close

[Movie Review] Wreck-It Ralph

20130403-002900.jpg

What : Wreck-It Ralph

Director : Rich Moore

Genre : Animation, Adventure

Rilis : 2012

 

                                                  Is Good To Be (Not) Good

I am bad, and that’s good. I will never be good, and that’s not bad. There’s no one I’d rather be than me”.

-Bad Guy Affirmation, Bad-Anon.

Engkau adalah Ralph, a Wrecker. Seorang yang sudah ditakdirkan untuk menjadi penghancur benda-benda secara profesional. Sangat bagus dalam pekerjaan, bahkan mungkin yang terbaik. Masalahnya adalah, engkau hidup di realitas Nicelander. Realitas dimana menghancurkan benda-benda adalah sebuah kesalahan. Realitas yang menjadikan pekerjaanmu adalah anti-tesis dari harapan seluruh warga Nicelander. Realitas yang menjadikanmu satu-satunya masalah yang membuat seseorang menjadi pahlawan karena membereskan apa yang kau lakukan. Dan yang lebih menyedihkan, engkau hidup di realitas yang bahkan menjadikan pekerjaan utamamu berjalan vis a vis dengan tujuan sistem dimana engkau berada.

Secara sederhana, ini adalah gambaran yang harus dialami oleh seorang Ralph, sang tokoh utama dalam film Wreck-It Ralph (2012). Film animasi produksi Walt Disney yang digarap apik oleh sang sutradara, Rich Moore. Orang yang sama dibalik kesuksesan serial animasi The Simpsons dan Futurama. Meski begitu, jangan harap ada humor sarkasme seperti yang sering ditampilkan dalam serial The Simpsons. Dalam film ini, kekuatan pesan yang disampaikan terletak pada keruntutan alur cerita yang ditampilkan. Phil Johnston dan Jennifer Lee sang penulis naskah, berhasil menuliskan sebuah kisah yang mungkin dapat dipahami tidak hanya secara kontekstual. Bagaimana dalam hal ini, mereka mengambil kisah dari perspektif seorang tokoh antagonis yang mungkin akan menyentil bagaimana manusia mempertanyakan moralitas dalam bentuk yang paling sederhana, kalau tidak mau dikatakan dangkal.

Pengejawantahan paling sederhana adalah adegan pembuka dimana Ralph yang dalam realitas Nicelander ‘bertugas’ sebagai sosok antagonis, digambarkan mulai lelah dengan apa yang dilakukannya. Bukan lelah secara harfiah karena melakukan sesuatu yang berulang-ulang, namun rasa lelah dalam arti yang lebih hakiki. Perasaan yang membawanya pada suatu kegelisahan tentang bagaimana label moralitas dijadikan sebagai sarana untuk menghakimi sesama. Bagaimana masyarakat Nicelander telah menghakiminya sebagai tokoh antagonis yang bahkan tidak pantas untuk sekedar disapa. Tidak hanya terjadi di dunia nyata, di realitas game-arcade pun ternyata ada tipe masyarakat hipokrit dan picik seperti ini. Masyarakat tipe ini adalah masyarakat yang hidup dibelakang nilai-nilai moralitas yang diterjemahkannya secara banal. Ke-banal-an yang akan mempersempit realitas berpikir manusia kedalam ranah yang dangkal. Seperti dalam film ini yang digambarkan bahwa akhirnya, seluruh masyarakat Nicelander akan menyadari bahwa ketiadaan Ralph berarti akhir bagi game dan seluruh masyarakat Nicelander. Kesadaran yang bahkan baru disadari ketika keselamatan diri mulai terancam. Hipokrit as always.

Sebaliknya, karakter Ralph tanpa disadari adalah sosok yang bahkan dapat dikatakan telah berada dalam tataran yang sedikit lebih tinggi perkara omong kosong moralitas. Ralph, dalam kegelisahannya tidak menginginkan apapun untuk ia miliki. Ia hanya menginginkan masyarakat memperlakukannya penuh kehangatan seperti bagaimana manusia seharusnya memperlakukan satu sama lain, bahkan dalam tingkatan yang paling sederhana. Bagaimana ia mendambakan seseorang menepuk pundaknya ketika ia kelelahan, maupun menyapanya dengan kehangatan ketika bertemu ditengah jalan. Jika pun dalam film digambarkan ia menginginkan sebuah medali emas, itu semata-mata karena Ralph yang polos menganggap dengan memiliki medali, ia akan dapat diterima ditengah masyarakat. Terdengar seperti analogi yang familiar bukan?

