close

[Interview] Berdikari Book, Buku Akik & Dema Buku: Garda Depan Distributor Buku Independen

INTER (1)

Dalam bukunya yang berjudul Gun, Germs, and Steel, Jared Diamond mengatakan bahwa adanya perubahan teknologi akan diikuti perkembangan peradaban kehidupan manusia. Perubahan hidup manusia selalu diawali dengan munculnya suatu teknologi baru. Salah satu perubahan yang tampak belakangan ini adalah konsumsi media teks. Kini khalayak bisa dengan mudah mengonsumsi teks,  baik berita maupun bahan bacaan lain dari smartphone mereka.

Namun kehadiran teknologi digital juga membuat industri percetakan lesu. Banyak perusahaan-perusahaan media berhenti melahirkan produk cetaknya. Sebut saja dalam dua tahun terkahir, nama-nama besar seperti Sinar Harapan, Jakarta Globe, Koran Tempo minggu, Trax, Soccer, FHM dll mengakhiri edisi cetak mereka.

Menariknya, kehadiran teknologi digital yang membunuh banyak koran dan majalah, tak lantas membunuh buku. Bahkan kehadirian e-book juga tidak berpengaruh terhadap buku-buku yang bisa dipegang dan dihirup aroma kertasnya. Kalaupun ada yang tampak bergeser dari pembaca buku, adalah pola belanjanya. seperti bagaimana orang-orang dengan mudah belanja pakaian di online shop, buku pun demikian. terbukti dengan menjamurnya banyak toko buku online di media sosial.

“Satu hari sekitar 10 sampai 200 eksemplar” kata penjual buku online bernama Dema Buku. Tentu saja itu merupakan angka yang cukup fantastis, untuk satu akun penjual buku online. Memang belum data resmi terkait jumlah keberadaan mereka. kami menaksir ada sekitar ratusan bahkan ribuan lapak yang tersebar di berbagai media sosial. Dari survei Warning, ke puluhan toko buku online, rata-rata mereka mampu menjual 5-10 buku setiap harinya. Beberapa nama dari mereka bahkan cukup besar. Sebut saja Berdikari book yang diikuti lebih dari 50.000 follower di instagram, atau Dema buku, Buku Akik, Gubuk Sastra yang sudah memiliki lebih dari dua puluh ribu follower di akun instagram mereka.

Aplikasi Berdikari Book di Play Store

Mereka pun memberikan inovasi yang berbeda-beda. Berdikari Book misalnya, mereka memiliki aplikasi sendiri selain menjual di seluruh sosial media populer, atau Indie Book Corner, Dema Buku, Kardus Buku, Pojok Cerpen dll yang juga memiliki website sendiri. Kreativitas menjadi kunci eksistensi para penjual buku online. Paperplane misalnya, mereka menggunakan fotografi model untuk mempromosikan buku-buku yang mereka jual. Kreativitas juga tampak pada akun Buku Akik yang memilki channel youtube berisikan review buku, selain itu mereka juga kerap berkolaborasi dengan seniman dalam menghadirkan merchandise bertema buku.

“Keberadaan toko buku online membuat buku sampai ke khalayak luas. Tidak ada lagi keterbatasan seseorang harus berkunjung ke toko buku. Seseorang yang ada di desa  atau daerah yang tidak tersedia toko buku pun jadi punya kesempatan mengakses buku” ujar penerbit Buku Mojok. Selaku penerbit, Buku Mojok merasa kehadiran toko buku online dapat memutus rantai distribusi sehingga harga buku menjadi lebih murah. Hal senada diungkapkan oleh Raven, selaku konsumen toko buku online yang rutin belanja di berbagai lapak. Menurutnya “Buku yang dijual di online belum tentu ada di toko buku, bahkan saya dapat menemukan buku-buku langka disini.  harganya jauh lebih murah dibandingin toko buku”.

