close

Jatinangor Dub Wise Project (DWP) 2016: Tamasya di Kecamatan Kosmopolitan 2010-2016

IMG_20141218_220852

Oleh: Audry Rizki Prayoga

Dokumen foto dan poster oleh: Fuad Abdulghani, Rizaldy Bhaskara, Harry Akbar, Audry Rizki Prayoga, dan Frank Simanjuntak

Malam itu, tepatnya 22 Desember 2016 dan kira-kira menunjukkan waktu pukul 9 malam. Bersama teman-teman, saya berjalan menyusuri lorong fakultas di salah satu kampus negeri di Kecamatan Jatinangor (Kabupaten Sumedang, Jawa barat) untuk menyambangi sebuah pesta DJ (Disc Jockey) yang diadakan oleh sekelompok pelajar di kampus tersebut. Arenanya sendiri bertempat di pekarangan utara kantin fakultas, yang juga berbagi lahan dengan bedeng yang sudah tidak terpakai. Entah disengaja atau tidak,bedeng itu dikemas-ulang oleh pantia melalui teknik mural yang menarasikan pesta tersebut hingga racauan slang dalam bentuk coretan yang mungkin hanya diakrabi para pemabuk dan penikmat pesta tersebut.

“Selamat datang di Jatinangor Dub Wise Project (DWP) edisi ke tiga”, sambut Enby yang menggunakan media bantu berupa microphone. Sambutan itu seolah menyadarkan saya bahwa pesta baru saja dimulai, sebab saya mengira terlambat untuk menikmati awal dari pesta ini.

Sepintas pesta malam itu mengingatkan saya akan persilangan pesta jalanan di kawasan kumuh New York awal 1980-an serta budaya pesta Rastafarian di Trench Town. Memang dugaan itu perlu dicermati lebih lanjut, lagipula kelompok DJ Poom-Poom Soundsystem lebih memilih untuk membuka pesta tersebut dengan memutar musik yang berkait-kelindan dengan budaya Acid House dan Madchester di Britania pada medio 1980-an.

Mural di dinding ‘bedeng’ utara kantin / Frank Simanjuntak, 2016

Sembari berbincang dengan beberapa pengunjung dan menikmati atmosfir pesta malam ini, saya teringat dengan sekelompok pelajar lainnya ─yang saya jumpai sebelumnya di sepanjang lorong menuju arena pesta ini─ yang lebih asyik-bermahsyuk dengan jejaring wi-fi pada perangkat notebook dan laptop-nya, entah untuk kepentingan tugas, mencari referensi, mengunduh berbagai rekaman musik maupun gambar bergerak, atau sekedar ‘menguntit’ lawan jenisnya. Tentu tidak ada yang salah dengan aktivitas waktu luang itu. Kecenderungan itu justru semakin merepresentasikan citra kosmopolitan di kecamatan ini yang lengkap akan ragam aktivitas waktu luangnya. Melalui sudut pandang sebuah pesta dan berbagai proses historis yang membentuk kecenderungan kosmopolitan di kecamatan inilah yang akan saya ceritakan dalam tulisan ini.

Kondisi yang Serba Tanggung: Kota bukan, Desa pun bukan

Kecamatan Jatinangor / Harry Akbar, 2015

Secara bertahap, sejak 1983 pelajar kampus ini mulai memindahkan aktivitasnya ─baik akademis maupun non-akademis─ ke Kecamatan Jatinangor[1], yang notabene lokasinya berjarak lebih dari 20 km dari pusat Kota Bandung serta 30 km dari pusat Kabupaten Sumedang. Dalam proses historisnya, pelajar di kampus ini dapat dikatakan memiliki tradisi untuk memproduksi hiburannya sendiri. Hal itu tidak dapat dipisahan dari kenyataan bahwa mereka mengalami ‘kondisi terjebak’ untuk menghuni dan mengenyam bangku perkuliahan di wilayah yang dapat dikatakan bukan kota, namun dibilang desa juga bukan. Serba tanggung memang.

