close

Iwan Fals: Nyanyian Orasi Kehidupan

iwanfals (3)
Iwan Fals
Iwan Fals

Ayo nyalakan api kalian, handphone kalian atau apapun. Biar saya abadikan malam ini. Nyala tanpa asap,” seru Iwan di tengah-tengah konser.

Sudah hampir sepuluh tahun sejak Virgiawan Listianto atau Iwan Fals beraksi sepanggung dengan Slank di Stadion Kridosono. Bisa ditebak apa jadinya ketika dua musisi terbesar negeri beraksi sepanggung; jebol. Untunglah kejadian 10 tahun lalu tak terulang Minggu malam kemarin (25/10). Membludaknya OI (Orang Indonesia, sebutan untuk penggemar Iwan Fals) masih bisa tertampung stadion ini, meski banyak yang harus rela menonton dari ujung lapangan, mengingat penuhnya seluruh sisi lapangan. Dalam catatan saya, terakhir konser di tempat ini dengan jumlah massa memenuhi seisi stadion adalah ketika ada kolaborasi lima band bertajuk “Gropyokan Korupsi”.

Waktu masih menunjukan pukul sembilan lewat beberapa menit, ketika Iwan sudah mulai mengokupasi panggung membawakan “Belum ada Judul”. Ini jelaslah lebih cepat dari keterangan di Twitter resmi Iwan yang menjadwalkan okupasi panggung dimulai pukul 21.30. Alhasil, ketika lagu ini sudah dibawakan, situasi gerbang benar-benar luar biasa riuh. Barisan OI yang datang dari berbagai penjuru kota tengah mengantri dengan mengangkat tiket ke udara, sesuai permintaan panitia. Penyelenggara nampaknya cukup cermat mengantisipasi membludaknya jumlah massa, terbukti dengan tak nampaknya keributan berarti, meski antrian cukup besar dan panjang. Hingga hampir selesai “Bangunlah Putra-Putri Pertiwi” berkumandang, penonton masih terus antri berjejalan untuk memasuki area konser.

iwanfals (2)

Di dalam stadion, lautan massa tengah hikmat mengikuti koor di lagu “Negeri Kaya”. Lirik satir lagu ini memang cocok sekali dengan situasi negera akhir-akhir ini. Dilanjutkan nomor “Pohon untuk Kehidupan” dengan lebih dulu Iwan menyerukan perlawanan terhadap korporat dalang tragedi asap. Di nomor “Bunga Trotoar” Iwan mulai menyeru supaya OI yang datang mengenakan masker. Memang, sebelum konser ini, Iwan melalui konferensi pers dan akun resminya menyerukan untuk membawa masker mengantisipasi debu. “Silakan maskernya dipakai, biar pulang dari sini nggak jadi penyakit,” ajaknya. Ruang stadion hanya menyisakan sisi kiri, kanan, dan ujung belakang di depan gerbang.

“Oemar Bakri” menjadi bumbu orasi pendidikan yang ia sampaikan. Koor massal dengan irama country memaksa penonton bergoyang di nomor ini. Lalu dua nomor legendaris berurutan dibawakan, “Bento” dan “Bongkar”. Koor massal kembali pecah. Nomor “Bento” menjadi sangat menarik dengan sisipan aransemen keroncong di bagian akhir lagu. Kini stadion Kridosono penuh, hampir tak terlihat celah-celah kosong di sesisi ruang.

Berlanjut, “Hio” kali ini dibawakan dengan aransemen etnik jawa yang kental. Bahkan di tengah lagu, Iwan juga membacakan sajak Jawa lawas yang berisikan wejangan-wejangan hidup. Suasana hikmat di akhir lagu rupanya berlanjut di nomor selanjutnya. “Ibu” menjadi nomor keramat yang terasa sangat hikmat mlam itu. Lautan penonton yang tanpa komando Iwan kompak untuk duduk beralaskan tanah dan mengangkat korek gas yang menyala menjadi bumbu kehikmatan lagu ini.