“ Maraknya pedagang buku online saat ini, saya pikir karena orang-orang mulai menyadari bahwa berjualan tidak harus mengeluarkan modal banyak untuk buka toko. Memiliki akun facebook saja sudah cukup” kata pemilik Kardus Buku yang sudah berjualan buku sejak 2008. Perjalanan toko buku online sendiri ternyata sudah ada sejak tahun 2000 . Awalnya para penjual sekaligus pembeli buku online menggunakan grup mailing list (milis) yang dinamai pasar buku. “ Kalau dulu hanya orang-orang yang melek internet saja yang jualan online. Sekarang siapa saja bisa, bahkan penjual buku kaki lima pun sudah berjualan online” Kata pemilik Toko Hitam, yang sudah mengikuti pasar buku online sejak generasi milis tahun 2007 hingga sekarang.  Ia menambahkan “ Kalau dulu toko buku online harus ikut milis, membuat blog atau web. Namun, sekarang dengan adanya media sosial yang mudah dioperasikan seseorang bisa menawarkan dagangan lebih cepat” pungkasnya.

Kehadiran toko buku online pun cenderung berawal dari kecintaan terhadap buku. “Karena kami mencintai buku dan senang saling berbagi referensi atau membincangkan buku-buku bagus” ungkap pemilik Post Santa. Sementara toko buku online, Berdikari Book mengatakan alasannya jualan guna menjadi bagian dalam memajukan peradaban. Toko buku online juga cenderung  dikelola oleh mahasiswa, Gubuk Sastra misalnya, akun dengan 27.000 follower di instagram ini, dikelola oleh seorang mahasiswa dari kamar kostnya.

Channel youtube Buku Akik

Selama ini peran toko buku online seperti kurang mendapat apresiasi, kita kerap menemukan ulasan-ulasan tentang penulis maupun penerbit, tapi tidak untuk para distributor independen ini. Untuk itu WARN!NG mengajak beberapa toko buku online untuk berbagi cerita dan padangannya terhadap dunia perbukuan di negeri ini. Dari hasil observasi WARN!NG, kami memilih tiga toko buku online yang bisa dikatakan terdepan di era sekarang, ketiga toko buku online yang memiliki karakter yang khas, yakni Berdikari Book, Buku Akik dan Dema Buku.

 

Setuju dengan survei yang menyatakan bahwa budaya baca di Indonesia rendah?

Dema Buku: Mau tidak mau setuju. Orang lebih senang membaca berita hoax dan membagikannya ke media sosial daripada baca buku dan membagikannya.  Tiap ke jasa pengiriman dengan membawa pesanan yang kadang banyak, pengunjung lain kadang suka tanya, “isinya apa si, Mas?”

“Buku.”

“Buku sekolah?”

“Bukan. Macam-macam, ada novel, sejarah, filsafat dan lain-lain.”

“Oh banyak ya yang beli, kaya anak sekolah aja baca buku, lagi pula apa manfaatnya si baca novel?” tanyanya bingung. Tanggapan-tanggapan seperti itu sering saya dapatkan dan nggak cuma dari satu orang, tapi lumayan banyak.

Berdikari Book: Gak penting surveinya, haha. Sebab yang jadi masalah adalah “banyak membaca banyak lupa, sedikit membaca sedikit lupa, tidak baca tidak ada yang dilupakan. Haha mana yang lebih baik? Yang membacalah sebagai kebutuhan untuk peradaban yang lebih mulia.”

Buku Akik: Persetan dengan mereka, yang jelas coba lihat, ada ribuan toko buku online, lalu toko-toko buku masih eksis, festival-festival buku berlipat ganda, baik yang lokal maupun internasional, diskusi buku menjalar di tiap kota, perpustakaan jalanan bermunculan dan tiap hari ada yang beli buku di tempat kami. Jadi ya, persetan dengan survei tersebut.  Walau ya belakangan ini tanda-tanda kurangnya budaya baca muncul lagi dengan maraknya hastag #kangenorba

Menurut Anda bagaimana kondisi dunia perbukuan di indonesia hari ini?

