close

Ilalang Zaman: Menyuarakan yang Tidak Disuarakan

1381379_531895800231595_1841082847_n
Ilalang Zaman
Ilalang Zaman

Beberapa bulan lalu, trio yang dinamai Ilalang Zaman ini mengunggah sebuah lagu protes yang cukup berani bertajuk “Sesaji Raja Untuk Dewa Kapital”. Sebuah bentuk protes terhadap proyek tambang pasir besi di Kulon Progo. Dengan lirik yang lugas, musik yang easy listening—tak lupa vokal yang merdu—lagu ini tentu berpotensi untuk mendapat perhatian audiens luas–dalam konteks lagu protes.

Jika melihat ke belakang, mereka memang aktif mengokupasi acara-acara di lingkup aktivisme. “Ilalang Zaman adalah kelompok musik yang cenderung mengangkat tema-tema sodial, politik, kemanusiaan, atau apa pun yang menurut kami pantas untuk disuarakan dan tidak disuarakan di corong yang lebih besar seperti media massa,” ungkap Erda, bassis Ilalang Zaman.

Penasaran dengan latar belakang mereka, kami mendapati fakta menarik, bahwa trio ini berangkat dari kegiatan pers mahasiswa. Mereka seperti tak puas bermain dengan teks, lalu melanjutkannya dengan media yang paling populer—musik, namun tetap melempar wacana-wacana kritis, seperti yang kerap ditemui pada terbitan-terbitan pers mahasiswa.

Sudah lima tahun mereka melalang buana, dengan beberapa lagu yang mereka unggah di Soundcloud, cukup disayangkan belum terdokumentasi dalam bentuk album. Selagi menunggu album mereka, mari simak wawancara ini.

Wawancara oleh: Umar Wicaksono & Tomi Wibisono

 

fafa
fafa

Bisa diceritakan bagaimana band ini terbentuk?

Erda: Awalnya aku (bass), Fafa (gitar-vokal), dan Yab (drum) tergabung dalam sebuah lembaga pers mahasiswa, namanya Natas.  Pada awalnya aku dan Fafa suka nge-jam bareng, karena kebetulan kita suka satu aliran yang sama, yaitu punk. Nah, ternyata Fafa juga punya beberapa lagu yang dia bikin sendiri, terus muncul gagasan untuk menggarap lagu bikinan sendiri itu. Terus kita merasa butuh drummer. Setelah mencari-cari drummer dalam beberapa kali latihan, jamming, dan tampil, Yab akhirnya gabung. Kemudian setelah berdiskusi tentang nama band, jadinya kami pakai Ilalang Zaman. Sederhananya, ilalang itu gulma, yang sering dianggap penggangu. Kami ingin menjadi pengganggu pola pikir masyarakat yang sudah merasa semua baik-baik saja. Mungkin personil lain punya filosofi sendiri tentang nama ini.

Ada motif tertentu?

Erda: Ingin menyalurkan hasrat bermusik dan menyampaikan isu.

Yab: Ruang nyalurin hasrat musik politis secara kolektif

Fafa: Kita belum pernah membahas ini secara eksplisit sebenarnya. Tapi sejauh ini Ilalang Zaman bertumbuh jadi band yang melagukan soal kritiknya atas penindasan (seperti yang terdengar di lagu “Jangan Diam Papua”, “Kalimantan”), kebobrokan media (seperti yang terlihat di lagu Persetan Media), common sense (seperti apa yang kita sampaikan di lagu “Apa yang Kita Rayakan?”), juga pemerintahan yang lalim (di lagu “Budi”).

Kami penasaran dengan latar belakang kalian? Apa yang membuat kalian peduli dengan isu-isu sosial?

Erda: Apa yang membentuk kepedulian, atau ketertarikan, itu kupikir tak dapat dilepaskan juga dari keterlibatan di pers mahasiswa. Setidaknya itu pengaruh dominan yang kualami.

Yab: Soal asal kepedulian sosial, saya berangkat dari wacana kritis di dunia pers dan gerakan mahasiswa, lalu setelah lulus bantu beberapa gerakan akar rumput yang melawan penindasan korporasi dan negara. Ini yang membangun pandangan bahwa dunia ini nggak baik-baik aja. Ada masalah struktural yang menjadi akar masalah ekonomi politik di dunia, yang paling utama adalah kapitalisme. Karena musik adalah salah satu ruang ekspresi pemikiran dan perenungan akan hal tersebut, makanya karya-karya saya, termasuk yang ada di Ilalang Zaman, juga mewadahi pandangan tentang dunia yang seperti itu.