Rehat sejenak dari orasi sosial, politik, dan budaya, kini giliran cinta yang ditebar. Lagu-lagu dari album Iwan Fals in love dibawakan berurutan. “Kumenanti Seorang Kekasih” menjadi nomor pertama dari album ini yang tentu saja disambut lagi-lagi koor massal. Lucu sekali ketika di bagian outro Iwan menjahili band dan seluruh Oi yang datang. Pengulangan pada bait “Kumenanti seorang kekasih/ yang tercantik yang datang di hari ini” dilakukan hampir lebih dari tujuh kali. Ini membuat band tampak bingung menuruti komando musisi 52 tahun ini. OI yang datang pun banyak yang tampak cekikikan melihat ulah pujaannya. Konser berlanjut dengan satu nomor yang dibawakan dengan sangat klasik, “Entah”. Empat aksi solo dari empat instrumen yang berbeda di lagu ini terasa begitu menyatu dengan dengan atmosfir yang dibangun lewat lirik dan musik. Lalu nomor “Ijinkan Aku menyayangimu” menjadi penutup tebaran cinta Iwan Fals.

Di ujung konser, Iwan sempat bercerita seputar pertanyaan wartawan tentang adakah lagu khusus yang bakal dibawakan saat konser nanti. Pertanyaan ini lantas membuatnya gelisah, dan kegelisahan yang menghasilkan satu penampilan musikalisasi puisi yang secara khusus menyorot tragedi asap. Sebelum melantunkan puisi ini, Iwan terlebih dulu meminta semua penonton menyalakan sumber cahaya yang ada. “Ayo nyalakan api kalian, handphone kalian atau apapun. Biar saya abadikan malam ini. Nyala tanpa Asap!”, seru Iwan. Alhasil, satu pemandangan luar biasa tampak dari layar lebar yang terpampang di samping panggung. Lautan massa kini dihiasai cahaya-cahaya yang silau di tengah gelap dan debu lapangan yang beterbangan. Iwan lantas membacakan puisinya dengan iringan eksperimental bernada minor. Seketika suasana konser menjadi kelabu. Iwan menyebut ini sebagai catatan, bukan puisi.

Sebagai penutup konser, Iwan Fals yang rambutnya hampir memutih seutuhnya agaknya memang semakin religius. Penutup konser kali ini bukanlah nomor yang membakar semangat. “Ya Allah Kami” menjadi doa penutup yang mencari amin massal atas segala seruan dan orasi yang tersusun selama dua jam konser.

Di usia tua, Iwan Fals masih tetap mampu menghadirkan aksi panggung yang memikat. Hampir seluruh nomor yang dibawakan kali ini memuat aransemen yang berbeda dari rekaman. Ditunjang nyanyian cum orasi dengan segala tema kehidupan, mulai dari sosial, politik, kebudayaan, cinta, hingga urusan tuhan dibawakan dengan tenang, penuh keyakinan, dan tentu saja bernas. Inilah bentuk kematangan musisi yang telah banyak makan garam, yang dipuja dari berbagai generasi. Seperti diakui salah OI remaja perempuan asal Indramayu yang jauh-jauh ke Jogja mengaku hanya untuk menyaksikan Iwan Fals. Bagi Fidya, penampilan Iwan Fals malam ini sangat memuaskan. “Excellent,” satu kata yang keluar darinya ketika dijumpai seusai konser. (WARN!NG/Umaru Wicaksono)

 iwan fals (13)

Foto lainnya cek -> Iwan Fals & The SIGIT at Kridosono 2015

Event by: Passionville 2015

Venue  : Stadion Kridosono

Date      : 24 Oktober 2015

Man Of The Match          : Seruan nyala tanpa asap di tengah-tengah konser.

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Foto oleh: Yudha Baskoro & Ardian Cahyo Utomo

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.