Berdikari Book: Bagiku asik ya, sebab aku di Jogja. Di sini kawan-kawan perbukuan sangat berpengaruh dalam komitmen Berdikari Book hingga saat ini. Dengan Kawan-kawan di sini bagiku sendiri adalah motivasi tersendiri untuk terus berkreasi. Kalau di luar Jogja aku belum banyak membaca situasi, tapi yang saya tahu masih sedikit yang memiliki misi untuk peradaban. Apalagi penerbit-penerbit yang tunduk dengan kemauan pasar ya, alhasil buku-buku yang dihasilkan tidak memiliki andil dalam peradaban, atau setidaknya persoalan sekitar.

Dema Buku: Cukup menggembirakan, makin banyak buku bagus terbit, setidaknya untuk buku-buku yang sering Dema ambil makin beragam, tumbuhnya penerbit-penerbit independen mengisi ruang-ruang kosong yang seringkali diabaikan penerbit besar.

Buku Akik: Kian progresif. Banyak buku baru terbit, buku-buku lama banyak cetak ulang, beberapa sudah memberikan wajah yang indah. Yang paling menggembirakan adalah banyaknya penerbit kecil yang mulai bermunculan, memberikan warna baru. Yang kemudian warna-warna itu berlipat ganda di tangan penerbit besar, haha.  Hal macam ini tentu sangat menguntungkan pembaca—dan reseller. Tetap semangat teman-teman penerbit rumahan!

Bisa ceritakan pengalaman menarik terkait jualan buku online?

Berdikari Book: Selalu menyenangkan sih. Kalaupun ada komplain atau kecewa, aku pikir itu bagian dari perkembangan. Ya perkembangan yang menyenangkan.

Bukuakik: Lebih banyak yang menyenangkan,  salah satunya bisa berinteraksi dengan beberapa idola saya. Kalau yang menyebalkan, pernah ada pelanggan komplain gini “mas pembeli itu raja, niat jualan gak sih” gara-gara kita telat balas, lah wong malam minggu, ya kan itu waktunya kita kencan.

Lalu dijawab apa?

Bukuakik: Ya saya bilang, feodalisme udah runtuh bung! Eh dia tetap marah, tapi tetap beli, haha.

Kalau Dema?

Dema Buku: Sukanya beberapa pelanggan kini jadi teman, entah yang sering bertemu atau yang belum pernah bertemu sekalipun tapi sering ngobrol lewat whatsapp, atau line tentang buku dan hal-hal lainnya. Pembeli yang menyebalkan pasti ada saja, pembeli yang menyenangkan tentu banyak. Semua pembeli menginginkan buku yang ia terima dalam keadaan baik dalam segala hal.

Berdasarkan pengalaman, faktor apa yang membuat sebuah buku laris?

Buku Akik: Kalau dari pengalaman kami, tentu saja selain nama besar penulis, dan tema buku yang menarik, peran cover yang ciamik sangat menentukan. Beberapa buku penting yang lahir sonder keindahan sampul, agak sulit terjual.

Dema buku: Agak sulit menjawab ini. Sebab buku bagus belum tentu laris dan buku laris belum tentu bagus, kalau buku bagus laris adalah pencapaian yang menyenangkan. Kadang saya perlu mempromosikan berulang-ulang untuk buku bagus yang kurang laku, mulai dari membagikan isi buku, menampilkan ulasan teman-teman, hingga kadang mengunggahnya berulang-ulang, tentu dengan jarak yang sedikit jauh dengan postingan terdahulu.

Berdikari Book: Pertanyaan yang ini seperti riset untuk membangun toko buku ya? haha. Kalau faktor Berdikari Book sih ‘trust‘ ya, artinya buku-buku yang kami jual adalah apa yang sekiranya menjadi kebutuhan untuk peradaban. Dan aku pikir tidak semua buku menjadi bahan untuk peradaban, itulah yang kami tawarkan.

Apakah kalian memilih buku yang akan dijual?

Berdikari Book: Iya dong, artinya kami sesuaikan dengan misi Berdikari Book, yaitu menjadi bagian dari peradaban. Banyak buku yang bagus, tapi belum tentu memiliki sumbang sih bagi peradaban.

