close

Indonesian Album of The Year (II)

polos album

 

Back: Indonesian Album of The Year 2015 (10-6)

 

5. Stars And Rabbits – Constellation

stars and rabbit
stars and rabbit

Vokal kenes yang tipikal dari Elda Suryani memang telah menemukan rembulannya, mengingat sebelumnya sedikit terdengar seperti siswi SD yang kebanyakan menonton sinetron Tersanjung kala masih di Evo. Desau “aiyayaya.. aiyayaya” di “Man Upon The Hill” bahkan kini justru mengandung karisma. Suara Elda merupakan aset emas di bumi folk lokal, tapi petikan gitar Adi Widodo juga lebih berperan dari kelihatannya. Intro “Rabbit Run” misalnya, sudah bisa dibilang ikonik. Ya, terkadang kita dibuat jengkel dengan musik-musik infantil yang sok imut, tapi itu bukan kejadian di Stars And Rabbit. “Like It Here”, “The House”, hingga “Oldman Finger” mengantar kita pada daratan yang rasanya masih asing diinjak oleh bebunyian folk.

4. Sore – Los Skut Leboys

sore
sore

Berkunjung dengar sampai nomor kedua (“Gesneriana”), terilhami bahwasanya Sore tak punya masalah estetika atas mundurnya arsitek penting karya-karya mereka sebelumnya. Tak ada perubahan mengecewakan termasuk bahwasanya album Sore masih selalu mesti didengar secara intens untuk menggali karunianya perlahan. Temukan “Tatap Berkalam” yang aduhai atau “There Goes” dengan folk Amerika bercecah pengaruh The Beatles dan The Kinks. Ada juga “Al Dusalima” yang bernuansa melayu, juga “Fiksinesia” dengan atmosfir post rock membuai. Semua menyelubung lirik-lirik puitis kecuali “Map Biru” yang sedikit lebih gamblang (“Ku berjalan sendiri menanti / di hamparan kerumunan Gatot Subroto / nasib hamba tak tau rimbanya). Tiga belas tahun berkarya, bernas adalah kaleidoskop Sore.

3. Efek Rumah Kaca – Sinestesia

efek rumah kaca
efek rumah kaca

Inilah kisah sukses Sinestesia:

Sebuah band dengan reputasi semampai menggarap album anyar penuh penantian yang berjeda tujuh tahun dari album sebelumnya. Beberapa bulan pasca single perdananya yang cukup fenomenal—baik secara pesan lirik maupun kuantitas klik unduh (“Pasar Bisa Diciptakan”, bagian dari “Biru”)—telah dipublikasikan, sang album penuh dirilis secara mengejutkan di penghabisan tahun dengan konsep lagu-lagu berdurasi panjang—diberi tajuk atas nama-nama warna—yang masing-masing terbagi oleh beberapa fragmen. Belum lagi akan prestasinya kemudian di peringkat penjualan iTunes. Anehnya, lewat semua kejutan-kejutan itu, materinya sendiri masih bisa memeranjatkan.

 

 

2. Silampukau – Dosa, Kota, & Kenangan

silampukau
silampukau

Kala indra belantika sibuk menyorot “Tetap Dalam Jiwa”, kompetisi antara Barasuara dan Sore, serta prediksi-ekspetasi album anyar Efek Rumah Kaca, Silampukau perlahan sudah mengubah banyak hal dari tepian. Mereka menghidupkan kembali unsur naratif dalam musik folk, jadi bahan obrolan sastrawan, hingga mencantumkan lagi kota Surabaya dalam pemetaan kancah musik sekalian objek sosiologis. Nyanyian Eki Trisnowening dan Kharis Junandaru yang dialektis demikian mustajab merapalkan lirik-lirik yang mungkin layak dijamah di tataran kritik sastra. Dengarkan saja musik instrumental sampai ajal andai Anda tak terpesona dengan lirik-lirik semacam “Si Pelanggan” (“Dulu, di temaram jambon gang sempit itu / aku mursal masuk keluar / dan utuh sebagai lelaki”) atau “Malam Jatuh di Surabaya” (“Maghrib mengambang lirih dan terabaikan /Tuhan kalah di riuh jalan”).

1. Barasuara – Taifun

barasuara
barasuara

Merah adalah warna tahun 2015. Entah sebagai simbol berkabung maupun tekad. Selain prahara nasional pembakaran hutan atau mengemukanya ideologi yang banyak diasosiasikan dengan warna berani itu, merah juga adalah refleksi kobar Barasuara yang menjalar liar di paruh akhir tahun. Mereka bernyanyi “Bara dalam sekam” (“Nyala Suara”), namun Taifun bukanlah api dalam sekam, melainkan pesona yang ekstrover. Aransemen yang brilian, harmonisasi vokal yang merdu, dan sound yang gahar sanggup membuat terpukau meski hanya lalu dengar. Lirik-lirik bergaya mantra dilafalkan mengiringi bangunan rupa musikal yang tak mudah diterka, menumbuhkan pertanyaan atas apa yang sesungguhnya dibawakan Barasuara. Mereka bisa sesyahdu “Sendu Melagu”, bisa semegah “Bahas Bahasa”, bisa sedahsyat “Api dan Lentera“, dan seringkali melakukannya serentak. Semua wujud muncul bergantian begitu rapi. Banyak album berkelas rilis di tahun ini, namun belantika sudah terlanjur merah menyala.

list album

Go Check:

Indonesian Song of The Year 2015

Album of The Year 2015

Song of The Year 2015

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response