close

Jungkat-Jungkit: Penawar Roman dari Kota Bengawan

IMG_1864111223–1
jungkat jungkit
jungkat jungkit

Menyalurkan hasrat kreatif dengan membentuk konsep duo menjadi hal lumrah di dunia musik dewasa ini. Sebut saja Endah N Rhesa, AriReda, Teman Sebangku atau Banda Neira adalah beberapa contoh nyata di antaranya. Menyatukan ide dari isi sepasang kepala dalam transkrip lirik serta notasi tidak semudah definisi yang diucapkan. Perlu adanya chemistry dan ikatan batin yang cukup koheren agar semua berjalan tanpa disharmonisasi.

Agustus tiga tahun lalu menjadi pertanda terbentuknya Jungkat-Jungkit; duo pop-blues dari Kota Bengawan yang namanya sedang melejit ke permukaan khalayak. Dipimpin oleh Said Abdullah dan Safina Nadisa mereka menawarkan kerenyahan musikalitas pop berlandaskan kesyahduan blues. Nama Jungkat-Jungkit sendiri berfilosofikan sebuah keseimbangan dalam proses berkarya; terinspirasi dari puisi karya Adimas Imanuel, kawan mereka sekaligus penyair muda yang terkenal lewat antologi puisi berjudul “Pelesir Mimpi”.

Sebelum dipertemukan di bawah panji Jungkat-Jungkit, baik Said maupun Safina disibukkan dengan proyek kreatif terdahulu; Said di Aeroblues dan Solo Blues Community sedangkan Safina dengan Fresh Tomatto maupun Samalona-nya. Menyoal inspirasi bermusik, Jungkat-Jungkit tidak menetapkan patokan resmi tentang siapa atau apa yang menjadi inspirasi. Namun nama The Beatles dan duet Norah Jones-Billy Joe Armstrong sering mereka dengarkan ketika mengulik ide pembuatan lagu. Sedangkan membahas tentang genre, Jungkat-Jungkit membebaskan publik berkata seperti apa. Entah folk, pop atau blues. Tapi diakui Said bahwa kesederhanaan blues menjadi dasar permainan musik Jungkat-Jungkit.

Berbicara soal Jungkat-Jungkit, juga berbicara soal prestasi mereka saat menjadi delegasi Indonesia dalam ajang Ethno Music Festival 2016 di India beberapa waktu silam. Awal mula cerita terjadi saat Safina sedang menjalani proyek seni di Bandung. Dalam sebuah kesempatan ia ditawari salah seorang teman untuk mendaftarkan diri sebagai peserta mewakili Indonesia di ajang tahunan tersebut. Tanpa berpikir panjang, Safina pun mengiyakan tawaran itu. Mereka mengaransemen ulang lagu “Tak Lelo Lelo Ledeng” dengan sentuhan folk gitar kopong yang sensual untuk syarat kualifikasi. Semesta mengijinkan dan mereka berhasil lolos dengan bendera Indonesia. Kemudian beragam usaha dilakukan: mencari sponsor, menghimpun fundraising, penjualan merchandise sampai pengajuan proposal ke kementrian terkait agar memuluskan keberangkatan mereka. Dalam kasus ini cukup disayangkan karena pemerintah tidak nampak mendukung prestasi mereka dengan dalih yang klise: sudah banyak membiayai pengiriman delegasi. Namun semangat tidak terpatahkan. Akhirnya mereka dapat terbang ke India berkat dukungan para pihak terutama pegiat kreatif dan teman-teman sepermainan. Banyak hal yang Jungkat-Jungkit dapatkan selama lawatan ke India; relasi, referensi, antusiasme, pengalaman dan tentu saja kebanggaan. Bagi Said dan Safina, aksi di India merepresentasikan kredo lama: seolah mimpi menjadi nyata.

jungkat jungkit
jungkat jungkit

Sampai sekarang sudah empat buah lagu mereka hasilkan. “What Words Cannot Explain” yang penuh rayuan, “Kuku” yang centil dan energik, “Jungkat-Jungkit” yang berbalut musikalisasi puisi, dan “Lengkung Pelangi” yang sarat pembiasan nurani. Di sisi lain proses pengerjaan album penuh sedang mereka lakukan. Harapannya tahun ini sudah mencapai tahap akhir, tidak ada kata tawar lagi. Tentang album baru kelak, Jungkat-Jungkit tak ingin meninggalkan pijakan romansa yang terkandung di setiap makna lagunya. Bagi mereka cinta adalah bahasa sederhana yang mampu menjangkau kaidah tata universal.[WARN!NG/Muhammad Faisal]

Find more about them on:

twitter

soundcloud

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response