close

I, Daniel Blake

I, Daniel Blake – poster

Review overview

WARN!NG Level 9.1

Summary

9.1 Score

I, Daniel Blake

 

Director: Ken Loach

Cast: Dave Johns, Hayley Squires, Dylan McKiernan, Brian Shann

Year: 2016

Production: Sixteen Films, Why Not Productions, Wild Bunch

Fenomena sosial memang menjadi lanskap menyegarkan untuk kemudian diangkat menjadi sebuah spektrum berwujud film. Hal-hal yang tak jauh dari kubang penindasan atau tuntutan kesetaraan merupakan pemandangan jamak dari apa yang semestinya ditangkap pergerakan kamera. Isu-isu yang berputar sehari-hari dengan keterlibatan masyarakat, swasta, dan tentu saja Negara. Perlawanan adalah senjata krusial yang biasa diselipkan dalam bingkai sinematik; menggunakan pemaparan visual demi menunjang aspirasi maupun inspirasi. Tak melulu berkutat pada ratusan karakter di kanal Twitter, mengumpat kepalsuan warta di laman Facebook pribadi, hingga merangkul penyintas konvensional agar terdengar lantang. Dengan medium berupa kombinasi antara plot dan sepercik drama, suar pembaharuan itu akan terus mengungkap tabir fakta.

Seperti film terbaru dari Ken Loach berjudul I, Daniel Blake yang mengisahkan perjuangan seorang paruh baya menghadapi gelombang sistem dan upaya mewujudkan keadilan bagi dirinya. Daniel Blake, bukan sosok Wiji Thukul yang gemar melemparkan kata-kata tajam dari baris puisinya untuk menentang pemberangusan nilai-nilai manusia. Juga bukan Hanns-Martin Schleyer yang kerap mengawal koridor buruh dengan begitu giat. Blake, hanya pekerja kayu biasa yang terjebak—atau mungkin dijebak oleh problematika pelik melawan gurita raksasa berbentuk pemenuhan kesejahteraan. Di tengah kesehatan organ dalamnya yang tak ideal, ia justru mendapati kenyataan pahit; dipaksa menuntaskan kewajibannya karena alasan yang terkesan manipulatif.

Cerita bermula saat Blake (Dave Johns) yang berusia 59 tahun mengalami serangan jantung saat melakukan pekerjaannya seperti biasa. Agar tak semakin memperparah situasi, ia segera mendaftarkan diri pada semacam asuransi perusahaan untuk ditindaklanjuti keadaan tubuhnya. Dengan rekam medis memadai, Blake divonis terkena arrhythmia; penyakit yang menyebabkan tidak stabilnya detak cardia. Alhasil, ia memasukan keluhannya itu ke badan penanggulangan pekerja demi mendapatkan perlindungan. Namun harapannya meleset jauh; kondisinya dinyatakan sehat sesuai penelusuran profesional yang berujung musnahnya tembok jaminan.

Dari sekelumit permasalahan tersebut, kita akan melihat sejauh apa film ini menerobos batasan konflik di dalamnya. Selama satu setengah jam lebih, benang kusut yang melibatkan Blake dan perusahaan (juga Negara) dijalin begitu runtut serta rapi. Tak ada celah yang membuat sulaman cerita terdengar tanpa arah. Semua ditata dengan apik, kuat, dan menjangkau keseluruhan lapisan. Mulai dari usahanya mempersiapkan dentum pertarungan sampai twist yang membelakan mata. Ken Loach selaku sutradara menuturkan gurat sosial-politis dalam semiotika pribadi. Dengan mulus, misinya berjalan tanpa harus menelan banyak ludah kesenduan. Di lain sisi, pusaran dialog meluncur deras dan terkontrol padu seolah dibalik penggabungan huruf romawi terdapat teriak protes yang berdaya ledak. Ditambah, munculnya figur Katie (Hayley Squires) dan kedua anaknya kian menegaskan kepahitan realita di mana hostel pinggiran London memaksa mereka terbenam ke bawah sekaligus merayakan kepiluannya bersama Blake.

