close

Hip Hop Diningrat: Berbahasa Jawa di Musik Asing

no thumb

“In this global world, people still asking where do you come from”  – Marzuki Muhammad.

Rabu malam (23/10) dengan duduk lesehan di halaman tengah gedung FISIPOL UGM, acara Music On Screen pertama yang dibuat oleh Forum Musik Fisipol (FMF) diadakan. Tidak hanya menonton film bersama, diskusi dan suguhan musik juga ditampilkan di acara ini. Sebuah film dokumenter dari Jogja Hiphop Foundation (JHF) berjudul “Hip Hop Diningrat” menjadi umpan untuk diskusi yang setelah itu diadakan.

Music on Screen
Music on Screen

“Hip Hop Diningrat” sendiri adalah film dokumenter hasil garapan Kill The DJ (yang juga pendiri JHF) dan Chandra Hutagaol. Perjalanan panjang Jogja Hiphop Foundation dari panggung kampung sampai panggung internasional terekam apik di keseluruhan film. Unit yang mendapat banyak sorotan dari media ini memang unik karena membuat lagu hip hop dengan lirik bahasa jawa. Walaupun sempat terganggu hujan, puluhan penonton tetap bertahan dan sempat dibuat terpingkal dengan dialog-dialog atau potongan lirik berbahasa jawa yang diucapkan anggota JHF di film.

Setelah film selesai dan diakhiri tepukan tangan penonton, set untuk diskusi mulai disiapkan panitia. FMF menghadirkan Marzuki Muhammad (Kill Th DJ) dan Muhammad Sulhan (Dosen FISIPOL) sebagai pembicara. Serta Farid Stevy, yang juga vokalis salah satu band kenamaan di Yogyakarta menempati posisi sebagai moderator malam itu. Dibuka dengan beberapa quote dan pernyataan dari film “Hip Hop Diningrat”, diskusi mengalir membahas banyak hal. Masalah identitas, konsep lokal-global, Yogyakarta yang dulu dan sekarang, serta mengenai Jogja Hip Hop Foundation adalah beberapa topik yang dibahas alam itu.

“Tidak ada yang sakral di generasi saat ini, paham lokal-global seharusnya dihapus” adalah pernyataan Muhammad Sulhan ketika menyikapi isu yang dilontarkan oleh Farid Stevy. Mengalir juga obrolan mengenai Poetry Battle, salah satu event JHF yang “melagukan” karya sastra jawa kuno. Jogja Hip Hop Foundation tidak bertendensi kontemporer, JHF hanya mencoba menampilkan konten budaya lama dengan cara baru agar terasa lebih ringan dan akrab. “Kalau untuk urusan mengenalkan budaya lama ke generasi muda, itu urusan pemerintah” ujar Kill The DJ.

Setelah sebelumnya dibuka dengan penampilan musik dari FMF, giliran band Sunday Morning menutup acara ini. “Film sama diskusinya berkualitas sih, tapi sayang pengisi musiknya agak nggak nyambung ya” komentar Nadia, salah satu penonton yang hadir malam itu.

Music On Screen
Music On Screen
Tags : Jogja Hip Hop Foundation
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response