Bukuakik: Tentu. Kami hanya menjual buku bagus. Awalnya dari selera kita, tapi kemudian kita juga sering dialog dengan pembeli, nah di situ ada pertukaran referensi, kita crosscheck, kalau memang benar bagus lalu ya kita coba cari bukunya.

Dema Buku: Untuk buku-buku yang Dema stok memang dipilih berdasarkan apa yang menurut saya bagus.

Apakah kalian juga menerima mencari buku yang tidak ada di katalog kalian, atau ada buku yang kalian tolak jual?

Bukuakik: Yang jelas kami menolak menjual buku Mein Kampft—we dont tolerate fascism – racism, walaupun itu buku yang cukup sering ditanya ke kami dan penerbitnya hanya berjarak 5 menit dari rumah. Heran kenapa buku itu bisa terbit dan best seller di toko-toko buku. Lalu buku-buku yang penulisnya gak asik juga gak kami jual walaupun laris, misal tere-xiau, haha.

Dema Buku: Buku-buku yang sekiranya bisa diambil di gudang, saya terima. Tapi jika menurut kami tidak terjangkau, atau sulit memesan ke gudangnya karena stok yang tak pasti biasa kami bilang kosong saja. Sejauh ini, belum ada yang kami tolak. Tapi untuk teman-teman penulis atau penerbit yang meminta tolong titip jual dengan berat hati belum bisa semua dipenuhi, karena keterbatasan.

Berdikari Book: Kalau berdikari sih tidak menolak, tapi nanti jika di lain waktu kami menemukan buku tersebut yang kami kabari melalui media yang kami punya.

Menurut kalian bagaimana posisi buku (non kitab suci & buku pelajaran) di masyarakat indonesia?

Berdikari Book: Kalau apa yang kami tawarkan selama ini, kami berusaha untuk menjadikan buku sebagai kebutuhan.

Bukuakik: Mayoritas buku sifatnya masih untuk hiburan, terbukti kalau kita ke toko buku dan liat buku-buku macam apa yang laris? Namun begitu, menjadikan buku sebagai hiburan tetap lebih baik daripada tidak membaca sama sekali, termasuk ketika membeli dan memajangnya untuk kemudian baru dibaca berbulan-bulan setelahnya, nggak masalah. Ya semoga kedepan buku bisa menjadi barang primer. Sebab memang sudah seharusnya seperti itu.

Dema Buku: Bisa jadi kebutuhan dan bisa jadi hiburan, ada beberapa pelanggan Dema yang sebulan sekali belanja buku, rutin, menyisihkan sebagian uang gajinya untuk membeli buku. Ada yang senang membaca buku berat, ada yang hanya senang puisi, ada yang senang membaca novel atau kumcer saja, dan ada pula yang pembaca segala. Jadi kebutuhan karena membaca buku-buku tersebut adalah bagian dari aktivitas mereka sehari-hari. Setelah sibuk bekerja, buku adalah sebaik-baiknya hiburan.

Dengan kondisi dunia literasi saat ini, kira-kira peran apa yang perlu dilakukan negara guna mengembangkan dunia literasi di negeri ini?

Berdikari Book: Gak ada,haha. Negara tidak memiliki peran strategis untuk kemajuan literasi kalau watak rezimnya masih seperti ini, pro pasar.

Buku Akik:Harusnya mereka bikin program yang mboh pie carane menjadikan buku sebagai kebutuhan dasar. Bisa sesederhana memberikan subsidi ke penerbit, atau memaksimalkan penerbitan negara untuk menerbitkan buku-buku penting dengan harga murah biar enggak dikelola pihak swasta doang. dan satu lagu, sudahi mempermalukan diri sendiri dengan melakukan pelarangan-pelarangan gak relevan terkait buku.

Dema Buku: Memperluas akses buku bacaan sampai ke pelosok-pelosok negeri. Jangan larang anak-anak muda yang menggelar perpustakaan jalanan, sesungguhnya tujuan mereka amat sederhana, menyebarkan virus membaca di tempat-tempat yang tidak terjamah tangan-tangan negara.

Menurut kalian, apa kekurangan dari penerbit-penerbit di Indonesia, baik penerbit besar maupun penerbit independen?

