close

JAFF: Satu Dekade Perayaan Sinema Luar Sirkuit Komersil

image_1

 

Wawancara dengan: Budi Irawanto, Festival Director Jogja-NETPAC Asian Film Festival

Oleh: Titah Asmaning

Jika tidak di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF), saya mungkin belum menonton Rumah dan Musim Hujan-nya Ifa Isfansyah, atau Rocket Rain-nya Anggun Priambodo. JAFF selama ini memang jadi kanal utama untuk menonton film-film alternatif. Penting untuk mengerti bagaiamana usaha JAFF untuk menghadirkan pengalaman sinematik yang tidak bisa didapat di bioskop komersil. Dengan kurasi dan program-programnya, JAFF tidak hanya ada sebagai ruang alternatif pemutaran, tapi juga sebagai ruang dialog dan titik temu para aktivis perfilman independen. Sebuah perayaan dengan banyak hal untuk dibawa pulang.

Tahun ini JAFF sampai pada umur 10 tahun pengadaannya. WARN!NG melakukan wawancara panjang dengan Budi Irawanto, Direktur Festival JAFF, seorang akademisi yang juga aktif di berbagai festival film internasional. Ditemui di kantornya, di sela-sela kesibukan mengajar dan mengurus JAFF, simak pembeberan fakta tentang pengelolaan JAFF, sikapnya terhadap sensor film, eksistensi sinema Asia sampai kekuatan film fiksi untuk menyuarakan kritik. Silahkan!

Budi Irawanto
Budi Irawanto

Tahun 2015 ini JAFF sudah sampai tahun ke-10, bagaimana perkembangan JAFF dari awal sampai sekarang?

JAFF ini kan mulai tahun 2006, inisiatornya Mas Garin Nugroho, dia lalu menggaet Philip Cheah yang saat itu masih direktur Singapore International Film Festival. Tapi karena waktu itu sudah ada JIFFEST, kita berfokus pada film Asia. Waktu itu untuk teknis pengelolaan benar-benar start from the sketch. Dan JAFF pertama sempat hampir gagal karena gempa, tapi kita justru membuat open air cinema yang sekarang jadi ciri khas JAFF. Waktu itu idenya memutar film di tenda-tenda pengungsi.

Yang jadi menarik, kita organizer JAFF saling tumbuh di bidang masing-masing, di dunia film, di dunia akademis, itu yang sebenarnya ini semakin memperkaya. Saya nggak tahu ada festival film lain yang digarap filmmaker seperti di JAFF, festival lain digarap oleh para organizer profesional. Tapi ini jadi khas. Jaringan kita juga makin lama makin luas. Dulu cuma dari Garin dan Philip, sekarang semua sudah punya jaringan sendiri. Ini yang saya kira jadi kekuatan sendiri. Kita punya network yang solid dengan seniman di Jogja.

Dari entry juga dulu kita susah mendapat film Indonesia, sekarang sudah ada program Faces of Indonesian Cinema Today yang mewadahi film-film Indonesia terbaru dengan kecenderungan tertentu. Tahun ini juga ada program baru Short Film Splash karena melihat antusiasme film pendek tinggi sekali.

Dan perubahan yang menarik bahwa penonton kita mengalami regenerasi yang luar biasa karena selalu muda dan baru, karena mungkin sebagian besar mahasiswa. Sejujurnya yang malah sulit adalah regenerasi di organizer untuk menemukan yang lebih muda lagi. Tapi susah karena ini kerja pro bono. Anak muda sekarang kan susah kalau kerja tanpa reward. Itu kesulitan juga karena JAFF semakin besar dan semakin butuh menstabilkan lembaganya. Memang dilema ketika apakah skala kita akan sangat besar dengan kompleksitas rumit atau kecil tapi solid.

Selain sebagai ruang alternatif untuk pemutaran film, apa peran penting JAFF untuk sinema Indonesia?

Pertama karena ini diinisiasi oleh temen-temen aktivis indie filmmaker, JAFF selalu jadi meeting point untuk temen-temen indie. Kita selalu punya community forum yang isinya presentasi karya atau program dari komunitas dari sleuruh indonesia.

Jaff juga menjadi ruang bagi film-film panjang yang tidak memperoleh ruang alternatifnya di sirkuit komersial. Dan tidak jarang film-film di JAFF kemudian terpromosi ke festival lain. Memang JAFF nggak punya film market, kalau festival besar kayak Berlin dan Busan ada filmmarket. Itu adalah forum dimana produser film bertemu dengan distributor lalu mereka membuat pemutaran film khusus untuk calon pembeli, calon distributor. JAFF lebih ke festival untuk kepentingan apresiasi.

