close

Hasil Restorasi Film Klasik “Pagar Kawat Berduri” Tayang di Gelaran JAFF ke-13

Pagar Kawat Berduri

Rabu (28/11) kemarin, dua studio di Empire XXI dipadati pengunjung sejak pukul 09.00 WIB. Hasil restorasi film klasik Pagar Kawat Berduri oleh Pusbang Film dan Render Post Digital menjadi salah satu program yang paling diminati pagi itu. Film ini mengawali program khusus Layar Klasik yang menayangkan film-film lama dari Asia. Menurut programmer Lisabona Rahman, program ini adalah jawaban dari JAFF untuk mempermudah akses terhadap film klasik yang sarat muatan budaya.

Pagar Kawat Berduri adalah film karya sutradara Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia) Asrul Sani yang diproduksi pada tahun 1961 ini di eranya sempat mengalami penolakan luar biasa sehingga terpaksa turun layar setelah bertengger selama hanya kurang lebih 3 hari saja. Latar belakang politik pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia dan konflik horizontal organisasi dan partai-partai politik pra-1965 jadi alasannya.

Drama perang ini mengisahkan pergulatan sekelompok pejuang liberasi Indonesia di saat pemenjaraan mereka oleh Belanda kolonial. Saat beberapa rekan mereka dieksekusi mati, para prajurit dibiarkan merenungkan nasib mereka. Pertarungan konflik batin di tiap karakter-karakternya dimulai; untuk tetap memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, atau justru hidup mapan dan menyerah pada takdir sebagai anjing piaraan Belanda kolonial. Ada yang memilih mati konyol atas nama cinta personal, beberapa sempat dibuat bimbang, dan sisanya mereka yang tetap idealis dan pragmatis meski ancaman kematian hadir setiap saat tepat di depan wajah mereka.

Hasil Restorasi Pagar Kawat Berduri

Kekuatan naratif dalam film terletak pada bagaimana Asrul Sani tidak menempatkan dan atau menggeneralisir secara hitam-putih pihak antagonis maupun protagonis pada wajah Indonesia atau Belanda. Okupasi kolonialisme Belanda dihadirkan secara reflektif tanpa mereduksi atau bahkan melebih-lebihkan antagonisasi peran penjajah seperti yang kerap dilakukan dalam drama sejarah kolonial. Hal ini yang membuat konteks sosial-politik di tahun di mana film ini pertama kali ditayangkan sama sekali tidak mencapai sebuah konsensus musuh-bersama sehingga PKI (Partai Komunis Indonesia) menuntut agar film tidak diputar di bioskop karena dianggap bisa membuat rakyat Indonesia bersimpati kepada Belanda.

Perihal alasan mengapa Pagar Kawat Berduri dipilih sebagai film yang direstorasi selepas Darah dan Doa (Usmar Ismail, 1950), Lisabona Rahman menyebutkan bahwa ia harus disepakati penting untuk sejarah kesenian dan kebudayaan film Indonesia dan mampu dibuktikan langka atau terancam keberadaannya. “Untuk menyeleksi film-film apa yang bisa direstorasi dengan uang publik tentu harus film-film yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan tingkat kepunahan atau kelangkaannya bisa dibuktikan. Dari 700 koleksi Sinematek tidak mungkin juga dikerjakan semua, jadi harus ada prioritas. Pagar Kawat Berduri dipilih karena filmnya penting namun copy yang ada hanya copy positifnya copy negatifnya sudah tidak ada, sehingga akhirnya ia direkomendasikan untuk direstorasi,” ucap Lisabona Rahman.

Lisabona Rahman

Lawatan hasil restorasi Pagar Kawat Berduri di gelaran JAFF ke-13 adalah sekian dari agenda Pusbang Film dalam usaha untuk mengamankan, melindungi, dan melestarikan film sekaligus memperluas akses dan memperkenalkan sejarah dan budaya Indonesia melalui film. “Kalau cuma satu institusi publik yang mendukung restorasi ini, mungkin kecepatan kita untuk bukan saja menyelamatkan tapi juga memperkenalkan kembali sejarah film kita nanti akan lambat sekali,” ucap M. Sanggupri, Kabid Apresiasi dan Tenaga Perfilman Pusbang Film.

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response