close

Jollyrogers dan Teori Perpisahan Sementara

Processed with VSCOcam with f2 preset
 © Warningmagz
© Warningmagz

Mengganti sebuah nama untuk pijakan masa depan, tentu sah-sah saja dilakukan. Terlebih dengan harapan dapat memacu agar berkarya tanpa henti. Hal ini juga yang menjadi dasar Jollyrogers—unit neo/rock psikadelia asal Solo—mengadakan seremonial perpisahan terhadap masa lalu dan kemudian menyambut spirit baru dalam wujud Teori.

Mengusung judul “Welcoming The Numinous Show”, Jollyrogers mengajak turut serta rekan-rekannya di kancah independen Kota Solo untuk berpesta bersama merayakan sebuah penjamuan. Sebut saja In Made, Jungkat Jungkit, Soloensis, Jhonny Holiday sampai The Mudub menjadi penampil pengisi acara yang ditunggu aksi liarnya di atas panggung.

 © Warningmagz
© Warningmagz
 © Warningmagz
© Warningmagz

Jam menunjukkan pukul 20.00, terlambat satu jam dari rencana awal, bersiap kolektif grunge-rock bernama In Made. Membawakan empat buah lagu yang semua merepresentasikan Foo Fighters, In Made menjejalkan area dengan distorsi kasar dan hentakan drum bertenaga.

Tak perlu lama menunggu, The Mudub yang malam itu tampil dengan warna psikadelik membuat penonton yang sedari awal masih malu-malu berbagi keriaan, melepas semua ragu untuk tertawa penuh gaya. Lagu-lagu jenaka laiknya Orkes PMR mereka nyanyikan dengan tambahan lelucon yang mengocok gembira. “Menuntut Ilmu” yang berkisah soal pendidikan kawula muda; “Bakso Bakar Bang Brewok” dikemas intuitif berdasar realita jajanan masa kini; “12 Bintang” bercerita akan zodiak percintaan dan ditutup salam “Tempis” yang terdengar bergairah meski sekelebatan saja.

Duo Jungkat Jungkit kembali meneruskan kemeriahan venue selepas aksi mempesona The Mudub. Menggoyangkan kepala dengan irama blues yang sedikit dibalut ritme pop, Adis dan Said mencoba berinteraksi hangat dengan audiens lewat tutur kata romansa di setiap lagunya. Dari single “Kuku” sampai “My Blind” mereka sajikan secara rapi dibalik melodius yang menghanyutkan.

Kerumunan semakin terbentuk saat Soloensis berdiri mempersiapkan peralatan panggungnya. Samar-samar terdengar bebunyian noise dari gitar Gibson Les Paul sebelum menghentak adrenalin dari rock yang bergema. Sedikit ba-bi-bu langsung bekerja, teriakan “Lelaki Sejati” memanaskan crowd yang sepertinya gatal untuk segera ber-moshpit ria. Datang tanpa formasi lengkap bukan berarti Soloensis tampil sekenanya. Mereka terus menggeber perkakasnya sampai batas ujung penampilan. Dan “Sederhana Saja” mengakhiri ledak dinamit Soloensis yang mampu memecah kesantunan dalam kediaman.

Malam semakin larut, ramai semakin tak susut. Teriak persilahkan untuk anarki tapi tetap jaga ketertiban jadi penanda aksi Jhonny Holiday penuh akan kekacauan masif berupa moshing tak beraturan. Band punk ini memekakan telinga dengan racun agresifnya secara simultan. “Bangkitlah Kawan” mempertegas aksi liar yang disuguhkan trio Jhonny Holiday. Irama cepat, ketukan rapat dan lirik menantang menemani malam para jejaka yang sepertinya sudah dibumbui sedikit tenggakan alkohol. Meski tercipta suasana tak terkendali di tengah performa Jhonny Holiday namun para penonton ini tetap menjaga keamanan dan perdamaian. Sebuah pemandangan apresiatif tatkala hal itu terjadi dibalik agresi punk yang menjejal konsisten.

 © Warningmagz
© Warningmagz

Yang ditunggu akhirnya mencapai pertemuan. “Welcoming Numinous Show” menapaki perjalanan akhir Jollyrogers sebelum berganti nama Teori. Altar panggung seolah menyambut penuh harap akan sebuah penutup yang mempesona. Gemerlap lampu berwarna psikadelik, semerbit angin yang bertiup dan asap rokok yang mengawang ke permukaan jadi perpaduan sempurna untuk menikmati sekaligus mengilhami ramuan khas Jollyroger. Ibarat sebuah pemandangan, permainan mereka menggambarkan lanskap euforia tak terbatas. Deru-deru progresif yang bercampur pada konjugasi psikadelik, membentuk balada-balada yang membuai ke angkasa. “Lovely Bones” yang syahdu sampai “Romance Radiance” yang memancarkan kemegahan abadi menandakan jiwa-jiwa pribadi terbekati alunan keelokan. Maka terbekatilah kuartet jenius ini untuk semesta kehidupan.

Pesta telah usai. Jollyroger sudah berpamitan dengan semestinya; sebuah gigs kecil bersahabat dan huru-hara di dalamnya. Tak perlu disesali karena mereka hanya berganti nama. Untuk esensi di wadahnya, semoga tak jauh berbeda. Namun satu hal yang sangat disayangkan ketika perlengkapan sound system tidak mendukung dengan maksimal gerak-gerik musisi tamu juga Jollyrogers. Konstelasi bebunyian beragam yang seharusnya terdengar begitu indah justru tenggelam ke arah kurungan keterbatasan. Tapi, keriaan tetaplah keriaan. Tak peduli dengan kekurangan yang terpampang, “Welcoming Numinous Show” tetap memberikan kesan mendalam. Bukan sendu kesedihan, melainkan pembaharuan yang terencanakan. Selamat datang ke haribaan, Teori! [WARN!NG/Muhammad Faisal]

Date                           : Jumat, 27 Maret 2015

Event by                    : Logan Holly and Like A Said

Venue                        : Pelataran Gedung Karawitan ISI Surakarta

Man of The Match  : Kemeriahan punk Jhonny Holiday dan obat hanyut psikadelia Jollyrogers saat memainkan “Lovely Bones”

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response