Pun, kondisi yang ‘serba nanggung’ tersebut kemudian mengkondisikan mereka untuk menghuni dan mengisi kesehariannya ─di luar aktivitas studi─ dengan sarana hiburan yang dapat dikatakan minim, bahkan untuk jangka waktu lima sampai enam tahun. Imbasnya, kebanyakan pelajar di kecamatan ini lebih banyak menghabiskan waktu luangnya melalui nongkrong dengan kelompoknya di kantung-kantung tongkrongan yang tersebar di tiap fakultas. Menjelang senja, sebagian pelajar memilih untuk mengisi kantung huniannya yang lazim disebut kost. Beberapa dari mereka ada yang menghabiskan waktu luangnya dengan belajar, menonton film yang disewa melalui media cakram padat, hingga melakukan eksperimentasi ‘mabuk’ dengan beragam zat dan senyawa. Sebagian lagi lebih memilih untuk nongkrong maupun menghuni di sekretariat himpunan, organisasi, maupun unit (kelompok) aktivitas yang diminatinya. Bagi yang menggemari literasi dan (opsi) film alternatif juga tersedia beberapa taman bacaan maupun perpustakaan alternatif yang sempat menjamur pada era ‘boom ruang alternatif’ di Kota Bandung dan Kecamatan Jatinangor pada awal 2000-an, yang ironisnya pada hari ini keberadaaan ruang itu hanya dapat dihitung dengan jari. Namun, bagi mereka yang memilih keramaian, waktu luang itu juga dapat diisi dengan mengkonsumsi kudapan ringan yang dijajakan secara berjejer di sekitar gerbang kampus. Sementara bagi yang menggemari minol, tentu menjadi pilihan tepat untuk menemani ‘dinginnya’ iklim cuaca dan hiburan yang tersedia di kecamatan tersebut. Bosan dengan rutinitas tersebut, kemudian secara bertahap pelajar di kecamatan itu membentuk beragam komunitas, baik musik, sastra, seni visual hingga beragam atraksi lainnya yang muncul secara sporadis dari berbagai elemen fakultas.

Beragam rutinitas tersebut mulai bergeser dengan berkembangnya ragam sarana dan kantung waktu luang lainnya, di antaranya perkembangan teknologi wi-fi yang muncul di tiap fakultas dan kost hingga pusat perbelanjaan pada 2006, hingga ditutupnya gerbang kampus pada 2009 Pun, kantung waktu luang lainnya semakin terdiaspora dengan munculnya beragam kedai kopi di sekitar kecamatan Jatinangor.

Proses historis tersebut menunjukkan bahwa kampus tidak lagi menjadi sentra aktivitas waktu luang bagi para pelajar yang ‘terjebak’ di Kecamatan Jatinangor. Namun kemudian kegiatan pelajar juga tidak terpusat di kantung-kantung waktu luang yang sudah berkembang tersebut. Ada kalanya ruang pesta dibutuhkan untuk sekedar melepas kejenuhan, yang salah satunya dengan memproduksi pestanya sendiri.

“Yuk Ah Bikin Pesta!”

Kondisi itulah yang kemudian menyebabkan kampus di kecamatan ini dipenuhi oleh banyak perayaan, terutama dalam format pentas musik. Variannya pun beragam, dari yang bersifat makrab (malam keakabran) pelajar antar angkatan atau tongkrongan, hingga yang bersifat manajerial seperti yang bersponsor serta penggunaan soundsystem dan pencahayaan yang megah. Namun bagi Man Kobra dan teman-teman tongkrongannya, definisi perayaan adalah pesta yang di mana pengunjung tidak perlu merasa canggung dan dapat berlaku acuh dalam perayaan di kampusnya. Terlebih lagi perayaan dalam format DJ.