Fafa: Latar belakang yang ada hubungannya dengan pembicaraan soal isu sosial itu? Aku rasa ini dipengaruhi latar belakangku sebagai mantan anak persma. Di persma aku sedikit-sedikit belajar filsafat dan teori kritis, juga belajar menganalisa macam-macam isu dengan kritis.

 

Erda
Erda

 Menarik, Persma ya? Artinya kalian sudah tidak aktif lagi di sana. Bagaimana kalian melihat persma saat ini? Di Jogja khususnya, atau kalau mau bicara tentang Indonesia, silahkan.

Erda: Sebenarnya aku nggak tahu banyak tentang keadaan persma saat ini. Tapi dari yang kulihat persma sedang mencari bentuknya lagi. Beberapa teman yang masih aktif di persma cerita bahwa beberapa persma masih disibukkan dengan urusan internal organisasi, seperti permasalahan keanggotaan, mencari bentuk ideal organisasi, dsb. Menurutku, persma sedang merelevansikan kembali konsep perjuangan mereka dengan konteks yang sekarang karena tentunya konteksnya sangat berbeda dengan masa-masa di mana perjuangan mahasiswa lagi massif-masifnya, seperti zaman ’98, katakanlah.

Yab: Sebenernya sudah nggak ngikutin persma. Tapi di Jogja, kemarin terakhir beberapa persma masih aktif kok turun ke jalan nolak kenaikan BBM. Di tataran wacana juga beberapa berani ngangkat konflik agraria di Jogja yang dihindari media mainstream karena hegemoni Sultan dan Keraton.

Fafa: Aku sudah lama nggak aktif, jadi aku nggak terlalu paham juga dinamika di persma, terutama PPMI (sebagai perhimpunan yang menaungi persma di seluruh Indonesia), sekarang seperti apa.

Rencana rilis album? apakah juga akan dibagi gratis seperti lagu-lagu kalian sebelumnya?

Erda: Rencana matang untuk menciptakan album sih belum ada, tapi arahnya bakal ke sana. Jadi, kami selalu upload single-single yang telah kami garap dan bisa diunduh gratis. Nanti kalau dirasa sudah cukup ya akan dijadikan album atau mini-album. Beberapa kali kami terlibat dalam pembuatan album kompilasai dan itu memang dijual untuk keperluan fund raising seperti “Mini Album Tanah Borneo” dan “Album Kompilasi Menolak lupa”. Untuk album kami, sepertinya juga bakal digratiskan.

Fafa: Ada rencana merilis album. Pembicaraan lebih detilnya belum ada. Bayanganku sih, (kalaupun albumnya akan disebar dalam bentuk fisik) andai dijual uangnya hanya akan dipakai untuk ganti biaya produksi aja. Kalaupun ada keuntungan yang akan diambil, keuntungannya kita sumbangkan buat gerakan, seperti yang kita lakukan saat menyebarkan Mini Album Tanah Borneo yang kita garap dengan kawan-kawan lain. Tapi, sekali lagi, ini belum dibicarakan bareng-bareng. Jadi masih ada kemungkinan lain.

Bisa cerita proses penciptaan lagu “Jangan diam Papua?” Seperti apa kolaborasi kalian dengan Aliansi Mahasiswa Papua?

Erda: Di situ secara teknis aku lebih banyak terlibat dalam menuliskan not-not dan juga latihan koor dengan Aliansi Mahasiswa Papua. Selengkapnya biar Yab yang jawab.

Yab: Intinya pengen ngajak anak-anak Papua nyanyi bareng, supaya semacam ada simbol solidaritas antara orang Papua dan Non-Papua sendiri. Esensi lagu “Jangan Diam, Papua” dan seluruh prosesnya adalah upaya menciptakan karya kolaboratif yang menjadi narasi tandingan terhadap citra Papua di banyak media yang didominasi oleh eksotisme dan rasisme. Lagu ini ingin mengangkat eksploitasi dan penindasan korporasi dan negara terhadap alam dan manusia Papua.

Kami tertarik dengan lagu baru kalian, “Sesaji Raja Untuk Dewa Kapital”, bisa dijelaskan sebenarnya lagu ini bercerita tentang apa?

