close

I’m Thinking of Ending Things: Absurd yang Paling Masuk Akal

Untitled-1
Oleh: Adya Nisita, Anggar Shandy

Sepanjang pengalaman menonton karya-karya Charlie Kaufman, kali ini penulis sepakat dengan berbagai ulasan yang bilang kalau “I’m Thinking of Ending Things” bisa masuk hitungan sebagai film horor. Mulai dari kehadiran Toni Collette, interaksi canggung antara protagonis Jake (Jesse Plemons) dan Lucy (Jessie Buckley), sampai badai salju yang memerangkap tokoh-tokohnya. Film ini mestinya dirilis saat Halloween, alih-alih di musim panas.

Peristiwa janggal masih minim di awal film. Tidak ada yang aneh dari laki-laki yang mengajak kekasihnya mengunjungi rumah orang tua. Sesaat setelah keduanya berada di dalam mobil, aura ganjil menyeruak seketika. Lucy tampak risau dengan pertanyaan-pertanyaan yang menggayuti pikirannya. Sementara sikap kikuk Jake jelas mencemaskan. Ditambah lagi, Jake seakan selalu bisa membaca benak Lucy. Kejanggalan berikutnya terjadi ketika Lucy mendapat telepon masuk. Di layar ponsel, muncul namanya sendiri.

Sepanjang perjalanan, dialog antara Jake dan Lucy bergulir begitu kaku. Sebagai sepasang kekasih, harusnya mereka punya cukup waktu mengakrabkan diri setelah enam pekan bersama. Ketika akhirnya bercengkrama pun, suasananya tak hanya canggung tetapi juga terkesan begitu artifisial. Keduanya menyitir nama-nama besar, karya-karya kanon, dan teori-teori rumit. Dari sini, kejanggalan akan berdatangan terlalu sering, tidak terhitung banyaknya. Plus, rangkaian peristiwa yang berantakan baik secara kronologis maupun logis bakal jadi teror tersendiri.

Cerita cinta yang tandus antara Lucy dan Jake dikisahkan secara paralel dengan kisah seorang Pak Tua penjaga sekolah. Kehidupan menyedihkan Pak Tua yang seolah tak kasat mata di depan siswa-siswi SMA tempatnya bekerja terlihat kontras dengan montase menegangkan perjalanan Jake dan Lucy. Penonton pun dibuat bimbang: siapa sebenarnya Pak tua itu? Apakah ia gambaran masa depan Jake? Ah, mana mungkin. Bukankah Jake seorang intelektual yang sukses di kota? Jake berpakaian rapi, selalu dideskripsikan Lucy sebagai laki-laki yang brilian dan berbudaya. Bahkan, orang tua Jake pun mengakui jika sang anak sudah menonjol dari teman sebayanya sejak usia muda. Lantas, apa maksudnya keseharian memprihatinkan Pak Tua dimunculkan?

“I’m Thinking of Ending Things” memberikan pengalaman menonton yang unik. Ia bak puzzle yang hampir muskil tersusun: tidak ada gambar contoh dan pecahannya kelewat banyak. Tetapi, jika gagal tersusun pun, keping-keping itu sudah cukup indah buat dinikmati sendiri-sendiri. Setidaknya bagi penulis, ada momen-momen khusus yang beresonansi dengan pengalaman pribadi. Ternyata film ini tidak absurd-absurd amat.

Lama kelamaan, penonton bakal mulai tersentil. Keteguhan kepribadian Jake begitu bertolak belakang dengan cairnya penggambaran tentang Lucy. Di satu saat ia seorang mahasiswi fisika kuantum, di saat yang lain ia sedang menekuni gerontologi. Di satu kesempatan ia mengaku tak paham puisi, di kesempatan yang lain dengan luwesnya berdeklamasi. Ia berangkat pakai jaket merah, pulang dengan jaket biru. Ia pun setidaknya punya tiga nama, Lucy, Lucia, dan Ames. Penonton pun kembali bertanya: kutukan macam apa yang sedang menimpa perempuan malang itu?!