Man Kobra, begitu sehari-harinya ia biasa disapa, seorang pelajar yang mengenyam studi sosial-budaya tingkat tengah semester yang tinggal dengan nyaman di kost yang kondisinya lebih menyerupai villa di lereng perbukitan Gunung Geulis dibandingkan kost konvensional yang berformat petakan sempit di kawasan padat kost di selatan kampus. Aktivitas hariannya banyak dihabiskan di kostannya, entah membaca buku, mengerjakan tugas, mengapresiasi musik ─baik yang berformat cakram padat hingga yang berformat audio-digital— maupun sekedar ‘bereksperimen mabuk’ dengan beragam medianya, sembari menikmati segelas teh serta memandang lereng persawahan ─yang tentu saja─menjadi pemandangan sehari-hari di teras kostannya. Apabila jenuh, ia memilih untuk melancong ke kampus atau salah satu perpustakaan alternatif di Jatinangor. Kata melancong nampaknya terkesan lebih definitif dibandingkan ngampus atau bertandang ke perpustakaan yang terkesan akademis (dalam format formal). Toh selain meminjam dan membaca buku, tidak ada praktik akademik lainnya yang dipraktikan mereka, semacam membuat makalah akademik maupun simposium berkala. Seringnya, Man Kobra dan teman tongkrongannya memilih untuk membicarakan gejala-gejala budaya dari yang dikonsumsinya melalui pengamatan secara empirik maupun gambar bergerak yang dikonsumsinya, diantaranya buku, dan kanal budaya lainnya yang tersebar dalam beragam format di internet secara santai sembari menikmati berbotol-botol minol. Adakalanya, beberapa teman tongkrongannya datang melancong ke kampus sembari membawa stereo set soundsystem yang dapat dinikmati melalui format cakram padat maupun audio-digital.

“Faktor lainnya, ‘anak-anak’ (tongkrongan) tuh kebanyakannya bukan musisi, juga bukan orang yang bisa mainin instrumen musik secara benar Dry”, Man Kobra kembali menambahkan.

Foto ‘kongkow-kongkow’ samping kantin, 26 Juni 2014 / Rizaldy Bhaskara, 2014

Singkatnya, Man Kobra dan teman-teman tongkrongannya memiliki ‘kemewahan’ yang berupa waktu luang dan ‘iklim’ yang cukup menunjang bagi mereka untuk melakukan praktik-praktik tersebut. Layaknya mayoritas pelajar yang memiliki cukup akses akan sarana informasi dan pengetahuan. Terlebih lagi dengan latar belakang mereka sebagai pelajar yang mengenyam studi sosial-budaya, mereka punya basis yang cukup kuat untuk mengakses dan mempraktikkan kecenderungan-kecenderungan budaya yang mereka alami dan mereka konsumsi melalui produksi kelompok belajar, diskusi, pemutaran film, maupun obrolan ‘haha-hihi’ di sela-sela kesibukkan studi mereka. Memang dari praktik-praktik tersebut belumlah menghasilkan karya temuan ilmiah dalam bentuk makalah simposium berskala internasional maupun esai-esai kajian kritis yang lazim ditemui di institusi pendidikan di Negara lain. Jangankan mencapai atau sekedar mendekati praktik akademikdi luar negeri, toh kita semua menyadari bahwa ‘iklim’ pendidikan di Negara ini belumlah mengkondisikan mayoritas elemen tenaga pendidik dan pelajar untuk melakukan praktik tersebut. Mungkin perlu ada studi lanjutan mengenai kecenderungan itu. Namun setidaknya, terdapat praktik-praktik berskala kecil yang dapat kita cermati sebagai upaya untuk sekedar “belajar berteori dan berpraktik” dari apa yang mereka konsumsi dan mereka praktikan melalui medium pesta ini, yakni Jatinangor DWP.

Poster Jatinangor Dub Wise Project 2014

Mendengar penjelasan Man Kobra, membuat saya jadi paham alasan di balik pengkurasian pengisi Jatinangor DWP yang selalu diisi oleh DJ yang bermain di ranah reggae, dub, dan ragam tautannya tersebut. Entah mengapa dalam pengamatan saya, mayoritas pelajar di kampus ini ─terutama yang mengenyam studi sosial-budaya—baik yang memiliki apresiasi dan tradisi kolektif mengenai music reggae maupun yang memang dasarnya doyan nongkrong hingga semalam suntuk, seringkali akrab dengan music reggae. Medianya pun beragam, ada yang secara intensif mengapresiasinya dengan memutar musik di kostan, tongkrongan ─biasanya melalui media soundsystem seadanya atau nyanyian suara sumbang yang diiringi gitar kopong sebagai ‘peneman mabuk’ di tongkrongan

Terlepas dari latar belakang ketertarikan dan selera musiknya, baik metal, punk, indies, EDM, Krautrock, Motown, dan semacamnya, semuanya nampak berdansa-dansi di malam ini. Ada yang merespon dengan gerakan seadanya, ada juga yang merespon dengan dansa-dansi yang dapat dikatakan cukup liar. Terlihat beberapa anak muda melepaskan pakaiannya, entah sekedar ekspresi, atau mungkin juga teralu sumringah akibat kombinasi antara euforia, pesta, musik, dan minol oplosan lokal.