Berdikari Book: Sarannya sih, yang tidak memiliki misi yang jelas untuk perbukuan, lebih baik mundur. Misi yang sesuai dengan kebutuhan kemajuan bangsa.

Buku Akik: Sebagai penjual nih ya? Hmm mungkin perkara tampilan kulit muka. Percayalah itu sungguh berpengaruh, dan pembenaran “dont judge book by its coveris so yesterday.  Dan sampai sekarang dari yang skala terbitannya besar mapun kecil, masih banyak penerbit yang tidak mengindahkan kemasan. Dan satu lagi, alangkah indahnya kalau diskon yang didapat dibikin mirip dengan diskon yang mereka berikan untuk toko buku besar.

Dema Buku: Untuk sebagian penerbit besar, seringkali penjual online dianaktirikan, buku baru terdistribusi dengan baik di jaringan toko buku besar tapi ketika kami minta seringkali tidak ada, padahal kami belinya cash. Untuk penerbit independen, terus bergerak dan tingkatkan kualitas.

Coba sebutkan tiga penerbit favorit kalian?

Berdikari Book: Mata Bangsa, Octopus, Indie Book Corner.

Bukuakik: Harus tiga ya? Resist-Insist, Octopus dan Buku Mojok. Kalau yang baru, ada Papyrus sepertinya potensial, covernya bagus.

Dema Buku: Harus tiga ya? Boleh lima? Oak, Indie Book Corner, Banana, Marjin Kiri, Buku Mojok

Bagaimana kalian memosisikan pelanggan? Koreksi jika kami salah, kami dengar Dema Buku paling ramah, sementara Buku Akik suka lama membalas dan Berdikari Book seperti robot?

Dema Buku: Dema memosisikan pelanggan sebagai teman, jika ada pertanyaan-pertanyaan kami jawab sebaik mungkin. Jika meminta rekomendasi, kami tanya terlebih dahulu, mereka sukanya yang seperti apa, baru kami berikan alternatif buku-buku yang mungkin cocok untuk mereka. Di sana ada obrolan, tidak sekadar transaksi lalu selesai, kadang obrolan berlanjut di lain hari, meskipun ia tidak beli. Tapi memang tidak semua begitu, ada juga yang ingin transaksi segera berakhir agar buku segera bisa mereka terima.

Berdikari Book: haha. Memang ada beberapa yang komplain seperti itu ke kami. Tapi itu bagian dari pelayanan untuk sedikit mempercepat pembelian, sehingga tidak antri terlalu panjang. Makanya kita biasa menggunakan semacam template auto text. Dan sekarang juga sedang pengembangan Aplikasi dan Web, sehingga diharapkan akan lebih memudahkan pendistribusian buku ke kawan-kawan.

Buku Akik: haha. Maaf ya teman-teman yang beli, kita berusaha agar sama-sama bahagia.

Dengan berjualan online tentunya kalian akan bertemu dengan beragam customer, kami penasaran apakah ada pengalaman dibeli oleh seniman? Dan gimana perasaan kalian kala itu?

Dema Buku: Kalau penulis lumayan banyak, diantaranya: Dewi Kharisma M, Rio Johan, Dea Anugrah, Reda Gaudiamo, Esha Tegar Putra, Gunawan Tri Atmojo, Usman Arrumy,Mario F. Lawi, M. Aan Mansyur, Anton Kurnia,Feby Indirani, Dono Indarto, Gol A Gong, Andina Dwifatma, dll. Kalau aktris atau musisi mungkin tidak banyak: Melly Goeslaw, Raisa Andriana, Egha Latoya. Setidaknya itu yang saya ingat, sama seperti ketika mendapatkan pesanan dari pembeli lain, tentu perasaan saya senang.

Buku Akik:  Sebenarnya siapapun yang beli dan gak utang, kami sama senangnya. Kebanyakan musisi. Banyak banget, JRX SID, Ucok Homicide, Arian Seringai, Melanie Subono, Fajar Merah, Kharis Silampukau, Nosstress dll.. dan yang paling mengejutkan ketika Dian Sastro juga beli. Doi beli buku Kartini buat riset film Kartini yang bakal tayang bentar lagi. Kita juga dituduh banyak duit, gara-gara JRX dan Arian13 ngepost foto tentang BukuAkik, dikira paid promote, netizen emang seram. Haha.

