close

Kaleidoskop 2015 (II)

kaleidos

Agustus

Elanto, Beraksi Menghadang Konvoi Moge

elanto
elanto

Kesewenang-wenangan rombongan motor gede (moge) yang kerap kali terjadi, khususnya di Jogja, telah mendorong seorang pemuda bernama Elanto Wijoyono (32) untuk turun ke jalan menghadang konvoi tersebut. Kasus ini terjadi tepatnya di Perempatan Condong Catur, Depok, Sleman pada 15 Agustus 2015 lalu. Dengan hanya membawa sepeda angin miliknya, Elanto mencoba menertibkan lalu lintas yang saat itu sangat semrawut.

Di dalam rekaman video yang direkam bersama kawannya dan telah diunggah di kanal YouTube, Elanto terlihat gusar dengan apa yang terjadi. Berkali-kali mencoba mempertanyakannya kepada petugas polisi yang bertugas di lokasi, namun petugas tersebut malah terus sibuk memberi jalan kepada rombongan moge yang menerobos lampu merah. Merasa dihiraukan, menyulut Elanto untuk tidak ragu turun tangan menertibkan dengan caranya sendiri. Aksi berani tersebut, menyita perhatian dan apresiasi dari banyak pihak bahwa siapa pun setara di mata hukum.

 

September

Salim Kancil Dibunuh Karena Tambang

salim kancil
salim kancil

Konflik antar warga sipil yang dipicu oleh aksi penolakan aktivitas tambang pasir galian berbuntut panjang. Samsul alias Salim Kancil (46) warga Desa Selok Awar-Awar, Lumajang, Jawa Timur menjadi korban kekerasan dan penganiayaan oleh sekolompok orang secara brutal. Penolakan aktivitas penambangan pasir oleh masyarakat telah dimulai sekitar Januari 2015, diinisiasi oleh 12 orang yang tergabung Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa Selok Awar-Awar (FKMPDSA).

Forum ini telah melakukan berbagai gerakan advokasi protes mulai dari menyurati Bupati Lumajang hingga melaporkan tindak pidana pengancaman ke polres Lumajang, akan tetapi reaksi yang diterima oleh forum ini selalu nihil. Puncaknya adalah ketika pada tanggal 26 September 2015, terjadi penjemputan paksa terhadap dua orang anggota forum yaitu Tosan (51) dan Salim Kancil. Tosan berhasil selamat meski telah dipukuli hingga dilindas oleh kendaraan bermotor, namun naas bagi Salim Kancil. Sang pembela kebenaraan tersebut harus meregang nyawa setelah dianiaya, disentrum, diclurit dan dihantam batu oleh sekelompok preman yang diutus oleh Harioyono, yang tak lain adalah Kepala Desa Selok Awar-Awar.

Konser Svara Bumi, Bali Tolak Reklamasi

svara bumi
svara bumi

Reklamasi Telok Benoa terus menuai pro kontra sepanjang tahun ini. Penolakan terhadap reklamasi terus digencarkan, salah satunya melalui konser musik. Konser bertajuk ‘Konser Svara Bumi’ itu yang dihelat For BALI (Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi) di Rolling Stone Cafe, Ampera, Jakarta Selatan, pada Selasa (30/9/2014) menjadi salah satu yang terbesar di tahun ini. Musisi-musisi yang tampil antara lain Nostress, Navicula, Kill the DJ, Cinta Ramlan feat Djenar Maesa Ayu, Melanie Subono, Seringai, Iwan Fals, Olga Lidya sampai Superman Is Dead.

Bon Jovi Okupasi GBK

bon jovi
bon jovi

Untuk kedua kalinya setelah 20 tahun, Bon Jovi kembali mengokupasi Gelora Bung Karno, Senayan. 11 September 2011, lautan massa memadati GBK untuk menonton aksi unit rock asal New Jersey ini. Antusiasme konser di taraf internasional di tahun ini memang sangat tinggi. Tak peduli nilai rupiah sempat terseok-seok selama hampir setahun penuh. Terbukti dengan ludesnya tiket konser-konser yang mendatangkan musisi asing, meski dengan harga yang tak murah. termasuk untuk konser kali ini.