“Jangan lupain juga Dry, kenapa di tiap (pentas) Jatinangor DWP selalu ditutup dengan ‘dangdutan’? Orang-orang mau seleranya se-obscure mungkin juga bakalan tetep goyang kok kalau dikasih dangdut mah, kamu juga kan?”, timpal Man Kobra.

Dari beberapa keriaan (pentas) ─baik pentas musik dalam format malam keakraban (makrab) tongkrongan maupun tingkat formal himpunan mahasiswa— yang saya sambangi di Jatinangor ─terutama di kampus— sekilas memang terdapat upaya bersiasat yang dipraktikkan oleh pelajar di pentas-pentas yang diproduksinya, yakni ‘menanggap dangdut’. Terlepas dari wacana eksotisme, nyatanya semua penonton berasyik-mahsyuk dengan goyangannya, karaoke massal bersama biduan, hingga (sedikit) pembauran identitas antara kelompok pelajar (anak muda) dengan warga (anak muda) setempat.

Suasana Jatinangor Dub Wise Project 2016 / Frank Simanjuntak, 2016
Foto Jatinangor Dub Wise Project, 18 Desember 2014 / Fuad Abdulghani, 2014

Atmosfir itu yang saya dapatkan ketika mengunjungi Jatinangor DWP edisi 2014 dan 2015, di mana kantin kampus dikemas ulang layaknya klab malam ‘disko-dangdut’ yang dapat ditemui di pusat Kota Bandung. Bahkan salah satu pegawai kampus yang dikenal memiliki pengaruh serta otoritas dalam ranah perizinan juga dengan sukarela memberikan izin pada pesta malam itu. Hal itu disebabkan, dia merasa terhibur dan larut dalam goyangan di tiap edisi (tahun) Jatinagor DWP. Pun, pegawai kampus lainnya juga merasa senang, karena aktivitas sampingannya sebagai agensi biduan dan manajer kelompok ‘electone dangdut’ mendapat jatah pentas. Begitu juga dengan Jatinangor DWP edisi 2015 yang mengambil tempat di ruangan kelas yang ukurannya sebesar aula (hall). Apabila boleh berandai, ibaratnya kita akan merasa memasuki klab malam Hacienda pada era Acid House dan Madchester di Britania medio 1980-an, namun tetap dengan citraan lokal. Maksud lokal di sini bukanlah yang definitif layaknya yang digariskan aparatus pariwisata semacam turisme dengan tarian etnosentrisnya; melainkan percampuran budaya antara sub-budaya barat dengan pendekatan konteks kosmopolitan di kecamatan ini; yakni ragam dialek pelajar perantau, ‘kegenitan’ kultus hipster (yang) salah satunya pesta soundsystem yang lengkap dengan ‘berhala’ cakram padat-nya, karaoke massal, hingga iklim acuh ─dalam arti berbaur tanpa batasan─ antara ‘rockstar komunitas/tongkrongan’ bersama biduan, pelajar, dan warga kecamatan setempat.

Poster Jatinangor Dub Wise Project 2015

Pun, apabila anda pernah menonton film yang berlatar belakang budaya pesta anak muda yang mampu menjelaskan kecenderungan ‘kenakalan anak muda’ secara definitif semacam 24 Hours Party People, Dazed and Confused, Quadropenia, dan semacamnya; mungkin anda akan mengerti maksud yang saya utarakan tersebut; di mana pengunjung bisa dengan seenaknya untuk berdansa-dansi tanpa perlu repot-repot memikirkan konsekuensi yang akan dihadapinya di kemudian hari, entah dengan mengkonsumsi minuman beralkohol, ramuan zat-zat halusinogen, hingga muntah-muntah di pinggir ruangan.