Berdikari Book: Biasa aja, haha. Kami lebih bangga jika yang membeli buku adalah kawan yang memang membutuhkan buku sebagai alat perjuangan, bahan skripsi, atau bahan inspirasi dalan membaca situasi sosial.

Kalian masih berada di usia yang muda, apakah berjualan buku menjadi mata pencaharian utama kalian?

Berdikari Book: Saya sudah berumur 24 tahun, saya pikir umur segitu sudah tidak muda lagi. Di era milenial seperti ini bisnis bisa dimulai sejak dalam kandungan. Contohnya banyak. Tapi saya menganggap jualan buku ini bukan mata pencaharian utama atau kedua, melainkan passion. Saya bahagia dengan buku, itulah mata pencaharian saya.

Buku Akik: Bukan satu-satunya, karena kita ingin jadi seniman. Tapi ya bisa sih dijadikan sumber utama, kalau udah mentok berkesenian, haha.

Dema Buku:  Saya hidup dan menghidupi dari buku.

Ada ratusan, bahkan mungkin ribuan penjual buku saat ini, bagaimana persaingan yang terjadi antar sesama penjual?

Buku Akik: Persaingan itu kultur korporat, saya rasa kami dan beberapa teman-teman penjual online lain tidak mengamini budaya tersebut.

Berdikari Book: Lah ini interview bareng, aku pikir gak ada persaingan yang berarti. Sejauh ini kawan-kawan yang kami kenal juga sedikit banyak memiliki misi yang sama, justru malah kita bisa menjadi tim yang kokoh.

Dema Buku: Persaingan harus tetap ada, karena tanpa itu tidak akan ada pertumbuhan. Selain persaingan, yang mengasyikkan dari jualan buku adalah kolaborasi. Dengan beberapa penjual buku yang lain, saya sering pinjam meminjam buku dagangan atau membeli stok mereka untuk dijual lagi ketika ada permintaan, tapi di gudang kosong. Saling membantu.

Untuk Berdikari dan Buku Akik, kalian kerap melempar wacana yang kemudian direspons secara massif. Apa tujuannya? sepertinya kalian juga kerap mendapat respons negatif

Berdikari Book: Wacana itulah bagian dari misi, tentu kami memiliki misi seperti di atas, dan salah satu caranya ya dengan melempar wacana, khususnya wacana-wacana kritis ya. Kami pikir, alangkah sia-sia jika hanya sekedar menjual buku tanpa memiliki misi.

Buku Akik: Ya karena kami percaya mereka yang follow akun kami adalah para pembaca buku, dan benar saja, setiap kita melempar wacana-wacana kritis, teman-teman sering memberi feedback, terjadi diskusi di sana, yang akhirnya malah saya kerap belajar dari teman-teman tersebut. Walau ya tetap aja ada komen-komen ra mutu, apalagi kalau bahas yang tidak kasat mata. Dan percayalah ketika membuka ruang diskusi—dan diskusinya berjalan, menjadi momen yang lebih menyenangkan dibanding membalas chat-chat transaksi. Oh andai aku turunan raja, mungkin Bukuakik hanya akan fokus menjadi ruang diskusi, tanpa perlu capek packing, haha.

Tampaknya Dema jarang melakukan hal tersebut ya?

Dema Buku: Benar, Dema jarang melempar wacana. Lebih sering berbagi isi atau ulasan buku.

Kalian bertiga bisa dikatakan salah tiga penjual buku online yang terbesar di indonesia. Bisa berbagi tips mungkin untuk teman-teman penjual online lainnya.

Buku Akik: Tentu saja berdoa! dan bersungguh-sungguh. Tapi mungkin pertanyaan ini mas Berdikari atau Dema lebih cocok untuk menjawab, karena mereka berdua yang terdepan, saya juga meniru mereka kok.

