close

INF 3.0: Merayakan Budaya Berbagi Internet Paska Era Netlabel

5. BArakatak (1)

Salah satu hal yang paling dipengaruhi adanya internet yang merasuki industri musik di seluruh dunia adalah pola distribusinya. Kemerdekaan dan kecepatan yang ditawarkan internet pada kenyataannya telah memangkas banyak media yang sebelumnya diperlukan musisi untuk memasarkan musiknya, seperti label misalnya. Saat ini, ketika internet sudah menubuh dalam kegiatan sehari-hari, kita harusnya bisa mengkaji dan merayakan pola baru yang sedang terjadi ini. Inilah yang coba diusung Indonesia Netaudio Forum 3.0 yang diadakan pada 18-28 Agustus 2018 lalu, kampanye bahwa internet harusnya membuat kita jadi makhluk komunal yang gemar merayakan budaya berbagi.

Setelah absen selama empat tahun, Indonesia Netaudio Forum yang dulunya bernama Indonesia Netlabel Union hadir kembali. Berada dalam sirkuit yang terlanjur berubah memaksa mereka untuk tetap kontekstual hingga mengubah nama dan konsep acara mereka. Jika dulu INF lebih berfokus pada kopi darat aktivis netlabel, INF 3.0 mengambil tema “Sharing Over Netizen Explosion” dengan ide program yang lebih luas, yaitu pada budaya berbagi dan netaudio. Untuk mewujudkan ide mereka, tahun ini INF bekerja sama dengan Japan Foundation.

Sebagai salah satu penikmat musik yang mengandalkan internet, tentu tawaran acara ini perlu saya alami.

Program pertama yang saya ikuti adalah sesi performative talks yang mengambil tema “Memetakan Arus Bawah”. Digelar di area pendopo Jogja National Museum, diskusi ini hadir dalam dua bentuk, daring dan luring. Jadi selain datang dalam bentuk fisik, saya diundang hadir dalam sebuah grup WhatsAp yang aktivitasnya dapat dilihat di salah satu layar di ruangan. Berbagai wacana soal arus bawah dipaparkan oleh Nuraini Juliastuti, Irfan R. Darajat, dan Manshur Zikrie. Menariknya, dengan menabrakkan dua bentuk kehadiran manusia saat ini tersebut, saya bisa melihat perbedaan interaksi yang terjadi. Seperti misalnya bahwa grup WhatsApp terjadi dengan lebih cair dengan candaan, meme, dan emotikon, dibanding diskusi soal sirkuit alternatif dangdut koplo, partisipasi warga dalam internet, juga relevansi netlabel dalam diskusi fisik yang terasa serius. Sebelumnya, saya menyaksikan upacara pembukaan lewat fitur live streaming instagram, hitung-hitung mewujudkan konsep ‘kehadiran maya’ yang ada sejak internet.

Dalam INF 3.0 tahun ini, diselenggarakan juga sebuah pameran seni media yang dikuratori oleh Riar Rizaldi dengan tajuk “Internet of (No)Things: Ubiquitos Networking and Artistic Intervention” yang melibatkan lima seniman dari Indonesia dan empat seniman dari Jepang. Pameran ini menempati lantai dasar JNM dengan bentuk karya beragam. Namun, ide soal keterhubungan, pan opticon, serta post-truth mendominasi kesan yang saya dapat. Misalnya dari karya Mira Rizki yang berjudul “Jejala Bisik” dan Exonemo “Randombly Love You/Hate You” yang sama-sama menggunakan kabel bertumpuk-tumpuk. Atau karya Ai Hasegawa dan Ayano Sudo yang membicarakan kemungkinan metamorfosis fisik oleh teknologi. Saya sendiri merasa ide soal internet di karya-karya seni ini telah terwujud dalam seluruh program INF 3.0, tidak hanya dalam ruang pamer.

Dalam program lain seperti pasar barter oleh Jogja Record Store, lokakarya fermentasi dari Lifepatch, dan live cooking oleh CookOrDie seluruh pengunjung akan mengalami bagaimana nikmatnya budaya berbagi. Dari mulai musik, kenyang masakan, hingga oleng karena minuman bisa didapatkan secara gratis ataupun opsi donasi. Edukasi mengenai semangat di balik yang ‘gratis-gratis’ inilah yang coba diusung INF 3.0 dalam konsep acara tahun ini. Jika dihubungkan dalam budaya netaudio, budaya berbagi bebas ini misalnya bisa terwujud dalam lisensi creative commons dan praktek berbagi data secara legal lain.

Gelora INF 3.0 tentu saja juga terwujud di suguhan musiknya. Panggung futuristik dengan tata lampu dan visual yang kompleks jadi arena musisi lintas genre pamer kebolehan. Pilihan musisi lintas genre yang ditampilkan tidak sembarangan. Salah satu gebrakan terbesar panggung musik INF tentu saja adalah kebangkitan kelompok funkot yang populer tahun 90-an, Barakatak. Membawakan tembang-tembang andalan seperti “Musiknya Asyik”, “Buka-bukaan”, dan “Maju, Maju, Maju”, Barakatak mengubah lantai dansa INF hari kedua jadi meriah. Deretan musisi lain seperti Senyawa, Silampukau, Bottlesmoker, Amok, Hifana, dan Sabarbar juga mencuri perhatian penonton. Meski terlihat acak secara genre, namun musisi yang tampil di INF kemarin dihubungkan oleh satu semangat penggunaan internet dan budaya berbagi bebas yang sama-sama mereka amini. Apresiasi patut diberikan pada WAFTLab dan VideoBattle yang menyulap visual panggung jadi instalasi interaktif yang mengocok perut di antara penampilan musik. Gempuran visual yang terlihat acak-acakan sangat mereprestasikan ledakan informasi yang juga jadi dasar INF tahun ini.

Selama dua hari yang padat program, INF 3.0 telah mewujudkan wacana paling kontekstual yang tengah dialami oleh anak muda penggerak kancah musik maupun netizen pada umumnya. Internet mungkin memaksa ranah ini untuk terus bergerak dan berubah secara wacana maupun praktek, namun dengan adanya acara-acara semacam ini, diskusi dan ide-ide baru akan terus dipelihara dan niscaya kita bisa menghadapi ledakan informasi dan internet yang semakin menubuh dalam kehidupan. [WARN!NG/Titah AW]

Galeri INF Day 1 –> Indo Netaudio Fest Day 1

Galeri INF Day 2 –> Indo Netaudio Fest Day 2

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response