close

Jazz 7 Langit: Mencari Tuhan dalam Improvisasi

_MG_3520

Sebuah pencarian tentang Tuhan dilakukan di atas panggung. Melewati batas dan menembus semua kemungkinan, jazz dengan irama swing-nya yang mengudara menggandeng denting pentatonis gamelan yang membumi. Kolaborasi indah pun tersaji dibumbui pemaknaan filosofis yang sarat arti. Jazz 7 Langit, sebuah perjalanan religi bagi mereka yang sedang mencari sang sumber yang sejati.

Beben Jazz and Friends © Warningmagz
Beben Jazz and Friends © Warningmagz

Pertunjukkan musik, edukasi, dan pemaknaan filosofis yang dalam dihadirkan Jazz 7 Langit malam itu (03/10). Tidak hanya menampilkan nama Beben Jazz & Friends dan Inna Kamarie, nama besar Kiai Kanjeng juga dihadirkan oleh penyelenggara. Seolah ikut mengamini konsep jazz yang selalu berimprovisasi, iringan gamelan dari Kiai Kanjeng berhasil jadi pelengkap yang apik.

Mengusung tema “More Than Jazz that You Know”, Jazz 7 Langit sepertinya juga mengangkat unsur religius yang cukup tinggi. Setelah sebelumnya The Simple Life memainkan 2 lagu pembuka, sekitar pukul 8 malam gemuruh merdu set gamelan Kiai Kanjeng mengalun ala orchestra lama yang menggaung. Beben Jazz & Friends kemudian mengokupasi panggung untuk sesi pertama.

Iringan gamelan berganti jamming bass dan saxophone yang saling beradu. Nomor “Summer Time” menjadi pembuka. Lagu bernuansa broadway ini kemudian disambung dengan “Take the A Train” milik leluhur genre jazz, Duke Ellington. Membawakan 4 nomor di sesi pertama, Beben Jazz banyak bercerita mengenai sejarah dan anatomi musik jazz. Termasuk setlist lagu malam itu yang disusun berdasarkan era musiknya di garis sejarah musik dunia. Iringan lagu “Fly Me to The Moon” mengakhiri sesi pertama Beben Jazz & Friends.

Sementara screen besar dipanggung menampilkan kalimat-kalimat filosofis tentang pemaknaan “jazz” yang tidak dangkal, Beben Jazz juga mengatakan bahwa Jazz adalah salah satu cara dia mencari Tuhan. Jazz yang mengutamakan improvisasi dan melewati batas permainan musik telah menjadi panutannya dalam mencari Tuhan, prinsip hidup dan berdakwah. Salah satu kalimat yang tertera adalah “Jazz mencari ada dalam tiada, menemukan tiada dalam ada”

Mood penonton kemudian naik saat Inna Kamarie dan Kiai Kanjeng mendapat giliran menguasai perhatian penonton. Nomor pertama adalah lagu ciptaan Cak Nun (panggian akrab Emha Ainun Najib) yang berjudul “Menungso”. Lirik berbahasa inggris dinyanyikan Inna Kamarie kemudian disambung potongan puisi berbahasa jawa. Megah dan magis sekalgus.

“Lukamu Lukaku” kemudian mengalun. Inna dibantu salah satu vokal Kiai Kanjeng membawa penonton pada irama jazz yang lincah. Salah satu momen apik adalah saat nomor ballad klasik “Over the Rainbow” dinyanyikan dengan unsur gamelan yang dominan. Lagu klasik yang biasa bernada swing ini terdengar lebih membumi dan merdu. Inna Kamarie yang terus mengajak penonton berinteraksi ini kemudian menyambung pertunjukkan dengan lagu tradisional “Gundul-gundul Pacul”. Giliran lagu yang biasanya terdengar sederhana ini berubah rasa jadi mewah. Imam, salah satu vokal Kiai Kanjeng yang bertugas mengiringi Inna Kamarie berimprovisasi dengan nada-nada jenaka yang menambah seru jamming malam itu.