Film ini memikat dengan caranya sendiri. Awalnya penonton diarahkan untuk menempatkan diri di posisi Lucy, merasakan nuansa mencekam di samping kekasih yang dingin, temperamental, intimidatif, beserta kedua orang tuanya yang membawa hawa janggal. Namun menjelang akhir cerita, agensi Lucy kian meredup bak ditelan tumpukan salju. Sebagai gantinya, simpati penonton dialihkan ke Jake sekaligus Pak Tua, pada kesepiannya, pada kegagalan mereka memenuhi standar sosial, pada upaya mereka menyelamatkan diri dari nasib sebagai orang-orang kalah.

Tiada yang lebih horor daripada kisah-kisah buruk yang sangat mungkin kejadian. Formulasinya kan memang begitu. Makin riil film horor dibuat, maka makin susah pula dienyahkan dari pikiran. Mungkin banyak dari kita pernah dihadapkan pada situasi serba salah ketika hubungan dirasa tidak cocok lagi. Ketika rasanya tidak ada kata-kata yang paling pantas diucapkan dengan derajat kerusakan paling minim. Lucy yang sudah jengah namun ‘pekewuh’ kelihatannya perlu kursus mengakhiri hubungan pakai kalimat ‘kamu terlalu baik buat aku’. Terlepas dari niat Lucy melepaskan diri dari Jake, “I’m Thinking of Ending Things” ternyata bukan soal kisah cinta yang menghambar. Ini soal gelapnya pikiran Jake, dan Jake seorang.

Penulis tidak bisa menentukan mana yang lebih menakutkan: tersesat di labirin aneka pengalaman aneh si perempuan atau bersolidaritas dengan tokoh laki-laki yang jelas-jelas punya masalah mental.

Semuanya perlahan jadi lebih terang, satu demi satu kepingan puzzle tersusun dengan sendirinya. Khayalan Jake adalah jawaban dari sederet inkonsistensi yang hadir di sosok Lucy dan kemunculan orang tua Jake yang tidak jelas juntrungannya. Jake adalah tuan rumah tunggal dari semua kegilaan itu. Untuk menutup pertunjukan, Jake menciptakan rekaan pamungkasnya. Ia mendudukkan diri sebagai Russel Crowe dalam biopik “A Beautiful Mind” (2001), melakoni ulang adegan ketika John F. Nash menerima Hadiah Nobel. Lucy dan ayahnya hadir di kursi penonton dengan raut wajah menua. Cuplikan pidato “…you are the reason I am, you are all my reasons,” terdengar lain jika menimbang bahwa tokoh Jake dan John F. Nash sama-sama punya kecenderungan schizophrenia.

Realitas di kepala Jake dijahit dari puisi, pertunjukan musikal, dan beragam budaya pop yang menenggelamkannya di masa muda. Tentu saja sepaket dengan kegelisahan dan traumanya. Jake adalah sosok yang sudah lama terasing, semacam social misfit yang tidak menemukan kehangatan bahkan di rumahnya sendiri. Namun, Jake tidak sepenuhnya pandir, ia benar-benar punya medali murid terbaik (kedua), ia lumayan bisa melukis, ia membaca banyak buku dan menonton film bagus. Jake adalah potret orang kalah yang familiar. Maka, tak ayal jika segala yang absurd di film “I’m Thinking of Ending Things” rasanya masuk akal. Pasalnya, ia mendemonstrasikan ketakutan terbesar siapa saja: tumbuh dewasa jadi pecundang, hidup terlalu lama, lalu mati sendirian.

The Best Line:People like to think of themselves as points moving through time. But I think it’s probably the opposite. We’re stationary, and time passes through us. Blowing like cold wind, stealing our heat, leaving us chapped and frozen.

After Watching, We Listen to: Neutral Milk Hotel – Two-Headed Boy, Part 2; Phoebe Bridgers – I Know The End

(Adya Nisita & Anggar Shandy)

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.