close

Indonesian Movie of The Year 2015

polos movie
movie of the year 2015
movie of the year 2015

Satu kalimat untuk merangkum perfilman indonesia tahun ini adalah: sungguh orang-orang harus lebih rajin mencari layar-layar alternatif. Bukan, ini bukan sekedar persoalan dikotomi layar komersil dan alternatif, toh kita sepakat film bagus adalah film bagus meskipun diputar di layar laptop atau kios CD bajakan sekalipun. Tapi tahun ini Siti berhasil menggondol piala FFI, Another Trip to The Moon mengenalkan kita pada bentuk sinema eksperimental yang sungguh absurd, dan Dhandy Dwi Laksono meriilis tiga film dokumenter WACTHDOC yang semuanya memotret konflik di Indonesia. Bahkan film terbaru Joko Anwar Copy of My Mind-pun dirilis di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Cukup menjadi bukti bahwa geliat perfilman sedang memanas di luar sirkuit komersil.

Deretan judul di daftar ini membuang batas dikotomi itu. Membuktikan bahwa dunia sinema Indonesia tetap bergairah dan patut mendapat perhatian. Bahwa filmmaker Indonesia semakin giat menghadirkan pengalaman sinematik yang tidak berhenti pada romatisme cerita saja, tapi juga film-film yang memotret kisah nyata, atau malah mengobrak-abriknya jadi fiksi absurd yang menantang realita.

10. Flutter Echoes and Notes Concerning Nature (Amir Pohan)

flutter echoes
flutter echoes

Berbicara tentang relasi manusia dan alam, film garapan Amir Pohan ini tidak kemudian penuh slogan bahaya global warming atau trivia tentang berapa lama sebuah kantong plastik dapat lebur dalam tanah. Flutter Echoes menggunakan pendekatan eksperimental dalam tiga cerita tentang manusia-manusia dan usahanya untuk menemukan kembali romantismenya dengan alam. Salah satunya bercerita tentang Guirella Gardener, sekelompok teroris heroik yang melempari kota dengan granat berisi biji-biji tanaman. Film ini juga penuh dengan soundscape-porn, dari mulai hutan, gunung, laut sampai sabana. Sosok mother nature yang menjadi narator utama di film ini juga dimetaforakan dengan cantik dan cerdas.

9. Kapan Kawin? (Ody C. Harahap)

kapan kawin
kapan kawin

Mana yang lebih memuakkan: sering ditanyai orang “kapan kawin?” atau banyaknya orang yang menceritakan dengan nada seolah mengeluh, bahwa dirinya sering ditanyai “kapan kawin?” Yang pertama mungkin bukanlah topik yang semua orang semangat untuk obrolkan, tapi yang kedua jelas bukanlah perihal langka untuk ditemukan. Ody C. Harahap dengan jeli memotret fenomena ini tanpa terjebak dalam rasa keharusan untuk menempatkan karakter-karakternya dalam rangkaian adegan tak berkesudahan yang sekedar mereka ulang dua hal tersebut. Dengan premis komedi sederhana dan berlatarkan Yogyakarta, film ini hadir sebagai antitesis dari cerita-cerita FTV yang kerap memakai formula serupa. Film ini tidak memiliki plot rumit ataupun dialog-dialog puitis, namun naskah Kapan Kawin? merupakan salah satu yang terbaik tahun ini: ringan, sangat menghibur, dengan substansi yang tidak cukup dangkal untuk memperolok intelektualitas penontonnya.

8. Filosofi Kopi (Angga Dwimas Sasongko)

 Filosofi Kopi  Arsip Visinema Pictures
Filosofi Kopi
Arsip Visinema Pictures

Entah siapa yang lebih dulu, tapi gaung film Filosofi Kopi dan tren coffee-enthusiast di Indonesia jelas saling mempengaruhi. Film adaptasi dari buku fiksi Dewi Lestari ini disutradarai oleh Angga Dwimas Sasongko yang membuat film ini penuh sinematografi mulus dan cantik. Walaupun sayangnya akting apik Chico Jericho dan Rio Dewanto harus sedikit ternoda oleh dialog yang terlalu eksplisit ala filsuf medioker yang sungguh generik. Tapi terlepas dari itu, Filosofi Kopi menjadi penting karena ia tidak hanya berhenti sebagai fenomena sebuah film. Ia kemudian turun dari layar fiksi dan mewujud nyata sebagai kedai kopi sungguhan, di Melawai Jakarta. Dengan setting, dan bahkan barista yang sama. Kabarnya bahkan gaya sang barista, Ben (Chico Jericho) di film ini menjadi panutan bagaimana seharusnya para barista di coffee shop berdandan dan berkelakuan.

7. Samin vs Semen (Dhandy Dwi Laksono)

semen vs samin
semen vs samin

Memotret kasus warga Pati-Rembang yang melawan pembangunan pabrik semen di wilayah mereka, Samin vs Semen jadi salah satu film dokumenter penting tahun ini. Dhandy Dwi Laksono, yang juga pendiri Watchdoc dengan padat dan tegas menyuguhkan sudut pandang para warga yang kontra dengan pabrik semen. Tidak hanya menampilkan adegan wawancara, film ini juga menampilkan rekaman perjuangan ibu-ibu Rembang ketika menghadapi tindakan barbar petugas. Meskipun memang kemunculan Melanie Subono di film ini terasa kurang punya arti dalam. Samin vs Semen bagaimanapun juga bisa dilihat sebagai usaha menyuarakan perlawanan. Apalagi ketika tahun ini kasus Rembang akhirnya mendapat atensi masif dari publik dan memenangkan gugatan di PTUN Semarang November lalu.

6. Mencari Hilal (Ismail Basbeth)

mencari hilal
mencari hilal

Idiom like father like son tidak berlaku di film ini walaupun obyek cerita adalah relasi bapak dan anak lelakinya. Film ini membicarakan relasi tak akur tersebut dalam cerita berbalut isu agama yang sensitif di Indonesia. Heli (Oka Antara), seorang aktivis yang sudah bebas dari nilai-nilai kaku religius harus menghadapi bapaknya yang penganut islam fanatik yang keras kepala, Mahmud (Deddy Sutomo). Berbagai kontradiktif keseharian yang dimunculkan menjadikan film ini mengena tanpa harus mengumbar emosi berlebihan. Film ini juga menyinggung beberapa isu sensitif tentang agama yang tengah hangat di Indonesia. Ismail Basbeth, yang sebenarnya adalah filmmaker yang sangat eksploratif terhadap bentuk sinema cukup bijaksana untuk menggarap film ini menjadi sangat ringan yang mudah dicerna siapa saja.

Next: Indonesian Movie of The Year (5-1)

Go Check:

Movie of The Year 2015

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response