 

 

Oktober

Indonesia Menjadi Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Festival

Tahun 2015 ini, dunia literatur Indonesia boleh berbangga. Setelah berpartisipasi di London Book Fair, Indonesia kembali mendunia dengan menjadi tamu kehormatan di Frankfurt Book Festival. Bisa dikatakan pameran buku frankfurt ini merupakan pameran buku internasional terbesar. Pameran ini berlangsung 13-18 Oktober 2015 dan dihadiri oleh perwakilan dari 120 negara. Dalam acara ini Indonesia turut memboyong beberapa penulis. Seperti, Goenawan Moehamad, Nh. Dini, Ahmad Tohari dan Taufiq Ismail. Pada acara ini para penulis tidak hanya sekedar sebagai tamu dan memamerkan karya saja. Beberapa diantara mereka turut menjadi pembicara dalam diskusi di paviliun Indonesia dalam acara tersebut.

Pembatalan Agenda di UWRF

Ada kekecewaan yang sangat besar dalam acara Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) 2015. Bagaimana tidak, panitia penyelenggara dengan terpaksa harus membatalkan beberapa agenda dalam acara tersebut. Beberapa agenda yang dibatalkan di antaranya; diskusi panel bertemakan “Bearing Witness”, “1965, Writing On”, dan “1965, Bali”. Pihak kepolisian menekan panitia agar tidak mengadakan agenda-agenda yang berbau komunisme, PKI, atau semacamnya. Selain itu, diskusi mengenai tolak reklamasi Teluk Benoa yang akan diisi oleh ForBali, juga turut dibatalkan. Tentunya, hal tersebut mengecewakan tuan rumah, khususnya masyarakat Bali. Walaupun demikian acara tetap berlangsung, dari tanggal 28 Oktober hingga 1 November 2015.

 

November

International People’s Tribunal (IPT) 1965

IPT
IPT

Momen yang ditunggu untuk mengungkapkan secara gamblang di hadapan publik internasional akan bayang-bayang kelam masa lalu telah menemui titik terangnya. Berdasarkan yurisdiksi piagam IPT 1965, kejahatan genosida yang pernah terjadi di Indonesia tersebut telah berhasil dipersidangkan di International People’s Tribunal (IPT) 1965 di Den Haag, Belanda, pada 11-13 November 2015 lalu. Otoritas IPT 1965 bersama berbagai lembaga negara serta lembaga swadaya masyarakat, telah melakukan investigasi, penyelidikan, serta meminta keterangan yang bersumber dari suara para korban, serta masyarakat sipil nasional dan internasional.

Perlu diketahui bahwa IPT 1965 tidak pernah bertugas menjadi pengganti dari negara untuk menggelar pengadilan formal, menjatuhkan sanksi hukum, atau mengganti kerugian para korban. Akan tetapi, IPT 1965 bertujuan untuk mendesak negara agar segera melakukan peradilan formal; yaitu untuk meneliti, memeriksa, mendengar kesaksian dan menyelesaikan kasus kejahatan genosida tersebut secara adil di dalam hukum. Selain itu, hasil dari IPT 1965 ini salah satunya akan menjadi sumber legitimasi bagi Negara Indonesia untuk membuktikan diri sebagai negara yang memenuhi tanggung jawabnya di hadapan publik internasional dan menciptakan iklim politk indonesia yang kondusif serta mengakui penegakan hak asasi manusia.

 

Sastrawan Korrie Layun Rampan Tutup Usia

Dunia sastra Indonesia kembali kehilangan salah satu senimannya. Korrie Layun Rampan sastrawan asli Kalimantan tutup usia pada Kamis (19/11). Ia dikenal dengan beberapa novelnya seperti “Upacara” terbit tahun 1976, dan “Api Awan Asap” terbit tahun 1998. Selain itu, ia juga pernah membuat buku tentang sastra dan sastrawan se-Indonesia yang berjudul “Sastrawan Angkatan 2000”. Selain menulis, ia juga sering menerjemahkan karya-karya sastrawan asing seperti, Anton Chekov, Knut Hansum, dan Leo Tolstoy. Ia memulai karier kesusasteraanya ketika hidup di Yogyakarta dan bergabung dengan kelompok sastra Persada asuhan Umbu Landu Paranggi.