Kembali Man Kobra menjelaskan mengapa dia dan teman-teman tongkrongannya memilih untuk mengadakan pesta di kampus. “Kalau kita bikin pesta di bar di Jatinangor atau perlu repot-repot bikin di klab malam di Bandung, gila aja! yang ada kita bakalan dimarahin tuh sama pemilik bar atau klab-nya. Kalau kita bikin di kampus, minimal kita udah tahu medan lah, punya modal sosial dari temen-temen di kampus, bahkan sampe pegawai kampus. Toh, selama kita bikin pesta juga gak sampe tuh dapet keluhan dari satpam, warga setempat, bahkan dari pegawai kampus Dry. Kita juga tetep tanggung jawab lah kayak beresin sampah dan bekas muntahan dari para pengunjung.

Kecenderungan ‘pesta liar’ itu dapat terjadi karena kondisi spasial kampus ini yang dapat dikatakan terisolir. Kondisi itu yang kemudian menjadi celah pendorong bagi para pelajar di kampus ini untuk melakukan praktik-praktik yang mungkin tidak dapat mereka praktikan di daerah asalnya maupun di lokasi yang jaraknya masih berpuluh kilometer lagi untuk mencapainya), yakni kampus atau klab malam di pusat Kota Bandung. Berbeda dengan kampus-kampus di pusat Kota Bandung yang kadung padat dikelilingi kedai makan, kedai kopi, kawasan kost padat penduduk, higga hingar-bingar lalu lintas, sebaliknya kampus di kecamatan Jatinangor justru dikelilingi bumi perkemahan, perbukitan, dan kawasan kost yang juga didominasi pelajar. Kondisi lingkungan kampus pun dapat dikatakan dikelilingi perkebunan. Tentu, bukankah semakin sukar bagi warga untuk sekedar terganggu dengan ‘dentum dansa’ di kampus? Kondisi inilah yang mungkin menawarkan opsi untuk mendukung melakukan ‘praktik keliaran’ tersebut.

Enby –yang juga merupakan inisiator sekaligus penyelenggara Jatinangor DWP– menjelaskan bahwa alasan di balik perhelatan Jatinangor DWP ini menjadi edisi terakhir, selain mayoritas teman-teman tongkrongan seangkatannya telah menyelesaikan studinya. Sama halnya dengan pesta kampus berformat tongkrongan lainnya, tentu Jatinangor DWP ini diadakan sebatas kebutuhan tongkrongannya untuk berpesta. Maka tidak heran, apabila tidak ada praktik manajerial dan perencanaan yang jelas pada pesta tersebut. Pun, tidak ada semacam praktik regenerasi pada angkatan di bawahnya.

Jatinangor Dub Wise Project 2016 / Frank Simanjuntak
Poster Jatinangor Dub Wise Project 2016

Setelah berbincang-bincang, kami memilih untuk larut dalam dentuman musik yang dimainkan Anjing Dub, Marabunta dan DJ Syauta. Beberapa pengunjung juga merespon dengan merebut microphone yang dimilki DJ, bahkan ada juga yang nekat untuk bergabung dengan penampilDJ untuk sekedar bergaya memutar turntable, meskipun dengan kondisi tanpa media cakram padat. Mungkin untuk sekedar bergaya atau teralu mabuk dalam tegukan minol.

Tanpa terasa, waktu telah menunjukkan lewat tengah malam. Atas alasan durasi perizinan, Enby dan teman-teman tongkrongannya ─yang dapat dikatakan panitia─ kemudian memilih untuk untuk membatalkan pentas dangdutan yang notabenenya dikenal sebagai tradisi penutup Jatinangor DWP. Ada euforia yang berkurang memang, namun entah mengapa saya pribadi justru bersyukur dengan diakhirinya Jatinangor DWP edisi tahun ini secara antiklimaks. Mungkin sudah saatnya juga bagi mereka, para penongkrong dan penikmat pesta yang terbiasa dengan tradisi seperti ini untuk segera ‘menutup bab’ mereka di kecamatan yang dibilang kota bukan, namun desa juga bukan. Jenuh juga nampaknya dengan format dan penampil pesta ini selama bertahun-tahun. Mungkin ada kalanya di tahun-tahun berikutnya akan ada format pesta yang lebih segar, memiliki praktik dan siasat yang lebih kontekstual, semangat zaman yang berbeda, dan tentunya disesuaikan dengan kebutuhan.

 

warningmagz

The author warningmagz

1 Comment

Leave a Response