Kita juga nggak bertumpu di venue di kota. Dengan open air cinema kita membawa film-film Indonesia untuk dekat dengan publiknya. Kan kalau kita lihat secara statistik penonton film kita ini hampir 80% ada di wilayah urban. Itu yang justru keunikan kita dan banyak diapresiasi oleh filmmaker internasional.

Kalau tentang pengadaan ruang alternatif menonton film di Indonesia sendiri seperti apa?
Selama ini masih ada persoalan, kita tidak punya bioskop seni atau sinema. Kalau di negara maju kayak Inggris atau Korea mereka punya bisokop dengan studio yang tidak terlalu besar dan mereka memutar film-film alternatif yang nggak akan diputar di bioskop komersial. Di Indonesia kita cuma punya kineforum dengan program rutin, selebihnya pusat-pusat kebudayaan kayak Goethe, IFI, Salihara, jadi tidak cukup banyak. Jadi ketika JAFF menerima banyak entry itu tidak mengejutkan. Kita punya, tapi kan tempat-tempat seperti itu aktivitasnya accidental. Di tempat lain terprogram, ada pemutaran rutin, tema-tema, kurasi, program secara tertata. Bahwa ruang itu mungkin bisa diadakan secara fisik, tapi ada nggak yang bisa mengelola programming dan pasokan film untuk diputar? Itu sebuah tantangan sendiri.

Budi Irawanto
Budi Irawanto

Selama ini perkembangan film selalu diukur dari yang terpetakan di bioskop. Bagaimana dengan perkembangan jenis film lain seperti film pendek, eksperimental dan dokumenter?

Yang sedikit kita punya itu film eksperimental. Realtif sulit mencari film eksperimental dari Indonesia. Karena pemaknaan film eksperimental sendiri belum jadi sesuatu yang populer di kalangan filmmaker. Eksperimental itu bisa dari bahasa film, bukan hanya sekedar bermain dengan imej, tapi ada sesuatu yang dia lakukan.

Film pendek itu sebenarnya cuma bisa dilihat di festival. Dan memang akan bagus kalau ada festival yang khusus untuk film pendek, akan lebih terbaca. Seperti umumnya di dunia, film pendek itu semacam training ground bagi para pembuat film profesional, dan makanya kalau mau lihat dinamika dan kebaruan-kebaruan ya di film pendek. Karena ruang untuk melakukan eksplorasi dan eksperimentasi memang dimungkinkan di film pendek. Yang lambat itu film dokumenter, ada beberapa yang memang bagus tapi masih sedikit eksplorasi.

Banyak aktivis film yang cenderung bersikap negatif terhadap Lembaga Sensor Film (LSF), bagaimana dengan anda?

Kalau harus memilih dan itu bukan pilihan terbaik, saya lebih setuju ke klasifikasi. Karena itu artinya mempercayai penonton dan kemudian menghormati keputusan penonton untuk memilih film mana yang cocok. Meskipun saya lebih setuju nggak ada sensor. Cuma di perkembangannya banyak sideback, sekarang LSF tidak masuk ke komisi 10 yang mengurusi kebudayaan tapi masuk ke komisi 1 yang mengurusi intelejen dan keamanan. Jadi film ini dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan negara. Itu yang terjadi.

Dan film-film festival seharusnya nggak pakai sensor karena jelas publiknya terbatas. Dan kalau sensor dipahami secara polisional itu tidak akan menumbuhkan penonton yang dewasa. Penonton diperlakukan seperti anak-anak yang harus diproteksi. Saya kira setiap filmmaker juga harus dipercaya bahwa mereka juga punya etik sendiri.

Apalagi juga ada kepentingan politik di institusi sensor. Lagipula atas dasar argumen apa seseorang punya superioritas moral dibanding yang lain sehingga dia berhak menilai film ini sebagai film yang tidak cocok dan cocok. Simpelnya, lalu siapa yang bisa mengawasi kerja tim sensor. Jadi kita masuk ke lingkaran setan tentang siapa mengawasi siapa. Ini argumen yang agak rumit.

 

bersambung ke halaman 2 -> wawancara Budi Irawanto

Photo by: Tomi Wibisono

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.