close

“Kami Datang Begundal Lowokwaru”

bl

Molor berjam-jam, Begundal Lowokwaru baru menaiki panggung ketika hari hampir berganti, Bukannya penampilan setengah-setengah, tanpa rasa kantuk, gerombolan street drunk rock ini menghadiahi penonton dengan liar. 

Begundal Lowokwaru © Warningmagz
Begundal Lowokwaru © Warningmagz

Fuck barikade” ungkap vokalis Reason To Die. Teriakan tadi seolah merepresentasikan kekacauan acara Kagem Sedoyo. Benar saja, mengusung konsep “tanpa ruas tanpa batas” terdapat jurang barikade besi di bibir panggung. Padahal, acara ini menampilkan band-band hardcore,punk yang terkenal dengan kultur memanjat panggung yang kental. Kekacauan lainnya adalah molornya waktu yang dijadwalkan start jam dua, namun kebisingan di Jogja National Museum(JNM) baru terdengar pukul lima sore.

But the show still goes on. Reason To Die tetap menghentak dengan hardcore beatdown yang khas. Lingkaran-lingkaran slam dance pecah dimana-mana. Dengan mayoritas band hardcore sebagai line up, Reason To Die sukses menutup pesta slam dance sebagai band hardcore terakhir di acara tersebut. Aksi ‘dansa’ ini sontak menjadi tontonan tersendiri bagi para penonton, bahkan tak jarang banyak audiens yang malah fokus melihat pertunjukan slam dance dari hardcore kids tersebut.

Kekacauan belum usai, terjadi sedikit perkelahian kecil di moshpit, dan arogansi band di panggung yang tak mau turun walau sudah diperingati panitia. Memang, akibat molornya waktu dan padatnya line up, penampil di Kagem Sedoyo dipotong waktu perform-nya. Beruntung banyak yang menanggapi dengan positif, walau ada pula yang dengan gagahnya tetap bermain tanpa mempedulikan peringatan panitia. Alhasil, performer tamu, Begundal Lowokwaru hanya memainkan sekitar 6 lagu. Sebelumnya, salah satu band punk rock kawakan, Stupid Again juga hanya berpesta dengan 4 lagu, termasuk hits “Alkohol” dan “PSIM”.

“Kami datang Begundal Lowokwaru, kami satu, satu untuk semua” peringatan penanda bersenang-senang telah didendangkan. Singalong pun tercipta, aroma alkohol yang tercium disambut band asal Malang ini dengan memainkan “Sodara Sebotol”. Walau molor, dan setelah terlihat terlantar menunggu perform, Begundal Lowokwaru tetap energik saat mengokupasi panggung. Dentuman drum yang cepat serta aksi gitar yang liar dari duet Antok dan Acoy, disempurnakan oleh Ustard Chipeng dengan berulangkali menginjak-injak barikade agar lebih dekat dengan au diens. Kemudian nomor “And The Bottle For All” berkumandang, tak pelak menjadi nomor sempurna pengiring pogo mabuk bagi gerombolan punk yang hadir.

Mereka juga membawakan dua nomor dari album akustik, “From The Patch To The Pin” dan “Selamat Menikah Teman”. Kekacauan tak kunjung usai, seorang security naik ke panggung dan berupaya menghentikan perform, karena memang sudah sangat molor. Dengan humble, sang vokalis sendiri yang turut melobi security agar bisa setidaknya memainkan beberapa lagu lagi. Dan tak salah, nomor andalan “Equality” didaulat sebagai penutup yang disambut sing along tiada henti.

“Gak rugi liat Begundal Lowokwaru, performnya joss tenan” ungkap panji, salah seorang penonton. Begundal Lowokwaru juga meminta maaf atas keterbatasan waktu yang diberikan lewat akun twitternya. [Warn!ng/Tomi Wibisono]

Gigs documentation here!  – >Kagem Sedoyo

 

Event by : Rencang-rencang

Venue : Jogja National Museum

Date : 3 Juli 2013

Man Of The Match : Perform Energik Begundal Lowokwaru plus respon positif beberapa band untuk sepakat memotong lagu.

Warn!ng Level : ●●1/2

Begundal Lowokwaru © Warningmagz
Begundal Lowokwaru © Warningmagz

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response