close

Jono Terbakar Rilis Album Perdana, ‘Dunyakhirat’

65744
jono terbakar © ajeng martian
jono terbakar © ajeng martian

Sempat ambil bagian dalam barisan musisi nasional yang berbondong-bondong meninggalkan aktivitas bermusik dengan motif pertobatan religius, Jono Terbakar kembali muncul di muka publik beberapa waktu belakangan. Bahkan, mereka baru saja meresmikan album perdananya pada Sabtu (17/10) kemarin di Latar Njero, Yogyakarta.

Album bertajuk Dunyakhirat tersebut didukung aksi galang dana (crowdfunding) yang sukses mengumpulkan lebih dari 15 juta rupiah guna menutup kebutuhan biaya produksi—di luar proses rekaman. Selain sederet lagu garapan pra-vakum, disertakan juga tiga nomor keluaran pasca-vakum yang bernuansa spiritual, yakni “Ketahuilah“, “Jalan-jalan Kehidupan”, dan “Setelah Susah Ada Mudah”.

Jono Terbakar merupakan proyek musik yang digawangi oleh Nihan A. Lanisy alias Jono, dan Muhammad Nur Hidayat. Ditemui seusai konser rilis Dunyakhirat yang didominasi sentuhan humor, Jono mengaku memilih menyebut sajian karya Jono Terbakar sebagai akustik abstrak.

Musisi berambut acak dengan tentengan instrumen guitalele itu menukaskan, “Motivasiku awalnya hanya pengen laguku terekam. Nek manggung sesimpel mungkin. Enggak usah latihan, bawa alat sederhana, dan bisa main di mana saja. Akustik musiknya, kelakuannya abstrak”.

Tentang pilihannya menanggalkan kepercayaan bahwasanya musik adalah haram bagi agama islam—yang sempat gencar beredar di kalangan musisi Tanah Air—ia mengungkapkan, “Aku menemukan jawabannya pada akhirnya bukan musiknya (yang dilarang – Red). Cuma liriknya atau lingkungannya yang membuat ada ulama yang menfatwakan kalau di musik itu nggak boleh. Akhirnya aku coba jalani lagi.”

Industri musik nasional tahun ini memang digegerkan oleh fenomena pengharaman musik yang berujung pada keputusan sejumlah musisi populer memutuskan pensiun dini, mulai dari Adhi dan Udhi Pure Saturday hingga Reza Noah.

Menyebut dirinya sebagai akhirat-sentris, Jono pun sempat mengutarakan alasannya memutuskan gantung gitar dalam artikel utama majalah WARN!NG edisi enam pada bulan Maret silam. “Di satu titik saya memutuskan untuk berhenti dengan alasan terbesarnya adalah bermain dan mendengarkan musik membuat saya lupa untuk mengingat Allah SWT, juga lingkungan bermusik tidak kondusif untuk perubahan saya,” tuturnya kala itu.

Jono kini kembali menekuni dunia musik. Namun, ia mengaku hendak lebih kalem dalam berkarya. “Intinya enggak menyebabkan orang melakukan hal-hal negatif. Misal kayak lirik-lirik yang aku dengar di radio: “I wanna make love right now”. Aku agak kritis nek masalah lirik. Walaupun orang nyanyi yo ora ngerti tapi kadang ki iso di bawah alam sadarnya dia melakukan sesuatu.”

Ditegaskan juga bahwa Jono Terbakar sebagai sebuah proyek musik bukanlah visi utamanya, melainkan sebuah entitas dari semacam komunitas yang ingin dibangun guna menyebarkan pesan-pesan positif. Ia juga telah mewacanakan proyek-proyek selanjutnya, termasuk membukukan cerita album Dunyakhirat, menggelar gelar wicara ringan, dan mengaryakan produk-produk seni rupa. [WARN!NG/Soni Triantoro]

 

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.