close

Jabat Tangan di Halaman Klenteng Hong San Kiong

11178643_10204046827918564_858321989_n
Wayang Rokenrol
Wayang Rokenrol

Sering kita merasa selalu ada jarak oleh sebab perbedaan; didasar atas faktor kebudayaan, etnis, agama, wilayah, status sosial, dan sebagainya. Hal ini didukung oleh sikap tertutup sebagian masyarakat, juga sedikit kesempatan untuk mempertemukan masing-masing dalam momen yang bersifat massal, akrab dan terbuka. Kita lebih mudah untuk menjadi pecah, mudah dalam bertengkar. Di lain pihak, seruan tentang ‘perdamaian’ masih bersuar. Tak mudah memang, penuh resiko dan hanya sedikit mereka yang mau melakukan.

Hong San Kiong merupakan klenteng di daerah Gudo-Jombang, bermaksud membuka kemungkinan akan cita-cita luhur yang boleh kita apresiasi. Pada Sabtu (11/4), Klenteng Hong San Kiong menggelar kegiatan untuk umum sehari penuh. Pada kesempatan ini panitia Klenteng merangkul banyak pihak melalui berbagai rangkaian. Gambaran umumnya adalah perayaan keberagaman. Tajuk acara utama berbentuk penghormatan kepada “Yang Mulia Kongco Kong Tik Tjoen Ong” di hari ulang tahunnya. Acara tersusun dengan berbagai rangkaian, antara lain malam penghargaan kepada masyarakat melalui perwakilan organisasi yang ada, berbagai sambutan petinggi organisasi, gelar hibur lintas kesenian hingga gelaran kesenian lintas kebudayaan, turut tersaji kegiatan lelang juga stand-stand jualan. Toni Harsono yang juga pimpinan Klenteng, menginisiasi acara ini.

Menariknya, rangkaian acara berlangsung bersamaan dengan kegiatan peribadatan Klenteng. Namun, nuansa sakral jelas terasa, dalam suatu momen misal, kita dapat melihat jemaat khusyuk dengan leluhurnya, begitu juga penampil dengan penontonnya. Kita bakal menemukan hal-hal janggal namun menyentuh. Sangat terlihat ketika satu penampil rock n’ roll asal Jogja, Reddot. Para penonton kebanyakan tamu undangan dari berbagai kota, tentunya dengan kostum rapi selekas melakukan ibadah, seketika maju ke panggung turut berjoget, berteriak berpadu dengan band. Nuansa itu jadi buah perayan berbagai elemen, karena tak hanya tamu undangan dengan setelan rapi, namun juga warga sekitar, dari yang berbaju sekuriti sampai masyarakat sekitar dengan tampilan sederhana. Atmosfer itu tidak terbentuk begitu saja, kita patut mengapresiasi rekan- rekan FMI (Folk Mataraman Institute) yang telah berhasil membangun nuansa yang mereka sebut ‘selo’. Ada banyak racikan-racikan canda kreatif dari rekan-rekan komunitas FMI, hingga membuka pintu lebar bagi siapapun untuk menikmati panggung dengan cara paling bebas. Di bawah tabuhan Reddot kita bisa melihat para pendengar trance di pusaran panggung. Atas segala kebaikan, jadi memungkinkan bahwa penikmat musik sekejap merubah diri sebagai kolaborator ciamik, misal adegan potong rambut peserta goyang dengan cara memanfaatkan dekor yang ada di sekitar, pot bunga menjadi instrumen tari, juga taplak menjadi barongsai. Alhasil, panggung jadi milik semua. Ini merupakan momen jarang dijumpai oleh pengunjung di wilayah Jombang khususnya.

Ada yang cukup menyentuh, bagaimana seorang dokter tampil konyol diluar dugaan, raut tawa dan binarnya menanda terhibur lahir batin. Sebuah resep komplet, melangsungkan ibadah di awal, merayakan hiburan di akhir. Beruntung, kebutuhan batin berupa ibadah dan hiburan hadir dalam satu momen.

Berlangsungnya kegiatan selama sehari penuh sebagai bukti toleran atas aktivitas masing-masing pihak yang turut meramaikan. Acara berjalan lancar tentu karena dukungan semua pihak, di sinilah dialog terwujud, sebuah penghormatan akan pluralitas. Suasana hangat ketika kita berkeliling ke segala sisi. Bau wangi dupa dan lezat makan bercampur dengan parfum dan keringat, ber-iringan lalu lalang, semua umur tua dan muda, kanak juga dewasa.

Monumen ini juga sebagai tempat berlangsungnya karya kolaborasi dunia pewayangan, yaitu wayang potehi dengan wayang papet. Bermula dari apresiasi kedua pihak, berlanjut diskusi menarik antar kedua seniman, saling berbagi informasi di wilayah kesenian masing-masing. Kelompok wayang potehi di gelaran ini adalah pimpinan Sutarto, asal Surabaya, sudah sekian waktu melampirkan panggungnya di berbagai kota di Jawa Timur. Untuk wayang papet diwakili oleh Samuel Indratma beserta jajaran tim Folk Mataraman Institute. Wayang Papet merupakan wajah baru pewayangan model kontemporer. Cukup menarik karena tokoh yang diambil disarikan dari karakter rekan-rekan komunitas, sebut saja Jhony Blimbing, Pak Besusu, Papi Pare Anom, Jambu Sutrisno, Rita Semangka, Rudi Pete, Mama Lemon, dan lain-lain. Bila pun kurang, kadang di suatu momen mencomot salah satu member (orang) lagi untuk dijadikan wayang dan tampil gemulai di layar geber.

Seringkali wayang papet hadir beragam varian, tercatat ada Wayang Kencrung, Wayang Rokenrol, selalu tak jauh tema perbincangan adalah aktifitas komunal harian, untuk kemudian suasana harian diseret ke panggung pentas, itulah wibawa canda ala FMI. Terlintas kegembiraan kedua pihak, momen ini juga didapuk sebagai jembatan persaudaraan, pengenalan budaya, dan sumbangsih berbagai ilmu dan nilai kehidupan yang terkandung dalam setiap cerita. Adegan malam berisi perkenalan, permohonan izin turut dalam gelanggang bumi pewayangan, masing-masing wayang saling memperkenalkan diri. Kemudian membuka perbincangan bagaimana seorang harus belajar dalam menangani soal-sebab, segala-tentang, yang belum juga rampung sekian zaman, itulah babagan ‘kehidupan’. Selama 3 jam lebih berproses, latihan sekaligus pentas. Adzan Shubuh berkumandang tepat di saat prosesi rampung dilaksanakan. [WARN!NG/Huhum Hambilly]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response