close

Indische Party – Analog

Analog
Analog

Label: Demajors

Year: 2016

Watchful shot: “I Wanna Dance”, “Babe You Got A Hold On Me Somehow”, “Atlantis 2015”

Ada cara mudah untuk menikmati hidup. Tinggalkan sejenak berhala modernitas yang kian ke sini kian memperbudak, letakan penat yang menghunus selaput kepala, lantas cari sejumput keriaan di karpet sosial; melempar tawa bersama, memadu cerita lama, kemudian berbagi kisah yang mungkin dapat menginspirasi diri. Terkadang kita lupa bagaimana menjadi manusia seutuhnya akibat sentuhan perangkat elektronik, tekanan pekerjaan, dan tagihan hutang yang menumpuk tebal. Akhirnya, sesal hanya akan menggerogoti tubuh hingga keesokan hari.

Tak sulit untuk mendapatkan ramuan menyenangkan agar hidup tak melulu berjalan memprihatinkan. Mendengar Indische Party adalah salah satu solusi yang bisa diterapkan. Band yang digawangi oleh Japs Shadiq (vokal/harmonica), Kubil (gitar), Jacobus (bas), serta Tika (drum) ini baru saja merilis album teranyar bertajuk Analog, sekaligus wahana di mana percakapan yang mengasyikan bakal menemani kebosanan rutinitas. Diproduseri langsung oleh dedengkot Irama Nusantara, David Tarigan, karakter mereka sama sekali tak mengalami perubahan; mematenkan keliaran, berdendang tanpa beban, dan terpenting menikmati suasana alih-alih tertekan ekspektasi yang sebenarnya bual keusangan belaka.

Analog merupakan album panjang kedua setelah kemunculan mereka di rilisan Self Titled pada tiga tahun yang lalu. Saya melihat perbedaan cukup kentara, terutama dari segi produksi ataupun kualitas bermusik yang disajikan. Apabila di dua karya terdahulu (termasuk sebuah EP berjudul On Vacation) masih terdapat noktah berupa kekosongan kreasi, kali ini mereka menggantikannya dengan konsep yang tertata; menegaskan kapabilitas kreatif harus meningkat secara maksimal juga terarah. Seperti yang diakui Tika bahwa demi mendapatkan keluaran bunyi berbau vintage, ia menggandeng Harry’s Drum Craft dalam mempersiapkan perangkat gebuk yang sesuai keinginan. Alhasil, keran tersebut mengalirkan spektrum yang terbungkus rapi sampai gelegar sound yang tak kalah dua.

Indische Party tidak bekerja sendirian. Mereka turut serta mengajak rekan musisi lain untuk mendampingi aksi kolaborasi pada beberapa nomor di Analog. Tercatat nama-nama seperti John David (White Shoes and The Couples Company), Dharmo Soedirman (Sentimental Moods), Indra Perkasa (Tomorrow People Ensemble), Jimi Multhazam (Morfem, The Upstairs), serta Suryoprayogo Setiadi (The Adams) menjadi jaminan yang sudah tidak diragukan lagi kapasitasnya. Menambah semarak keramaian yang kelak mencecar jalinan kesenangan.

“Terkapar Sudah” mengawali geliat kemeriahan Analog. Dibuka dengan dentuman bas Jacob yang meliuk tajam seraya menunggu hembusan vokal Japs yang hendak merayu para gadis, Kubil tak ingin ambil pusing; sayatan chord yang ia mainkan mengajak badan bergoyang cepat di tengah kanon kata yang menggombal parau bak pesona Chairil Anwar. Di “I Wanna Dance” deru agresif masih terjaga. Kala asap rokok mengepul padat serta tetesan alkohol saling berjatuhan, Jacob mencabik basnya dengan isian mengagumkan; kasar namun berdaya sengat. Mengingatkan keluwesan era klasik tatkala romantisme John Bonham-John Paul Jones masih bergairah. Sedangkan “Babe You Got A Hold On Me Somehow” layak diputar saat menghabiskan akhir pekan yang sendu di pelataran Kensington Park. Riff yang termaktub dari dawai Kubil mengepal keras memori tentang angan masa silam dengan sepucuk es krim di tangan. Selanjutnya, “Have You Ever Cried” melantun layaknya himne kegalauan rock and roll. Konstruksi bas dan gitar melaju di jalur masing-masing yang disambut lambatnya pukulan drum sebelum solo panjang masuk dengan begitu manisnya.

Tak melulu menaiki beat yang ugal-ugalan, Indische Party juga meneteskan sepercik rasa sentimentil lewat balada “Ingin Dekatmu”. Tika yang ditunjuk untuk mengisi suara utama berusaha meraih kejujuran; mendayu lembut, menepis kegetiran. Dengan harapan segala kemungkinan tentang kapan dan entah di mana terbuka dari fase kegelisahan. Berikutnya mereka mendapuk “Serigala” menjadi kereta lokomotif yang menghantarkan kepada kawah perkumpulan milik Eric Burdon & The Animals. Intro yang mengawang seperti film James Bond era Sean Connery memulai petualangan di batas kesempatan. Dan dua nomor setelahnya mencerminkan fantasi The Moody Blues; menyatukan kecenderungan “Evil Town” terhadap sinisme laten “Atlantis 2015”. Bayangkan saja ketika Jacob dan Kubil memamerkan kemampuan meramu formulasi melodi yang ambisius beserta kontemplasi unik bak pameran seni rupa di galeri tengah kota.

Puji syukur saya uraikan ketika memandang Indische Party masih mempertahankan apa yang memang semestinya mereka yakini. Bahwasanya penguatan identitas bermusik tak harus berputar pada sumbu yang itu-itu lagi; berhenti di titik A, menggubah ide yang jauh di relung sana, hingga terjebak atas rumusan baku yang cilakanya sebatas menghalangi ribuan bahkan jutaan inspirasi di sel-sel neuron. Namun, Analog berhasil menyelamatkan diri dari kubangan tersebut. Tak kurang 9 (sembilan) komposisi sukses mengubah jerih payah asumsi yang tidak penting sahihnya. Pelan-pelan mereka mengembalikan marwah rock and roll ke tempat semestinya. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response