close

HUTANINDIE #4: Hanya Penampil yang Berkilau, Lain Tidak

Nosstress (6)
Nosstress
Nosstress

Silampukau dan Nosstres tampil menghibur, meski eksekusi tema terasa kabur.

 

Sudah semestinya ketika mahasiswa –sebagai kaum intelektual- membuat konser haruslah mampu memberikan nilai tawar lebih, tidak berhenti sebagai hiburan yang miskin makna. Hal ini juga coba digarap oleh KMF (Komunitas Musik Fisip) Universitas Sebelas Maret yang telah rutin mengadakan panggung musik bertemakan cinta lingkungan bertajuk Hutanindie. Dalam gelaran ke 4 kali ini, acara mengambil tema “from litter to glitter” yang dialihbahasakan oleh penyelenggara menjadi “dari sampah menjadi berkilau”. Tujuan mulia pun penyelenggara usung, yakni untuk meningkatkan kesadaran melestarikan lingkungan bagi generasi muda.

Faktanya, acara yang digelar Sabtu malam (21/5) di Argo Budaya Universitas Sebelas Maret ini masih jauh untuk mencapai tujuan yang diusung. Pasalnya, sampah yang digadang-gadang bakal digunakan sebagai artistik justru hanya dijadikan “tempelan”. Di sisi kiri panggung, hanya tedapat botol bekas yang disusun dan disinari lampu. Di sisi kanan hanya terdapat karya seni kriya berbahan kertas semen yang tak banyak mendukung artistik panggung. Praktis hanya dua itu saja “tempelan” berbahan sampah yang dihadirkan penyelenggara di atas panggung. Pun ketika mengamati keseluruhan venue, tidak banyak ditemui sampah yang digunakan. Bahkan lampu  penerangan jalan yang semestinya bisa diganti dengan senthir/lampu minyak dan sangat memungkinan dibuat dengan barang bekas juga tidak digunakan.

Meski begitu, agaknya penyelenggara tak perlu khawatir bakal membuat penonton kecewa. Ini dikarenakan mereka yang datang adalah untuk menyimak dau penampil utama malam itu, Silampukau dan Nosstress, bukan yang lain.

Setelah diawali dibuka dengan penampilan Harmoni Amaourest dan Rslide, Soloensis menjadi penampil yang banyak menyedot perhatian. Penonton yang memang menunggu dua penampil utama memilih duduk untuk dua band awal. Baru ketika Soloensis mulai mengokupasi panggung, penonton mulai dipaksa untuk berdiri. Nomor-nomor dari album perdana yang rilis 2014 lalu seperti “Rock ‘n’ Rol Syndrome” , “Tak Lagi Sejati”, “Proces” , mampu digeber dan cukup mulai memanaskan suasana.

Soloensis
Soloensis

Baru pada pukul 21.30 WIB, Kharis Junandharu (gitar&vokal) dan Eki Tresnowening (gitar&vokal) dari Silampukau mulai menampakkan batang hidungnya. Sambutan hangat dari penonton kemudian disambut dengan celetukan suroboyonan yang mengundang gelak tawa. “Bola Raya” membuka penampilan mereka kali ini. Penonton yang memang sudah banyak hafal lagu-lagu dari album Dosa, Kota, dan Kenangan memang tak ragu untuk turut bernyanyi sepanjang penampilan duo asal Surabaya ini.

Lagu “Balada Harian”, “Lagu Rantau”, dan “Malam Jatuh di Surabaya” dimainkan berurutan. Sayangnya, penggemar yang memang memilih menonton dekat dengan panggung justru harus menikmati pengalaman menonton yang kurang prima. Pasalnya, kualitas sound kali ini tidak bisa dibilang baik, penataan letak sound system justru merugikan penonton yang ada di bagian depan panggung. Suara gitar Eki dan Kharis tidak seimbang dengan suara drum dan bass. Justru penonton yang berada di bagian tribun belakang lah yang mendapati kualitas suara yang seimbang.

Silampukau
Silampukau

Satu momen paling menarik hadir dari penampilan silampukau ketika mereka membawakan “Sang Juragan”. Diawali dengan obrolan seputar miras, Eki membuka lagu dengan kalimat, “untuk mereka yang di Bekonang” yang lantas disambut riuh penonton. Lalu pada bagian punchline  di akhir lagu, penonton yang sudah hafal betul bagian ini seolah sepakat untuk bersama-sama meneriakan “anggur vodka arak beras/ lebih hemat campur potas”. Satu potret miras oplosan sekarang yang banyak menelan korban.

Penampilan Silampuakau berlanjut dengan “Puan Kelana” yang membuat penonton sedikit berjingkat dan nomor “Doa 1” yang membuat penonton kompak menyambung lirik “berubah murahan seperti/ Ahmad …”. Tidak diragukan lagi, malam itu Silampukau sukses menghibur penggemarnya.

Jam hampir menunjukan pukul 23.00 WIB, ketika Nosstress yang juga banyak dinanti mulai mengokupasi panggung. Angga (Lead Guitar, Vocal), Kupit (Rhythm, Voca), dan Cok (Percussion, Harmonica, Vocal) mengawali penampilan mereka malam itu dengan nomor “Mengawali Hari”. Berlanjut dengan “Tanam Saja” dan “Buka Hati”. Menyimak penampilan nosstres malam itu adalah menyimak keseluruhan aksi mereka yang menghibur. Mulai dari guyonan yang dilontarkan, interaksi dengan penonton, dan aksi solo vokal yang khas dari band asal Denpasar ini. Gelak tawa penonton berkali-kali pecah, salah satunya ketika salah seorang penonton diajak naik ke panggung untuk mengisi vokal. Hasilnya bisa ditebak, hancur. Dan ini juga yang dieksploitasi kelucuannya dengan cerdik oleh Annga dan Kupit.

Nosstress
Nosstress

Lagu berjudul “Tunda” juga dibawakan Nosstres dengan sangat apik. Selain karena tempo yang mampu mengajak penonton berjingkat, bagian tengah lagu yang diisi solo vokal juga menjadi daya tarik di lagu ini. Koor pun tak terhindarkan hingga penampilan mereka berakhir dengan nomor “Pegang Tanganku” dan “Bersama Kita”. Satu lagi penampil utama yang berhasil menjadi hiburan akhir pekan publik Solo.

Meskipun demikian, penampilan apik dua penampil utama tidak lantas menggugurkan tanggung jawab panitia yang mengusung tajuk “dari sampah jadi berkilau”. Seperti diketahui bersama, sebuah judul adalah janji, dan ketika janji tidak ditepati maka berhak untuk digugat. Sampai akhir acara, baik mc maupun penampil tidak ada satupun yang menyampaikan pesan tentang “litter to glitter”. Lantas, bagaimana bisa kesadaran untuk melestarikan lingkungan bagi generasi muda bisa ditingkatkan?

 

Event By: Komunitas Musik Fisip UNS

Venue: Argo Budaya UNS

Date: 21 Mei 2016

Man Of The match: Penampoilan Nosstres dan guyonannnya.

[yasr_overall_rating size=”small”]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.