Fafa: Lagu itu adalah usaha untuk membahasakan kegelisahan petani-petani di Kulon Progo yang lahannya terancam terampas karena ada rencana pertambangan pasir besi di sana.

Yab
Yab

Nah, terkait isu-isu seperti ini, saya melihat ada perbedaan ketika kita membandingkan dengan gerakan di kota lain, Bali misalnya, musisi begitu masif menyalurkan solidaritasnya. Sedang di Jogja, sejauh pengamatan kami, hanya sedikit yang tertarik/tergerak untuk ikut ambil bagian. Bagaimana kalian melihat hal ini?

Erda: Dipengaruhi juga oleh kedekatan band-band, yang sebenarnya berpotensi menyuarakan perlawanan dengan kekuasaan. Memang perlu data lebih lanjut, tapi kadang itu membuat beberapa band ini pilih-pilih dalam bersolidaritas atau paling tidak menyuarakan isu.

Yab: Kesungkanan banyak seniman di Jogja masih terhubung dengan kenyataan bahwa ada aktivitas, lokus kesenian atau kebudayaan di Jogja yang dirawat oleh kekuasaan sendiri misalnya (yang paling sering) lewat Pemda, entah lewat dana kesenian atau administrasi seperti perizinan dan dukungan. Seni berdampingan dengan kekuasaan, bahkan seni yang punya tema kritik sosial. Kalau yang aku amati, kecenderungannya banyak seniman, musisi, pegiat kebudayaan yang tumbuh dari aktivitas dan lokus kekuasaan ini menghindari untuk berlawanan dengan Sultan, tapi kalau lawannya di daerah lain, ya mereka berani. Atau, kalau ada yang berani melawan pun, biasanya dilakukan lewat saluran atau narasi yang direstui oleh kekuasaan. Jadi jarang ada yang berani keluar dari normalitas yang disediakan oleh kekuasaan. Sederhananya, lihat senimannya dapat makan dan tumbuh dari mana. Sependek pengetahuanku, relasi-kuasa ini biasanya menentukan keberpihakan politisnya.

Fafa: Aku rasa nggak hanya di Jogja. Band-band—yang bahkan yang mendaku diri indie—di Indonesia secara umum juga nggak banyak yang bicara soal isu sosial atau lingkungan. Atau, kalaupun tidak bicara soal dua isu itu, ya bicara dengan kritislah soal apa saja yang mereka lihat di sekitar mereka. Kebanyakan bicara soal cinta, sih, sejauh pengamatanku. Padahal kegelisahan manusia kan ya bukan cuma itu saja. Kalaupun ada yang kritis, banyak yang terseret bicara soal isu-isu LSM-LSM yang disetir sama kekuasaan juga. Sebagai sebuah band, yang bisa kita lakukan saat ini ya, terus berkarya dengan segala kegelisahan yang kita punya, sambil terus berhati-hati agar tidak terseret arus yang kelihatannya berlawanan arah, tapi sebenarnya sama juga dengan arus besarnya.

Sebagai media penyampai pesan, menurut kalian, apa sih yang bisa dihasilkan dari lagu-lagu perlawanan?

Erda: Lagu-lagu perlawanan berpotensi, paling tidak, menimbulkan keresahan buat para pendengarnya bahwa ternyata ada sesuatu yang salah, tetap ada penindasan di balik keadaan yang nampak sudah baik.

Yab: Lagu bisa jadi apapun. Tapi menurutku nggak ada patok yang jelas dia bisa jadi apa. Mulai dari jadi kutipan di buku harian halaman pertama sampai jadi nyanyian waktu bentrok sama polisi. Cara kerja musik ada di alam bawah sadar orang, dan kita nggak tahu itu bisa jadi apa. Kadang kalau pas aku ngalami momen emosional entah sedih entah marah, selalu ada lantunan nada tertentu di kepalaku. Lucunya, pernah pas ada bentrok sama polisi, orang nggak kukenal di sebelah ngelempar batu ke polisi sambil teriak “Njing Anjing Anjing Kintamani!”-nya Shaggy Dog. Aku sontak mikir, lah hubungannya apaan? Hahaha. Mungkin dia mengasosiasikan polisi dengan anjing, walau anjing kan imut sementara polisi nggak sama sekali. Haha.

