close

Jazz Gunung 2017: Perayaan Kemerdekaan Penuh Improvisasi

IMG_5342

Review overview

WARN!NG Level 7

Summary

7 Score

Diadakan sehari setelah peringatan kemerdekaan Indonesia, Jazz Gunung 2017 seolah menjadi upacara riang gembira. Mengusung tema ‘Merdekanya jazz, Meneguhkan Indonesia’, acara ini mewujudkan slogan bhineka tunggal ika dalam musik dan konsepnya.

Sinar matahari sore menyorot kalem di balik gumpalan kabut di kawasan Bromo. Angin menghembus pelan di amfiteater Jiwa Jawa Resort Bromo, sebuah panggung berdekorasi bambu menjorok membelakangi lembah yang membentang hijau nan megah. Di hadapannya, puluhan orang mulai memenuhi tribun. Alih-alih mengenakan gaun atau pakaian rapi sebagaimana normalnya konser-konser jazz di perkotaan, jamaah Al-Jazziyah ini berlomba membungkus tubuh dalam jaket dan sweater tebal karena memang acara yang diadakan di ketinggian 2000mpdl ini langganan menjamu penontonnya dengan suhu antara 6-12 derajat celcius.

Tahun ini, Jazz Gunung 2017 diadakan selama dua hari yaitu pada 18-19 Agustus 2017. Beruntung, meski kental dengan semangat kemerdekaan acara ini tak lalu disusupi glorifikasi nasionalisme banal lewat kontennya. Berbagai musisi jazz beragam aliran bergantian mewujudkan prinsip kebebasan berimprovisasi dalam memainkan musiknya. Baik itu menggubah lagu-lagu dari genre lain, memasukkan unsur dangdut, keroncong, rock, swing, bahkan etnik. Mencapai tahun ke-9 gelarannya, formula meleburkan alam, manusia, dan musik jazz ini bisa dibilang sudah mencapai titik paripurna. Jika tak skeptis mengenai kebaruan dalam sebuah acara, maka tak perlu heran jika tahun inipun Jazz Gunung 2017 berjalan meriah sebagaimana mestinya.

surabaya all star | warningmagz

Hari pertama Jazz Gunung 2017 dibuka oleh kawanan pemusik Jazz Surabaya All Star yang menggubah berbagai lagu dalam balutan jazz seperti “Alamat Palsu” milik Ayu Ting Ting dan “Its My Life”-nya Bon Jovi yang mengundang sing along dini dari penonton. Lepas itu, Paul McCandless & Charged Particles mengisi panggung dengan alunan jazz klasik instrumental. Solois perempuan yang tengah naik daun, Monita Tahalea menyambung line up saat langit Bromo sudah sepenuhnya gelap. Mengenakan jaket berwarna merah, ia mendendangkan beberapa lagu hitsnya seperti “Hai”, dan “Bisu” dengan iringan gitar dari sang produser Gerald Situmorang. Permainan dedengkot gitar Indonesia, Dewa Budjana yang membawa grupnya. Ia memainkan beberapa komposisi instrumental dari album solonya Zentuary.

Sementara suhu semakin turun, hari pertama Jazz Gunung 2017 ditutup dengan hangat oleh Maliq D’essentials yang tampil tanpa cela. Grup jazz/soul/funk asal Jakarta ini membuka setlist dengan “Dia”. Penampilan mereka hampir tak diberi jeda karena satu lagu langsung disambung oleh lagu lain. Sususan setlist yang ampuh menaikkan mood penonton, disertai dengan personil yang menyuguhkan koreografi ringan yang asik. Aksi memukau disuguhkan Widi Puradiredja saat ia menyanyikan “Funk Flow” dengan gaya rap yang fasih. Band yang terbentuk sejak 2005 ini memungkasi hari pertama dengan tembang “Pilihanku” yang jadi salah satu lagu legenda mereka.

Indra Lesmana | foto oleh: Charisma Rahmat
Sri Hanuraga trio ft Dira Sugandi | foto oleh: Charisma Rahmat

Antusiasme jamaah Al-Jazziyah makin tinggi di hari kedua. Kursi penonton yang dibagi dalam tiga kelas terlihat lebih cepat penuh dari hari sebelumnya. Sono Seni Ensemble tampil mengawali line up hari terakhir Jazz Gunung 2017. Menggandeng John Jacob seorang peniup terompet dari Inggris, grub ini menampilkan eksplorasi musik jazz yang dipadukan dengan rancaknya musik keroncong dan menyebut rumus mereka dengan ‘Kronc-Wrong’. Panggung kemudian diokupasi oleh penampilan prima dari Sri Hanuraga Trio yang menggandeng Dira Sugandi sebagai vokalis. Sesi ini jadi salah satu yang paling kental dengan nuansa kemerdekaan karena mereka menampilkan gubahan lagu-lagu daerah Indonesia dalam balutan jazz, seperti “Bungong Jeumpa”, “Kicir-Kicir”, “Bengawan Solo”, dan “Rayuan Pulau Kelapa”. Lagu-lagu ini telah dirilis oleh Sri Hanuraga Trio dan Dira Sugandi dalam album Indonesia Vol. 1.

