

 

Fajar Merah

Foto oleh: Dwe Rachmanto

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response