Fafa: Buatku pribadi, lagu secara umum adalah cara yang selalu bisa kupakai untuk membahasakan kegelisahanku dan kegelisahan orang lain yang menggugahku. Lagu yang berhasil adalah lagu yang mampu mentransfer kegelisahan itu ke diri orang yang mendengarkan; sesederhana sekaligus setidak-sesederhana itu. Hahaha. Merubah sistem atau menciptakan perlawanan masif lewat lagu yang bicara soal perlawanan itu adalah hal yang sangat menarik dan romantis, tapi itu hampir tidak realistis. Untuk menciptakan gerakan, kita perlu berkumpul dan bergerak bersama-sama dalam waktu yang lama. Jadi, lagu saja tidak cukup.

Oke kita santai sejenak, Yab sebagai drummer, lebih sering orasi ketimbang vokalis, adakah terinspirasi dari Jerinx dari kelompok musik Superman Is Dead?-

Fafa: Drummer yang lebih banyak bicara di panggung di banding personel lain itu, kelihatannya nggak hanya jadi ciri khas SID. Banyak band lain yang juga begitu. Dan Yab memang lebih banyak orasi karena, pertama, aku dan Erda lebih sering ribet dengan peralatan kita saat di panggung, dan kedua, Yab memang lebih suka orasi dibanding yang lain.

Yab: Dalam konteks orator, aku malah lebih familiar dengan Bung Tomo daripada JRX. haha. Asli, kekerapanku orasi nggak ada hubungannya sama JRX. Kalaupun ada inspirasi orator di musik, jauh sebelum JRX muncul, aku udah sering nonton Zack de La Rocha atau Felipe Coronel teriak-teriak atau maki-maki di atas panggung. Pertama, sebenernya semua personel bisa orasi kalo mau. Kedua, kekerapan orasi itu berangkat dari pemikiran kalau musik bisa jadi ruang penyebaran kesadaran sosial-politik, lantas kenapa ga dieksplisitkan sekalian lewat orasi.

Soal kritik “menjadi kiri itu seksi”, yang juga masuk ke ranah musik, ada tanggapan?

Erda: Memang sangat seksi terutama kalau ditampilkan di panggung atau dipajang di etalase atau galeri. Biar nggak sekedar “seksi” perlu juga bersolidaritas  setelah turun dari panggung.

Fafa: Menjadi kiri itu nggak selalu seksi. Menjadi kiri itu, lebih banyak payah dan berdarah-darahnya. Alih-alih seksi, menjadi kiri itu malah lebih banyak membuat kita nggak kelihatan.

Yab: Serba salah juga emang. Kalau band pro status quo (kanan) dibilang penjilat, nge-pop dikit dibilang mainstream, giliran ada musisi yang komitmen ke gagasan kiri dituduh “biar seksi”. Haha. Aku sedikit banyak setuju sama Fafa. Kenyataannya musisi yang kontra kekuasaan itu biasanya hidupnya susah. Victor Jara? Mati dihabisin Allende. Arnold AP? Mati dibunuh Orba. Itu yang diketahui publik. Yang nggak diketahui mungkin lebih ngenes lagi nasibnya. Temen kita di Jogja yang juga musisi indie, misalnya, ditawari royalti lumayan besar asal mau ikut ngisi acara relawan salah satu kandidat presiden kemarin. Tapi mereka tolak karena mereka anggap pemilu nggak merubah apa pun. Mereka bilang, “lebih baik kita jualan sandal aja buat cari duit,” saat band-band pada rame dukung capres. Ya akhirnya teman kita ini kudu terima konsekuensi pilihan politis mereka, dan itu bukannya nggak susah.

Begini, saya pernah riset kecil, bahwa anak muda, bahkan mahasiswa, tidak lagi banyak yang suka pada isu-isu sosial politik? Dari kacamata kalian yang notabene belum tua, kira-kira mengapa isu ini tidak lagi menarik bagi anak muda?