 

 

I, Daniel Blake bukan sekedar goresan tinta masa tua. Bukan sebatas sajian neo-realisme laiknya karya-karya Ken Loach terdahulu. Bisa dibilang, film ini melantunkan ketakutan serta kesendirian menghadapi hujaman bom waktu yang mengakibatkan ketimpangan pribadi; di Negara yang konon katanya menghargai substansi kemakmuran individunya. Lupakan sejenak gejolak Brexit maupun dampak Traktat Lisabon yang hingar bingarnya menyentuh dinding pemberitaan. Faktanya, ternyata masih terdapat elemen yang terpinggirkan oleh cengkraman kuasa.

Performa Dave selaku pemeran utama sungguh memukau. Meski I, Daniel Blake merupakan pengalaman pertamanya menjajal dunia film, hal itu tidak mempengaruhi potensi alamiahnya yang menutupi kecanggungan perangai. Dengan lihai, ia menambahkan dialog-dialog yang semarak nan memancing tawa lepas di beberapa adegan. Lihat saja bagaimana rona wajahnya nampak konyol akibat gagal mengoperasikan komputer tatkala hendak memasukan lampiran berkas persyaratan. Lantas umpatan meloncat seketika bersamaan dengan tatapan sesal; 59 tahun ia habiskan tanpa pernah menyetubuhi perangkat modern.

Hal yang tak boleh diacuhkan yakni bahwa perpaduan aksi Dave Johns dan Hayley Squires turut berandil besar dalam memberi kekuatan pada I, Daniel Blake. Keduanya dapat memunculkan ikatan chemistry yang mengesankan. Dipersatukan nasib yang sama, mereka menjadi rekan seperjuangan untuk mendapatkan apa yang seyogyanya didapatkan: keadilan. Apabila pada kebanyakan kasus jalinan antar dua insan yang terabaikan berujung mekarnya romansa klise, tidak demikian dengan Dave dan Hayley.

Saya hampir kehabisan kata-kata dalam menyanjung betapa briliannya film ini. Beberapa elemen yang berdiri berdampingan mampu diramu secara sempurna. Gaya pengarahan Ken Loach yang terlihat alami dikuatkan penulisan naskah dari Paul Laverty; semakin menambah tebal karakter yang diharapkan. Laverty dengan malu-malu menyelipkan naskah 1984 milik Orwell untuk kemudian diejawantahkan dalam lembaran tinta tulisan. Modernitas bakal menemui jalan buntu dan tidak serta merta menyajikan kemudahan bagi pengikutnya. Bahwa beragam istilah teknis seperti Employment and Support Allowance, Work Capability Assessment, sampai Jobseeker Allowance yang digadang meneteskan angin surga justru hanya berpeluh perkara.

Di usianya yang hampir menyentuh 80 tahun, Ken Loach masih memiliki sensibilitas prima untuk menyampaikan isu-isu sensitif mengenai permasalahan dua subjek: warga dan Negara. Tangan midasnya membawa ke masa kegemilangannya di era Catchy Come Home yang dilepas tiga dekade lalu. Kecermatannya dalam menggabungkan intuisi khas Vittorio de Sica, keanggunan Milos Forman, serta kontroversialnya Gilo Pontecorvo menjadikan karya-karyanya tetap relevan hingga sekarang. Mulai dari Kes (1966) yang masuk 7 film terbaik Inggris sepanjang masa versi British Film Institute, Riff-Raff (1991) yang menyenggol kebijakan Margaret Thatcher, maupun medan perang The Wind That Shakes The Barley yang menggondol Palme d’Or Cannes Film Festival. Atas segala pencapaiannya ini, saya teringat ujaran Ken Loach yang berbunyi “A movie isn’t a political movement, a party or even an article. It’s just a film. At best it can add its voice to public outrage”. Dan beruntungnya, ia masih berpegang teguh pada keyakinan itu. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response