close

Kaledioskop 2015

kaleidos
kaleidoskop 2015
kaleidoskop 2015

Berikut beberapa catatan peristiwa penting yang terjadi di sepanjang tahun 2015. Beberapa nama besar di jagat musik, film dan sastra pergi meninggalkan jejak berupa karya, tapi banyak juga pencapaian dan hal menarik baru yang patut digarisbawahi. Simak!

Januari

Gagasan Mendikbud Mengganti Buku Pelajaran Sekolah dengan Tablet

Awal tahun 2015, Mendikbud Anies Baswedan berencana menggunakan tablet sebagai alat bantu kegiatan belajar mengajar. Ia mengenalkan program ini dengan nama E-Sabak. Program ini mengadopsi dari media sabak yang dulu digunakan masyarakat untuk menghemat kertas. Menurut Anies, tujuan dari program ini adalah menghemat biaya. Selain itu, dengan adanya E-Sabak juga diharapkan kegiatan pendidikan terhindar dari masalah produksi kertas, distribusi, dan kerumitan logistik. Keunggulan lain dari penggunaan tablet menurutnya adalah dapat teraksesnya materi-materi yang lebih kaya daripada lewat buku paket.

Denny Sakrie Tutup Usia

danny sakrie
danny sakrie

Indonesia kehilangan salah seorang sosok pencatatat musik di awal tahun ini. Denny Sakrie yang lahir dengan nama Hamdhan Syukrie meninggal di usia ke 51. Serangan jantung menjadi penyebab meninggalnya pria yang aktif menulis di beberapa media besar hingga saat ajalnya tiba. Buku berjudul “100 Tahun Musik Indonesia” yang merupakan hasil ketekunan Denny mengamati dan mencatat musik indonesesia dirilis 2 pada Maret 2015 silam.

Dua Personil Pure Saturday Pensiun Bermusik

pure saturday
pure saturday

Setelah beberapa nama undur diri dari musik atas nama agama pada akhir 2014, rupanya fenomena ini tak berhenti sampai disitu. 25 Januari 2015 berita mengejutkan datang dari kembar Pure Saturday  Adhitya Adhi Nugraha (Adhi) dan Yudhistira Ardi Nugraha (Udhi) yang juga membuat keputusan serupa. Keputusan mendadak keduanya sontak mengagetkan sesama personil band dan juga publik. Keduanya mengaku tak memiliki masalah personal dengan band. Melalui keterangan Buddy sang manajer, Udhi Adhi memang sudah cukup lama mempelajari agama, namun baru intens sejak 2014. Lepas dari PS, keduanya lalu tergabung dalam gerakan The Stranggers yang juga berisikan mantan musisi. Isu ini sempat juga dibahas secara lebih mendalam di majalah WARN!NG edisi cetak; Religion Against Music? 

 

 

Februari

Koesalah Toer Mendapat Penghargaan dari Rusia

Jauh dari hingar-bingar pemberitaan media, tahun ini Koesalah Soebagyo Toer meraih dua penghargaan dari Rusia. Pertama, diberikan oleh People’s Friendship University of Rusia, yang diberikan pada 7 Februari 2015, bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-80. Terakhir, diberikan oleh Kedutaan Besar Rusia pada 20 Oktober 2015. Pak Koes yang juga adik kandung maestro sastra Pramoedya Ananta Toer, diberi penghargaan atas jasanya menerjemahkan karya-karya sastra Rusia ke dalam bahasa Indonesia. Beberapa buku yang pernah diterjemahkan beliau diantaranya karya-karya Nikolai Gogol, Leo Tolstoi, Anton Chekov, Mikhail Lermontov, Aleksandr Pushkin, dan Irvan Turgenyev.

Togar Sudah Pulang

alex komang
alex komang

Bulan Februari diwarnai kabar duka yang datang dari Alex Komang. Aktor kelahiran Jepara ini meninggal dunia di RS dr. Kariadi, Semarang, (13/2), akibat kanker hati. Ia meninggalkan seorang istri dan seorang anak. Banyak menimba ilmu dengan Teguh Karya di Teater Populer, Alex Komang mematenkan statusnya sebagai aktor berkelas lewat perannya sebagai Togar dalam “Secangkir Kopi Pahit”. Selain itu, pemilik nama asli Saifin Nuha ini juga pernah berperan dalam “Ibunda”, “Ca bau Kan”, dan “Laskar Pelangi”. Di akhir hidupnya, Alex Komang menjabat sebagai ketua badan Perfilman Indonesia.

Rinto Harahap Berpulang

rinto harahap
rinto harahap

Musisi sekaligus pencipta lagu Rinto Harahap berpulang di usianya yang ke 65 tahun. Pentolan grup The Mercy’s ini mengidap komplikasi penyakit yang membuatnya harus keluar masuk rumah sakit hingga saat terakhirnya. Banyak lagu yang Ia ciptakan berperan dalam megangkat nama-nama musisi tanah air. Di antaranya adalah; Broery Marantika “Aku Begini Kau Begitu”, Christine Panjaitan “Sudah Kubilang”, Hetty Koes Endang “Dingin”, Nani Sugianto “Matahari”, lalu bersama Mercy’s “Bunga Mawar”, “Adinda Sayang”, “Dendang Melayu”, “Untukmu”, “Dendang Sayang”, “Kisah Seorang Pramuria”.