Dema Buku: Di Dema, saya tidak pernah membuat target, semua berjalan mengalir saja. Mungkin karena itu saya menjalani pekerjaan ini tanpa beban. Dema tumbuh sampai hari ini tentu karena adanya dukungan dari pembeli, penulis dan penerbit. Tanpa mereka mungkin tidak akan sampai sejauh ini. Kepercayaan mahal harganya. Ke pembeli sebisa mungkin jelaskan dengan detail kondisi buku, jika memang buku itu tidak mulus, misal stok lama gudang yang sudah menguning, penyok atau ketekuk dll. Jadi sebenarnya tidak ada tips panjang lebar, jalani sajalah apa yang sudah jadi pilihan. Hehe.

Berdikari Book: haha. Aku pikir kami bukan bagian dari terbesar itu, tapi kami bertiga mungkin sepakat, setidaknya kami memiliki misi dalam mendistribusikan buku.

Bagaimana kalian melihat satu sama lain?

Dema Buku: Beridikari itu kiri dan kreatif, Buku Akik itu Idealis dan santai.

Buku Akik: Penerbit manapun, khususnya yang kecil akan menyesal jika bukunya tidak terjual di Berdikari dan Dema Buku.

Berdikari Book: Ah kita sepertinya jodoh, mungkin kita kapan-kapan mendeklarasikan tiga serangkai toko buku online alternatif sepertinya menarik.

Berangkat dari toko online, apakah kalian punya cita-cita untuk punya toko offline?

Berdikari Book: Ada sih, tapi itu planing jangka panjang. Sebab walau bagaimanapun minat datang langsung ke toko buku tidak bisa digantikan.

Bukuakik: Ada, mbok modalin mas.

Dema Buku: Cita-cita itu ada, tidak perlu besar yang penting ada tempat untuk kumpul-kumpul,  berdiskusi atau sekadar ngobrol-ngobrol soal buku dan lainnya. Karena Tanjung Priok butuh lebih banyak tempat seperti itu.

Jika boleh tau biasanya sehari jual berapa buku, dan Apa judul buku yang paling banyak kalian jual?

Berdikari Book: Estimasi sejauh ini sih 20-100-an. Kata Adalah Senjata dan Marxisme untuk pemula. Mungkin 700-1000 untuk judul tersebut, sebab dari awal jualan buku, judul itu yang selalu ada yang beli.

Buku Akik: Gak banyak, rata-rata paling sedikit satu hari sekitar 20 buku, kalau semesta memberkati ya bisa sampai lima kalinya. Judul terbanyak ya Bertuhan Tanpa Agama, Questioning Everything, Kata Adalah Senjata, Tuhan Tak perlu Dibela, ratusan.

Dema Buku: Sehari sekitar 10 sampai 200 ekslempar. Sampai hari ini buku puisi Tidak Ada New York Hari Ini karya M. Aan Mansyur masih yang paling banyak Dema jual. Untuk yang edisi bahasa Indonesia sebanyak kurang lebih 2.500 ekslempar, dan untuk yang dwi bahasa sebanyak 30 buku.

Baiklah Ada pesan untuk dunia perbukuan indonesia?

Dema Buku: Harapannya sederhana saja, semoga semakin banyak penulis bagus yang tentu akan menghasilkan buku bagus. Ya kalau bisa ada perhatian lebih dari pemerintah untuk dunia perbukuan ke depan agar lebih baik lagi. Dan yang diharapkan hampir semua pembaca, semoga harga buku makin terjangkau.

Berdikari Book: Jadikanlah buku sebagai media untuk membaca realitas keadaan yang ada. Turut berkontribusi dalam mengarahkan dan menjaga kewarasan. Semua buku adalah bagus, tapi tidak untuk menjaga kewarasan. Itulah bagaimana buku harus dilahirkan. Untuk menjaga kewarasan dan melahirkan peradaban.

Buku Akik: Panjang umur budaya membaca! semoga lekas jadi kebutuhan. Amin ya Allah.

Teks: Rifki Afwakhoir  |  Visual: Bambang Nurdiansyah

 

Tags : buku
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response