close

[Album Review] Jalan Pulang – Jalan Pulang

artwork-jalan-pulang-1

artwork-jalan-pulang-1

Label: Metafor Records

Watchful Shots : Lagu Berdua Apa Daya Lelah Lagu Sepi

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Seperti filosofi hidup ikan salmon yang lahir di perairan sungai lalu beranjak dewasa dengan menempuh perjalanan ke laut dan kembali pulang ke sungai untuk melanjutkan keturunannya, Jalan Pulang menghasilkan sebuah album yang membuat kita akan merasa pulang ke dalam musik. Band Yogyakarta yang awalnya hanya berformat duo akustik ini kini menghadirkan sebuah album folk pop yang easy listening namun tetap cerdas.

Dibuka dengan “Sajak Pertemuan”  yang hanya diisi oleh sentuhan nada-nada piano serta vokal yang semi berat nan manis, lagu ini juga diisi oleh puisi yang ditulis Irfan (vokal) sendiri sehingga menghadirkan rasa puisi musikal yang romantis. Pembuka ini langsung disambut dengan petikan gitar “Lagu Berdua”. Liriknya diambil dari puisi Acep Zamzam Noor yang termuat dalam kumpulan puisi Menjadi Penyair Lagi. Setelah dua lagu pembuka didominasi oleh vokal Irfan, Matahari Kesiangan” dibuka oleh vokal manis Margi yang disusul beriringan oleh Irfan. Lagu ini berformatkan full band, dengan petikan-petikan  gitar yang ringan dan manis serta bass line yang asik mengikuti irama drum.

“Solilokui”, track berikutnya, menghadirkan nuansa folk yang lebih ceria daripada ketiga lagu sebelumnya dengan didominasi oleh guitar strumming, bukan lagi petikan. Berikutnya Irfan mencoba menulis lirik bernuansa cinta yang romantis pada “Apa Daya”. Beberapa riff piano dalam lagu ini seakan mengingatkan pada Coldplay. Kemampuan menulis lirik yang bernuansa gelap pun mampu dirambah pada nomor “Lelah”. Dengan lirik seperti “Kubutuh bukan dirimu / Kubunuh dirimu” dan ditambah dengan adanya solo gitar yang bernuansa atmosferik seperti kebanyakan band shoegaze, lagu ini menjadi folk yang agak gelap. Nuansa yang berbeda dan lebih ramai dihadirkan pada “Sajak Perpisahan”, dengan adanya permainan harmonika serta keyboard yang mencoba mengeksplorasi efek suara.

Kembali kita disuguhkan petikan gitar yang kalem yang sekilas mengingatkan pada Mumford And Sons pada nomor “Lagu Sepi”. Selain instrumen biola sebagai layering musik yang manis dan mampu mengiris nadi serta glockenspiel yang hadir di mana-mana, “Lagu Sepi” juga menghadirkan kembali kemampuan Irfan menulis puisi yang keren seperti “Kenangan kita terlupa / Keabadian kita terbantah / Rindumu menjauh / Kasihmu tak terengkuh.”. Jalan Pulang kembali menghadirkan nuansa glockenspiel dan harmonika. Irfan bagaikan menunjukkan kerisauan serta kegelisahannya terhadap kampung halamannya yang tertuang dalam liriknya. Penutup album ini yang hadir sebagai bonus track, “Percakapan Tangis”, menghadirkan Dico (Dwiki) sebagai lead vocal dan riff gitar bernuansa folk etnik lokal, yaitu “Gundul-gundul Pacul”.

Album ini hadir sebagai penyejuk bagi pendengar yang berhati panas dan gelisah akan rumah mereka untuk pulang dan dirilis pada musim penghujan di bulan Januari sehingga mampu memadamkan hati-hati gelisah tersebut. Dengan gaya penulisan lirik oleh Irfan yang menggunakan pendekatan sastra puisi yang menjadi kegemarannya, serta kecintaannya terhadap musisi besar seperti Iwan Fals, Bob Dylan hingga Bon Iver, album ini benar-benar menjadi sebuah pemuas dahaga di saat kita sedang menempuh kembali jalan pulang kita dari kelelahan hidup yang kita alami setiap hari. [WARN!NG/Made Dharma]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response