“Siti” dan Festival Film Indonesia

siti
siti

Kualitas “Siti” memang sudah banyak diakui. “Siti” sepantasnya mendapatkan apresiasi ketika diputar di berbagai festival dalam maupun luar negeri. Namun, banyak pertanyaan yang muncul ketika film garapan Eddie Cahyono ini terpilih menjadi film terbaik di ajang Festival Film Indonesia 2015. Pasalnya, “Siti” tidak akan ditemukan di bioskop-bioskop reguler. Jangan heran jadinya kalau banyak yang merasa janggal dengan keputusan ini. Bagaimanapun, kesuksesan “Siti” bisa diambil sebagai momen untuk mulai menaruh perhatian kepada film-film dan para pelakunya yang selama ini jarang diketahui. Festival Film Indonesia sebagai penghargaan perfilman di negeri ini telah memberikan buktinya dengan kemenangan “Siti”.

Rully Annash The Brandals Wafat

rully anash
rully anash

Unit Rock asal Jakarta The Brandals tahun ini kehilangan drummer mereka. Rully Annash di usianya ke 39 meninggal dunia pada Jumat (27/11/2015) dini hari, akibat serangan jantung. Rully mendirikan BRNDLS sejak 2001 bersama Eka Annash, Bayu Indrasoewarman, Tonny dan Dodi Widyono. Band rock itu melahirkan tiga album sejak 2003, bertajuk ‘The Brandals’, ‘Audio Imperialist’ (2005) dan ‘Brandalisme’ (2007). Terbaru, mereka juga baru merilis album bertajuk ‘DNGR8’.

 

Erwin Zubiyan Tutup Usia

erwin zubiyan
erwin zubiyan

Risky Summerbee & the Honeythief, tentunya sangat merasa kehilangan tahun ini. Pasalnya, band psychedelic folk asal Yogyakarta ini kehilangan gitaris mereka Erwin Yubiyan yang meninggal di usia 31 tahun. Kecelakaan lalu lintas yang cukup parah beberapa hari sebelumnya menjadi penyebab ia tutup usia, meski sempat mendapat perawatan di Rumah Sakit JIH (Jogja International Hospital) pada hari Kamis (5/11). Gitaris yang gemar tampil plonthos ini menyumbang peran penting dalam sepak terjang Risky Summerbee & the Honeythief, termasuk ketika ia ikut unjuk tampil bersama bandnya di kancah internasional seperti Malaysia, Singapura, hingga kota Osaka dan Shizuoka di Jepang. Selain itu, ia juga berkiprah dengan aksi kolaborasi duo bernama Wangi Hujan dan proyek-proyek Teater Garasi.

 

 

Pencipta “Hymne Guru” Berpulang

sartono
sartono

 

Jelas sebuah kedurjanaan jika dunia pendidikan tidak berkabung atas kabar duka oleh meninggalnya Sartono. Ialah pencipta “Hymne Guru” yang meninggal dunia pada usia 79 tahun di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Madiun, Minggu, 1 November 2015. Penyakit komplikasi yang dideritanya mengantarkannya menuju peristirahatan terakhir. Kontribusinya bagi dunia pendidikan adalah nyata; membuat syair yang mamuliakan profesi seorang guru.

 

 

Desember

Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng Menangi Gugatan

warga rembang
warga rembang

Gugatan yang dilakukan oleh ribuan massa Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng yang menolak rencana pembangunan pabrik semen serta penambangan batu gamping dan batu lempeng di Kabupaten Pati oleh PT. Sahabat Mulia Sakti (SMS) berujung tidak sia-sia. Setelah melewati proses panjang, akhirnya gugatan tersebut akhirnya dimenangkan oleh warga. Gugatan ini bertujuan menyidangkan objek sengketa surat keputusan Bupati Pati Nomor: 660.1/4767 tahun 2014 tentang Izin lingkungan pembangunan pabrik dan penambangan.