Mood penonton terlihat sedikit turun saat Indra Lesma Keytar Trio menggeber komposisi jazz-swing mereka. Indra Lesmana yang tak banyak menyapa penonton agaknya kurang mendapat perhatian maksimal dari penonton. Namun kemeriahan kembali naik saat grub intern penyelenggara Jazz Gunung tampil, Ring of Fire. Kelompok jazz-etnik yang tiap tahun meramaikan gelaran ini kali ini memilih Soimah dan sesepuh pianis Indonesia, Idang Rasjidi sebagai kolaborator. Soimah, solois  multitalent asal kota Yogyakarta ini tampil maksimal dan sepenuhnya mengambil hati jamaah Jazz Gunung 2017. Banyolan-banyolan mengocok perut diimbangi dengan keseriusannya saat mendendangkan lagu. Dan sesi duetnya bersama Alit-alit Jabang Bayi menyanyikan tembang “Sri Minggat” milik Didi Kempot. Duet yang menyusupkan dramaturgi pertengkaran sepasang suami-istri ditambah kelakuan dua penyanyi tersebut pantas dikenang sebagai penampilan paling jos sepanjang Jazz Gunung 2017 ini. Tak boleh dilupakan juga bahwa duet MC Alit-Alit Jabang Bayi dan Ghundi menjadi salah satu atraksi yang justru paling ditunggu sepanjang gelaran ini.

Jazz Gunung 2017 kemudian dipungkasi dengan apik oleh Glenn Fredly. Sempat mengkover “Yang Terlupakan” milik Iwan Fals, Glenn berhasil mengajak penonton untuk berdiri dan melawan suhu dingin yang pada malam kedua ini mencapai 9 derajat celcius dengan sing along dan goyangan meriah. Ia juga sempat mengajak Idang Rasjidi duet di nomor “Dilema”. Alih-alih menampilkan vokal mendayu, malam itu Glenn memilih lagu-lagu bernada mayor yang ceria. “Hikayat Cinta” yang rancak dengan nuansa dangdut menjadi puncak penampilannya menutup Jazz Gunung 2017 dan disambut tepuk tangan meriah oleh penonton.

Konsistensi Jazz Gunung dalam mengemas acara ini jadi salah satu gelaran jazz terdepan di Indonesia memang harus diacungi jempol. Hampir tak ada cela sepanjang dua hari pelaksanaannya. Namun perlu diwaspadai bahwa konsistensi bisa melahirkan kejenuhan karena tak ada lagi unsur kejut yang dinantikan. Kejenuhan akan konsep acara Jazz Gunung yang sudah terlalu paripurna ini justru bisa menjadikan Jazz Gunung bukan sebagai atraksi utama dalam perjalanan para penontonnya ke gunung Bromo. Ketika lanskap alam dan tempat-tempat di sekitarnya sudah begitu luar biasa, menyandingkan sajian jazz harus selalu digodok dengan ide-ide segar kembali.

Ring of Fire ft Soimah dan Alit | foto oleh: Charisma Rahmat

Jazz Gunung Award yang tahun ini diberikan kepada Jack Lesmana jadi usaha inovasi yang bagus. Namun penampilan beberapa artis yang sudah berulang kali tampil seperti Glenn Fredly dan Monita Tahalea nampaknya harus sudah dicukupkan. Kelenturan improvisasi dalam musik jazz harusnya justru memudahkan panitia untuk mengkurasi musisi dalam jangkauan musik yang lebih luas lagi.

Beruntung untuk tahun depan, Jazz Gunung 2018 akan berbenah. Dalam konferensi pers yang diadakan pada hari pertama, Sigit Pramono membocorkan agenda tahun depan. Bahwa Jazz Gunung 2018 yang bebarengan dengan peringatan satu dekade Jazz Gunung akan diadakan selama tiga hari. Dengan jangka waktu penampilan yang ditambah, semoga jangkauan line up dan side event Jazz Gunung juga akan makin bervariasi. Sampai jumpa di Jazz Gunung 2018 jamaah Al-Jazziyah! [WARN!NG/Titah AW]

Glenn Fredly | foto oleh: Charisma Rahmat

Venue: Jiwa Jawa Resort Bromo

Date: 18-19 Agustus 2017

Man of The Match: Duet Soimah & Alit-Alit Jabang Bayi bersama Ring of Fire dalam lagu “Sri Minggat”, penampilan prima dari Maliq D’essentials dan Glenn Fredly

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response