Erda: Mungkin ada benarnya juga. Beberapa teman yang masih aktif di pergerakan atau elemen mahasiswa sharing kalo anggota mereka menurun terutama secara kuantitas. Kupikir penyebabnya macam-macam dan kompleks. Dari segi akademik, mahasiswa makin dijejali tugas-tugas kuliah dan kurikulum yang padat, yang mungkin hanya membuat mereka sempat berpikir tentang tumpukan tugas, tanpa sempat berdiskusi tentang hal-hal lain seperti kondisi sosial politik. Preferensi hiburan, yang sekarang dengan mudah diakses dari berbagai perangkat elektronik, pun menjauhkan dari isu-isu itu. Tak heran kalau isu tersebut jadi kurang menarik, meskipun bukan berarti mengklaim bahwa tak ada yang tertarik dengan isu sosial politik. Tapi itu sebatas selayang pandang saja dari apa yang aku lihat dan alami, belum ada riset pribadi soal ini, haha.

Yab: anak-anak muda nggak tertarik sosial politik itu fenomena di mana-mana ya. Kalau di Indonesia sendiri, ya mungkin khusus disebabkan praktik puluhan tahun depolitisasi Orba terhadap anak muda. Jadi, anak muda kudu disterilkan dari masalah sosial dan politik supaya jadi sekrup yang taat. Nah, yang terjadi sekarang, kulihat malah anak muda pada mulai seneng ngomongin politik tapi sayangnya politik seperti yang disajikan media. Politik praktis, politik elit Istana, hingar-bingar pemilu, dan politik sebagai sebuah gosip. Tapi politik keseharian mereka, politik akar rumput ini masih jauh dari mereka, karena narasi terhadap politik ya seperti yang disajikan media korporat tadi.

Fafa: Aku mengalami ini juga selama di pers mahasiswa. Hal ini juga sering kudiskusikan dengan kawan-kawan di persma. Sebab-sebab yang mungkin, yang sering muncul dalam pembicaraan kita adalah tekanan hidup yang makin besar (termasuk di dalamnya tuntutan akademis yang makin banyak dan di sisi lain nggak membuat otak lebih terasah juga), waktu luang yang makin sempit, dan kebutuhan akan hiburan yang lebih besar yang dibarengi dengan ketersediaan hiburan semu ala Amerika atau Korea. Mungkin. Dugaan ini perlu dicek ulang.

 

Rencana kedepan?

Erda: Yang terdekat mau ke beberapa desa di Kulon Progo, yang menolak tambang pasir besi, untuk bersolidaritas terutama dengan anak mudanya dan bermusik bersama. Harapannya mereka bisa menyuarakan perlawanan mereka lewat musik juga.

Yab: Rencana secara kolektif di musik ya tetep rekaman dan bikin lagu, manggung dll. Kalau di gerakan sosial sudah dijawab Erda. Kita jadi pembantu, nyemangatin pemudi-pemuda di Kulon Progo untuk mempertahankan tanahnya lewat musik dengan bikin acara di desa-desa mereka di dalam agenda Forum Komunikasi Masyarakat Agraris.

Fafa: Kelihatannya sekarang yang sedang kita lakukan hanyalah merampungkan album saja.

 

Terakhir. #Sarapanmusik ?

Erda: Wake Up – Rage Against The Machine,  sekalian alarm bangun tidur hehe

Yab: Beberapa hari ini, tiap pagi dengerin lagi Chet Baker Quartet – “Polka Dots and Moonbeams”, “Strange Fruit”-nya Billie Holiday dan “Rainin in Paradise”-nya Manu Chao.

Fafa: “Sunrise”-nya Norah Jones. Tapi, seperti sarapan dalam arti paling harfiahnya, sarapanku tiap pagi tidak selalu lagu ini. Hehe.

 

Ada pesan buat pembaca WARN!NG?

Erda: Support terus musik indie dan tetep membumi. Gitu aja. Hehe.

Fafa: Aku nggak terlalu suka memberi pesan. Kayak orang tua nanti jadinya kalau sering memberi pesan. Hehehe.

Yab: Karena anak-anak WARN!NG telaten banget ngurusin majalah mereka, terlepas apapun temanya, tapi keuletan nggarap proyek mandiri dari nol itu susahnya minta ampun, dan WARN!NG sejauh ini kupikir berhasil dalam hal itu. Maka, asyik kalau pembaca mengapresiasi WARN!NG dengan membacanya, mengkritiknya, nyumbang tulisan, support kegiatannya dan lain-lain supaya majalah ini tetep hidup.

Oke terima kasih banyak, semoga tidak cepat bubar ya!

 

simak single SESAJI RAJA UNTUK DEWA KAPITAL ->

Tags : Ilalang Zaman
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.