close

Kampung Halaman Rilis Ruang Ekspresif Bertajuk LaBunyi

5

Berbasis pada semangat kolaboratif untuk memperkuat jaringan dan kreatifitas anak muda, Kampung Halaman merilis sebuah ruang ekspresif bertitel LaBunyi. LaBunyi sendiri adalah akronim dari ‘laboratorium’ dan ‘bunyi’, sebuah ruang eksperimen anak muda untuk berproses mengolah potensi mereka dalam bidang musik. Secara resmi, program LaBunyi ini dirilis pada 29 Mei 2016 lalu dalam acara Selamat Pagi vol.9.

konferensi pers LaBunyi © Yonaz Kristy
konferensi pers LaBunyi © Yonaz Kristy

Dalam konferensi pers yang diadakan sebelum gelaran musik di panggung pinggir sungai Krapyak tersebut, Kampung Halaman menjelaskan secara detil tentang program barunya tersebut. LaBunyi sendiri lahir dari kolaborasi beberapa pihak, yaitu Kampung Halaman, Jalan Remaja Youth, para mentor, Jogja Audio School dan peserta. Prosesnya sendiri sebenarnya sudah berlangsung sejak tahun 2015 lalu untuk memilih mentor. Tercatatlah nama Momo (Captain Jack), Grayce Soba (JAS) dan Farid Stevy (FSTVLST) sebagai mentor dari dua band terpilih, yaitu Opa Tua dan Hasbiandi. Dua band ini terpilih dari tujuh aplikan yang mendaftar.

Walaupun berbasis di karya musik, tapi LaBunyi tidak berhenti pada pengembangan materi lagu. Selama proses LaBunyi, Opa Tua dan Hasbiandi diajak mengikuti serangkaian lokakarya dan sharing tentang penulisan lirik, proses, distribusi, branding, dan bahkan pengelolaan media sosial dan cetak. “Kali ini kami memang hanya bisa mengajak dua band, karena ingin lebih intim, supaya ilmunya benar-benar tersalur dan fokus,” ujar Momo. Melihat rangkaian kegiatan LaBunyi yang berlangsung kompleks dan melibatkan proses penciptaan karya baru di dalamnya, pantas kiranya LaBunyi disebut sebagai sebuah residensi musik.

Opa Tua © Yonaz Kristy
Opa Tua © Yonaz Kristy
Hasbiandi © Yonaz Kristy
Hasbiandi © Yonaz Kristy

Pagi itu mereka juga merilis dua single hasil dari proses di LaBunyi. Hasbiandi yang tampil pertama membawakan “Paranoid”, dan beberapa materi lawasnya.”Lagu Paranoid itu lagu baru. Lagu ini bercerita tetang kesukaan saya dengan tema independensi, kebebasan, dan tak mau diatur. “Saya yakin tidak cuma saya yang nggak suka diatur,” jelas Hasbi. Sedang lagu dari Opa Tua untuk LaBunyi berjudul “Cendekia Raja Tega” yang menceritakan sikap tahu diri mereka terhadap kapasitas dalam menyikapi isu-isu yang berkembang di sekitar mereka. Selain itu seluruh kolaborator juga terlibat dalam pembuatan satu lagu yang belum diberi judul. Sebuah lagu yang memadukan musik modern dengan tabuhan gamelan dan suntikan nasionalisme yang sayangnya terasa terlalu berlebihan.

Selain LaBunyi, sejak 2008 sebenarnya Kampung Halaman sudah membuat beragam program dengan misi sama, masih di seputar anak muda dan kreativitas. Peluncuran LaBunyi sendiri juga jadi tanda 10 tahun usia Kampung Halaman. Kampung Halaman masih akan terus memperkuat peran remaja dan anak muda di komunitasnya masing-masing melalui beragam media.

Untuk itu, hari itu juga Kampung Halaman merilis sebuah portal baru di internet bertital www.berisik.id. Situs yang bisa menjadi direktori arsip inspirasi anak muda dari seluruh dunia. Setelah LaBunyi pertama ini sukses, nampaknya Kampung Halaman akan segera melanjutkan program LaBunyi selanjutnya, sebuah peluang yang patut ditunggu. [WARN!NG/Titah Asmaning]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response