 

 

Maret

Babak Baru Kriminalisasi Saut

saut situmorang
saut situmorang

Saut Situmorang akhirnya harus dijemput paksa oleh anggota Polres Jakarta Timur di kediamannya, Mantrijeron, Yogyakarta, Kamis, (26/3). Penjemputan merupakan buntut dari kasus pencemaran nama baik yang dilaporkan oleh Fatin Hamama. Kasus ini berawal dari terbitnya buku kontroversial “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” di tahun 2014. Buku ini menuai kritik dari kalangan sastrawan, salah satunya karena penobatan Denny JA yang lebih dikenal sebagai konsultan politik. Kasus ini memuncak saat Saut dianggap melontarkan kata-kata kasar terhadap Fatin Hamama di Facebook. Hingga saat ini, status Saut masih sebagai saksi dalam kasus tersebut.

Yanni Libels tutup usia

yani libels
yani libels

Rabu, 25 Maret 2015, Salah seorang personel Trio Libels atau yang lebih dikenal dengan nama Yanni Djunaedi meninggal dunia. Yani meraih masa puncak karier bersama Ronny Sianturi dan Edwin Manangsang yang tergabung dalam Trio Libels sejak akhir 1980-an hingga 1990-an. Bersama trio vokal tersebut banyak lagu hits yang pernah dibawakan, antara lain, GadiskuJerat-jerat Cinta dan Untukmu. Ia juga pernah menangani band bernama Parafien.

 

 

April

Cerita Buku Indonesia yang Mendunia di London

Untuk pertama kalinya, Indonesia berpartisipasi di acara London Book Fair. Pameran ini berlangsung ini berlangsung 14-16 April 2015, di Gedung Olympia, Kensington, London. Dengan mengusung tema “Making Words Go Further”, pameran ini menghadirkan 25.000 pelaku industri buku dari 124 negara. Dalam pameran ini Indonesia membawa 223 judul buku dari berbagai penerbit. Dua ratus judul diantaranya, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Beberapa penulis buku Indonesia turut meramaikan acara ini, diantaranya ada Eka Kurniawan, Agustinus Wibowo dan juga Desiree Sitompoel.

Mpok Nori Tutup Usia

mpok nori
mpok nori

Kalau ditanya siapa aktris Indonesia terbaik, tidak ada salahnya untuk menyebut nama-nama seperti Mieke Wijaya atau Christine Hakim. Tapi, keterlaluan kalau nama Nuri Sarinuri atau yang dikenal sebagai Mpok Nori sampai tidak disebut. Memulai karir dari serial “Pepesan Kosong”, Mpok Nori akan selalu diingat lewat gaya berperannya yang ringan dan menghibur khas lenong Betawi. Mpok Nori tutup usia di umur 84 tahun, (13/4), akibat kelainan paru-paru. Selama dua tahun belakangan, kondisi kesehatannya memang sudah menurun sehingga sering keluar masuk rumah sakit.

 

 

Mei

Jari-jari Pepeng Membujur Kaku

Ferrasta Soebardi atau Pepeng memulai karir sebagai pemenang Lomba Lawak Mahasiswa pada tahun 1978. Pepeng kemudian tergabung dalam berbagai grup lawak sebelum menjadi pengisi acara di Radio Prambors. Setelah itu, ia baru masuk ke dunia film lewat Rojali dan Juleha dan Anunya Kamu. Namun, di tahun 90-an Pepeng sempat menghilang dari dunia hiburan dan memilih bekerja di beberapa perusahaan besar. Ia kembali terkenal sebagai presenter telekuis “Jari-Jari” di televisi swasta. Pepeng dikenal sebagai pribadi yang gigih dan murah senyum. Ia meninggal pada (6/5) kemarin akibat sclerosis yang sudah lama menjangkiti tubuhnya.

Satu Lagi Pelawak Tutup Usia

didi petet
didi petet

Tak lama setelah Pepeng berpulang, Didi Petet menyusul. Aktor yang terkenal dengan perannya sebagai Emon di “Catatan si Boy” meninggal pada Jumat, (15/5), di sisi istrinya, Uce Sriasih. Berita duka ini cukup mengejutkan. Dua hari sebelumnya, Epy Kusnandar bertemu almarhum di lokasi syuting sinetron “Preman Pensiun 2” yang mereka bintangi. Kala itu pun, tidak ada yang terlihat janggal dari Didi Petet. Selain karirnya di dunia peran, aktor berdarah Sunda ini juga sempat mendirikan rumah produksinya sendiri dan aktif mengajar seni teater di Institut Kesenian Jakarta.

Next Kaleidoskop 2015

 

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response