close

John Tobing Bukan Hanya Darah Juang

john bw

 

“Disini negeri kami, Tempat padi terhampar,Samudranya kaya raya,Tanah kami subur Tuhan”  tak ubahnya seperti yang sering terdengar saat mimbar jalanan, lagu “Darah Juang” juga bergema keras di gedung societeit, diiringi langsung oleh sang pencipta lagu, John Tobing

John Tobing © Warningmagz
John Tobing © Warningmagz

Sebuah konser unik bertajuk Konser Darah Juang, menampilkan pencipta lagu yang menjadi anthem gerakan mahasiswa, John Tobing. Konser yang digelar Sabtu (17/01) malam itu, juga menampilkan Fajar Merah, musisi yang merupakan putra aktivis korban penghilangan paksa, Wiji Thukul.

Fajar Merah membuka konser  dengan membawakan 5 lagu, seperti “Kampung Banjir” dan musikalisasi puisi Wiji Thukul “Bunga dan Tembok”. Puteri pertama Thukul juga hadir malam itu, dan ikut membacakan puisi “Dalam Keabadian Kebenaran Membatu” setelah sebelumnya Fajar melagukan “Derita Sudah Naik Seleher”. Tepuk tangan meriah mengakhiri perform mereka.

John Tobing bersama Accoustic Liar mengokupasi panggung sekitar pukul 20:30. Dengan sedikit sapaan kepada penonton, termasuk kepada walikota yang hadir, John Tobing langsung memulai lagu pertama. “Doa” menjadi pembuka konser itu. “Negara ini pun gila-gilaan, Rakyatnya sendiri diancam, Tak boleh bicara atau protes, Aceh, Priok, Dilli, Irian, Enam Lima Semua ditembaki!” Sebuah lagu yang langsung menaikan tensi konser.

Setlist dibagi menjadi beberapa sesi dengan jeda istirahat, mayoritas lagu terdapat di album Romantika Revolusi yang juga dijual di venue. Setlist di sesi pertama, terfokus pada lagu-lagu John di era 90an. Setelah “Doa” ada “Api Kesaksian” dan “Musim Senja”. Tensi yang sedikit turun, semakin turun ketika sebuah lagu cinta bertajuk “Hey” dilantunkan. Yang kemudian naik lagi lewat nomor “Marsinah”.

Semakin emosianal ketika “Fajar Merah, Esok Milikmu” dimainkan. John juga tak lupa berorasi, ia juga menyinggung soal pertanahan “Hiduplah tanah ku, hiduplah negeriku, tapi mana tanahnya?” tak hanya John, mc acara juga melempar beberapa pernyataan menarik terkait pemilu, sebuah himbauan untuk tidak memilih beberapa calon yang sudah terbukti sebagai penjahat kemanusiaan.

Harus diakui penonton memang terlihat kurang akrab dengan lagu-lagu John. Nyaris tak ada singalong terjadi selama konser, namun begitu, applause dan rasa takjub tercermin di wajah penonton. Membuktikan bahwa John memiliki lagu-lagu bagus, bukan hanya “Darah Juang”.

John Tobing © Warningmagz
John Tobing © Warningmagz

Setelah istirahat sejenak, lulusan Filsafat UGM ini membawakan lagu “Istirahat” dengan tempo yang mirip seperti nomor “Hey”. Sebelum memasuki puncak, John memberikan foreplay lewat nomor “Selamat Pagi”. “Soeharto Asu!” teriak John dengan aura ‘menolak tua’, yang kemudian direspon oleh penonton dengan “Sby asu!”. Sebuah foreplay yang sempurna.

Saat yang dinanti-nanti pun tiba, lagu “Darah Juang” siap dinyanyikan. Sebelum bernyanyi, John meminta penonton untuk diam mendengarkan lagu ini, dan memberi kesempatan untuk bernyanyi bersama saat lagu ini dinyanyikan untuk kedua kalinya. Memang lagu “Darah Juang” milik john jarang terdengar, justru band seperti Marjinal lah yang lebih mempopulerkan lagu ini untuk anak muda generasi sekarang.Lagu “Darah Juang” diulang hingga tiga kali, dan saat itu juga gedung societeit bergetar dan tak berlebihan koor masal ini sukses membuat bulu kuduk merinding akibat aura magis lagu Darah Juang.  [WARN!NG/Tomi Wibisono]

 

John Tobing © Warningmagz
John Tobing © Warningmagz

 

Event by: Social Movement Institute

Date: 17 Januari

Venue: Gedung Societeit, TBY

WARN!NG level:•••1/2

Man of The Match: Koor masal Darah Juang di dalam gedung yang tak ubahnya sebuah nyanyian revolusi di jalanan.

 

 

 

 

Tags : fajar merahJohn Tobing
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.