close

Indonesian Album of The Year

polos album
polos album

Pemetaan sepak terjang karya musik lokal rilisan tahun 2015 ternyata sebegitu seru. Diawali dengan rilisnya Hobgoblin dari Sajama Cut yang didukung cukup euforia, namun albumnya sendiri terdengar terlalu ambisius dan berakhir pretensius. Ruang hit yang kosong berjeda lantas sempat dimanfaatkan dengan baik dan banter oleh lejitan Kelompok Penerbang Roket. Sementara dari malam-malam yang jatuh di Surabaya, Silampukau merintis jangkauan pikatnya dengan perlahan namun pasti dari sisi-sisi yang mengejutkan.

Yang paling menarik kemudian adalah atmosfer kompetisi kelas berat antara album baru Sore, Barasuara, dan Efek Rumah Kaca sejak pertengahan tahun. Seiring berjalannya waktu, Barasuara naga-naganya lebih perkasa secara pamor dari Sore yang lebih dahulu diragukan atas mundurnya sang motor produksi musikal, Mondo Gascaro. Sementara Efek Rumah Kaca masih tak lebih dari penantian dan ajang terka-menerka.

Lelah menunggu kepastian Cholil dkk., peta kekuatan sudah terumuskan. Namun, dengan sialan tiba-tiba Efek Rumah Kaca menciptakan riak besar di kancah dan khalayak. Sinestesia rilis pada 18 Desember 2015—cukup mepet bagi majalah musik maupun daring untuk menyusun dan menerbitkan kaleidoskop tahunan semacam ini—via iTunes. Mereka menciptakan sensasi yang kurang lebih sama dengan yang dilakukan oleh 25 dari Adele pada industri musik internasional atau Star Wars: The Force Awakens pada industri Hollywood: kerinduan dan ekspetasi yang terjawab oleh laris manisnya penjualan di penghabisan tahun. Sinestesia sukses memuncaki tangga album iTunes Indonesia—di atas Adele dan Coldplay—dalam rentang waktu cukup impresif.

Di sisi lain, industri musik arus utama lokal kini tengah menghadapi kekosongan tren. Ini seperti udara segar melegakan sehabis megap-megap beberapa tahun belakangan dalam kurungan band-band pop Melayu berkedok pop kreatif yang lantas digantikan—dengan tidak lebih baik—oleh rentetan boyband dan girlband. Dari kekosongan tersebut, kita sementara disuguhi barisan musik pop standar radio yang lebih wajar dicerna, seperti Raisa, HiVi!, Maudy Ayunda, Andien, Kunto Aji, atau Isyana Sarasvati.

Di akhir, menentukan seranai karya musik terbaik tahun ini tergolong mudah. Bukan karena terbatasnya karya yang potensial, melainkan beberapa karya jauh lebih mengesankan dari yang lain. Tantangan sebenarnya baru menerpa tatkala harus memutuskan siapa yang sungguh terbaik dari yang terbaik. Empat nomor teratas dalam kategori lis album terbaik 2015 versi WARN!NG bisa dibilang punya kredit kelayakan yang serupa. Saking ketatnya, logika kami untuk menentukannya pun terpaksa diubah. Bukan lagi tentang siapa yang paling layak menjadi jawara, melainkan siapa yang paling tidak layak untuk tidak menjadi jawara. Dan jawabannya bisa Anda temukan di sini:

 

 

10. A-Tseng Fikrie & The Ladies – Sasa Bagara Malas Malas

atseng fikrey & the ladies
atseng fikrey & the ladies

Entah apa karena kembang tujuh rupa sedang tak musim (apa ada musimnya?), duo folk mistis Rabu (Wednes Mandra dan Judha Herdanta) tiba-tiba menjelma menjadi anggota sekte musik yang menyembah Puisi Mbeling (Remy Sylado) dan slogan belakang truk-truk antar kota. Atmosfer psychedelic 60-an dan classic rock bersenggama di materi seperti “Tresna Srenggala” dan nomor sains fiksi seks, “Teman Seks Alien”. Bayangkan juga andai Iron Maiden memainkan sebuah lagu berjudul “Ani Hijab Sexi”. Salah satu album paling underrated tahun ini, atau jangan-jangan sedang ada konspirasi atas nama moralitas.

9. Polka Wars – Axis Mundi

polka wars
polka wars

Memahami metafora dan tesis-tesis dualisme di Axis Mundi bukanlah tiket wajib untuk menikmati materi-materi seperti “Mokele” atau “This Providence”. Sentuhan post rock plus ambience dan baroque yang ada juga tak perlu dikuatirkan, selain membuat materi di dalamnya kian terdengar mahal. Vokalis yang berganti-ganti—dan untungnya memang semua bisa bernyanyi—pun cenderung lebih membangun dinamika dibanding meruntuhkan karakter. Polka Wars sudah mengerti betul apa yang mereka lahirkan. Capaian sederhana namun langka bagi eksponen pendatang baru.

8. V/A Prison Songs

prison song
prison song

Circa peristiwa ‘65, puluhan orang ditahan-disiksa di penjara Pekambingan Bali. Di antara nyala dan padamnya harapan untuk hidup, beberapa larik puisi lahir, diukir di tembok penjara atau dirapalkan bersama-sama. Lima puluh tahun kemudian, puisi-puisi tersebut dinyanyikan oleh beberapa musisi pentolan dari Bali dan dikumpulkan dalam album kompilasi Prison Songs. Digarap dalam bebunyian folk yang santun, album ini berisi nomor-nomor sederhana yang padat emosi. Salah satu peringatan terkuat tahun ini, agar kita tidak lupa untuk terus mengingat lagi.

7. Kelompok Penerbang Roket – Teriakan Bocah

kelompok penerbang roket
kelompok penerbang roket

Terang saja mereka begitu meroket. Trio asal ibukota ini menawarkan pilihan warna musik cadas paling brilian tahun ini. Gemuruh rock Indonesia 70-an yang membawa kita kembali gagah menenteng majalah Aktuil atau mengelukan AKA dan Duo Kribo. Penuh antusias dan meledak-ledak. Pendekatan liriknya pun sesuai, ihwal melelah kemerdekaan kawula muda. Namun, Teriakan Bocah tetap mampu terdengar belia dibanding sekedar nostalgia. Durasi total materinya pendek. Dalam satu jam, kita bisa mengalami tiga putaran kegaduhan bagai anjing jalanan yang lapar akan ganas kehidupan.

 

 

6. Sigmun – Crimson Eyes

sigmun
sigmun

Crimson Eyes laksana transformasi lebih gelap dari album Detourn (2013) milik The S.I.G.I.T. Keduanya menempa heavy metal dan psychedelic rock kehormatan Black Sabbath dan Led Zeppelin, serta vokal ala Robert Plant—kendati lengkingan Haikal Azizi juga menyelami Geddy Lee. Selain artwork kover yang lebih memikat—juga bergaya visual mirip Detourn—Sigmun tetap punya patron kokoh atas elemen stoner rock dan komposisi rumitnya. Bagi perjalanan Sigmun sendiri, Crimson Eyes mendatangkan dahanam yang lebih solid dari karya-karya terdahulunya.

 

Next: Indonesian Album of The Year 2015 (5-1)

Go Check:

Indonesian Song Of The Year

Album of The Year 2015

Song of The Year 2015

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response