close

Indonesian Movie of The Year 2015 (II)

polos movie

Back: Indonesian Movie of The Year 2015 (6-10)

5. Another Trip To The Moon (Ismail Basbeth)

another trip to the moon
another trip to the moon

Menuju Rembulan agaknya menjadi gerbang pembuka atensi penonton film Indonesia kepada film eksperimental dekade ini. Digarap dengan bujet minim oleh Ismail Basbeth, film ini menghadirkan pengalaman sinematik dalam tayangan sureal penuh simbol dan keluwesan pemaknaan. Berburu kelinci gabus, mayat berjalan, kawin dengan anjing, dukun televisi, sampai diculik alien. Sepanjang film kita akan diajak ke dunia antah berantah, di mana Tara Basro (Asa) dan Ratu Anandita (Laras) menjalin relasi tanpa ada satu katapun keluar—iya, film ini nir-dialog. Ismail Basbeth memang sedang tidak mengharap kita mengikuti sebuah cerita, ia memaksa kita mengalami serbuan impresi: absurd, dreamy, penuh teka-teki. ATTTM menjadi lebih menarik karena walaupun mengadaptasi cerita daerah Sangkuriang, ia kemudian memprosesnya melalui bentuk yang sama sekali baru. Pilihan untuk merilisnya di Festival Film Rotterdam 2015 adalah tepat karena terbukti atensi untuk film ini sendiri sangat baik.

4. A Copy of My Mind (Joko Anwar)

 

copy of my mind
copy of my mind

Mengingat pesta politik yang mengisi latar A Copy of My Mind, sempat terpikir kalau Joko Anwar keluar dari zona aman di film terbarunya. Rupanya, narasi inovatif dan mudah dinikmati khas dirinya masih menjadi senjata utama dalam film ini. Kisah romansa lawas mengisi perasaan di dasar film. Masalah politisi korup dan catatan kecil tentang pembajakan yang semakin menjamur juga disisipkan dalam A Copy of My Mind. Memang terdengar banjir ide dan menumpuk, tapi dengan konflik dan penyelesaian yang unik, semua substansi dalam A Copy of My Mind tersampaikan dengan jelas dan tanpa saling menutupi satu sama lain.

3. Siti (Eddie Cahyono)

siti
siti

Siti adalah film non-bioskop pertama yang jadi pemegang Piala FFI kategori Film Terbaik. Eddie Cahyono, sang sutradara yang asli Yogyakarta, memilih kawasan Pantai Parangkusumo untuk jadi latar cerita karena terinspirasi kisah tewasnya pendamping karaoke sehabis menenggak miras oplosan di sela tugasnya di sana. Dieksekusi dengan gambar hitam-putih dan bingkai sempit, Eddie ingin penontonnya ikut merasakan himpitan hidup tokoh utamanya yang iba. Siti ialah cerminan perempuan Jawa yang dikungkung beragam dilema. Ia dituntut mencari nafkah, namun jangan lupa hormat pada suami. Ia harus mengurusi rumah, namun jangan lalai bayar utang. Ia tak sepantasnya jual badan di bilik karaoke, namun jualan peyek jingking tak layak jadi tumpuan. Perempuan seperti Siti ini tampaknya dilarang punya hasrat sendiri, ia harus melakoni semua tuntutan peran kecuali bagi dirinya sendiri. Diceritakan dengan cergas dan banal, potongan gambarnya begitu realistis, sampai-sampai penciptanya tak rela Siti masuk bioskop kalau hanya untuk kena sunat lembaga sensor.

2. Tanah Mama (Asrida Elizabeth)

tanah mama
tanah mama

Asrida Elizabeth membuka awal tahun 2015 dengan wacana feminisme melalui perjalanan Mama Halosina membesarkan keempat anaknya. Diproduseri Nia Dinata, film ini menguak realitas tanah Papua yang citranya sampai Jawa seringkali cuma soal ladang emas. Perempuan di desa tempat Mama Halosina tinggal musti berpayah-payah jalankan berbagai peran. Harus rawat anak, urus kebun, panen, turun gunung jual hasil kebun, dan jangan lupa senangkan suami. Punya empat anak yang harus diisi perutnya, Mama Halosina tak punya pilihan selain ambil sebongkah ubi dari kebun si kakak ipar. Suaminya kawin lagi dan tak kelihatan batang hidungnya kala Mama kena denda adat dan terancam dilaporkan polisi. Tanah Mama mampu merekam kisah penggalan hidup seorang perempuan Wamena dengan menanggalkan atribut dokumenter yang melulu soal wawancara.  Hasilnya: sederhana, dramatis, dan menyentuh penontonnya.

1. Guru Bangsa: Tjokroaminoto (Garin Nugroho)

tjokroaminoto
tjokroaminoto

Guru Bangsa: Tjokroaminoto adalah sebuah film biopik sejarah yang memperlakukan tokoh sentralnya secara adil dan manusiawi. Dengan durasi hampir tiga jam, Guru Bangsa: Tjokroaminoto padat muatan sejarah, disertai beberapa sub plot yang memperkokoh bangunan keseluruhan cerita yang berakar pada usaha Tjokroaminoto mencerdaskan dan menyejahterakan rakyat melalui pengusahaan pendidikan serta realisasi konsep-konsep yang memicu masyarakat agar bisa berdiri di kaki sendiri. Secara komprehensif film ini mengilustrasikan bagaimana gejolak yang terjadi di Indonesia saling mempengaruhi dengan berbagai faktor dari luar negara. Efeknya, terasa bahwa Indonesia adalah bagian dari sejarah dunia. Presisi detail artistik di tiap sudut layar juga begitu impresif, menjadikan film ini haram untuk ditonton di layar sempit.

Sebagai satu-satunya sutradara dari angkatannya yang masih aktif memproduksi film hingga kini, Garin Nugroho sama sekali tak nampak terengah di tengah naiknya generasi baru pembuat film, yang tahun ini didominasi oleh para sineas asal Jogja. Di film keenambelasnya ini Garin kembali mengaplikasikan salah satu keahlian terbaiknya, yaitu mengorkestrasi aktor dalam jumlah besar dan memaksimalkan fungsi aktor dengan peran sekecil apapun. Perhatikan bagaimana tokoh yang diperankan oleh seorang aktris bernama Tumini selalu mencuri tiap scene di mana ia tampil. Keefektifan dan fakta bahwa karakternya selalu menonjol adalah bukti dari kelas Garin Nugroho dan kenapa ia bisa menjadi the last survivor dari generasinya.

list 1

Go Check:

Movie of The Year 2015

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response