Gaung Kiai Kanjeng belum selesai dicerna penonton saat suami Inna Kamarie dan teman-temannya mengambil kembali kendali panggung. 3 nomor dinyanyikan di sesi kedua mereka ini. saat nomor dari era west coast jazz “Take Five” dimainkan, penonton disuguhi atraksi Nair, drummer Beben Jazz & Friends yang berimprovisasi panjang dan bahkan memainkan hampir semua alat musik dipanggung dengan stick drum-nya. Kemudian “Just the Two of Us” dan lagu milik The Beatles “Come Together” dimainkan dengan irama jazz yang kental.

Seolah diajak merasuki banyak genre dengan iringan jazz dan gamelan, Kiai Kanjeng memulai lagi sesinya dengan 4 nomor yang paling banyak rasa. Diawali dengan jamming seru gamelan, Inna Kamarie muncul mengejutkan dari bagian belakang venue. Lagu “Nothing Compares To You” kemudian menyuara. Iringan gamelan yang jazzy mengalir sangat indah. Diakhir lagu, Inna Kamarie tampak mengusap air mata. Sebuah penampilan yang total dan sangat apik. Melihat unsur religius dan pencarian Tuhan yang diangkat, sepertinya akan terlalu dangkal untuk mengartikan “you” di judul lagu ini sebagai kekasih yang mewujud manusia saja.

Dua nomor selanjutnya adalah bukti bahwa Jazz 7 Langit benar-benar melewati batas genre musik. “Sad But True”, lagu metal milik band legendaris Metallica disulap menjadi sangat jazzy dan etnik. Dentuman drum diganti irama pelog dan slendro gamelan. Lengkingan gitar berganti tiupan syahdu seruling dari Kiai Kanjeng. Sungguh Metallica telah berganti rasa. Lagu dari Benyamin Sueb, “Hujan Gerimis” kemudian dimainkan dengan improvisasi jenaka oleh seluruh personil. Swing jazz berganti jadi sangat enerjik dan ceria.

Inna Kamarie yang tampak sangat menikmati kekuasaanya sebagai satu-satunya wanita di panggung kemudian memanggil seluruh penampil. Panggung yang sebelumnya sudah penuh alat musik menjadi semakin ramai. Pukul 11 malam, lagu terakhir “Wrong Thing to Said” seolah menjadi hanya menjadi wadah, jamming panjang dimainkan oleh seluruh personil yang bergantian mengadu skill. Bahkan irama lagu dangdut “Bujangan” milik Rhoma Irama sempat menyisip di tengah lagu. Kolaborasi puncak dari Beben Jazz & Friends, Inna Kamarie dan Kiai Kanjeng ini mengakhiri konser Jazz 7 Langit malam itu disambut standing Ovation dari penonton.

Berhasil membawakan banyak genre musik dalam balutan jazz dan etnisnya gamelan, juga bait-bait spontan yang diciptakan Inna Kamarie, Jazz 7 Langit seolah mengukuhkan anggapan bahwa jazz memang tentang improvisasi. Namun sayang, unsur religius yang diawal acara sangat digemborkan kemudian semakin tidak terasa menuju akhir. Perjalanan mencari Tuhan melalui Jazz 7 Langit sepertinya masih harus berlanjut sampai ke tujuannya yang entah dimana. Walaupun belum “menemukan”, banyak filosofi-filosofi baru yang dibawa pulang penonton.  

“Bagus, nggak nyangka lagu metal, tradisional, betawi, bahkan dangdut bisa jadi jazzy gitu..” ujar Dian salah satu penonton yang sumringah saat menuju pintu keluar. [Warn!ng / Titah Asmaning]

Gigs Documentation here ! – Jazz 7 Langit

Event by : KFK management

Date : 3 Oktober 2013

Venue : Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta

Man of The Match : penampilan atraktif Inna Kamarie dan improvisasi apik Kiai Kanjeng

 Warn!ng Level : •••

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response