Sesungguhnya, sejak tahap penyusunan dokumen Analisan Dampak Lingkungan (AMDAL), masyarakat telah berkali-kali menolak terhadap rencana tersebut. Mulai dari aksi penyampaian pendapat di muka umum, diskusi terbuka bahkan masukan secara tertulis yang dilandasi dengan kajian secara ilmiah kepada Pemkab Pati hingga ke Kementerian Kehutanan telah dilakukan. Akan tetapi, izin lingkungan tertanggal 8 Desember 2014 tetap dikeluarkan oleh Bupati Pati.

Penolakan ini dilatar belakangi oleh, kegelisahan akan masa depan masyarakat Pegunungan Kendeng. Diyakini rencana tersebut akan menggusur dan menghilangkan laha-lahan pertanian masyarakat yang selama ini menjadi sandaran kesejahteraan warganya serta menyebabkan kerusakan lingkungan.

Wijaya Herlambang Meninggal Dunia

Negeri ini memang terlalu banyak urusan. Sampai-sampai kabar duka tentang kepergian tokoh sastra yang bernama Wijaya Herlambang hampir tidak terdengar gaungnya. Kabar kepergian tentu sangat mengagetkan kaumakademisi maupun sastrawan Indonesia. Wijaya berpulang pada tanggal 4 Desember, akibat penyakit kanker limpa yang dideritanya sejak Februari silam. Salah satu karya masterpiece dalam hidupnya adalah buku yang berjudul “Kekerasan Budaya Pasca 1965”. Sebelum ia berpulang, ia menyisihkan sisa-sisa terakhir masa hidupnya untuk menjadi salah satu saksi ahli di Indonesia People’s Tribunal di Den Haag, Belanda.

Ben Anderson Tutup Usia

ben anderson
ben anderson

Memang kabar akan kematian selalu datang tiba-tiba. Begitu pun saat mendengar kabar kepergian Benedict Anderson pada Minggu, (13/12). Tiga hari sebelumnya ia masih sempat mengisi diskusi tentang buku terakhirnya yang berjudul “Di Bawah Tiga bendera” di Universitas Indonesia. Walaupun ia seorang Amerika, kepergian Ben tentunya merupakan sebuah kehilangan sosok intelektual negeri ini. Salah satu karya penting Ben adalah buku yang berjudul “Imagined Communities”. Tentunya buku tersebut tidak akan asing bagi anda yang bergelut di ilmu sosial dan ilmu politik. Ben juga kerap dikenal sebagai sosok yang Indonesianis. Banyak orang yang mengatakan ia lebih ‘Indonesia’, daripada orang Indonesia pada umumnya.

Pianis Joey Alexander sabet Grammy Awards lewat album My Favorit things

Kabar gembira datang selang akhir tahun dari dunia jazz tanah air. Pasalnya, bocah dua belas tahun yang menolak disebut jenius, Joey Alexander, berhasil meraih dua nominasi untuk dua kategori bergengsi di Grammy Awards ke-58. Pertama adalah kategori Best Jazz Instrumental Album untuk albumnya yang bertajuk My Favorite Things, lalu kedua adalah Best Improvised Jazz Solo untuk nomor “Giant Steps” yang juga diambil dari album yang sama

Album milik pianis muda ini bakal bersaing dengan musisi-musisi jazz kawakan tingkat dunia lainnya seperti John Scofield (Past Present), Terence Blanchard Featuring The E-Collective (Breathless), Robert Glasper & The Robert Glasper Trio (Covered: Recorded Live At Capitol Studios) hingga Jimmy Greene (Beautiful Life). Sementara untuk kategori Best Improvised Jazz Solo, Joey bersaing dengan Chritian McBride, Donny McCaslin, hingga Joshua Redman.

Selamat Tahun Baru 2015, Kamerad!

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response