Karakter Ralph yang diberi label sebagai tokoh ‘antagonis’ oleh lingkungannya, pada akhirnya mulai belajar tentang apa yang sebenarnya harus ia lakukan melebihi apa yang ia butuhkan. Pertemuannya dengan karakter Vanellope Von Schweetz, yang memiliki nasib tidak jauh berbeda dengan dirinya membuatnya belajar tentang banyak hal yang sebelumnya tidak ia rasakan. Ia bahkan melupakan keinginannya untuk dianggap sebagai tokoh protagonis. Ia siap menerima konsekuensi yang selama ini ia terima selama itu dapat membuat orang lain bahagia. Dalam konteks ini, Ralph telah berada dalam tataran memaknai sebuah kebaikan sebagai hal yang memang sudah seharusnya dilakukan. Ia mengikuti apa kata hatinya untuk melakukan apa yang dianggapnya benar, dan tidak memedulikan bagaimana citranya yang dianggap sebagai tokoh ‘antagonis’ ditengah masyarakat. Seperti yang tergambar dalam potongan dialog ketika Ralph berbicara mengenai Vanellope. “Aku tidak perlu medali. Selama anak itu menyukaiku, aku tahu kalau aku tidak jahat”.

Dalam tahapan ini, apa yang dilakukan Ralph dan bahkan seluruh anggota perkumpulan Bad-Anon, adalah sebuah fase awal dari sebuah proses panjang untuk memaknai sebuah ketulusan dan kerendahan hati. Bagaimana mereka, yang dalam konteks cerita digambarkan sebagai tokoh antagonis, telah ‘mengikrarkan’ diri untuk dicap sebagai penjahat yang dalam konteks cerita ini selalu berada dipihak yang salah. Disadari atau tidak, apa yang mereka lakukan merupakan manifestasi sebuah ketulusan dalam tingkatan yang mungkin tidak semua orang bisa lakukan. Mereka sadar, dengan ‘peran’ mereka sebagai tokoh antagonis akan memunculkan kisah kepahlawanan dari tokoh protagonis dalam sistem yang mereka ikuti. Sistem yang dalam konteks cerita ini, akan membawa keberlangsungan hidup bagi seluruh masyarakat dalam realitas mereka.

Secara sederhana, mereka telah lulus dari jeratan hipokrit yang banyak bertebaran di tengah masyarakat. Masyarakat yang memaknai sebuah kebaikan hanya untuk mempertahankan apa yang dianggapnya menjadi miliknya. Ketamakan yang akhirnya akan menjebaknya pada kriteria-kriteria yang mereka buat sendiri. Karakter King Race atau Turbo adalah sosok yang seperti dimaksudkan untuk menyindir orang-orang dengan pemikiran seperti ini. Sosok ‘protagonis’ pengidap post power syndrome akut yang dalam kesehariannya mencitrakan diri sebagai pemimpin yang disukai masyarakat dan akan melakukan segala sesuatu untuk membela rakyatnya. Pada kenyataannya, apa yang dilakukannya adalah semata-mata untuk melindungi apa yang selama ini ia anggap sebagai miliknya. Sosok King Race adalah manifestasi paling konkret dari produk masyarakat pengidap hipokrit akut.

Jika pada akhirnya menjadi hipokrit adalah satu-satunya jalan untuk dapat terlihat ‘baik’ ditengah masyarakat, maka keberanian untuk menerima diri sendiri menjadi kunci resistensi. Memaknai kebaikan dalam tataran yang paling tinggi berarti memaknai apa yang dilakukan sebagai tindakan yang sesuai dengan hati nurani. Melakukan apa yang semestinya dilakukan tanpa terperangkap kedalam nilai-nilai pelabelan atas nama moralitas. Karena melakukan sesuatu yang baik belum tentu akan dianggap baik. Kuncinya adalah bagaimana sebuah kebaikan dimaknai atas dasar ketulusan bukan kemunafikan. Seperti yang dikatakan Zombie, “Label tidak akan membuatmu bahagia Ralph. Baik, jahat, err.. kau harus mencintai dirimu sendiri. Kuncinya ada di dalam sini, di dalam hati”.[Warning/Dimas Yulian]

20130403-002840.jpg
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response